NovelToon NovelToon
Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kend 13

Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran Putri Mahkota bangsa Iblis

"Hah! "

Jay terbangun dari tidur nya. Dilihat sekeliling nya, dia mendapati tempat yang sudah tak asing lagi. Berfikir ternyata peristiwa tadi itu hanya lah mimpi lagi yang selalu datang padanya di kala tidur.

"Jay! Kamu udah bangun?" Bibi Aida bertanya setelah memasuki kamar. Terlihat raut khawatir terpancar di wajah nya yang masih terlihat anggun itu.

"Baru bangun, bi." Jawab Jay sekenanya.

"Kamu ngapain lagi sih, ke tanjakan keramat itu? Seharian nggak pulang, untung hari senin kak Shiva ada kuliah pagi." Cerocos Aida. Masih ada guratan kekhawatiran di wajah nya. "Kamu tau nggak, udah berapa hari nggak bangun-bangun?" Lanjut nya bertanya.

Jay yang masih bingung itupun hanya menggeleng kan kepalanya.

"Seminggu Jay! Bayangin! Waktu seminggu itu, suhu badan mu berubah-ubah. Bibi panik, Jay!" Ucap Aida menangis histeris. "Huh! Sekarang malah kamu terlihat merasa tak berdosa sedikit pun!" Lanjutnya sambil menampol bahu Jay dengan keras. "Aduh!"

"Kenapa, bi?" Tanya Jay heran. Padahal yang kena tampol bahu nya, mengapa malah bibinya yang kesakitan?

'Aneh! Keras banget tuh bahu! Kayak batu ajah.' fikir Aida.

"Bibi!" Panggil Jay sedikit meninggikan suara nya, karena Aida cukup lama terdiam sambil mengelus tangannya sendiri.

"Bahu mu keras, tangan bibi jadi sakit, nih." Ucapnya dengan meringis kesakitan dan terus mengelus tangannya itu. "Buruan gih, mandi! Seminggu ini kamu belum mandi tuh. Bibi hanya ngelap badan mu doang selama itu." Ucapnya dengan warna wajah yang memerah kala mengingat adegan waktu itu. Kemudian diapun berlalu dari kamar Jay.

Fikiran Jay jadi campur aduk. Di temukan Shiva dijalan? Tak sadar seminggu? Suhu tubuh berubah-ubah? Bagaimana bisa?

Jay memutar otak nya untuk mencerna dan mencari tahu kejadian sesungguhnya. Seandainya memang itu kenyataan. Terakhir kali, bukankah dia bertemu dengan sosok nenek renta yang berubah menjadi monster?

"Hihihi hihihi." Terdengar cekikikan seperti suara monster wanita di alat pendengaran Jay.

Jay tersentak, tubuh nya seketika itu juga ikut merinding ketakutan. Dia masih mengingat suara yang menakutkan itu.

"Ampun, nek! Jangan makan aku! Daging ku nggak enak." Mohon Jay, menangkup kan kedua telapak tangannya dengan pandangan keatas. Mengira sang nenek itu berada saat ini berada di atas loteng kamar yang dia tempati.

"Aduh!" Jay mengusap keningnya. Merasa ada sesuatu yang sudah menyentil dahinya itu dengan keras.

"Nenek, nenek! Nenek mbah mu! Aku ini masih muda lho! Umur ku saja masih tiga ribu seratus empat belas tahun!" Ucap suara yang menyeramkan itu.

Dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan, Jay melongo atas kejujuran pengakuan monster tua betina itu. "Tiga ribu seratus empat belas tahun, masih muda?" Tanya Jay mengusap wajah nya dengan kasar.

"Masih lah, goblok! Masih perawan tau!" Ucap nenek itu. Namun suara nya seketika itu juga tak semenyeramkan seperti tadi. Malah lebih lembut dari suara Aida, bibinya itu.

Lagi-lagi Jay melongo. "Suara siapa lagi tuh?" Tanya Jay penasaran. "Aduh!" Lagi Jay mengusap dahinya, karena merasa ada jitak kan kembali.

"Ini suara asli ku, dodol!" Ucap suara itu kembali dengan ketus, namun suara nya terdengar halus. "Kamu jangan teriak-teriak kalau bicara sama aku, ntar kamu disangka orang gila." Lanjut suara itu kemudian.

"Jay! Kamu ngomong sama siapa? Kok heboh banget?" Tiba-tiba Aida membuka pintu kamar tergesa-gesa bertanya pada keponakan nya itu.

"Nggak sama siapa-siapa kok, bi. Cuma sama set." Belum sampai kata-kata nya, Jay kembali merasa jitakan di dahinya. "Aduh!" Jay kembali menggosok bekas jitakan makhluk tak kasat mata itu.

"Kamu kenapa, Jay?" Tanya Aida cemas. Melihat reaksi pemuda itu kesakitan sambil mengusap dahinya.

"Nggak apa-apa, bi. Mungkin lagi pusing saja nih." Kilah Jay dengan sedikit mengeluh. 'Eh setan! Jangan jitak jidat gue terus napa?' ketus Jay dalam fikiran nya.

Seketika itu juga, dia merasa kan ada yang membelai lembut alat vital bagian bawah nya. Membuat benda itu menggeliat.

Buru-buru Jay bergerak ingin kekamar mandi. Sebelum sempat dia membuka pintu kamar mandi.

"Jay! Kakimu udah sembuh?" Ucap Aida dengan suara begitu keras, kegirangan melihat keponakan nya itu berjalan seperti cara orang biasanya melangkah. Gegas dia berlari mendekati Jay. ber niat ingin memeluk Jay.

Seolah kejadian ini sudah diprediksi tubuh nya. Ketika bibinya itu berlari serampangan, dan hendak terjatuh, Jay langsung cepat bertindak menyambut tubuh bibinya itu yang akan tersungkur dengan badannya.

"Bibi aman?" Jay yang tertindih Aida bertanya lembut di telinga bibinya itu.

Tubuh Aida bergetar ringan merasakan hembusan nafas Jay menerpa daun telinganya ketika pemuda itu bertanya. "Aman, kok!" Jawab nya pelan. Seakan berbisik.

Jay melepaskan rangkulannya pada pinggul bibi nya itu. Namun, dadanya terhimpit oleh dada Aida yang begitu kenyal. Seketika itu juga, tombak pusakanya yang tadi sempat menggeliat semakin menegang.

"Jay! Kamu!" Aida gegas bangun. Dia juga merasa kan pergerakan tombak itu di bawah sana, menyundul area bagian bawah nya sendiri.

"Maaf, bi!" Jay pun ikut bangkit. "Lain kali bra nya di pake!" Celetuk Jay langsung hilang dibalik pintu kamar mandi.

Aida yang masih berdiri mematung mendengar celotehan terakhir Jay menjadi malu. Pemuda itu benar. Dia sering kali tidak memakai armor kaca mata pelindung itu jika sudah berada di rumah.

Dengan perasaan campur aduk, dia pun meninggalkan kamar Jay.

Di dalam kamar mandi, Jay membuka seluruh pakaian nya. Setelah tubuh nya benar-benar polos, dihadapan cermin yang ada di kamar mandi itu dia terpaku sejenak. Melihat pantulan tubuh nya saat ini.

'Eh setan! Masih hidup nggak, lu?' tanya Jay di benaknya. Mencoba berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata itu. Ingin menanyakan beberapa hal yang telah berubah pada tubuh nya itu.

'Perkenalkan, nama sang putri Mahkota raja iblis ini ada Milea orgtiphus. Jangan lu panggil setan lagi! Okey?' balas makhluk tak kasat mata menurut Jay itu dengan Jumawa memperkenalkan dirinya.

'Oh, lu putri Mahkota? Tapi bagi gue, lu tuh cuma setan!' ejek Jay. "Aduh!" Jay memegang tombak nya. Merasa ada tangan yang menampolnya dengan sedikit keras.

'Gue bisa aja bunuh lu sekarang!' ancam Milea dengan suara menggeram. Suara itu kembali menakutkan di pendengaran Jay.

'Jangan dong, Putri Mahkota! Gue tadi kan cuma bercanda.' ucap Jay yang benar-benar ketakutan. Karena sang tombak seperti ada yang meremas nya dengan kasar.

'Baiklah! Kali ini gue ampuni.' ucapnya melepaskan remasan pada tombak Jay. 'Panggil gue Milea saja! Gue benci panggilan Putri Mahkota itu!' lanjut nya dengan tegas.

'Okey!' Jay menganggukkan kepala nya dengan cepat. 'Oh iya, tentang kaki gue, apa itu kerjaan, lu?' tanya Jay hati-hati. Takut menanyakan hal yang tak seharusnya di tanyakan.

'Siapa lagi, kalau bukan gue!' ketus Milea.

'Oh. Makasih!' balas Jay mengetahui hal kebenaran itu. 'Milea! Boleh gue tanya lagi?' Jay mengusap tengkuknya yang mulai berkeringat dingin. Masih takut untuk berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata itu, yang bisa saja mengakhiri hidup nya saat ini juga.

'Tanya apa?' suara Milea terdengar lembut. Agar Jay merilekskan tubuh nya dengan nyaman. Supaya pemuda itu tak ketakutan lagi.

'Sebenarnya, sekarang lu dimana sih?' tanya Jay akhirnya. Ingin tahu keberadaan makhluk menyeramkan itu.

'Gue ada dalam tubuh lu!' jawab Milea singkat.

'Bagian mana?' tanya Jay ingin mengetahui secara detail.

'Semua nya!' kembali Milea hanya dengan singkat menjawab pertanyaan Jay.

'Uhm. Satu lagi.'

'Apa lagi sih?' keluh Milea. Suaranya seperti gadis remaja yang sedang ketus.

'Makasih, atas perubahan postur tubuh gue sekarang ini.' ucap Jay tulus.

'Sama-sama.' balas Milea. 'Tapi itu semua nggak gratis, ada banyak misi yang harus lu kerjain!' ucap Milea tegas.

'Misi? Misi apa? Bukankah lu bisa ngelakuin apapun?' tanya Jay heran.

'Ada beberapa hal yang nggak bisa gue lakuin. Tapi harus gue dapetin! Dan itu butuh lu sebagai perantara!'

'Contohnya?' tanya Jay lagi. Agar Milea memberi sedikit bocoran tentang misi yang akan dia kerjakan itu..

'Nge wek,!'

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!