NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amanat dari Sebuah Mimpi

​Di teras rumah panggung yang menghadap ke hamparan tambak, perdebatan itu belum juga usai. Suara jengkerik yang biasanya mendominasi malam, kalah oleh adu mulut antara seorang ibu yang progresif dan seorang kakek yang memegang teguh tradisi kuno.

​"Bah, pokoknya Jalal harus sekolah. Titik!" Risma menggebrak meja kayu perlahan, tangannya masih gemetar—bukan karena takut pada ayahnya, tapi karena kekhawatiran pada masa depan anaknya. "Anak-anak seumuran dia sudah pada bisa baca tulis, sudah pakai seragam merah putih. Masa Jalal cuma di rumah, latihan pukul batu sama belajar ngaji saja?"

​Abah menarik napas panjang dari lintingan rokoknya, asap mengepul menutupi wajahnya yang keras. "Neng, kamu itu jangan pura-pura lupa. Jalal itu bukan anak biasa. Dia titisan pendekar besar! Buat apa dia belajar hitung-hitungan di papan tulis kalau takdirnya adalah menyelamatkan dunia dari kegelapan? Musuhnya sudah mengasah kuku di Jakarta, masa Jalal mau disuruh belajar menggambar gunung?"

​"Justru itu, Bah!" Risma menyela, matanya berkaca-kaca. "Sekarang jaman sudah beda. Mau jadi pendekar kek, mau jadi pahlawan kek, minimal harus punya ijazah! Pemerintah saja bilang wajib belajar sembilan tahun. Masa titisan pendekar mau jadi pengangguran?"

​"Ijazah tidak bisa menahan pukulan Mata Malaikat, Risma!" geram Abah sembari membetulkan posisi kaki pincangnya. "Dia butuh guru tenaga dalam yang mumpuni. Latihan dariku sudah mentok. Dia harus fokus menghimpun energi inti, bukan fokus ngerjain PR matematika!"

​Jalaludin duduk di sudut ruangan, tetap diam dalam kegelapan yang menjadi teman setianya. Telinganya menangkap setiap getaran suara, setiap detak jantung ibunya yang cepat, dan nafas Abahnya yang berat. Ia tidak bersuara, namun hatinya bimbang. Di satu sisi, ia ingin membahagiakan ibunya yang sudah kehilangan Ayah, di sisi lain, ia merasakan dorongan energi yang luar biasa di dalam dadanya—sesuatu yang Abah sendiri tidak tahu cara menjinakkannya.

​Malam itu, setelah lelah mendengar perdebatan kedua orang tuanya, Jalal jatuh terlelap. Namun, tidurnya kali ini bukan sekadar istirahat. Jiwanya seolah ditarik keluar, melayang melewati hutan bakau, menyeberangi lautan, hingga ia berdiri di sebuah puncak gunung yang dikelilingi awan putih yang berputar-putar.

​Di sana, di atas sebuah batu besar yang dikelilingi bunga teratai, duduk seorang pria tua. Rambutnya putih menjuntai hingga ke pinggang, pakaiannya berupa jubah kain kasar berwarna gading—persis seperti pendekar dari hikayat zaman dulu yang sering diceritakan Abah.

​"Kemarilah, cucuku... Titisan Si Buta," suara pria itu lembut, namun bergaung di seluruh penjuru langit.

​Jalal melangkah maju, meski matanya terpejam, di dimensi ini ia bisa "melihat" segalanya dalam bentuk siluet energi yang berpendar keemasan. "Siapa kau, Orang tua?"

​"Aku adalah ingatan yang tersimpan dalam darahmu," pria itu berdiri. "Latihan fisik yang diberikan kakekmu sudah selesai. Kini saatnya kau mengenal jati dirimu yang sebenarnya. Duduklah, silakan tarik napas dari pusar bumi, alirkan ke jantung, dan biarkan ia meledak di ujung jarimu."

​Dalam mimpi itu, sang Guru membimbing Jalal menghimpun tenaga dalam. Jalal merasakan aliran panas yang luar biasa, seolah ada naga api yang sedang merayap di pembuluh darahnya.

​"Pukul tanah itu!" perintah sang Guru.

​Jalal menghantamkan telapak tangannya ke bumi. Brakkk! Tanah di depannya terbelah, menciptakan rekahan sedalam dua meter. Jalal tertegun. Namun, sang Guru belum selesai. "Sekarang, rapatkan kembali. Dunia ini bukan hanya soal menghancurkan, tapi soal mengembalikan keseimbangan."

​Jalal memusatkan pikirannya, menarik energi dari sekelilingnya, tapi rekahan itu tidak tertutup kembali. Jalal mencoba berkonsentrasi, keringat mengalir deras dari pelipisnya.

"Aku tidak sanggup," ucap Jalal dengan napas terputus.

​"Latihlah tenaga dalammu sampai kau bisa menyembuhkan apa yang kau hancurkan, Ingatlah amanatku, Jalaludin," sang Guru mendekat, meletakkan tangannya di ubun-ubun Jalal. "Saat usiamu menginjak tujuh belas tahun, pergilah ke puncak Gunung Semeru. Temui seorang Petapa yang tinggal di sana. Dialah yang akan membukakan gerbang kekuatan terakhirmu. Sebelum itu, jalani hidupmu layaknya manusia biasa. Sembunyikan kilatmu di dalam mendung."

​Jalal terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia merasakan dadanya terasa sangat ringan, namun bertenaga. Ia bisa mendengar detak jantung seekor cicak di langit-langit rumah dengan sangat jelas.

----

​Pagi harinya, suasana di meja makan masih kaku. Risma menyiapkan sarapan dengan wajah mendung, sementara Abah sibuk mengasah parang di teras dengan gerakan emosional.

​Jalal melangkah keluar, tongkat bambu kuningnya mengetuk lantai kayu dengan ritme yang tenang. "Bah... Mak..."

​Keduanya menoleh.

​"Jalal mau sekolah," ucapnya singkat.

​Risma langsung meletakkan piringnya, matanya berbinar haru. "Benar, Nak? Kamu mau pakai seragam?"

​Abah mendengus kecewa. "Jalal, kamu ini..."

​"Tapi Jalal tetap akan latihan sama Abah tiap malam," potong Jalal dengan nada bicara yang dewasa melampaui usianya. "Jalal juga akan belajar ngaji. Tapi Jalal ingin sekolah supaya Mak senang. Jalal ingin tahu dunia luar itu seperti apa, sebelum Jalal harus menghadapinya dengan cara yang lain."

​Jalal tidak menceritakan tentang mimpinya. Ia tidak menceritakan tentang guru berambut putih itu, atau tentang perintah untuk pergi ke Gunung Semeru sepuluh tahun lagi. Baginya, itu adalah rahasia suci yang harus ia simpan sendiri. Sesuai amanat Guru: sembunyikan kilatmu di dalam mendung.

​Abah terdiam lama, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah... kalau itu maumu. Tapi ingat, kalau ada anak nakal yang menjahilimu, jangan pernah pakai tenaga dalammu. Pukul saja pakai tangan biasa, atau mereka bisa hancur jadi debu."

​Jalal tersenyum tipis. "Iya, Bah. Jalal janji."

​Risma langsung memeluk Jalal erat-erat. "Besok kita beli tas ya, Nak. Kita cari sepatu yang bagus."

​Di sisi lain, di Jakarta, Satya Aksara sedang berdiri di balkon griya tawangnya. Kepalanya mendongak, telinganya bergetar. Ia merasakan sebuah riak energi yang baru saja terpancar dari arah pesisir. Sebuah riak yang sangat halus, namun memiliki frekuensi yang sama dengan getaran jiwanya.

​"Kau sudah mulai bangun, Jalaludin..." bisik Satya. "Sekolah? Hahaha... belajar jugalah cara bersembunyi. Karena saat kau berumur tujuh belas nanti, aku sendiri yang akan menjemputmu di puncak gunung itu."

​Satya mengepalkan tangannya, dan kaca jendela di belakangnya retak seketika tanpa disentuh. Dua orang pembunuh bayaran yang sedang berlutut di belakangnya gemetar ketakutan, menunggu keputusan Satya atas nyawa mereka yang berada di ujung tanduk.

​Permainan takdir telah dimulai. Dua bocah, dua kutub, dua takdir yang berbeda. Yang satu akan belajar alfabet di bawah sinar matahari pesisir, yang satu lagi belajar menghancurkan sukma di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit. Keduanya sedang menunggu waktu yang sama: tujuh belas tahun, di mana darah akan menuntut balas dan sejarah akan ditulis ulang.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!