NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2:Gema Sang perburuan Di Kota Labirin

Tiga bulan berlalu sejak jilid pertama "The Xianzhou Alliance: Lahirnya Kuintet Awan Tinggi" dirilis. Kehidupanku yang dulunya serba pas-pasan, kini berubah drastis.

​Suatu sore, aku duduk di ruang belakang percetakan milik Tuan Danton, seorang pria paruh baya yang kini memandangku seolah aku adalah angsa bertelur emas. Ia meletakkan tiga kantong kulit tebal di atas meja kayu. Bunyi gemerincing logam yang beradu di dalamnya terdengar seperti melodi terindah yang pernah mampir di telingaku.

​"Tiga ratus ribu Valis, Anonym," kata Tuan Danton, suaranya bergetar karena antusiasme. "Dan ini baru potonganmu dari cetakan ketiga minggu ini. Buku ini... ini bukan sekadar cerita lagi. Ini fenomena!"

​Aku mengangguk pelan, menyembunyikan tanganku yang sedikit gemetar di bawah meja. Tiga ratus ribu Valis. Dengan uang ini, aku bisa menyewa apartemen yang layak, makan daging setiap hari, dan bahkan menyewa jasa supporter jika aku nekat ingin melihat lantai satu Dungeon. Tentu saja, opsi terakhir langsung kucoret dari daftar. Nyawaku hanya satu.

​Namun, ketenaran ini membawa masalah baru yang tidak pernah kuprediksi: rasa penasaran para Dewa.

​Dalam perjalanan pulang menuju penginapan baruku di Distrik Barat, aku melewati alun-alun utama. Sekelompok petualang dari berbagai Familia tampak berdebat panas.

​"Aku berani bertaruh pedang besarku, sihir Dan Feng pasti selevel dengan Riveria dari Loki Familia! Kau baca bagian di mana dia menenggelamkan pasukan Caterpillar dengan satu jentikan jari?" seru seorang Beastman serigala.

​"Omong kosong!" balas seorang kurcaci. "Yang membuatku gila adalah Yingxing. Logam Starskiff yang dia gunakan untuk menempa pedang Jingliu... aku sudah bertanya pada pandai besi Hephaestus Familia tingkat atas, dan tak ada satu pun dari mereka yang tahu logam apa itu! Di lantai berapa bahan itu bisa ditambang?!"

​Aku menundukkan kepala, menarik tudung jubahku lebih rapat, dan mempercepat langkah.

​Di Orario, para Dewa turun ke dunia bawah karena satu alasan: mereka bosan. Hiburan adalah segalanya bagi mereka. Dan sekarang, aku secara tidak sengaja telah melemparkan sebuah misteri besar ke tengah-tengah mereka. Di Guild, kudengar para staf sibuk membongkar arsip berusia ratusan tahun, mencoba mencari catatan tentang 'Dewa Lan Sang Perburuan' yang keberadaannya diklaim dalam novelku. Hermes, Dewa yang terkenal paling suka ikut campur, kabarnya mulai menyebarkan anak-anaknya untuk mencari tahu siapa sosok 'Anonym' yang mengetahui "sejarah yang hilang" ini.

​Jika identitasku terbongkar, aku tidak akan mati oleh monster Dungeon. Aku akan mati karena dikelilingi oleh para Dewa yang menuntutku menceritakan kelanjutan kisahnya setiap detik, atau lebih buruk, mereka akan membedah otakku untuk mencari tahu dari mana asal-usul cerita ini.

​Malam itu, di kamar baruku yang hangat dan diterangi lampu batu sihir, aku kembali duduk di depan meja tulis. Tumpukan perkamen kosong menatapku, menanti untuk diisi.

​"Mereka menginginkan lebih," gumamku pada diri sendiri, mencelupkan pena bulu ke dalam tinta. "Maka, mari kita beri mereka keputusasaan."

​Jika jilid pertama adalah tentang kejayaan Kuintet Awan Tinggi, maka jilid kedua harus menampilkan ancaman yang sepadan dengan kekuatan absolut mereka. Di sinilah aku mulai memasukkan elemen Abundance.

​Aku mulai menulis bab pertama untuk buku kedua: "The Xianzhou Alliance: Bayangan Pohon Keabadian".

​"Dungeon bukanlah sekadar lubang tempat monster lahir; ia adalah makhluk hidup yang bisa merasakan ancaman. Menyadari kekuatan Kuintet Awan Tinggi yang berada di bawah panji Lan, Dungeon merespons dengan menciptakan anomali di kedalaman lantai 60—sebuah area yang belum pernah dipetakan oleh manusia. Di sana, tumbuh sebuah benih yang disebut 'Pohon Keabadian' (Abundance). Benih ini memancarkan kabut aneh yang membuat monster di sekitarnya tidak bisa mati. Regenerasi seketika. Potong kepala mereka, dan dua kepala baru akan tumbuh."

​"Dan dari akar pohon tersebut, lahir sang Rex, monster mutan berakal yang menyebut dirinya Shuhu. Shuhu tidak mengincar manusia biasa; ia mengincar para pahlawan. Ia ingin mengubah kehidupan abadi menjadi kutukan bagi siapa saja yang berani menantangnya."

​Aku berhenti sejenak, membayangkan bagaimana Jing Yuan, sang ahli taktik jenius, harus memutar otaknya untuk melawan musuh yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan tebasan pedang es Jingliu atau panah Baiheng. Kematian tidak berlaku bagi musuh mereka kali ini.

​Aku membayangkan bagaimana reaksi para petualang di Orario saat membaca ini. Mereka yang terbiasa membunuh monster yang hancur menjadi abu setelah kristal sihirnya dihancurkan, kini harus berhadapan dengan konsep musuh yang beregenerasi tanpa henti dari sel terkecilnya.

​Tiba-tiba, suara ketukan pelan di jendela kamarku memecah keheningan malam.

​Aku membeku. Kamarku berada di lantai tiga. Tidak ada balkon di luar sana.

​Dengan tangan gemetar, aku meraih belati kecil penyayat kertas—satu-satunya "senjata" yang kumiliki. Perlahan, aku membuka tirai jendela.

​Tidak ada monster. Tidak ada pembunuh bayaran.

​Hanya sepucuk surat kecil yang diikat pada sehelai bulu burung hantu berwarna cokelat, terselip di celah jendela kayu. Aku mengambilnya dan mematahkan segel lilin yang tidak memiliki lambang Familia apa pun.

​Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat singkat, namun cukup untuk membuat darahku berdesir dingin.

​"Kisah yang menarik. Tapi beritahu aku, Anonym... apakah Dewa Lan benar-benar ada di luar sana, atau kau hanya menceritakan ramalan tentang sesuatu yang akan datang?"

​Pena di atas mejaku meneteskan tinta, menodai perkamen. Untuk pertama kalinya sejak aku bereinkarnasi sebagai manusia biasa di Orario, aku merasa bahwa dunia fiksi yang kuciptakan mulai merobek realitas di sekitarku.

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!