"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Debu terminal bus masih terasa menyesakkan di tenggorokan Arvin saat ia menatap bus yang membawa Zoya pergi semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di balik tikungan jalan raya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arvin Dewangga merasa benar-benar tak berdaya. Kekuasaannya, hartanya, dan namanya yang agung tidak bisa menghentikan satu wanita bercadar untuk pergi meninggalkannya.
Ponsel di genggamannya bergetar. Sebuah notifikasi pengingat kalender muncul.
'Sidang Kode Etik Zoya Alana - Ruang Auditorium Utama, Pukul 13.00.'
Arvin menghapus keringat di dahinya dengan kasar. Matanya yang tadi sayu mendadak berubah menjadi tajam dan berkilat dingin.
Rasa bersalah yang menghimpit jantungnya kini bermetamorfosis menjadi amarah yang mematikan. Ia menyadari satu hal, ia telah membiarkan istrinya dikelilingi oleh serigala, dan ia sendiri sang pelindung yang seharusnya malah ikut menggigitnya.
"Zoya, tunggu aku di sana. Aku akan menjemputmu setelah aku meratakan mereka semua," desis Arvin.
Ia segera menghubungi asisten pribadinya. "Batalkan semua pertemuan! Panggil tim forensik dan seluruh tim hukum Dewangga Group. Kita ke kampus sekarang. Dan satu lagi... pastikan Nadia berada di gedung fakultas itu. Jangan biarkan dia keluar sebelum aku sampai."
Sementara itu, suasana di Auditorium Utama kampus sangat mencekam. Sidang kode etik digelar secara terbuka atas desakan pihak-pihak yang ingin membersihkan nama kampus.
Nadia duduk di barisan depan tamu undangan, mengenakan gaun merah menyala yang sangat kontras dengan suasana sidang yang formal. Ia tersenyum puas, sesekali melirik jam tangannya.
"Zoya Alana tidak hadir?" tanya Dekan dengan nada tinggi setelah berkali-kali memanggil nama Zoya.
Zoya memang tidak ada di sana. Ia sudah berada di dalam bus, menatap persawahan hijau yang mulai terlihat di sepanjang jalur pantura menuju Jawa Tengah.
Hatinya terasa kosong, namun pikirannya sudah bulat. Ia ingin kembali ke dekapan Abah dan Ummi di pesantren. Ia ingin mencuci luka hatinya dengan air wudu di tempat ia pertama kali belajar tentang kesabaran.
Di auditorium, Pak Hendra maju sebagai saksi kunci. "Saya sangat yakin, Pak Dekan. Nona Zoya memasukkan kertas itu sendiri. Dia tampak sangat gugup."
Nadia menyandarkan punggungnya, menikmati pertunjukan itu. Ia merasa menang. Arvin sudah meragukan Zoya, dan sebentar lagi kampus akan menendang wanita itu keluar.
"Karena mahasiswi yang bersangkutan tidak hadir untuk membela diri, dan bukti-bukti sudah sangat kuat..." Dekan mengangkat palu kayu di tangannya. "Maka dengan ini, Universitas menyatakan Zoya Alana bersalah dan secara resmi diberhentikan..."
BRAK!
Pintu auditorium ganda itu terbanting terbuka. Suara benturannya bergema hingga ke langit-langit gedung, memutus kalimat sang Dekan.
Arvin Dewangga melangkah masuk. Ia tidak datang sendiri. Di belakangnya, sepuluh orang pria bersetelan hitam legam dengan wajah tanpa ekspresi mengikuti, membawa koper-koper logam berisi perangkat teknologi tinggi.
Seluruh ruangan hening. Nadia yang tadi tersenyum, seketika mematung. Wajahnya memucat saat melihat mata Arvin yang merah bukan karena tangis, melainkan karena kemurkaan.
Arvin berjalan lurus menuju meja pimpinan sidang. Ia tidak menyapa, tidak membungkuk. Ia langsung membanting sebuah tablet dan tumpukan dokumen ke atas meja Dekan.
"Simpan palumu itu, Pak Dekan," suara Arvin menggelegar, rendah namun berwibawa. "Sebelum Anda melakukan kesalahan terbesar dalam karier Anda yang akan menghancurkan institusi ini selamanya."
"T-Tuan Arvin? Tapi kami sedang memproses pelanggaran..."
"Pelanggaran yang dibuat oleh orang ini?" Arvin menunjuk ke arah Pak Hendra yang mulai gemetar.
Arvin menoleh ke arah tim IT-nya. "Putar videonya. Sekarang."
Layar besar di auditorium yang tadinya menampilkan logo universitas, berganti menjadi rekaman CCTV berkualitas tinggi.
Di sana terlihat jelas Pak Hendra sedang menerima amplop tebal dari Nadia di sebuah parkiran, lalu video berganti saat mereka menyelipkan kertas kunci jawaban ke map Zoya.
Tidak berhenti di sana, Arvin menyalakan audio melalui pengeras suara gedung. Itu adalah rekaman asli percakapan Zoya dan Liam di perpustakaan, yang diputar berdampingan dengan versi editan kiriman Nadia.
Perbedaannya sangat mencolok, bagaimana kata-kata Zoya dipotong dan disambung secara licik.
"Siapa pun yang menyentuh istriku dengan fitnah, akan berhadapan dengan seluruh kekuasaan Dewangga!" teriak Arvin sambil mengebrak meja sidang. "Dan kau, Nadia..."
Arvin berbalik, menatap Nadia yang mencoba menyelinap keluar.
"Tangkap dia!" perintah Arvin pada tim keamanannya.
Dua orang berbadan besar segera menghadang Nadia.
"Arvin, ini salah paham! Aku hanya ingin melindungimu!" teriak Nadia histeris.
Arvin berjalan mendekati Nadia, menatapnya dengan rasa jijik yang sangat mendalam. "Kau menyebut ini perlindungan? Kau mencoba menghancurkan satu-satunya hal yang murni dalam hidupku hanya karena obsesimu yang sakit. Mulai detik ini, aku pastikan tidak akan ada satu pun perusahaan di negara ini yang mau menerimamu, dan kau akan membusuk di penjara atas pencemaran nama baik dan penyuapan."
Arvin beralih pada Dekan yang kini berkeringat dingin. "Urus pembersihan nama baik Zoya Alana dalam satu jam. Jika ada satu kata miring saja tentang dia di media besok, aku akan menarik seluruh investasi dan beasiswa yang pernah aku berikan."
Setelah keributan itu, Arvin tidak menunggu ucapan maaf dari pihak kampus. Ia berlari keluar menuju mobilnya.
"Ke mana kita, Pak?" tanya supirnya.
"Ke Jawa Tengah. Menuju alamat pesantren ayahnya Zoya sekarang juga!"
Sementara itu, di sebuah pesantren asri di Jawa Tengah, sebuah bus berhenti di depan gerbang kayu besar yang bertuliskan 'Pondok Pesantren Al-Ikhlas'. Zoya turun dengan tas ranselnya. Ia menghirup udara pedesaan yang segar, aroma tanah dan lantunan ayat suci dari jauh mulai menenangkan hatinya.
Ia berjalan menuju rumah utama pesantren. Di sana, seorang pria tua bersorban putih sedang duduk di serambi, membaca kitab. Itu adalah Abah.
"Assalamu'alaikum, Abah..." suara Zoya pecah.
Abah mendongak, matanya yang teduh menatap putrinya yang kini bersimpuh di kakinya sambil menangis sesenggukan. Abah tidak bertanya mengapa Zoya pulang, ia hanya mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Wa'alaikumussalam, Nduk. Pulanglah ke pelukan Abah. Jika dunia terlalu bising dan kejam, rumah ini selalu punya keheningan untukmu," ujar Abah tenang.
Zoya menangis sejadi-jadinya. Ia merasa aman di sini. Ia merasa tidak lagi menjadi aset atau proyek. Di sini, ia hanyalah Zoya, putri kesayangan ayahnya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sore harinya, saat santri sedang bersiap untuk salat Magrib, sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sangat kontras dengan kesederhanaan pesantren masuk ke halaman.
Arvin Dewangga turun dari mobil. Jasnya sudah dilepas, kemejanya kusut, dan wajahnya tampak hancur. Ia melihat Zoya sedang berdiri di teras rumah Abah, menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin dan asing.
Arvin melangkah mendekat, namun tertahan oleh tatapan mata Abah yang meski lembut, namun memiliki wibawa yang tak tergoyahkan.
"Tuan Arvin," ucap Zoya datar, suaranya tidak lagi bergetar. "Tempat ini terlalu sederhana untuk orang sehebat dirimu. Silakan pulang. Di sini tidak ada barang milikmu. Yang ada hanyalah seorang anak yang ingin kembali belajar menjadi manusia."
Arvin terpaku. Ia melihat Zoya yang berdiri di samping ayahnya, tampak begitu jauh meski jarak mereka hanya beberapa meter. Singa yang tadi mengamuk di kampus itu kini tampak seperti kucing yang kedinginan di depan rumah Zoya.
"Zoya... aku sudah menyelesaikan semuanya. Nadia, kampus, fitnah itu... semuanya sudah kubereskan," ucap Arvin parau.
"Terima kasih, Tuan. Tapi masalah kita bukan tentang Nadia atau kampus," Zoya menatap Arvin tepat di matanya. "Masalah kita adalah kau yang tidak pernah menganggap aku memiliki hati yang bisa sakit. Pulanglah, Tuan Arvin. Biarkan aku di sini."
Arvin menatap Zoya, lalu menatap Abah. Untuk pertama kalinya, Arvin menyadari bahwa untuk mendapatkan Zoya kembali, ia tidak bisa menggunakan kekuasaan. Ia harus belajar satu hal yang tidak pernah ia kuasai - Kerendahan hati.
...----------------...
To Be Continue ....