NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB, 4. Bertemu Psikiater

"Bu, tolong jangan mulai lagi. Anna juga butuh waktu buat ketemu sama teman-temannya. Aku sama sekali gak keberatan," ucap Jeevan sebelum mendengar ceramah ibunya yang selalu terdengar di akhir pekan.

Bu Ratih melirik putranya sebentar, lalu melirik jam dinding yang terus berputar.

"Ya sudah, kalau begitu Ibu pulang saja." Ucapnya seraya beranjak dari kursinya dengan nada kesal.

Getaran ponsel yang semula hanya terdengar lirih di atas wireless charger mendadak kembali memecah keheningan apartemen. Nada dering itu mengalun berulang kali, seperti tetes hujan yang bersikeras mengetuk jendela pada musim kemarau. Layar perangkat tersebut terus menyala, menampilkan nama seseorang yang tidak sempat di perhatikan Anna karena perempuan itu masih duduk di kursi makan.

Jeevan yang sedang mengantar ibunya menuju pintu masuk melirik sekilas ke arah ruang tengah. Tatapannya kemudian beralih kepada sang istri. "Anna, telponmu dari tadi bunyi terus. Angkat saja, mungkin penting."

Suara laki-laki itu tetap tenang, tanpa sedikit pun nada memerintah. Ia hanya mengingatkan, sebagaimana seseorang yang khawatir akan ada urusan mendesak terlewat begitu saja.

Anna mengangguk pelan sebelum meraih ponselnya. Jemarinya menyapu layar, lalu menempelkan perangkat itu ke telinga. Percakapan berlangsung singkat. Sesekali ia menjawab dengan gumaman pelan, kemudian mengakhiri panggilan disertai embusan napas yang nyaris tak terdengar.

Sementara itu Bu Ratih membenarkan tas yang menggantung di bahunya. Kemarahan yang sempat menyala beberapa menit sebelumnya perlahan meredup, digantikan keheningan yang terasa canggung. Perkataan Jeevan masih terngiang jelas di benaknya. Untuk pertama kalinya, putra yang selama ini selalu menuruti setiap ucapannya berdiri tegak membela sang istri tanpa meninggikan suara. Kalimat sederhana itu justru terasa lebih tajam daripada bentakan.

"Kalau begitu ibu pulang dulu," ucap Bu Ratih akhirnya sembari menghela napas panjang. "Kalian istirahat saja."

Jeevan menganggukkan kepala. "Hati-hati di jalan, Bu."

Tak ada perdebatan lagi. Pintu apartemen menutup perlahan, meninggalkan gema sunyi yang mengembang memenuhi ruangan. Seolah angin pagi ikut membawa pergi sisa ketegangan yang tadi bergelayut di antara mereka.

Beberapa menit berlalu.

Anna berbalik dari duduknya, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selepas mandi perempuan itu menuju kamar. Tak lama berselang, ia kembali mengenakan pakaian yang lebih rapi. Rambut panjang di sisir sederhana, wajahnya hanya dipoles tipis agar tidak terlihat sepucat sebelumnya.

Jeevan yang sedang menuangkan air putih kedalam gelas memandangnya dengan alis sedikit terangkat.

"Mau keluar?"

"Iya."

"Kemana?"

Anna tersenyum kecil. Senyum itu tampak ringan, namun rapuh seperti kaca yang retak halus.

"Aku sudah janji sama Irene buat nganter dia ke mall. Katanya ada barang yang ingin ia beli sebagai hadiah buat ibunya. Tapi Irene bingung harus beli barang apa."

Jeevan tidak langsung menjawab. pandangannya menyapu wajah perempuan di hadapannya, memastikan kondisi Anna memang sudah cukup baik untuk meninggalkan apartemen.

"Kalau badanmu masih lemas, enggak usah dipaksakan."

"Aku cuma nganter aja kok. Paling habis itu ngopi bentar."

Laki-laki itu menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk, "Baiklah. Tapi jangan terlalu malam. Kalau capek atau badanmu mulai nggak enak lagi, langsung telpon aku. Jangan sampai menyusahkan Irene."

"Siap, Pak suami," jawab Anna sambil tersenyum jahil, berusaha mencairkan suasana.

Jeevan tak menanggapi senyum jahil itu, ia melangkah menuju sofa ruang tengah. "Jangan lupa bawa obatmu."

"Baik, Mas." Jawab Anna.

...🌼🌼🌼...

Anna duduk di halte yang mana halte itu berada di sekitar apartemen yang ia tinggali bersama suaminya. Sambil menggenggam tas selempangnya, sesekali ia melirik layar ponselnya, memastikan waktu yang tertera di sana tidak melesat dari janji yang telah di sepakati. Tak lama kemudian, sebuah **Mitsubishi Xpander** berwarna putih berhenti tepat di hadapannya. Kilau bodinya masih tampak bersih, mencerminkan bayangan gedung-gedung tinggi yang mengelilingi kawasan tersebut.

Kaca jendela pengemudi perlahan turun.

"Masuk, Neng."

Suara ceria Irene langsung menyambut, lengkap dengan senyum lebar yang selalu berhasil membuat suasana terasa lebih hangat. Perempuan itu mengenakan kemeja putih dipadukan blazer krem sederhana. Penampilan rapi, mencerminkan sosok perempuan karier yang telah berhasil membangun hidupnya sendiri. Di antara mereka bertiga-- Irene, Anna, dan Sherly-- dialah yang lebih dahulu menikmati kemapanan. Kerja keras selam bertahun-tahun membawanya memiliki sebuah apartemen atas namanya sendiri, juga mobil yang kini dikendarainya dengan penuh percaya diri.

Anna membuka pintu penumpang lalu duduk di samping sahabatnya.

"Maaf jadi ngerepotin."

Irene mendecak lidah pelan sembari memasang sabuk pengaman.

"Kalau sama kamu, enggak ada istilah ngerepotin."

kalimat itu sederhana, tetapi menghangatkan hati seperti secangkir teh di tengah hujan.

Mobil kembali melaju membelah jalanan Jakarta. Sesekali Irene mengajak Anna mengobrol tentang hal-hal ringan-- film yang sedang ramai di bicarakan, kafe baru yang ingin mereka datangi bersama Sherly, hingga tingkah rekan kerja yang mengundang tawa. Ia sengaja menjaga percakapan tetap santai. Irene tahu, sahabat di sampingnya sedang membawa beban yang tidak sanggup diukur hanya dengan kata "*Baik-baik saja*."

Anna beberapa kali ikut tersenyum, meski senyumnya belum benar-benar sampai ke mata. Pandangannya lebih sering jatuh ke luar jendela. Pepohonan di sepanjang jalan melintas cepat, bergantian dengan deretan ruko, lampu lalu lintas, serta pejalan kaki yang sibuk mengejar tujuan masing-masing. Rasanya, dunia tetap bergerak seperti biasa, sementara dirinya masih tertinggal di persimpangan yang belum menemukan arah.

Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, kendaraan itu memasuki area sebuah rumah sakit swasta yang cukup besar di pusat kota. Irene memarkirkan mobilnya di basement, lalu keduanya berjalan berdampingan menuju gedung rawat jalan.

Aroma antiseptik yang khas segera menyambut begitu pintu otomatis terbuka. Lobi tampak bersih dan terang, dipenuhi pasien yang datang dengan beragam cerita yang tak kasat mata. Sebagian menunggu dengan tenang, sebagian lagi menggenggam tangan anggota keluarga seolah mencari keberanian.

Anna menarik napas panjang.

Langkahnya terasa semakin berat ketika matanya menemukan papan petunjuk bertuliskan **POLI PSIKIATER**.

Meski dokter penyakit dalam telah menjelaskan bahwa berkonsultasi dengan psikiater sama pentingnya dengan memeriksakan anggota tubuh lain, tetap saja ada kegelisahan yang diam-diam merambat di dalam dadanya. Bukan karena takut pada dokter yang akan ditemuinya, melainkan ia sadar, pagi menjelang siang ini ia harus membuka pintu kenangan yang selama bertahun-tahun dikunci rapat.

Setelah menyelesaikan proses administrasi, Anna menerima nomor antrean. Irene memilih duduk tepat di sampingnya, tidak banyak berbicara. Kehadirannya saja sudah cukup menjadi penyangga agar Anna tidak merasa sendirian menghadapi hari yang berat itu.

Satu demi satu nama pasien dipanggil.

Jarum jam terus berputar dengan tenang.

Hingga akhirnya seorang perawat keluar dari ruang praktik sambil membawa map rekam medis.

"Ny. Anna Savitri."

Anna mengangkat kepala.

Jantungnya berdetak lebih cepat dibanding beberapa menit lalu.

Irene menoleh dan menggenggam pelan punggung tangan sahabatnya.

"Semangat. Aku tunggu di sini."

Anna mengangguk pelan. senyum tipis menghiasi wajahnya sebagai ucapan terima kasih tanpa suara. Setelah mengembuskan napas perlahan, ia berdiri, merapikan tas di bahunya, kemudian mengikuti langkah perawat menuju ruang konsultasi.

...🌼🌼🌼...

*Halo, maaf kalau misalnya novel ini alurnya teras lambat. Karena Yehppee ingin menulis sesuai karakter seorang perempuan yang sedang mengalami Anxiety disorder*.

*Banyak perempuan-perempuan yang kenapa panic attack, Gerd anxiety disorder, autoimun dan kesehatan mental hanya karena banyak memendam*.

*Hai, kamu kuat, semuanya akan baik-baik saja🫂🫶*

...**BERSAMBUNG**...

1
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!