BLURB👇
Lian dan Yumna, adalah sepasang anak manusia yang berteman sejak kecil, harus berpisah ketika orang tua Lian memutuskan untuk memindahkan anaknya belajar ke luar negeri. Selama lima belas tahun mereka berpisah dan bertemu kembali saat mereka remaja. Mereka pun menjalin hubungan asmara. Namun, perjalanan cinta mereka tidak semulus yang mereka harapkan. Penuh permasalahan dan rintangan. Terlebih hadirnya orang ketiga di antara mereka. Suatu hari, Lian dan Yumna tak sengaja menghabiskan waktu bersama. Hingga hubungan mereka melampaui batas, dan menyebabkan Yumna hamil!! Hal itu membuat Yumna frustasi berkepanjangan. Apalagi orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka. Yumna semakin terpuruk. Setiap hari hanya ada penyesalan yang tak berarti dalam dirinya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rayana Lovely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Kampus
Siang ini, Lian menunggu Yumna di taman kampus. Dengan sabar menantikan kehadiran Yumna. Menunggu Yumna menyelesaikan mata kuliahnya. Lian duduk di bangku taman dengan santai. Memakai kacamata biru gelap yang semakin menambah ketampanannya. Seakan tidak peduli dengan tatapan centil mahasiswi yang memperhatikannya.
Nita yang melihat Lian dari tadi, segera mendekati pria tampan itu dengan senyum genitnya.
"Hei!" sapa Nita."Boleh aku tahu siapa kamu? Aku lihat, sepertinya kamu rutin banget beberapa hari ini datang ke sini? Kamu putra dari Bapak Mirwan kan? Kamu ada perlu apa kemari? Ada yang bisa aku bantu gak?" Nita menawarkan jasanya, mencoba mendekati Lian dengan mengandalkan kecantikannya.
Lian melirik Nita dari balik kacamatanya, lalu menunduk kembali dan tidak menjawab pertanyaan Nita. Lian tahu dari cara berpakaian dan gerak gerik Nita, dia dapat menilai kalo Nita bukanlah perempuan yang baik kelakuannya. Lian melemparkan kembali pandangannya lurus ke depan. Enggan memandang wajah Nita, walau hanya sekedar bertegur sapa.
"Heeii..!" bentak Nita. "Kamu dengar gak apa yang aku katakan?!" ketus Nita. Dia merukuk dan mendekati wajahnya ke wajah Lian.
Lian mengubah posisi duduknya. Bergeser sedikit menjauhi Nita. Membuka kacamatanya, namun pandangannya tetap tidak mengikuti arah wajah Nita. Tetap lurus ke depan.
"Aku lagi nunggu seseorang!"
"Oh, iya? Siapa orang yang kamu tunggu?" tanya Nita ingin tahu.
"Seorang Mahasiswi di sini! Dia wanita yang aku kagumi sejak pertama kali aku bertemu," ungkap Lian.
"Hmmm,, siapa dia??" tanya Nita semangat. Berharap semoga dialah wanita yang dimaksud Lian. Karena kecantikan yang dia miliki, tidak mungkin rasanya jika seseorang tidak jatuh hati padanya. Begitulah yang ada di pikirannya.
Lian melirik Nita, lalu tersenyum miring.
"Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri!! Kamu mengganggu ketenanganku," protes Lian. Lalu dia memasang kembali kacamatanya.
Wajah Nita berubah masam. Ingin rasanya dia berontak. Tapi, tidak mungkin ia lakukan. Nita hanya dapat menahan rasa kesalnya, lalu pergi meninggalkan Lian dengan perasaan jengkel yang teramat.
Setelah lama menunggu, akhirnya Yumna datang menemui Lian. Dengan wajah cetusnya, dia berdiri di hadapan Lian. Lian mendongakkan kepalanya, memandang wajah orang yang dari tadi dia tunggu. Senyum sumringah muncul dari bibir pria itu.
"Sudah lama?" tanya Yumna. Ketus.
"Lumayan," jawab Lian singkat.
"Cepat katakan apa yang kamu inginkan," lontar Yumna tanpa basa-basi.
Lian menilik Yumna dengan santai, dia melipat kedua tangannya. Lalu menyunggingkan senyum misteriusnya kepada Yumna.
"Aku tidak menginginkan apapun selain dirimu!" balas Lian.
"Apa?!" Yumna mengernyitkan dahinya.
"Aku hanya ingin pengakuan darimu!! Katakan sekarang juga, kalau kamu memang benar Yumna-ku!!"
"Yumna-mu? Apa maksud dari ucapanmu! Jangan membuang-buang waktuku!!" bentak Yumna jengkel.
Lian tertawa lepas. Rasanya semakin gemas melihat Yumna kesal.
"Duduklah dulu di sampingku!! Apa kamu ingin terus berdiri di hadapanku seperti ini??" pinta Lian.
"Tidak! Aku tidak mau duduk di sampingmu! Lebih baik aku berdiri di sini saja!! Emang kamu bisa apa?" tantang Yumna.
"Kamu yakin?" tekan Lian.
Yumna tidak menjawab, terlihat cuek pada pria yang duduk di hadapannya. Berpura-pura tidak peduli dengan permintaan Lian. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya dia ingin duduk di samping Lian dan bercerita tentang hari-harinya selama ini.
Lian melepas kacamatanya. Menurunkan kepalanya yang dari tadi mendongak karena mengharuskannya melihat wajah Yumna yang berdiri tegak di hadapannya. Kini wajah dan tatapan mata pria itu mengarah lurus ke depan. Dia memandang dengan serius pemandangan yang ada di hadapannya. Sementara Yumna, tidak menyadari tatapan Lian saat ini karena memang wajahnya menoleh ke samping. Berpura-pura tidak ingin melihat Lian.
Lian mendesah keras.
"Tolong aku! Aku sungguh tidak dapat berkonsentrasi, jika dadamu berada tepat di depan mataku!!"
Meaw,
"Hah!"
Yumna terlonjak kaget mendengar keluhan yang keluar dari mulut Lian. Sontak dia langsung menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya. Yumna menatap Lian tajam. Melotot kesal! Kemudian, dengan segera berpindah ke samping bangku yang di duduki Lian.
"Dasar otak MESUM!!" ketus Yumna. Jengkel setengah mati.
Lian tertawa geli. Melihat ekspresi wajah gadis itu membuat dia menjadi terhibur.
"Kenapa kamu malah berdiri di sampingku?? aku tidak keberatan kalo kamu tetap berada di hadapanku seperti tadi!" Lian tersenyum genit
Mendengar ucapan Lian yang seperti merasa tidak berdosa, rasa kesal Yumna semakin memuncak.
"Sudah ku bilang, aku tidak punya banyak waktu! Apalagi untuk melayani orang sepertimu! Simpan baik-baik pikiran kotormu itu! Aku menemuimu bukan untuk berbicara hal yang tidak penting seperti ini!" bentak Yumna.
"Ternyata, sifatmu tak berubah dari dulu, masih keras kepala, kamu tetap bawel apalagi kalau aku terus-terusan membuatmu kesal," ujar Lian santai.
Lian memandang Yumna yang berdiri di sampingnya. Nyengar nyengir tak karuan. Yumna masih berdiri tegak dan enggan memandang wajah Lian yang terlihat bahagia atas kehadirannya. Melihat Lian memandangnya begitu dalam, Yumna kembali menyilangkan tangannya ke bahu. Menutupi dadanya. Melirik Lian yang tersenyum penuh godaan.
"Apa yang kamu lihat!!" bentak Yumna.Saat ini, dia memang sedang mengenakan kaos ketat dan celana jeans, yang membuat tubuh indahnya terlekuk sempurna.
"Aku melihatmu sedang berdiri di sampingku? Apa aku salah? Kemarilah duduk di sebelahku!! Jangan merasa seperti orang yang tak pernah dekat denganku!!" papar Lian seraya mengulurkan tangan, berharap agar Yumna menyambut tangannya dan duduk di sebelahnya.
Akan tetapi, hati Yumna masih belum mau untuk kembali dekat dengannya. Yumna masih saja jual mahal. Padahal jauh dalam hatinya, dia ingin sekali berada di samping Lian. Terus dan selamanya. Tapi lagi-lagi perkataan ibunya terngiang di telinganya. Membuatnya mengubur kembali angan-angan itu.
"Maaf, aku tidak pernah mengenalmu!!" tekan Yumna, dia melangkahkan kaki. ingin pergi meninggalkan Lian.
Lian yang melihat Yumna ingin melangkah pergi, dengan sigap menarik tangan Yumna hingga Yumna jatuh kepangkuaannya.
Akh!
Sontak Yumna kaget bukan kepalang. Jantungnya berdebar kencang. Sumpah demi apa? Saat ini dia berada dalam pangguan Lian. Lian memeluknya erat. Yumna semakin salah tingkah ketika Lian menatap matanya. Kedua maata mereka bertemu. Untuk beberapa saat, mereka diam dalam lamunan. Lian mengembangkan senyum genitnya. Sadar akan itu, Yumna lalu berontak, meminta agar tubuhnya dilepas.
"Lepaskan aku!!" pinta Yumna. Tangannya berusaha mencegah dada Lian yang semakin mendekati dadanya. Dia menolak-nolak dada bidang itu dengan kasar.
"Aku akan lepaskan, kalo kamu mau jujur padaku, katakan kalau kamu itu memang benar Yumna-ku!!"
"Aku bukan Yumna-mu!! Lepaskan aku!!" balas Yumna sambil terus berontak.
Lian semakin menahan tubuh Yumna. Membuat Yumna semakin tidak dapat bergerak. Namun, Yumna tak kehabisan akal. Dia melirik dada Lian yang bidang, lalu, menggigit dada laki-laki itu dengan kuat.
"Awwwwwwwwww..." teriak Lian kesakitan, ia melepaskan tubuh Yumna, dan mengusap-ngusap dadanya yang digigit oleh Yumna. Tanpa pikir panjang, Yumna pun langsung berdiri dan berlari kecil ke arah lorong kampus.
Sadar Yumna berlalu, Lian langsung bangkit untuk mengejarnya.
"Yumna ...!!" teriaknya sambil berlari.
Setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Yumna. Lian menarik tangan wanita itu dengan cepat. Yumna menoleh ke belakang.
"Apa lagi!! Kamu mau aku mengatakan hal-hal yang gak penting lagi kepadamu??!! Buang buang waktu, tau gak!!" cetus Yumna.
Rahang Lian mengeras dengan tatapan matanya yang menajam. Air mukanya berkata kalau dia tidak menyukai ucapan Yumna barusan. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan saat itu pada Yumna.
"Tapi kamu sangat PENTING BAGIKU YUMNA!!" ungkap Lian. Tegas. Tak berkedip.
Jleb!
Hati Yumna serasa mencair. Gadis itu menjadi salah tingkah. Lebih tepatnya merasa bersalah. Tubuhnya kaku. Mulutnya seakan terkunci. Dia menyesali apa yang telah dia katakan kepada Lian.
"Kamu sangat penting bagiku. Kamu gak tau selama lima belas tahun ini aku selalu merindukanmu. Saat rindu itu datang dan menghimpit perasaanku, ingin rasanya aku pulang untuk menemuimu. Tapi aku dikekang orang tuaku!! Mereka menyuruhku untuk menyelesaikan studiku dulu. Mereka menahanku, agar aku tidak kembali ke Indonesia. Setelah aku selesai menuruti kemauan mereka, barulah aku dibebaskan kembali.
Dan, sekarang saat aku telah bebas, kamu seakan mengurung dan menyiksa perasaanku kembali. Aku hanya ingin kejujuran darimu, Yumna. Aku hanya ingin kita seperti dulu. Selalu bersama dalam suka ataupun duka. Itu impianku! Tolong jangan pernah menghindar dariku. Aku tidak akan pernah pergi meniggalkanmu lagi! Aku janji!" Lian mengeluarkan semua perasaannya. Merasa kecewa dengan sikap yang ditunjukkan Yumna kepadanya.
Tanpa disadari, bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi Yumna. Dia tidak dapat mengatakan apa-apa lagi selain menangis. Dia bahkan tidak tahu, tangis ini adalah tangis kebahagiaan atau malah tangisan penyesalan. Menyasal karena telah salah menilai Lian.
"Melihatmu menangis, aku semakin yakin kalau kamu itu memang benar Yumna-ku!! Kamu pasti merasakan hal yang sama sepertiku selama ini, Itu benarkan?! Yumna, jujurlah padaku, walau sudah banyak bukti yang aku ketahui, tapi aku ingin pengakuan darimu!!" ucap Lian lirih.
Yumna segera menyeka air matanya. Mencoba memandang ke atas agar air matanya tidak jatuh kembali. Yumna menghembuskan nafas berat, kemudian mengatur nafasnya kembali dengan perlahan.
"Jika kamu yakin kalau aku ini adalah Yumna-mu,, kenapa kamu ragu dan bertanya padaku kembali?? Bukankah kamu pernah berkata, bahwa kamu itu orang yang selalu benar dalam mengambil keputusan, dan perasaanmu tidak pernah salah!! Dan Saat ini,, kamu telah membuktikannya padaku, aku mempercayai ucapanmu sekarang!"
Yumna tersenyum getir. Sementara Lian tersenyum bahagia mendengar pengakuan Yumna. Pria itu menghela nafas lega. Mendengar pengakuan Yumna meski secara tak langsung. Namun cukup mengartikan bahwa gadis itu memang benar merupakan orang yang selama ini dia rindukan. Walau sebenarnya Lian telah mengetahui itu dari orang tuanya, namun Lian ingin mendengarkan pengakuan itu langsung dari bibir Yumna.
Yumna melangkah pergi ke arah berlawanan dari sisi Lian. Dia meninggalkan Lian yang saat ini tengah senyum senyum sendiri. Hingga Lian tak sadar bahwa dirinya telah ditinggal oleh Yumna di lorong kampus itu.
"Akhirnya kita bertemu kembali, Yumna! Kamulah Yumna-ku! Kamu yang selalu hadir dalam mimpi mimpiku selama ini, ternyata kamu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik," papar Lian memandang lurus ke depan.
Yumna yang sudah berjalan beberapa langkah dari Lian, kemudian menoleh kembali ke belakang saat mendengar ucapan Lian yang mirip irama syair itu. Dia melihat Lian masih berdiri tegak di tempatnya.
"Mulai hari ini, dan seterusnya, kisah cinta kita akan kembali subur seperti semula," ungkap Lian bahagia.
Yumna tersipu malu. Wajahnya langsung memerah. Dia tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya mendengar ungkapan Lian. Rasanya dia ingin menyembunyikan wajahnya yang merona. Tidak sanggup menahan tatapan mata Lian, Yumna memilih untuk melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Lian yang sedang dimabuk asmara sama seperti dirinya.
***
( Bersambung.. )
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa