Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.
Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…
Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.
Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.
Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…
Akan merasakan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Kebahagiaan Yang Singkat.
Setelah Heron William Anderlecht berangkat ke luar negeri untuk mengurus urusan bisnis penting, Wilia kini tinggal di mansion megah keluarga Anderlecht. Itu semua terjadi atas permintaan Heron sendiri ia ingin Wilia dan anak-anaknya merasa aman dan terlindungi selama dirinya pergi.
Pagi itu terasa sangat berbeda bagi Wilia.
“Liora, Victor, Albert, Sean… ayo sarapan, Sayang,” panggil Wilia dengan suara lembut yang jarang sekali terdengar sebelumnya.
“Iya, Ibu,” jawab keempat anak itu hampir bersamaan.
Wilia memandangi mereka dengan perasaan haru. Melihat anak-anaknya duduk bersama di meja makan, tersenyum satu sama lain, terasa seperti sebuah kebahagiaan yang dulu bahkan tak pernah sempat ia miliki. Kini, hal sederhana seperti ini pun terasa begitu berarti.
“Ibu bangun lebih pagi dari biasanya,” komentar Liora sambil menatap ibunya.
Wilia tersenyum lembut. “Iya, Sayang. Ibu ingin mencoba lebih baik. Ibu ingin memperhatikan kalian sepenuhnya.”
Sejenak, suasana meja makan terdiam. Keempat anak itu saling menatap, seakan memastikan mereka tidak salah dengar.
“Ibu berjanji… mulai sekarang Ibu akan selalu ada untuk kalian,” lanjut Wilia dengan suara bergetar. “Ibu ingin menjadi ibu yang sesungguhnya bagi kalian semua… bukan seperti Ibu yang dulu.”
Albert, yang paling sensitif, memanggil lirih. “Ibu…”
Victor dan Sean turut menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa bisa ditahan, air mata Wilia jatuh.
“Maaf… Ibu malah menangis di pagi seindah ini. Ayo, kita makan yang banyak.”
“Ibu juga harus makan,” Liora mengingatkan sambil tersenyum.
Ketiga adiknya mengangguk setuju.
“Iya, Ibu.”
Wilia tersenyum di antara tangisnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini.
Sementara itu, jauh di Kanada…
Heron baru saja menyelesaikan sebuah pertemuan bisnis besar dengan rekan bisnisnya, Devid Richard Alexander.
“Saya puas dengan kerja sama kita, Tuan Heron,” ujar Devid sambil menjabat tangannya.
“Saya juga, Tuan Devid,” jawab Heron tegas, aura kepemimpinannya begitu kuat.
Setelah tanda tangan kontrak selesai dan Devid pergi, ponsel Heron berdering.
“Hallo, Wilia,” sapanya hangat.
“Mas… sedang apa?” suara Wilia terdengar lembut dan penuh rindu.
Heron tersenyum. “Aku pulang malam ini. Aku ingat janjiku padamu… kita akan menikah.”
Wilia terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum bahagia. “Aku menunggu, Mas…”
“Pesawatku sebentar lagi lepas landas. Tunggu aku.”
“Iya, Mas.”
Tak lama kemudian, pesawat pribadi Heron terbang menuju Italia.
Sesampainya di sana, tangan kanannya—Roy—sudah menjemputnya.
“Bagaimana perkembangan bisnis senjata kita?” tanya Heron tanpa basa-basi.
“Semua stabil dan aman, Tuan,” jawab Roy.
“Bagus. Tapi tetap waspada. Kita tidak tahu kapan musuh bergerak.”
“Baik, Tuan.”
Sesaat kemudian, Heron tiba di mansion keluarga Anderlecht.
“Wilia… aku pulang,” panggilnya.
Wilia langsung berlari menghampirinya. “Mas…”
Heron meraih tangannya. “Aku menepati janji. Malam ini… kita menikah.”
Wilia terkejut. Air matanya menetes tanpa ia sadari. Ini adalah kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan akan kembali ia rasakan.
Malam itu, sebuah pernikahan sederhana namun tetap mewah dilaksanakan di taman belakang mansion keluarga Anderlecht. Lampu-lampu kristal dan rangkaian bunga putih menghiasi altar, menciptakan suasana yang hangat dan sakral.
Heron mengenakan jas hitam elegan, sementara Wilia tampil anggun dalam balutan gaun rancangan desainer terbaik Italia. Semua tamu terpukau melihatnya.
Liora menggandeng ibunya menuju altar. Victor, Albert, dan Sean berjalan di belakang mereka membawa bunga serta cincin.
Heron menatap Wilia dengan tatapan penuh cinta.
Di hadapan pendeta, suara mereka terdengar mantap.
“Heron William Anderlecht, apakah Anda menerima Wilia Perista sebagai istri Anda?”
“Saya bersedia.”
“Wilia Perista, apakah Anda menerima Heron sebagai suami Anda?”
“Saya bersedia.”
Cincin disematkan. Ikatan suci terpahat kembali.
“Dengan ini, Anda resmi menjadi pasangan suami istri. Anda boleh mencium pengantin wanita.”
Sorakan para tamu menggema.
Heron mengecup bibir Wilia lembut. Tangis bahagia jatuh dari mata keduanya.
Di sudut ruangan, Liora, Victor, Albert, dan Sean saling memeluk.
“Kak… akhirnya kita punya ibu lagi,” bisik Victor.
Liora tersenyum lirih. “Iya, boys… keluarga kita kembali utuh.”
Usai acara, mereka kembali ke mansion.
“Ayah, bulan madu ke mana?” tanya Liora penasaran.
“Ke Kanada,” jawab Heron. “Sekalian mengurus beberapa urusan bisnis.”
Ia menatap putrinya dengan bangga. “Selama Ayah pergi, perusahaan Ayah percayakan padamu.”
Liora mengangguk mantap. “Iya, Ayah.”
Keesokan paginya, Heron dan Wilia berangkat.
Namun takdir berkata lain.
Di tengah perjalanan, pesawat mereka mengalami gangguan besar.
Dan…
BOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang langit. Pesawat jatuh di perairan perbatasan.
Tidak ada yang selamat.
Di kantor utama perusahaan…
“Non… nona muda…” suara John terdengar gemetar.
Ada sesuatu yang salah, Liora bisa merasakannya. “Ada apa, John?”
“Tuan dan Nyonya… mengalami kecelakaan pesawat…”
Dunia seperti berhenti berputar.
“Ti… tidak mungkin…”
“Pesawatnya hancur total. Semua penumpang dinyatakan meninggal dunia.”
Liora terpaku. Napasnya tercekat. Lututnya goyah.
“Kenapa… kenapa harus sekarang?” isaknya. “Baru saja aku merasakan kebahagiaan itu lagi…”
Dengan suara patah, ia bertanya, “John… bagaimana dengan adik-adikku?”
“Mari kita pulang, Nona.”
Sesampainya di mansion…
“Victor! Albert! Sean!” panggil Liora.
“Kakak!” ketiga adiknya langsung berlari memeluknya.
“Kak… Ayah dan Ibu… kenapa mereka pergi?”
Tangis mereka pecah. Ruangan seakan dipenuhi luka yang tak kasatmata.
“Kita baru saja bahagia, Kak…” ucap Albert sambil terisak.
Liora memeluk mereka erat, seolah ingin menahan dunia agar tidak runtuh lagi.
“Kakak juga tidak tahu… tapi kita harus kuat. Kalian tidak sendirian. Kakak selalu ada untuk kalian.”
“Baik, Kak…” jawab mereka bersamaan.
Hari-hari berkabung menyelimuti mansion. Para pelayan, rekan bisnis, dan kerabat berdatangan memberikan belasungkawa.
Tak lama kemudian, paman mereka, Henry William Anderlecht, datang.
“Liora…” katanya lirih sambil memeluknya.
“Paman… aku merasa sangat sendirian…” bisik Liora.
Henry menepuk punggungnya. “Semua orang punya luka, Liora. Tapi kamu harus kuat… seperti ayahmu dulu.”
Ia memegang kedua bahunya. “Mulai sekarang… kamu adalah tulang punggung keluarga ini.”
Liora mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Hari demi hari berlalu. Victor, Albert, dan Sean tenggelam dalam kesedihan. Namun Liora berusaha menjadi tiang bagi mereka.
“Boys… ayo makan dulu,” ucapnya lembut namun tegas.
Anak-anak itu menatap kakak mereka dengan mata sembab.
“Kita harus bangkit,” lanjutnya sambil menggenggam tangan mereka. “Kita akan melewati semuanya… bersama.”
Dan sejak hari itu…
Liora benar-benar menjadi pelindung keluarga Anderlecht.