Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Jebakan Berkedok Seminar
Senin pagi yang seharusnya diawali dengan rutinitas mengajar yang padat, tiba-tiba berubah menjadi kebingungan massal di kantor yayasan. Aiswa dan rekan-rekannya berkumpul dengan dahi berkerut membaca surat edaran resmi yang baru saja turun.
"Libur mendadak? Dalam rangka renovasi fasilitas keamanan sekolah selama seminggu?" gumam Aiswa tak percaya.
"Sejak kapan yayasan kita se-gercep ini soal renovasi?"
Bu Dwika, guru senior, menghampiri Aiswa dengan wajah serius namun antusias.
"Ais, kamu dipanggil Kepala Yayasan. Katanya, ada undangan seminar pendidikan internasional di Bali. Yayasan pilih kamu sebagai perwakilan tunggal untuk berangkat lusa."
"Saya, Bu? Tapi kenapa bukan guru senior?" tanya Aiswa kaget.
"Katanya karena kamu muda, energik, dan fasih berbahasa Inggris. Semua akomodasi ditanggung penyelenggara. Hotel bintang lima, Ais! Di Nusa Dua!"
Aiswa merasa ada yang aneh. Namun, surat tugas itu resmi, lengkap dengan stempel dan tanda tangan. Mana mungkin ia menolak perintah yayasan? Ia segera mengabari Aditya, yang meski berat hati karena mereka ada janji makan malam bersama lusa malam, namun karena keadaan akhirnya Aditya mengizinkan, Ia menganggap ini adalah prestasi bagi karier Aiswa.
Dua hari kemudian, Aiswa sampai di sebuah resort megah dengan pemandangan pantai privat yang memukau. Namun, keganjilan mulai terasa saat ia sampai di meja registrasi seminar.
"Seminar 'Inovasi Kognitif Anak di Era Digital'?" tanya Aiswa pada resepsionis hotel.
"Benar, Nona Aiswa. Mari, saya antar ke paviliun khusus. Seminar akan dimulai besok pagi, namun malam ini ada makan malam penyambutan untuk tamu VVIP," ucap pelayan itu dengan sangat sopan.
Aiswa berjalan melewati lorong-lorong taman yang indah hingga sampai di sebuah balkon besar yang menghadap laut. Di sana, ia melihat sosok mungil yang sedang berlari-lari mengejar bola.
"Tante Guruuu!"
Aiswa membeku. Jantungnya berdegup kencang.
Zianna? Sedang apa dia di sini?
Zianna langsung menghambur memeluk kaki Aiswa.
"Tante Guru beneran datang! Kata Papa, kalau Zianna jadi anak baik, Tante Guru bakal ada di sini!"
Aiswa mendongak, dan di sana, berdiri Devan Argian dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak sangat santai, jauh dari setelan jas kaku yang biasa ia kenakan. Di sampingnya, Lucas hanya tersenyum simpul sambil memegang map, yang Aiswa yakini berisi jadwal "seminar" fiktif itu.
"Selamat datang di Bali, Aiswa," ucap Devan dengan suara bariton yang berat.
"Pak Devan? Kenapa Bapak ada di sini? Dan... Zianna?" Aiswa menatap Devan curiga.
"Jangan bilang kalau seminar ini..."
"Seminar itu ada. Aku donatur utamanya," potong Devan tenang sambil melangkah mendekat.
Ia berdiri tepat di depan Aiswa, menghalangi hembusan angin laut.
"Hanya saja, aku memastikan peserta tunggal dari sekolahmu adalah kamu. Aku tidak suka penolakan, Aiswa. Jika libur sekolah tidak cukup membuatmu ikut, maka aku akan membawakan 'pekerjaanmu' ke tempat liburanku." Aiswa ternganga mendengarnya.
"Bapak gila? Bapak mengatur semua ini cuma supaya saya ikut?"
Devan menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang terlihat sangat tampan namun juga menakutkan.
"Aku lebih suka menyebutnya... efisiensi. Sekarang, ganti bajumu. Zianna sudah menunggumu untuk makan malam."
Aiswa mengepalkan tangan. Ingin sekali ia marah dan pulang saat itu juga, tapi ia sadar, ia berada di pulau yang berbeda, dan kariernya ada di tangan pria yang saat ini sedang menatapnya dengan obsesi yang makin terang-terangan.
Dasar bapak-bapak sinting! Batin Aiswa merutuki.