Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAT PERTAMA
Langit sudah berubah jingga ketika motor Keano memasuki gerbang rumahnya.
Gerbang besi hitam itu terbuka otomatis. Halaman luas terbentang rapi. Rumput dipotong sempurna. Lampu taman mulai menyala satu per satu.
Rumah itu besar. Terlalu besar… untuk satu orang.
Keano mematikan mesin motornya di garasi. Suara langkahnya menggema pelan.
Belum sempat ia melepas helm—
"Mas Keano udah pulang!"
Seorang ART setengah baya tersenyum lebar dari pintu depan.
"Bibi Sari," jawab Keano sambil melepas helmnya.
Pintu rumah langsung terbuka. Beberapa ART lain muncul hampir bersamaan.
"Udah makan belum, Mas?" "Mau dibuatkan teh dulu?" "Tadi hujan loh di pusat kota, kehujanan gak?"
Pertanyaan datang bertubi-tubi.
Keano tersenyum kecil.
"Iya… iya… satu-satu dong bi nanya nya."
Suasana itu hangat. Ramah. Seperti rumah yang hidup.
Tapi tetap terasa berbeda.
Karena semua perhatian itu… bukan dari keluarga, tapi walaupun begitu keano tetap merasa senang karena mereka sudah seperti keluarga untuknya.
Ia melangkah masuk.
Interior rumahnya mewah. Lampu gantung kristal menyala terang. Sofa besar tersusun rapi. Tidak ada barang berserakan. Tidak ada suara televisi menyala sembarangan. Tidak ada orang yang benar-benar menunggu.
Hanya rumah indah yang selalu siap terlihat sempurna.
"Ny. Rani belum pulang, Mas," kata Bibi Sari hati-hati.
Keano mengangguk. Ia bahkan tidak perlu bertanya.
"Meeting lagi?"
"Iya, katanya langsung ke restoran cabang baru."
Keano hanya menjawab pendek, "Oh."
Ia sudah hafal.
Ibunya—pemilik beberapa restoran terkenal di kota— hampir tidak pernah benar-benar berada di rumah.
Single mom. Wanita kuat. Pekerja keras.
Dan Keano adalah satu-satunya alasan ia terus bekerja.
Harapan. Kebanggaan. Sekaligus tanggung jawab.
Keano naik ke lantai dua.
Tangga marmer itu terasa sunyi di bawah langkahnya.
Di dinding tergantung banyak foto.
Foto peresmian restoran. Foto ibunya menerima penghargaan. Foto keluarga lama… saat ayahnya masih ada, Keano berhenti sebentar.
Menatap satu foto kecil.
Dirinya yang masih anak-anak. Tersenyum lebar di antara kedua orang tuanya.
Ia menatap cukup lama. Lalu berjalan lagi.
Kamarnya luas. Terlalu luas untuk remaja SMA.
Kasur king size. Meja gaming mahal. Rak sepatu tersusun rapi. Jendela besar menghadap kota.
Semua ada.
Kecuali… seseorang untuk diajak cerita.
Keano menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Hening.
Ia mengambil ponselnya tanpa sadar.
Chat terakhir masih terbuka.
Senja.
Ia membaca ulang pesan tadi.
"Udah masuk rumah?"
Belum ada balasan lagi.
Keano tersenyum tipis.
Aneh.
Di rumah sebesar ini… justru pesan sederhana dari seorang gadis yang tinggal di rumah kecil terasa paling hangat.
Ia menatap langit-langit kamar.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia mengakui sesuatu dalam hati—
Senja mungkin kesepian.
Tapi ternyata… dia juga sama.
Ponselnya berbunyi.
Pesan masuk dari ibunya.
Mama:
(Mama pulang malam ya. Jangan tidur larut. Besok ada les bisnis.)
Keano membaca. Lalu mengetik balasan singkat.
Keano:
(Iya, Ma.)
Hanya itu.
Ia meletakkan ponsel di dada.
Rumah besar. Lampu terang. Semua fasilitas lengkap, namun tetap terasa kosong.
Beberapa detik kemudian—
ting!
Balasan baru muncul.
Senja:
Udah kok :)
Keano tersenyum tanpa sadar.
Dan entah kenapa… malam itu rumah mewahnya terasa sedikit lebih hidup.
Malam di Rumah Senja
Pintu rumah tertutup pelan.
Klik.
Senja mengunci dari dalam.
Rumah kembali sunyi, lampu ruang tamu menyala redup. Aroma kayu tua dan minyak kayu putih khas neneknya memenuhi udara. Jam dinding berdetak pelan, seolah jadi satu-satunya suara yang menemani.
Senja melepas sepatu. Menaruh tas di kursi. Lalu berdiri sebentar di tengah ruangan.
Hening.
Biasanya ia langsung terbiasa. Biasanya tidak terasa apa-apa, tapi mungkin malam ini akan berbeda.
Ada sisa perasaan hangat yang ikut pulang bersamanya.
Ia berjalan ke dapur kecil. Membuka tudung saji.
Neneknya sudah menyiapkan makan untuk malam ini : nasi hangat, tumis kangkung, dan telur dadar.
Sederhana. Selalu sama. Selalu cukup.
Senja tersenyum kecil.
"Nenek pasti capek… masih sempet masak."
Ia mengambil piring, makan perlahan sendirian di meja makan kecil.
Tidak ada suara obrolan. Tidak ada yang bertanya hari ini bagaimana.
Namun kali ini… ia tidak merasa benar-benar sendiri.
Ponselnya di samping piring menyala.
Keano:
Udah masuk rumah?
Senja kembali tersenyum mengingat pesan itu.
Ia mengetik.
Senja:
(Udah kok :)
Kamu udah sampe?
Tidak lama.
Balasan muncul cepat.
Keano:
(Udah dari tadi.)
Tadi rumah lo sepi banget ya, Senja berhenti mengunyah, jarinya menggantung di layar.
Biasanya tidak ada orang yang memperhatikan hal kecil seperti itu, selain Arelina itupun jika dia sedang main ke sini.
Ia mengetik pelan.
Senja:
(Iya… emang gitu.
Udah biasa sih.)
Beberapa detik.
Typing…
Typing lagi…
Seolah Keano sedang memilih kata.
Keano:
(Gue juga sering sendirian di rumah.)
Senja mengernyit kecil.
Entah kenapa ia tidak menyangka jawaban itu.
Senja:
(Serius? Rumah Kamu kaya nya lebih besar dari rumah ku.)
Keano:
(Nah itu, kebesaran buat satu orang.)
Senja tertawa kecil. Pelan. Hangat.
Ia berjalan ke teras depan sambil membawa ponsel.
Angin malam menyentuh wajahnya. Lampu jalan menerangi halaman sederhana rumahnya.
Untuk pertama kalinya— ia duduk di teras bukan untuk melamun… tapi untuk menunggu balasan seseorang.
Senja:
(Mama sama Papa kamu pasti sibuk ya?)
Balasan datang lebih lama kali ini.
Keano:
(..Iya, gue udah gak punya Papa, gue cuma punya Mama, itu pun dia sibuk dengan kerjaan nya, kadang gue mikir… rumah cuma tempat tidur doang.)
Senja membaca kalimat itu dua kali.
Ada sesuatu di sana. Bukan keluhan. Bukan marah.
Hanya… jujur.
Senja:
(Capek ya jadi kuat terus.)
Keano langsung membalas.
Keano:
(Lo juga gitu kan?)
Senja terdiam.
Angin malam terasa lebih dingin.m, tidak banyak orang yang bisa melihatnya sejauh itu.
Biasanya orang menganggapnya baik-baik saja.
Biasanya ia memang terlihat baik-baik saja.
Ia mengetik pelan.
Senja:
(Kadang-kadang aja.)
Beberapa detik hening.
Lalu—
Keano:
(Kalau lagi kadang-kadang itu…
chat gue aja.)
Senja menatap layar cukup lama.
Dadanya terasa hangat. Bukan deg-degan berlebihan. Bukan perasaan aneh.m, hanya nyaman.
Perasaan… punya tempat pulang selain rumah.
Senja:
(Iya :)
Mereka tidak sadar waktu berjalan.
Obrolan berlanjut.
Tentang guru killer di sekolah. Tentang Arelina yang terlalu cerewet. Tentang Keano yang ternyata tidak suka matematika. Tentang Senja yang diam-diam suka hujan.
Tawa kecil sesekali keluar dari bibir Senja. Hal yang jarang terjadi ketika ia sendirian di rumah.
Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Lampu ruang tamu masih menyala.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
rumah itu tidak terasa kosong.
Sebelum tidur, pesan terakhir muncul.
Keano:
(Senja.)
Senja:
(Hm?)
Keano:
(Makasih ya… udah nemenin ngobrol.)
Senja tersenyum. Matanya sedikit hangat.
Senja:
(Sama-sama.)
Makasih juga :)
Ia mematikan lampu kamar,berbaring memeluk bantal,di luar, malam tetap sunyi.
Tapi di dalam hatinya— tidak lagi sesepi biasanya.
Dan tanpa ia sadari…
hubungan mereka mulai berubah. Bukan teman biasa. Belum juga sesuatu yang jelas.
Namun cukup untuk membuat dua orang kesepian… tidak merasa sendirian lagi.