Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 7- Permainan takdir
Ep. 7- Permainan takdir
Waktu terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa. Setiap detik yang berlalu serasa bagai setahun bagi Kirana.
Di lorong yang dingin itu, ia sendirian. Tidak ada tempat bersandar, tidak ada bahu untuk menangis. Hanya ada bau karbol, raungan sirine ambulans di luar, dan ketakutan yang menggerogoti jiwanya.
Di sudut lain UGD, suara tangis Aura perlahan mulai mereda menjadi isakan-isakan kecil yang pasrah.
Bocah dua tahun itu tampaknya kelelahan. Ia tertidur miring di atas brankar sambil memeluk erat sebuah selimut rumah sakit yang kusam, dan masih dengan harapan polos bahwa ibunya akan datang menjemputnya saat ia terbangun nanti.
Kirana sesekali melirik anak itu. Ada rasa perih yang begitu asing menjalar di hatinya. "Ayu sudah meninggal. Jika Mas Rendra tidak selamat... anak itu benar-benar menjadi yatim piatu dalam semalam. Tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini..."
Penyesalan, rasa marah, kasihan, dan ketakutan bercampur menjadi satu adonan emosi yang hampir membuat Kirana kehilangan kesadaran.
Ia terduduk di atas kursi besi dingin di luar ruang Critical Care dengan melipat kedua kakinya, dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
Ia berdoa, sebuah doa yang paling tulus sekaligus paling menyakitkan yang pernah ia panjatkan dalam hidupnya.
"Selamatkan Mas Rendra, Ya Tuhan..."
Hampir empat puluh lima menit berlalu dalam ketegangan, tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekat.
Pintu kaca Critical Care terbuka kembali secara perlahan, hingga bunyi engsel pintu itu membuat Kirana mendongak seketika dengan mata yang merah dan sembap.
Lalu, seorang perawat berjalan mendekati Kirana. Raut wajah perawat itu tampak sangat lelah, keringat dingin menetes di pelipisnya, namun ada sedikit kelegaan yang tersirat di matanya.
"Ibu Kirana?" panggil perawat itu.
Kirana langsung berdiri dengan cepat, bahkan hampir terjatuh karena kakinya yang kesemutan dan lemas. "I-iya, Suster! Bagaimana suami saya? Mas Rendra..."
Perawat itu tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang membawa berkah keajaiban di tengah kegelapan malam itu.
"Mukjizat Tuhan, Bu. Setelah tindakan kejut jantung yang ketiga dan suntikan epinefrin tambahan, detak jantung Pak Rendra berhasil kembali," ungkap perawat tersebut. "Tanda-tanda vitalnya memang masih sangat lemah dan beliau belum sadarkan diri karena pengaruh koma medis, tapi kondisinya sudah cukup stabil untuk segera kita dorong ke ruang operasi guna menghentikan pendarahan dalamnya."
😣😣 Tangis lega seketika meledak dari tenggorokan Kirana. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan membungkuk dalam-dalam sambil mengucap syukur berkali-kali. "Syukurlah... Ya Tuhan, terima kasih... Terima kasih, Suster... Terima kasih banyak..."
"Pak Rendra saat ini sedang dipersiapkan untuk dipindah ke ruang operasi. Dokter bedah memberi izin beberapa menit jika Ibu ingin melihat dan berbicara sepatah dua kata kepada beliau sebelum prosedur dimulai. Mari ikut saya, Bu," ajak perawat itu ramah.
Dengan langkah kaki yang gemetar dan dada yang bergemuruh hebat, Kirana mengangguk pelan. Ia melangkah mengekor di belakang perawat tersebut, memasuki ruang perawatan yang berbau darah dan obat-obatan yang amat pekat.
Di dalam ruangan tersebut, Rendra terbaring lemah di atas brankar besi.
Kondisi pria yang dulu selalu tampil rapi dan gagah itu kini sangat mengenaskan. Kepala Rendra terbungkus perban putih yang sebagian telah ternoda oleh bercak darah kering.
Sebuah tabung ventilator terpasang di dalam mulutnya untuk membantu pernapasan, sementara selang-selang infus dan kabel monitor menempel di sekujur tubuhnya. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, dan kelopak matanya tertutup rapat.
Kirana melangkah mendekati sisi brankar dengan langkah yang terasa sangat berat. Saat ia berdiri tepat di samping tempat tidur suaminya, air mata Kirana kembali menetes membasahi pipinya.
Ia melihat jemari Rendra yang terpasang alat pengukur kadar oksigen. Jemari yang biasa menggenggam tangannya dengan penuh kehangatan saat mereka berjalan-jalan di akhir pekan.
Kirana lalu mengulurkan tangannya yang gemetar. Dengan ragu, ia menyentuh pergelangan tangan Rendra. Kulit suaminya yang terasa begitu dingin dan lembap.
"Mas..." bisik Kirana, suaranya parau dan terputus-putus. "Kamu mendengarku, 'kan, Mas?"
Namun tidak ada jawaban dari Rendra. Yang terdengar hanya suara ritmis mesin ventilator yang menyalurkan udara ke dalam paru-paru Rendra yang terdengar menjawab (Pshhh... Pshhh...).
"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Mas?" tawa pahit meluncur dari bibir Kirana di antara isak tangisnya. Ia menunduk, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Rendra. "Kenapa kamu tega menduakan cintaku? Kenapa kamu tega membagi kasih sayangmu untuk anak lain di saat Keisya begitu membanggakanmu sebagai ayahnya?"
Kirana meremas seprai tempat tidur Rendra dengan kuat, seolah meluapkan seluruh sesak yang menghimpit dadanya.
"Aku sangat membencimu atas apa yang sudah kamu perbuat, Mas Rendra! Aku sangat terluka!" tegur Kirana dengan nada berbisik namun penuh penekanan dan amarah yang mendalam. "Tapi... aku juga berdoa pada Tuhan agar kamu tidak mati malam ini. Kamu harus hidup, Mas! Kamu harus bangun!"
Kirana menyapu air matanya dengan kasar dan menatap wajah pucat Rendra dengan tatapan yang tajam dan penuh keteguhan.
"Kamu harus bangun dan mempertanggungjawabkan semua kebohonganmu ini!" lanjut Kirana. "Kamu harus menjelaskan semuanya pada Keisya! Dan... kamu harus melihat apa yang terjadi pada wanita yang kamu nikahi secara diam-diam itu, serta anak kecil yang sekarang kehilangan ibunya!"
Seolah-olah mendengar rintihan dan amarah dari jiwa istrinya, sudut mata Rendra yang tertutup rapat mendadak meneteskan sebutir air mata bening.
Air mata itu mengalir pelan menyusuri pipinya yang pucat, menembus sela-sela masker oksigen yang menutupi mulutnya.
Lima detik kemudian, jemari tangan Rendra yang berada di dalam genggaman dingin Kirana tampak bergerak sedikit. Sebuah gerakan refleks yang amat lemah, seakan ingin menggapai maaf yang tak sempat terucap dari bibirnya.
Kirana terpaku menatap tetesan air mata suaminya. Hatinya seperti diiris oleh sembilu tajam. Rasa sakit, cemburu, kasihan, dan cinta yang tersisa kini bergulung menjadi sebuah ikatan rumit yang tak lagi bisa ia urai.
"Permisi, Ibu Kirana," sela dokter bedah yang baru masuk bersama dua perawat dengan pakaian steril penuh. "Tim bedah sudah siap. Kita harus memindahkan Pak Rendra ke ruang operasi sekarang juga. Waktu kita tidak banyak."
Kirana menarik tangannya perlahan dari genggaman Rendra. Ia mengangguk pasrah, lalu mengundurkan langkahnya memberi jalan bagi para medis untuk mendorong brankar Rendra keluar dari ruangan menuju blok operasi.
"Berjuanglah untuk hidupmu, Mas..." gumam Kirana lirih saat melihat roda-roda brankar Rendra meluncur cepat melintasi koridor. " Demi Keisya... dan demi anakmu yang satu lagi."
Setelah brankar Rendra menghilang di balik pintu ganda ruang operasi yang tertutup rapat dengan lampu merah menyala tanda prosedur dimulai, suasana di koridor UGD kembali hening dan lengang.
Kirana berdiri sendirian di tengah lorong yang sepi. Angin malam yang dingin berembus dari jendela koridor yang terbuka sedikit, menerpa wajah dan rambutnya yang berantakan.
Kirana membalikkan badannya secara perlahan. Lalu pandangannya kembali tertuju pada brankar di sudut UGD.
Di sana, Aura masih tertidur pulas. Selimut rumah sakit yang membungkus tubuh kecilnya tampak sedikit melorot.
Wajah bocah polos itu terlihat sangat tenang dalam tidurnya, tidak menyadari bahwa di ruang lain, ayahnya sedang bertaruh nyawa di atas meja operasi, sementara ibunya telah terbujur kaku di ruang jenazah yang dingin.
Kirana melangkah mendekati brankar Aura secara perlahan. Setiap pijakan kakinya terasa bagai mengikis sisa-sisa kebencian yang sempat memenuhi hatinya.
Ia berdiri di samping brankar kecil itu. Kirana menatap wajah Aura, garis matanya, bentuk hidungnya, dan bibir mungilnya yang sangat mirip dengan Rendra.
Anak ini adalah darah daging suaminya. Anak yang lahir dari pernikahan rahasia yang telah menghancurkan hatinya.
Namun, saat Kirana melihat bahu kecil Aura yang sesekali tersentak pelan karena sisa trauma tangisannya, naluri seorang ibu di dalam diri Kirana meluluhkan segalanya.
Kirana mengulurkan tangannya dengan lembut. Ia membetulkan posisi selimut yang melorot dan menutupinya hingga ke dada Aura agar bocah kecil itu tidak kedinginan.
Jemari Kirana yang hangat mengusap perlahan helai-helai rambut halus Aura yang menempel di dahi akibat keringat hingga Aura bergerak kecil dalam tidurnya.
Merasakan kehangatan sentuhan jemari Kirana, anak kecil itu secara refleks memiringkan kepalanya dan menggenggam satu jari telunjuk Kirana dengan jemari mungilnya yang hangat dan mungil.
"Ibu..." gumam Aura dalam tidurnya, bibir kecilnya tersenyum tipis karena merasa sang ibu telah kembali berada di sisinya.
Kirana membeku. Sentuhan jemari kecil Aura dan panggilannya serasa menembus langsung ke dalam sudut hatinya yang paling dalam. Hingga, air mata Kirana kembali menetes, jatuh tepat di atas pipi mungil Aura.
"Tuhan... permainan takdir apakah ini?" bisik Kirana dalam kepasrahannya yang paling dalam, seraya menatap anak dari wanita yang telah merenggut kebahagiaannya itu. "Bagaimana bisa aku membenci kepolosan yang tak berdosa ini?"
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗