NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SkreEEEE : Seruan dari Koridor

KELOMPOK INTI & LOVE LINES RUWET:

MARK LEE (19) - Ketua Kelas. Santai, easygoing, lebih suka main game daripada urus kelas. Sedang pacaran dengan Yeri.

YU JIMIN [KARINA] (19) - Wakil Ketua Kelas. Disiplin, tegas, atlet taekwondo. Sering bentrok dengan gaya kepemimpinan Mark.

KIM YERIM [YERI] (19) - Ceria, artistic, pacarnya Mark. Sering jadi penengah saat kelas ribut.

LEE JENO (19) - Atletis, populer. Sedang PDKT pada Giselle.

UCHINAGA AERI [GISELLE] (19) - Jenius teknologi, pendiam tapi observatif. Tahu Jeno PDKT, tapi pura-pura tidak tahu.

NA JAEMIN (19) - Silent type, pintar, suka observasi. Diam-diam menyukai Minjeong.

JUNG SUNGCHAN (19) - Tinggi, atlet basket. Juga suka Kim Minjeong, saingan Jaemin. KIM

KIM MINJEONG (19) - Cerdas, mandiri, sedikit sarkastik.

ZHONG CHENLE (19) - Emosional, mudah panik. Sering berantem dengan Ningning.

NING YIZUO [NINGNING] (19) - Percaya diri, tajam lidah. Sering berantem dengan Chenle. Disukai Wonbin.

KELOMPOK HIBURAN & GOKIL :

LEE HAECHAN (19) - Tukang iseng, lucu,parodi. Disukai Hina.

PARK JISUNG (19) - Energik, lincah. Disukai Carmen.

HUANG RENJUN (19) - Kreatif, sarkastik.

CHOI JIWOO (19) - Fashionable, percaya diri.

Nyoman Ayu Carmenita [CARMEN] (19) - Periang, optimis. Suka pada Park Jisung.

Yu Ha-ram [YUHA] (19) - Ceria, suka dance.

KELOMPOK TENANG & DRAMA HATI:

STELLA KIM (19) - Kalem, bijaksana.

Roh Yu-na [A-NA] (19) - Perfeksionis,pinter ranking 2 di kelas, tapi suka menye menye, cita cita jadi dokter.

Kim Joo-eun [JUUN] (19) - Pemalu, manis.

Jeong Lee-an [IAN] (19) - Sporty, pendiam.

KIM NAYEON [YE-ON] (19) - Lembut, suka camilan.

LEE SOHEE (19) - Analitis, suka sains, pintar, ranking 1 di kelas, cita-cita jadi dokter.

PARK WONBIN (19) - Genius kimia, pendiam. Suka pada Ningning.

OSAKI SHOTARO (19) - Ahli dance & parkour.

SONG EUNSEOK (19) - Tenang, bijak.

Oh Sion (19) - Friendly, easygoing.

ANTON LEE (19) - Chill, suka musik.

KIM SUNKYUNG [LAMI] (19) - Imut, sangat manja dan cengeng.

NAKAMURA HINA [HINA] (19) - Ambisius, cerdas. Suka pada Lee Haechan.

KO EUN (19) - Artistik, intuitif. Suka pada Mark Lee, jadi agak tidak suka pada Yeri.

....

Kelas 3-B SMA Nambu berbau kertas basah dan mie instan. Tiga puluh siswa terkutuk duduk atau bersandar di antara bangku-bangku kayu yang berantakan, menjalani hukuman belajar tambahan sampai jam sepuluh malam karena video parodi mereka tentang kepala sekolah yang viral.

Di depan, Jimin-si wakil ketua kelas-berdiri di dekat papan tulis yang masih penuh coretan rumus matematika, tangan di pinggang, mencoba mengumpulkan laporan remedial yang hampir tidak ada yang serius mengerjakan. Suaranya tegas tapi sudah mulai serak.

"Yang belum kumpulin, besok langsung dipanggil orang tua. Gue nggak bercanda."

Di barisan tengah, Mark-sang ketua kelas-justru asyik main game di HP-nya, duduk menyender di kursi dengan kaki menyilang. Yeri, pacarnya, duduk di sampingnya sambil sketching di buku gambar, sesekali melirik layar Mark dan menggeleng. Dua baris di belakang mereka, Koeun memandangi punggung Mark dengan air muka masam, jarinya memelintir ujung rambutnya.

Di pojok kanan dekat jendela, Jaemin duduk sendirian, matanya mengamati Minjeong yang sedang asyik membaca novel di bangku depan. Tidak jauh dari situ, Sungchan juga memperhatikan Minjeong sambil pura-pura membaca komik. Saat Minjeong tidak sengaja menjatuhkan penghapus, Jaemin dan Sungchan hampir bersamaan membungkuk, tapi Jaemin lebih cepat.

Tangannya yang ramping mengulurkan penghapus itu ke Minjeong. "Nih," katanya pendek. Minjeong mengangguk singkat, "Thanks," lalu kembali ke bukunya, tanpa sadar telah membuat dua hati berdebar.

Di barisan belakang, keributan klasik sedang terjadi. "NING, LO NYONTEK PR GUE LAGI YA?!" teriak Chenle sambil menarik bukunya dari tangan Ningning.

"NGGAK NYONTEK! GUE CUMA BANDINGIN! EMANGNYA JAWABAN LO YANG BENER?" balas Ningning dengan mata terbelalak. Dari seberang, Wonbin yang pendiam mengamati pertengkaran mereka, terutama sorot matanya yang tertuju pada Ningning yang sedang emosi. Tangannya mengepal di saku jaket.

Di dekat pintu, Haechan sedang asyik menggoda Jisung dengan mengambil topi baseball-nya dan memakainya sambil nyengir.

"Gantian dong, Jisung-ah!"

Jisung berusaha merebutnya kembali,

"Bangsat lo, Haechan! Kembaliin gak!"

Carmen, yang duduk tidak jauh, memperhatikan Jisung dengan senyum kecil, pipinya memerah saat Jisung berlari mendekati bangkunya saat mengejar Haechan. Hina, dari bangkunya sendiri, memperhatikan Haechan dengan tatapan lain-tatapan yang berdebar-sebelum cepat-cepat melihat ke buku ketika Haechan kebetulan menengok ke arahnya.

Di sudut lain, Sunkyung-atau Lami, panggilan akrabnya-sedang merengek di telepon dengan suara cempreng.

"Eomma... aku masih di sekolah... nanti jemput aku ya... jangan lupa beliin es krim stroberi..."

Sementara itu, A-na di depannya terus mengeluh pada Stella tentang betapa tidak adilnya hukuman ini, sambil terus-menerus memeriksa jam tangannya.

Renjun sedang asyik menggambar di buku catatan, mengabaikan keributan di sekitarnya. Shotaro dan Eunseok sedang berbisik-bisik membahas gerakan dance terbaru, sementara Anton memakai headphone dan mengangguk-angguk mengikuti irama musik yang hanya dia yang dengar.

Suasana itu-riuh, berantakan, penuh drama remaja yang sepele-tiba-tiba terpotong.

KREEEETTTT-

Lampu neon panjang di langit-langit kelas mulai berkedip liar, suaranya mendengung kasar seperti kesakitan.

"Listrik mau mati kayanya," komentar Renjun tanpa angkat kepala dari gambarnya.

Kemudian, dengan suara GUBRAK yang pendek dan tegas, seluruh lampu di kelas-dan sepertinya di seluruh sekolah-padam total. Gelap pekat menyergap, hanya diterangi cahaya ponsel dan jam digital yang menyala-nyala di tengah kaget dan umpatan.

"ASTAGA! HP GUE TINGGEL 5%!" teriak A-na lagi.

Jimin berusaha tenang. "Tenang! Mungkin cuma-"

DUARRR!

Ledakan keras dari luar, seolah tepat di halaman sekolah, mengguncang bangunan. Kaca jendela di sebelah kanan kelas berderak-retak rambut. Semua kepala menoleh ke jendela.

Di luar, langit malam yang tadinya gelap biasa, kini... dipenuhi oleh ratusan garis cahaya ungu kehijauan, jatuh perlahan seperti tetesan hujan terbalik, menuju kota.

"Itu... apa?" bisik Sohee, bangkit dari kursinya dan mendekat ke jendela.

Salah satu "tetesan cahaya" itu jatuh dengan keras tepat di lapangan basket sekolah, hanya terpisah beberapa puluh meter dari gedung mereka. Getarannya membuat plafon kelas berdebu dan sebuah poster peta dunia terlepas dan jatuh.

Lalu, dalam hening yang mencekam pasca-ledakan, terdengar...

Suara.

Bukan suara manusia, bukan mesin. Suara itu parau, dalam, bergema di tulang, seperti campuran derit logam yang ditarik dan desis ular raksasa, diikuti oleh gemerisik kepakan sayap besar yang berat dan tidak wajar.

Sunkyung/Lami langsung menjerit keras dan bersembunyi di kolong meja, teleponnya terjatuh. "EOMMAAAA! Aku takut! Aku mau pulang!"

Jeno berdiri, mendekati jendela dengan hati-hati. "Satpam... pasti satpam udah periksa."

Dan memang. Dari balik kaca jendela kelas yang menghadap koridor, mereka melihat cahaya senter besar bergerak-gerak. Tiga sosok-siluet Pak Heri, Pak Budi, dan Mas Agus, satpam-satpam yang akrab dan sering mentolerir kenakalan mereka-sedang berjalan hati-hati menyusuri koridor yang gelap. Cahaya senter mereka menyapu dinding.

"Ada apa ini? Ledakan dari mana?" suara Pak Heri terdengar samar-samar, penuh kewaspadaan.

Tiba-tiba-

SESUATU yang GELAP, BESAR, dengan bentuk tak beraturan dan sepasang sayap lebar seperti membran kelelawar raksasa, MENUKIK DARI LANGIT-LANGIT KORIDOR di atas kepala para satpam. Gerakannya begitu cepat, hanya siluet hitam yang membuyarkan cahaya.

"AAAA-" teriak Pak Budi, terpotong oleh suara CRUNCH dan ROBEK yang mengerikan, seperti tulang dan daging remuk sekaligus.

Cahaya senter yang dipegang Pak Heri jatuh dan berguling-guling di lantai, menyinari dinding dengan pola acak. Dalam cahaya goyang itu, terpantul siluet besar yang membungkuk di atas sesuatu yang tak lagi bergerak.

KREEEENG! Makhluk itu menjerit, suaranya melengking sakit-mungkin karena cahaya senter yang masih menyilaukan. Tapi jeritan itu hanya sebentar.

Kemudian, terdengar suara basah.

JLEP. JLEP. JLOP.

Suara seperti hewan yang sedang menjilat dengan rakus, tapi lebih berat, lebih dalam, lebih... memualkan.

Dalam cahaya remang yang tersisa dari senter yang terbaring di lantai koridor dan cahaya bulan dari jendela, siswa-siswa kelas 3-B menyaksikan dari jendela kelas yang transparan-dengan mata terbelalak, mulut terbuka, napas tertahan-siluet makhluk itu menundukkan kepalanya dan... gerakan mengisap yang ritmis dari apa yang tadinya adalah tubuh Mas Agus.

Kegelapan dan keheningan yang tiba-tiba pecah oleh ledakan dari luar. Dan kini, melalui jendela kaca kelas yang menghadap koridor, mereka menyaksikan pemandangan yang tak mungkin terlupakan.

Cahaya senter yang tergeletak di lantai koridor memantulkan siluet makhluk besar yang membungkuk. Kepalanya yang tak berbentuk jelas itu terlihat naik turun dengan gerakan ritmis, diiringi suara basah yang mengerikan: JLEP. JLEP. JLOP.

Diam mereka hanya bertahan selama tiga detik.

"AKKKKKHHH----"

"EOMMAAAAAAAAAAAAAA-!!!"

Jeritan Sunkyung yang melengking seperti sirene memecah kesunyian. Dia langsung menjatuhkan diri ke lantai, merangkak dengan panik di bawah meja sambil terus menjerit, "PULANG! AKU MAU PULANG! EOMMA, TOLONGIN AKU!"

"ITU... ITU... MEREKA MAKAN... MEREKA MAKAN PAK AGUS!!" teriak Jisung, suaranya pecah. Jisung mundur terhuyung, punggungnya membentur dinding dengan keras. Matanya membelalak, seolah masih melihat bayangan itu. "DIA BARU KEMAREN NITIPIN GUE JUS! DIA ORANG BAIK! BAIK BANGET!"

Carmen yang melihat Jisung terguncang langsung berlari, menjatuhkan diri di sampingnya dan menarik tubuh Jisung ke dalam pelukannya. "JISUNG! JISUNG, LO GAPAPA! LO GAPAPA!" tapi tangisnya sendiri tak terbendung.

"BUKA PINTU! KELUAR! KITA HARUS KABUR SEKARANG!" Haechan berteriak, melompat dari kursinya dan langsung menerjang ke arah pintu. Tangannya menarik-narik gagang pintu dengan kasar, menggoncang-goncangkannya. "BUKA! INI PINTU KOKOH BANGET SI-"

"JANGAN BUKA! HAECHAN, JANGAN!" Hina berteriak, wajahnya pucat pasi. Dia ingin mendekat tapi kakinya seperti tertanam. "KALAU KELUAR KITA MATI! LO LIHAT TADI!"

"KITA MATI KALAU TETEP DI SINI!" balas Haechan histeris, terus menarik pintu.

A-na berjongkok di lantai sambil memegang kepala, teriak-teriak tak karuan. "GUE NGAK MAU MATI! GUE BELUM KULIAH! GUE BELUM JADI DOKTER! INI BUKAN SALAH GUE! SALAH MARK! SALAH YANG BIKIN VIDEO ITU!"

Stella berusaha mendekat, "A-na, tenang-"

"JANGAN DEKET-DEKET GUE! LO MAU NYERET GUE YA?NYU RUH GUE TENANG PADAHAL KITA BAKAL MATI!" A-na mendorong Stella hingga nyaris jatuh.

Chenle, yang sudah muntah dua kali, kini terduduk lemas di samping tempat sampah. Dia terisak-isak, "Aku mau ibu... aku mau ayah... tolong... tolong jangan makan aku..." Air mata dan air muntah mengotori wajahnya.

Ningning berdiri gemetar di dekatnya, menjerit setiap kali suara JLEP dari koridor terdengar. "STOP! STOP IT! JANGAN DENGERIN! TUTUP KUPING! TUTUP!" Tangannya menekan telinganya kuat-kuat, tapi jeritannya sendiri yang paling keras.

"SEMUA DIAM!" teriak Jimin, berusaha menenangkan, tapi suaranya tenggelam dalam lautan kepanikan.

Yeri memeluk erat Mark yang berdiri kaku seperti patung. "MARK... MARK, BILANG SESUATU... BILANG INI CUMAN BAD DREAM... BILANG, MARK!" Dia mengguncang-guncang bahu pacarnya itu, tapi Mark hanya bisa menatap kosong ke jendela, bibirnya bergetar tanpa suara.

Koeun yang dari tadi diam, tiba-tiba berteriak keras, "KITA DITINGGAL DI SINI! KALAU MEREKA BUNUH KITA SEMUA! GAK ADA YANG NOLONGIN KITA! GAK ADA!" Dia menarik-narik rambutnya sendiri.

Suara jeritan, tangisan, teriakan, dan kepanikan tiga puluh remaja itu bergemuruh di dalam ruangan tertutup, memantul dari dinding ke dinding, seperti simfoni kacau dari ketakutan murni yang meledak-ledak.

Dan makhluk di koridor itu mendengar.

Suara isapannya berhenti tiba-tiba.

Kepalanya yang hitam dan besar itu mengangkat, perlahan, lalu berputar dengan gerakan tak alami ke arah sumber keributan-ke arah jendela kaca kelas 3-B.

"SKREEEEEEEEE-!!!"

Lengkingan marah yang memekakkan, bernada tinggi dan penuh ancaman, membuat kaca jendela bergetar.

Dengan gerakan cepat yang mengaburkan pandangan, makhluk itu MELESAT menuju jendela.

BAM!

Tubuh gelap yang besar itu menghantam kaca jendela. Seluruh panel bergetar keras. RETAKAN seperti sarang laba-laba langsung menjalar dari titik benturan.

"AAAAAAAAAAAAAHHHHH!! DIA MASUK! DIA MAU MASUK!" teriak Juun, jatuh terduduk dan menendang-nendang kakinya ke lantai sambil menjerit.

BAM! Hantaman kedua lebih keras. Retakan membesar, kaca mengeluarkan suara mengerikan seperti mau pecah, tetapi masih bertahan. Di balik kaca yang retak-retak, wajah makhluk itu terlihat samar: permukaan hitam mengkilap seperti chitin, dan di sana-sinar, di tengah kegelapannya, berpuluh-puluh titik cahaya kecil berkedip-kedip seperti mata majemuk serangga yang memantulkan cahaya sisa dari koridor.

"PINTU! KUNCI PINTUNYA, JENO! SEKARANG!" Jimin berteriak, suaranya serak.

Jeno, yang selama ini terduduk di lantai dekat pintu karena syok, seperti tersetrum. Dia melihat ke arah gagang pintu, lalu ke jendela tempat makhluk itu menggedor-gedor. Dengan tangan yang gemetar luar biasa, dia merangkak, berusaha mencapai kunci di samping pintu. "Gue.. Gue nggak bisa...Gue lemess..." gumamnya, panik.

"JENO, CEPATAN!" teriak Giselle dari kejauhan, wajahnya basah oleh air mata.

Dorongan itu membuat Jeno menggapai. Tangannya yang dingin memegang kunci bundar. Dia memutar sekuat tenaga. KLIK.

Bunyi itu kecil, tapi terasa seperti kemenangan kecil di tengah kekacauan.

BAM! Ketiga kalinya. Kaca sudah penuh retakan, mulai melengkung ke dalam, tetapi lapisan laminasi di tengahnya masih menyatukannya. Cakar hitam yang tajam mencakar-cakar permukaan kaca dari luar, meninggalkan goresan putih dan sura SCREEEETCH yang menyakitkan telinga.

"TOLONG! ADA YANG DENGER GAK , KITA DI SINI! TOLOOOOONG!" teriak Shotaro.

"MATIIN LAMPUNYA! CAHAYA, MATIIN SEKARANG!"

Suara itu datang dari Jaemin. Dia tidak berteriak, tapi suaranya memotong seperti pisau, penuh dengan urgensi yang tidak terbantahkan. Dia sudah berdiri di dekat saklar lampu darurat merah di dinding, matanya tajam menatap kejadian di jendela.

Tapi kepanikan sudah terlalu tinggi. Teriakan masih terus bergemuruh. Yeri menangis semakin keras. A-na terus menjerit. Sunkyung tidak berhenti memanggil ibunya.

Jaemin melihat ke arah Jimin. Di tengah teriakan histeris itu, kontak mata mereka terjadi. Jimin, dengan wajah basah oleh keringat dan air mata, mengangguk cepat, matanya mengatakan, "JIMIN, LAKUIN."

"SEMUA MUNDUR! DAN DIAM! INI PERINTAH!" Jimin berteriak, kali ini dengan nada komando yang dalam dan menggelegar, sesuatu yang tidak pernah mereka dengar darinya sebelumnya.

Sedikit efek. Beberapa yang dekat dengannya terdiam, terkesima.

Itu cukup bagi Jaemin.

Tanpa ragu, dia membalik dan MENAMBAK saklar lampu darurat merah itu ke bawah. KLIK.

Kegelapan total menyergap.

Dan dengan kegelapan itu, datanglah gelombang teriakan ketakutan baru.

"AKKHH--GELAP! GUA NGAK BISA LIHAT APA-APA!" teriak Renjun.

"NYALAIN LAGI! JANGAN GELAP! AKU TAKUT GELAP!" jerit Sunkyung.

"DIAM!" Jaemin bersuara lagi, kali ini hampir membentak. Suaranya tegas dan jelas dalam gelap. "DENGERIN SUARA DI LUAR! DAN DIAM!"

Ajaibnya, perintah itu bekerja. Mungkin karena kewalahan, mungkin karena tidak ada pilihan lain. Tangisan mereda menjadi isakan tertahan. Jeritan berhenti. Yang tersisa hanya desahan napas yang berat, tersendat-sendat, dan detak jantung yang berdebar kencang di telinga masing-masing.

Semua mata-yang dipenuhi air mata dan ketakutan-menatap ke arah jendela yang gelap dan hanya terlihat samar-samar dari cahaya bulan yang sangat redup.

Cakaran di kaca... berhenti.

Mereka mendengar suara gesekan di luar, seperti makhluk itu menggerakkan tubuhnya mendekati kaca. Titik-titik cahaya kecil yang banyak itu berkedip-kedip lebih cepat, seolah memindai ruangan gelap di hadapannya.

Tidak ada gerakan.

Tidak ada suara dari dalam.

Hanya kegelapan.

Lalu, terdengar suara geraman rendah, hampir seperti kekecewaan. Cakar yang tadinya mencakar kaca, ditarik perlahan.

Mereka mendengar suara kepakan sayap yang berat-WHOOSH-sekali, dua kali. Suara itu... semakin menjauh.

Dan kemudian... hening.

Hening yang lebih dalam, lebih menakutkan, daripada semua teriakan tadi.

Keheningan setelah kepakan sayap makhluk itu menjauh terasa lebih menakutkan daripada teriakannya. Di dalam kegelapan kelas 3-B yang pekat, suara pertama yang muncul adalah isakan Sunkyung yang tersedak-sedak dari bawah meja.

Dari kolong meja, Sunkyung (LAMI) nongol dikit. Muka dia belepotan air mata. "Beneran tuh... dah pergi?" tanyanya kayak anak kecil.

"Gue denger suara sayapnya dah jauh..." Ucap yuha

"Sepertinya iya, Lam. Tapi sshh," jawab Yeon dari sampingnya.

"Syukur... astaga, syukur..." desis A-na dari sudut lain. Dia duduk bersandar di dinding, tangannya masih menekan dadanya yang berdebar kencang. "Gue kira tadi... gue kira kita bakal dihabisin kayak..." Suaranya tercekat, tidak sanggup melanjutkan.

Lalu, satu per satu, cahaya-cahaya kecil mulai muncul. Bukan cahaya terang yang nekat, tapi cahaya redup dari layar ponsel yang dibuka dengan kecerahan minimum. Seperti kunang-kunang di kuburan, cahaya-cahaya itu menerangi wajah-wajah yang basah, pucat, dan hancur.

Carmen masih erat memeluk Jisung di dekat pintu. Tubuh Jisung gemetar tak terkendali. "Ji, kamu baik-baik saja? Kamu dingin banget," bisik Carmen, mengusap punggung Jisung.

"Gw nggak bisa berhenti gemeter, men" jawab Jisung, suaranya parau. "gw liat... gw liat jelas... cakarnya... dan suara..." Dia menggigil lebih keras.

Carmen hanya bisa menariknya lebih dekat, menempelkan pipinya ke kepala Jisung. "udah, udah jisunggie. Yang penting Kita selamat. Kita masih bersama."

Dari dekat jendela yang retak, Ningning terduduk di lantai. Dia memeluk diri sendiri, tubuhnya bergoyang-goyang pelan. "Apa itu...? Itu apa, Chenle?" tanyanya, menatap kosong ke depan.

Chenle yang lagi meringkuk di deket tempat sampah, geleng-geleng. "gue gak tau ning, dan gak mau tau. Gue mau pulang. Sekarang."

Suasana hening masih pekat, sebelum akhirnya pecah sama suara getar HP yang nyaris barengan.

Bzzzt. Bzzzt.

"Woi, HP gue geter," bisik Jisung, masih melipet di pelukan Carmen.

"Gue juga," kata Haechan, nyalain layar.

Cahaya redup langsung ngena muka dia yang masih pucat banget.

Renjun buka HP-nya, mata langsung melek. "Lah, ini broadcast darurat dari pemerintah."

"Bacain dong," minta Shotaro.

Giselle membacakan broadcast itu

"PERINGATAN: ANCAMAN TAK DIKENAL. Seluruh warga... kami sedang menyelidiki insiden benda jatuh dan kemunculan entitas asing... sifat dan asal-usul entitas tersebut BELUM DIKETAHUI."

"Belum diketahui?" Renjun memotong, suaranya sarat ketidakpercayaan. "Mereka nggak tahu itu apa, tapi itu tadi udah bunuh orang?"

"Ya iyalah gak dikenal, wong bentuknya kayak mimpi buruk," celetuk Haechan langsung diinterupsi sama tatapan tajem Jeno.

"Diem, dengerin dulu," kata Minjeong, matanya tertancap pada Giselle.

Giselle melanjutkan, "Jika Anda berada di dekat atau melihat entitas tersebut: pertama, hindari memancarkan cahaya terang. Kedua, redam kebisingan. Ketiga, cari tempat berlindung yang tertutup dan gelap. Keempat, tunggu instruksi selanjutnya." Dia berhenti sebentar. "Ini adalah situasi yang berkembang. Bertindaklah dengan hati-hati dan prioritaskan keselamatan."

....

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!