NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1. Mahar Airmata

Gaun pengantin itu berwarna putih gading, dirancang oleh desainer ternama, bertahtakan kristal yang memantulkan cahaya lampu kristal di langit-langit hotel bintang lima itu. Namun, bagi Alya, kain sutra yang melekat di kulitnya itu terasa seperti kain kafan yang membungkus mimpinya hidup-hidup.

Di depan cermin besar setinggi plafon, Alya menatap pantulan dirinya. Wajahnya cantik, dipoles oleh perias tangan dingin yang berhasil menyembunyikan sembab di matanya. Namun, tidak ada bedak yang bisa menutupi kesedihan yang memancar dari manik matanya yang redup. Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi seorang wanita. Namun bagi Alya, hari ini adalah hari di mana dia resmi dijual.

"Alya, ayo cepat. Acara akan segera dimulai," suara itu dingin dan tanpa beban.

Alya menoleh. Ayahnya, Prasetyo, berdiri di ambang pintu. Pria yang dulu menjadi pahlawan bagi Alya itu kini tampak lebih tua, dengan gurat kecemasan yang mendalam. Kebangkrutan perusahaan keluarga mereka telah mengubah pria itu menjadi sosok yang asing. Demi menutupi utang miliaran rupiah dan menghindari jeruji besi, Prasetyo telah menyerahkan putri tunggalnya kepada seorang pria yang bahkan tidak pernah Alya kenal sebelumnya.

"Ayah..." suara Alya bergetar. "Apa benar-benar tidak ada jalan lain?"

Prasetyo membuang muka, tak sanggup menatap mata putrinya. "Hanya Arka yang bisa menyelamatkan kita, Alya. Hanya dia. Jika kamu tidak menikah dengannya, besok Ayah akan berada di penjara, dan ibumu... kamu tahu sendiri kondisi jantungnya tidak akan kuat menerima berita itu."

Alya memejamkan mata. Selalu itu yang menjadi senjatanya. Ibu. Dia tahu ayahnya pengecut, tapi dia tidak punya pilihan selain menjadi tumbal. Dengan tangan gemetar, dia meraih buket bunga mawar putih yang terasa seberat bongkahan batu.

Suasana *ballroom* sangat megah. Ratusan tamu dari kalangan elit berbisik-bisik, mengagumi dekorasi bunga segar yang aromanya memenuhi ruangan. Musik klasik mengalun lembut, menciptakan ilusi romansa yang sempurna. Namun, saat pintu besar itu terbuka dan Alya melangkah masuk, dia merasa seperti seekor domba yang berjalan menuju altar penyembelihan.

Di ujung altar, berdiri seorang pria.

Arka Dirgantara.

Pria itu berdiri dengan tegak dalam setelan tuksedo hitam yang memeluk tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya bak pahatan dewa, namun ekspresinya sedingin es kutub utara. Tidak ada senyum, tidak ada binar cinta, bahkan tidak ada keramahan sedikit pun saat melihat calon istrinya mendekat. Mata hitamnya yang tajam menatap Alya bukan sebagai pasangan hidup, melainkan sebagai sebuah aset yang baru saja dia beli di pasar lelang.

Saat Prasetyo menyerahkan tangan Alya ke tangan Arka, Alya bisa merasakan dinginnya telapak tangan pria itu. Sentuhannya tidak memberikan rasa aman, melainkan getaran peringatan yang membuat bulu kuduk Alya merinding.

"Jaga putriku," bisik Prasetyo dengan suara serak yang terdengar palsu di telinga Alya.

Arka tidak menjawab. Dia hanya menarik tangan Alya dengan gerakan tegas, hampir kasar, untuk berdiri di sampingnya menghadap penghulu.

Prosesi akad nikah itu berlangsung cepat. Suara Arka saat mengucapkan ijab kabul terdengar berat, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun. Namun, di telinga Alya, setiap kata yang diucapkan Arka seperti palu yang memaku peti matinya. Saat saksi mengatakan "Sah", dunia Alya runtuh. Dia kini resmi menjadi milik pria yang membencinya tanpa dia tahu alasannya.

Saat tiba waktunya untuk mencium tangan suami, Alya menunduk dalam. Harum parfum maskulin Arka yang kuat menusuk indra penciumannya. Ketika bibirnya menyentuh punggung tangan Arka, dia merasakan otot tangan pria itu mengeras, seolah-olah Arka merasa jijik dengan sentuhannya.

"Jangan berharap lebih dari pernikahan ini, Alya," bisikan itu sangat rendah, hanya bisa didengar oleh telinga Alya di tengah riuh tepuk tangan tamu undangan.

Alya mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap mata Arka. Pria itu menatapnya dengan kebencian yang begitu murni sehingga membuat jantung Alya seolah berhenti berdetak.

"Kau hanyalah barang jaminan. Dan aku akan memastikan kau membayar setiap sen yang kukeluarkan untuk ayahmu yang tak berguna itu," lanjut Arka dengan nada yang sangat tenang namun tajam seperti belati.

Resepsi berlangsung berjam-jam. Alya dipaksa berdiri, tersenyum palsu di depan kamera, dan menerima ucapan selamat dari orang-orang yang tidak dia kenal. Kakinya lecet karena sepatu hak tinggi, tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi. Berkali-kali dia melirik ke arah ibunya yang tampak bahagia, tidak tahu bahwa kebahagiaannya dibayar dengan penderitaan putri tunggalnya.

Arka adalah aktor yang hebat. Di depan para kolega bisnisnya, dia bersikap layaknya suami yang protektif, merangkul pinggang Alya dengan posesif. Namun, setiap kali kilat kamera menghilang, cengkeraman tangannya di pinggang Alya berubah menjadi remasan yang menyakitkan.

Malam semakin larut saat mereka akhirnya tiba di kediaman mewah milik Arka. Sebuah mansion modern yang luas namun terasa sangat sepi dan dingin. Para pelayan menyambut mereka dengan tundukan kepala, namun Arka mengabaikan mereka semua. Dia menarik lengan Alya, menuntunnya menuju kamar utama di lantai dua.

Pintu kamar itu tertutup dengan bantingan keras.

Alya tersentak, mundur beberapa langkah saat Arka melepas dasinya dengan gerakan kasar. Pria itu melempar jasnya ke sembarang tempat dan berbalik menatap Alya yang masih berdiri mematung dengan gaun pengantinnya yang lebar.

"Buka gaun konyol itu," perintah Arka dingin.

"Arka... aku..."

"Jangan sebut namaku dengan mulutmu yang kotor itu!" bentak Arka. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Alya terpojok di dinding. Arka mencengkeram dagu Alya, memaksa gadis itu menatap matanya.

"Kau pikir dengan kecantikanmu ini, aku akan luluh? Kau pikir aku menikahimu karena aku menginginkanmu?" Arka tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar mengerikan. "Aku membelimu karena aku ingin melihat keluargamu hancur perlahan-lahan. Dan kau, Alya, kau adalah alat terbaik untuk menghancurkan Prasetyo."

Air mata yang sejak tadi ditahan Alya akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Apa salah ayahku padamu? Jika ini masalah uang, kami akan mencicilnya, tolong..."

"Uang?" Arka mendekatkan wajahnya ke telinga Alya, deru napasnya terasa panas namun kata-katanya dingin. "Uang tidak akan bisa mengembalikan nyawa ibuku. Ayahmu... pria suci yang kau puji itu, dia yang membiarkan ibuku mati dalam kemiskinan saat dia berpesta pora dengan uang hasil curian dari keluarga kami."

Alya tertegun. "Itu tidak mungkin... Ayah tidak mungkin melakukan itu."

"Tentu saja kau akan membelanya," desis Arka. Dia melepaskan cengkeramannya pada dagu Alya dengan sentakan hingga kepala gadis itu terbentur dinding. "Mulai malam ini, rumah ini akan menjadi nerakamu. Kau tidak akan keluar dari sini tanpa izin dariku. Kau akan melayaniku, kau akan menanggung setiap rasa sakit yang dirasakan ibuku dulu."

Arka berjalan menuju pintu balkon, membiarkan angin malam yang dingin masuk ke dalam kamar. Dia tidak menoleh lagi saat dia berkata, "Ganti pakaianmu. Kau tidur di sofa. Aku tidak sudi berbagi tempat tidur dengan keturunan seorang pencuri."

Alya luruh ke lantai. Di bawah temaram lampu kamar, dia terisak dalam diam. Gaun pengantin yang sangat mahal itu kini terlihat seperti tumpukan kain tak berguna. Hari ini, di malam yang seharusnya menjadi malam pertamanya sebagai seorang istri, Alya menyadari bahwa hidupnya telah berakhir.

Dia tidak hanya kehilangan kebebasannya, tapi dia juga kehilangan harapan. Di dalam kamar yang megah itu, Alya meringkuk kecil, memeluk dirinya sendiri sambil mendengarkan suara detak jantungnya yang seolah menghitung setiap detik penderitaan yang baru saja dimulai.

Di luar, bulan bersinar terang, namun bagi Alya, kegelapan baru saja menyelimuti seluruh sisa hidupnya. Ini bukan sekadar pernikahan paksa; ini adalah awal dari sebuah hukuman atas dosa yang tidak pernah dia lakukan. Dan Arka Dirgantara, suaminya, adalah sang algojo yang siap menghancurkannya berkeping-keping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!