Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang
Dwi menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa sakit yang ia alami saat ini.
Keringat dingin menetes dari keningnya, dan perlahan jatuh ke bantal. Perutnya terasa melilit seperti di sayat-sayat oleh sembilu.
"Bli... Bli..." panggilnya, dengan suara yang sangat pelan. Ia takut membangunkan suaminya.
Akan tetapi, Satya masih terlihat kelelahan , karena bekerja seharian.
Sraaak...!
Jendela kamar tiba-tiba terbuka sendiri. Angin malam menelusup masuk, dan membawa bau kemenyan yang bercampur bangkai.
Di pojok kamar yang gelap. Ada terlihat sosok bertubuh tinggi. Rambutnya putih dab juga gimbal sampai ke lantai. Kukunya panjang. Mata merah menyala. Ia tak lain adalah Wayan Ratri.
Ia menatap tajam. Perlahan mengacungkan jari telunjuk yang kukunya hitam dan runcing ke arah perut Dwi.
“Ne... cucu cucun tiange...” desisnya. Suara kayak daun kering digesek. “Suba meadan. Baan Gria suud ngalangin.”
(Ini... cucuku... sudah ditandai. Bidan Gria sudah gagal menghalangi)
Dwi mendadak pucat. Ia ingin berteriak. Tapi suara tertahan di tenggorokan. Perutnya semakin nyeri. Seperti ada yang menarik dari dalam.
Pluuuk!
Setetes darah netes dari pahanya. Warnanya merah segar. dan menetes ke sprei putih.
Di Puskesmas, Saraswati mendadak memegang dadanya yang terasa panas seperti terbakar.
“Bu Bidan?” Suster jaga terlihat panik. “Wajah Ibu pucat.”
Saraswati tidak menjawab. Ia melihat ke arah Ketut Candra di ujung lorong. Pemuda itu juga memegang telapak tangannya. Tanda trisula di tangannya menyala merah, tampak lebih terang.
“Dwi...” ucap Ketut Chandra. Taksu-nya (kekuatan bathinnya) menangkap sesuatu yang berbahaya.. “ Wayan Ratri sudah memulai.”
Nyoman Lingga yang dari tadi bengong, langsung menyahut. “Dwi? Siapa?"
Saraswati mengigit bibir. “Sepupu saya... bayinya... ditagih Leak sekarang.”
“Kalau kamu tidak memilih, Wayan Ratri akan mengambil kedua tumbalnya,” suara Ketut Candra berat. “Bayi Kadek Cempaka sama bayi di perut Dwi. Genap dua nyawa. Kurang sembilan puluh delapan lagi buat I Gede Ratu Mas Mecaling bangun dan memberikan kekuatan pada Wayan Ratri, agar ia menjadi Leak yang paling tangguh.”
Ketut Wira yang masih menggendong Kadek Cempaka langsung gemetar. “Lantas... lantas harus gimana, Bu Bidan? saya nggak mau anak saya mati!”
Saraswati menatap Ketut Candra. Tadi dia menolak untuk kawin.
Ini cukup gila. Bahkan mereka baru saja kenal. Tapi sekarang... Dwi sudah berdarah. Bayi Kadek Cempaka juga sudah ditandai.
Kalau aku egois, dua bayi mati. Kalau aku menuruti keinginan Wayan Ratri... Maka aku sama saja menggadaikan diri. Aku bagaikan buah simalakama." gumamnya dalam hati.
Ia menoleh ke arah Ketut Chandra. “Tunggu di sini,” Saraswati akhirnya berbicara ke Ketut Wira dan juga ke Nyoman Lingga. “Jangan kasih siapa-siapa masuk selain saya.”
Ia menarik Ketut Candra balik ke gudang obat. kemudian mengunci pintu.
“Caranya gimana?” tanya Saraswati. Suaranya sudah tidak dapat lagi menolak. Hanya saja ia merasa lelah.
Ketut Candra mengeluarkan pisau kecil dari pinggang. Pisau Taksu. Hulunya terdapat ukiran naga. “Darah Bidan Gria dan darah Taksu harus menyatu di atas Banten Pejati. Di Merajan Gria." nafasnya terdengar sangat berat. Mereka sudah di ujung keputusan yang cukup berat.
"Malam ini. Purnama sedikit lemah. Sedangkan Calonarang paling kuat. Kalau lewat malam ini, segel Setra Agung terbuka setengah.”
(Setra\= kuburan/pemakaman)
“Apakah kalau kita... kawin... perjanjian leluhur putus?”
“Putus,” Ketut Candra mengangguk. “Darah kita jadi darah baru. Kita tidak akan lagi terikat sumpah Gria-Balian jaman dulu. Taksu di aku bakal menetralkan Taksu Leak di Wayan Ratri. Tapi...” Ketut Chandra tampak ragu. “Kamu bakal kehilangan taksu Gria. Nggak bisa lagi jadi Bidan Gria. Kamu jadi wanita biasa.”
Saraswati tertawa pahit. “Aku tidak punya pilihan. Jika ini dapat menyelamatkan mereka, maka sekarang aku memilih... buat menyelamatkan Dwi. Buat bayi Kadek Cempaka.”
Braaaak!
Pintu gudang digedor dari luar dengan cukup keras. seperti ditendang oleh seseorang yang berkekuatan penuh.
“Bu Bidan! Cepet! Bayinya kejang lagi! Matanya item semua!” teriak suster.
Saraswati sama Ketut Candra terpaksa lari keluar.
Di ranjang, bayi Kadek Cempaka kejang lagi. Dari mulutnya keluar cairan hitam. Tapi kali ini, cairan itu itu seolah teror yang cukup mematikan.
Dari balik dinding puskesmas, terdengar suara bisikan dari suara yang cukup berat. "BAWA SARASWATI KE SETRA. ATAU DUA BAYI MATI MALAM INI!"
Nyoman Lingga yang mendengarnya merasakan lututnya lemes dan gemetar. “Ratu... Ratu Gede Mencaling, tolong...ampuni kami. ampura...jangan bawa keponakan saya,"
Ketut Wira menangis. Ia baru saja kehilangan istrinya. Dan kini, Leak itu ingin mengambil anaknya, dan akan di persembahkan ke Ratu Gede Mecaling, di Pura Dalem.
“Ambil saya saja! Jangan anak saya!”
Wayan Ratri tiba-tiba saja muncul di pintu Puskesmas. Ia tidak berjalan. tetapi mengambang, dan tertutup oleh gaunnya yang lusuh. Rambutnya menutupi wajahnya.
“Waktu sudah habis,” suaranya ke Saraswati. “Pilih. Gria, atau nyawa dua putra.”
Ketut Candra maju. Tanda trisula di tangan kembali menyala, mengeluarkan cahaya kebiruan. Ia menghalangi Wayan Ratri.
“Dadong! Tiang cucun Ibune! Tiang Balian Taksu! Tiang tusing takut!”
[Nenek! Saya cucu kamu! Saya Balian Taksu! Saya nggak takut!"
Wayan Ratri tertawa. _Kekekeke... “Taksu tanpa Gria, sing ada artine, Cening. Kalian berdua harus nyatu. Di Setra. Di depan Ratu Mas Mecaling. Baru perjanjian batal.”
Saraswati narik napas. Dia liat Kadek Cempaka. Liat wajah Ketut Wira yang putus asa. Membayangkan Dwi di rumah, berdarah sendirian.
Dia terus maju, berdiri sebelah Ketut Candra. Genggam tangan pemuda itu. Tanda trisula di tangan Ketut Candra langsung adem. Cahaya biruannya bercampur bersama hawa dingin dari tangan Saraswati.
“Kalau ke Setra bisa memutus perjanjian,” suara Saraswati tegas, tidak ada lagi gemetar. “Aku ikut. Tapi bukan buat jadi tumbal. Buat mengjentikan kamu, Dadong.”
Wayan Ratri mendesis. “Melah. Jam dua belas. Di Setra Agung. Bawa Banten Pejati. Bawa darah kalian. Nggak datang... dua bayi mati, desa jadi setra.”
Wuuush!
Wayan Ratri menghilang. kemudian menjadi asap.
Suster yang melihatnya langsung pingsan. Nyoman Lingga jatuh terduduk.
Ketut Candra menatap Saraswati. “Kamu yakin?”
Saraswati mengangguk. “Siapin Banten. Aku ke rumah Dwi dulu. Aku akan menjadi Bidan Gria... Untuk terakhir kalinya.. Sebelum aku melepasnya setelah pernikahan ini.”
Di luar puskesmas, suara anjing masih melolong. Jam menunjukkan pukul 22:47. Tinggal 1 jam 13 menit lagi.
Dan di rumah Dwi, darah di sprei sudah membentuk tapak kaki kecil. Tapak kaki bayi yang membuat Dwi semakin merasakan perutnya seperti di remas.
"Bli... Bangunlah," suaranya sangat lemah. Ia sangat tidak kuat lagi. Pandangannya mulai berkunang, dan tampak menggelap.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh