Dianggap sampah karena kehancuran jiwa beladirinya, Keluarganya di asingkan dan bahkan hampir mati dengan tulang belakang yang hancur.
Namun tidak ada yang tahu…
Di dalam tubuhnya bangkit jiwa beladiri ganda legendaris yang belum pernah muncul di dunia ini.
Dengan kehidupan kedua di tangannya, dia hanya memiliki satu tujuan..
Menginjak semua orang yang pernah merendahkannya dan berdiri tak terkalahkan di bawah langit.
Tapi saat rahasianya perlahan terungkap, musuh yang datang untuk menghancurkannya semakin kuat…
Akankah dia menjadi penguasa tak terkalahkan, atau justru jatuh sebelum mencapai puncak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jazzy bold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika Ingin Alam Semesta Mati, Maka Alam Semesta Akan Mati
Zhang Tiangxia sampai di rumah saat desa Cansu masih ramai dengan omongan soal lelang.
Setibanya di rumah, dia tidak menemukan keberadaan rubah roh miliknya, dia tau rubah itu pasti berlari ke dalam hutan lagi.
Zhang Tiangxia masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Kamarnya gelap saat dia masuk.
Dia pun mengunci pintu lalu mengeluarkan ranjang giok yang dia dapatkan sebelumnya dari lembah, dia tau ranjang itu bukan ranjang giok biasa.
Ranjang itu langsung memenuhi separuh ruangan kamar miliknya begitu di keluarkan, namun dia tidak begitu perduli, dia duduk di atasnya dan mulai merasakan permukaannya dingin dan bercahaya samar kehijauan di kegelapan.
"Tidak menyangka, duduk di atas sini ternyata bisa menenangkan pikiran." Zhang Tiangxia berdecak kagum. "Berlatih dengan ranjang giok ini dan berlatih tanpa ranjang giok benar-benar berbeda jauh."
Zhang Tiangxia menghela nafas dengan berat. Dia benar-benar beruntung bisa mendapatkan barang-barang yang begitu berharga karena kebetulan yang tidak terduga setelah mengikuti rubah roh ungu itu.
Beberapa saat kemudian, dia menenangkan diri.
Dia memejamkan mata dan mulai menjalankan kembali Teknik Dewa Ashura.
Teknik Dewa Ashura terdiri dari sepuluh tahap. Tahap pertama bernama Lautan Kegelapan Abadi.
Berbeda dari teknik kultivasi biasa yang hanya menyerap Qi langit dan bumi dari dunia ini, Lautan Kegelapan Abadi membuka saluran ganda. Satu menyerap energi dari dunia atas seperti teknik biasa, satu lagi membuka celah tipis ke dunia bawah untuk menarik energi kematian yang mengendap di sana.
Energi kematian dari dunia bawah bukan energi yang bisa dipakai sembarangan. Bagi kultivator biasa, energi itu bersifat korosif bahkan bisa mengikis energi kehidupan seseorang sampai dia berubah menjadi mayat jika terkena sedikit saja. Tapi yang melatih Teknik Dewa Ashura bisa menggunakan energi kematian itu tanpa harus melukai diri sendiri.
Saat Zhang Tiangxia mencoba menarik energi kematian dari dunia bawah, dia mendapati bahwa energi kematian ini tidak mengganggu organ tubuhnya atau sumber energi utamanya.
Namun, energi dari dunia bawah seolah-olah membentuk areanya sendiri yang berbeda dari energi dari dunia ini.
"Hiss!"
Zhang Tiangxia mengamati perubahan di dalam tubuhnya melalui indra spiritual miliknya dan mendapati hal ini benar-benar di luar pemahamannya.
"Bagaimana bisa aku memiliki dua energi secara bersamaan?"
Dia benar-benar kebingungan, sebab dalam sejarah baik di kehidupan sebelumnya atau di negara Tianlong, belum ada orang yang memiliki dua energi berbeda di dalam tubuhnya.
"Tidak heran ini di sebut teknik Dewa, benar-benar melampaui pemahaman manusia biasa." Gumamnya dengan terkejut.
"Selain itu, teknik ini juga bahkan bisa menyerap darah dan roh binatang iblis untuk memperkuat Qi di dalam tubuh. Semakin kuat binatang iblis yang diserap, semakin besar penambahan Qi yang didapat."
Zhang Tiangxia kembali mengingat detail tentang tahapan teknik Dewa Ashura ini.
"Saat ini aku yang hanya bisa melatih tahap pertama saja sudah menakutkan seperti ini, bagaimana jika melatih tahap kedua?"
"Namun, syarat kedua terlalu jauh untuk saat ini, aku bahkan belum melatih teknik pertama hingga sempurna." Zhang Tiangxia mengamati energi tipis berwarna hitam yang dia serap dari dunia bawah.
Untuk membuka tahap kedua, satu syaratnya adalah menguasai tahap pertama hingga sempurna.
Tahap sempurna itu ketika bisa dengan mudah menarik energi kematian dari dunia bawah dengan mudah, semudah menarik energi langit dan bumi di dunia ini.
Zhang Tiangxia membandingkan energi langit dan bumi yang bisa dia serap saat menggunakan teknik Dewa Ashura itu sangat besar.
Jika sebelumnya menggunakan teknik Taixu bisa menarik energi sebesar ruangan rumah yang berukuran beberapa meter, setelah menggunakan teknik dewa Ashura bisa langsung menarik energi sebesar ratusan meter.
Namun, ketika melihat kembali energi kematian yang dia serap saat ini yang ukurannya hanya seukuran ibu jari, ekspresi wajahnya menjadi tidak enak di pandang.
"Sial, butuh berapa lama untuk mencapai tingkat sempurna." Wajah Zhang Tiangxia di penuhi dengan garis-garis hitam.
Yah, saat ini energi yang bisa dia serap sangat sedikit dan ukurannya hanya seukuran ibu jari.
Seolah-olah lubang yang dia buat untuk menarik energi kematian dari dunia bawah hanya seukuran ibu jari.
"Sudahlah, seukuran ibu jari ya seukuran ibu jari," Zhang Tiangxia mencoba menghibur dirinya sendiri, "Bagaimana pun, nyamuk yang kecil tetaplah memiliki daging."
Setelah berfikir demikian, suasana hatinya menjadi lebih baik, dia pun kembali melanjutkan latihannya.
. . .
Tiga jam kemudian terdengar satu suara klik dari dalam tubuhnya.
Zhang Tiangxia membuka matanya. "Tingkat dasar keenam alam pemurnian tubuh." Dia mengangguk puas saat melihat fondasi yang dia miliki saat ini sangat stabil Meskipun kultivasinya berjalan sangat cepat.
Bagaimana pun, di kehidupan sebelumnya dia sudah berada di ambang menerobos alam penghancur fana dengan melatih teknik Taixu, padahal energi di bumi tidak melimpah seperti disini.
Sementara di dunia ini, energi langit dan bumi benar-benar melimpah dan jauh lebih murni, dan dia juga melatih teknik kultivasi yang jauh lebih tinggi. Jadi saat merasakan kultivasinya menerobos begitu cepat, dia tidak begitu heran.
Selain itu, alasan kultivasinya begitu cepat menerobos pasti karena jiwa beladirinya yang aneh itu. Itu pasti bukan jiwa beladiri tingkat sembilan atau tingkat sepuluh, namun untuk pastinya dia sendiri tidak tahu.
"Baiklah, berkultivasi cukup untuk malam ini, bagaimana pun aku belum melatih teknik bertarung apapun selain teknik tinju segala arah."
Zhang Tiangxia bangkit dari duduknya, lalu dengan lambaian tangan, dia menyimpan ranjang giok itu kedalam cincin penyimpanan.
Setelah itu dia dengan hati-hati berjalan keluar rumah.
. . .
Tengah malam, saat rumah sudah sunyi, Zhang Tiangxia keluar diam-diam. Tujuannya kali ini adalah Gunung Tuanling.
Gunung Tuanling di malam hari lebih gelap dan lebih sunyi dari biasanya. Suara serangga dan angin di antara pohon-pohon besar menjadi satu-satunya yang menemaninya berjalan masuk ke kedalaman.
Dia mencari tempat yang cukup luas lalu berhenti.
Di tangannya ada tiga kotak kayu yang dikeluarkan dari cincin penyimpanan.
Matanya melihat masing-masing tulisan yang ada di setiap kotak kayu tersebut.
"Teknik Pedang Kematian, Teknik Bayangan Kematian, dan Teknik Tubuh Kematian Abadi." Zhang Tiangxia membaca tiga teknik ini dengan jantung bergetar.
"Tiga teknik yang mendominasi!"
Dia membuka kotak yang berisi teknik pedang kematian.
Karena saat ini dia memiliki pedang, yang dia dapatkan sebelumnya, teknik pedang ini sangat cocok untuknya. Selain itu, di Desa Cansu belum ada kultivator pedang yang melatih teknik pedang.
Saat Zhang Tiangxia membuka halaman pertama, seberkas cahaya melesat kedalam kepalanya seperti sebelumnya.
Saat cahaya itu masuk kedalam kesadarannya, pemandangan di depan matanya berubah drastis.
Kali ini dia kembali melihat pria yang dia lihat memegang kepala seperti saat mendapatkan warisan Teknik Dewa Ashura kembali berdiri di atas sebuah gunung membelakangi dirinya.
Namun yang berbeda, pria ini berdiri di atas gunung memperagakan teknik pedang.
Saat Zhang Tiangxia terdiam, sebuah suara muncul di kepalanya seperti guntur, "Ini bernama Tebasan Kematian."
Lalu, pria di atas gunung memperagakan sebuah gerakan sangat sederhana.
Satu gerakan. Satu tebasan lurus dari atas ke bawah dengan Qi kematian yang dipusatkan di ujung bilah.
Namun, saat pedang itu benar-benar di ayunkan, Qi pedang langsung membentuk garis lurus sepanjang ratusan meter. Dan sepanjang area yang di lewati oleh Qi pedang itu langsung layu seolah-olah energi kehidupan mereka menguap dari dunia ini.
Melihat area ratusan meter di depan pria itu yang berubah menjadi area kematian tanpa kehidupan, rasa takut dan horor muncul di mata Zhang Tiangxia.
Dia membayangkan andai dia yang di serang dengan pedang ini, maka dia tidak akan memiliki kesempatan untuk hidup. Ini seperti dewa kematian yang datang untuk mencabut nyawa.
Kayu yang sebelumnya hijau dan subur berubah menjadi kering, lalu menjadi lapuk sebelum akhirnya berubah menjadi debu.
Batu yang awalnya kokoh dan berwarna, setelah terkena pedang itu langsung hancur lalu berubah menjadi debu berwarna abu-abu.
Langit yang sebelumnya biru langsung menjadi gelap total, bahkan ruang seolah termakan oleh energi yang menakutkan.
Saat ini suara itu terdengar lagi, "Ingat dan pahami ini. Apa itu kematian? Kematian itu, jika aku ingin manusia mati maka manusia mati, jika aku ingin langit mati maka langit akan mati, jika aku ingin alam semesta mati maka alam semesta akan mati!"
. . .