Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 SMA PRIMA NAVARA
Keesokan paginya, Violet sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Setelah memasukkan semua buku pelajarannya ke dalam tas, ia pun langsung keluar dari kamar menuju meja makan.
Dan terlihat di sana, Tuan X sudah duduk di kursi kebesarannya.
Tanpa menoleh dan seolah tahu bahwa Violet sudah berada di belakangnya, ia pun berucap, "Duduklah dan sarapan terlebih dahulu."
Violet yang mendengar itu pun sedikit terkejut, karena ia masih sedikit jauh dari meja makan.
Violet pun tak menunggu waktu lagi, segera saja langsung duduk dekat dengan kursi Tuan X.
Pelayan pun langsung mengambilkan makanannya dan mengisi gelasnya.
Baru setelah itu, pelayan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Mereka makan dengan khidmat. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu. Setelah selesai, Violet pun dengan sedikit ragu memberanikan diri untuk berbicara.
Melirik sedikit dan menelan ludahnya, Violet pun berucap, "Tuan, bolehkah saya mampir sebentar ke restoran yang berada di Jalan Cinta Pertama, karena saya ingin menemui seseorang?"
"Untuk apa? Apa ada hal penting?" tanya Tuan X.
"Iya, sangat penting. Jadi, bolehkah?" mohon Violet.
Tuan X menarik napas sebentar, sebelum menjawab pertanyaan Violet.
"Baiklah, saya izinkan. Tapi jam 3 harus sudah pulang ke rumah ini karena sebentar lagi kita akan menikah. Kau pasti tidak lupa dengan itu kan?"
Violet langsung berbinar matanya ketika mendengar jawaban Tuan X.
"Eummm..." jawabnya sambil menganggukkan kepalanya. "Aku tidak akan lama kok. Dan aku juga ingat dengan perjanjian itu."
Tuan X langsung menghangat saat mendengar ucapan Violet bahwa ia tidak lupa akan perjanjian itu.
Beruntungnya dia memakai topeng. Kalau tidak, pasti wajahnya sudah berubah merah.
Untuk menetralkan jantungnya, Tuan X berucap lagi, "Kau diantar oleh sopir, begitu juga dengan pulangnya, kau akan dijemput. Saya tidak menerima bantahan."
Belum juga menjawab, tapi sudah keduluan oleh kalimat itu. Dan Violet hanya bisa menarik napas pelan." Baiklah."
Tuan X mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. "Ini, untuk semua keperluan mu."
Violet melototkan matanya mendengar itu." Tidak usah, aku masih punya..."
Belum sempat Violet menyelesaikan ucapannya, Tuan X langsung memotongnya. "Ambil ini."
Violet menghela napas lagi. Dalam hatinya, ia menggerutu pelan. "Ya ampun. Kenapa aku tidak bisa menolaknya, uhh."
Dengan berat hati, Violet mengambil kartu itu dan menyimpannya di dalam dompetnya. "Terima kasih."
Setelah itu, Violet pun berpamitan, dan kemudian pergi meninggalkan Tuan X sendirian di meja makan.
Ketika sampai di depan halaman rumah, sebuah mobil telah menunggunya di sana. Dan terlihat seorang sopir sudah membukakan pintu untuknya.
Violet pun langsung masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, terlihat nyaman sekali, kursi yang empuk, bahkan senderan kepala pun tidak nampak keras. Selain itu, sudah ada senderan leher yang terpasang pada senderan kepala.
Sungguh, ini membuat Violet nyaman sekali, bahkan di depannya, ia bisa memanjangkan kakinya dan juga ia bisa menyalakan sebuah tv.
"Uhhh, ini benar-benar nyaman sekali. Rasanya di dalam mobil saja sudah seenak ini," gumamnya.
Setelah dipastikan nona nya masuk ke dalam mobil, sopir pun mulai mengemudikan mobilnya dan meninggalkan mansion Tuan X.
Selama di perjalanan, Violet merasa sangat nyaman sekali. Namun tiba-tiba, di pertengahan jalan, terjadi sesuatu.
Mobil pun berhenti mendadak, Violet pun langsung menegakkan tubuhnya.
"Kenapa berhenti, pak?" tanya Violet.
"Sepertinya di depan terjadi kecelakaan, nona," jawab sang sopir
"Kecelakaan," gumamnya.
"Biar saya cek dulu untuk memastikan, nona."
"Tidak perlu, pak. Biar saya saja."
Violet pun langsung keluar dari mobil sambil membawa tasnya. Ia melangkahkan kakinya ke area kecelakaan.
Violet melihat kerumunan orang sedang mengelilingi seseorang. Ia pun berinisiatif untuk masuk ke dalam kerumunan itu.
"Permisi, permisi," ucapnya sambil masuk ke dalam kerumunan itu.
Ketika sudah di depan, ia melihat seorang laki-laki tengah terbaring di jalan aspal dengan kaki yang tertindih oleh motornya. Bahkan darah pun terlihat keluar dari kakinya.
Orang-orang bukannya membantu, justru malah memvideokan kejadian itu.
Violet pun merasa kesal dengan mereka, akhirnya ia langsung mengangkat motor itu dan menstandarkannya.
Ia melihat kaki orang itu terluka dan segera saja ia membuka tasnya, namun dalam pikirannya ia menyebutkan "Kain steril."
Kain steril pun langsung ada dalam genggaman nya dan segera ia mengeluarkan nya dari dalam tas.
"Apa ada yang punya air mineral?" tanya Violet pada mereka.
"Saya-saya ada." orang itu langsung memberikannya pada Violet.
"Sebari menunggu, apakah ada yang bisa menelpon ambulan?" tanya Violet sambil perlahan membasahi kain tadi.
"Saya, nona."
"Bagus. Langsung telepon ambulan segera."
Sembari menunggu, Violet pun perlahan mulai merobek celana yang dikenakan oleh korban tadi. Setelahnya, barulah ia mulai membersihkan setiap tepi luka, dikarenakan takutnya ada kotoran yang menempel.
Setelah di rasa bersih, barulah ia mengelap luka itu dengan perlahan. Darah masih terus keluar, Violet pun mengambil kain lagi dan menumbukannya di atas kain tadi.
Dirasa darah sudah tidak mengalir lagi, ia pun mengikat pelan kain itu dan membiarkan kakinya di selonjorkan.
Ambulan dan polisi pun tiba.
Segeralah mereka melakukan tugasnya masing-masing.
Polisi memeriksa setiap saksi yang ada di tempat kejadian, termasuk juga Violet.
Sedangkan petugas ambulan, langsung membawa korban ke dalam mobil setelah memeriksa keadaan korban.
Setelah semua kembali kondusif, jalanan kembali normal.
Violet pun sudah masuk ke dalam mobilnya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya tiba di sekolah SMA PRIMA NAVARA.
Mobil milik Tuan X masuk ke dalam area sekolah. Semua orang menatap mobil itu dengan kagum.
"Wah! Mobil siapa itu?"
"Aku belum pernah melihat mobil sebagus ini."
"Ini mobil belum pernah ada di pasaran."
"Iya, dan kurasa ini mobil satu-satunya yang ada di negara ini."
"Kira-kira siapa yang menaiki mobil semewah ini?"
Begitulah pandangan orang-orang yang melihatnya.
Dari dalam mobil, Violet menarik napas pelan sebelum akhirnya ia keluar dari mobil.
Ketika kakinya perlahan melangkah keluar, semua orang menarik napas panjang.
"Siapa dia?"
"Apa dia murid baru?"
Bisik-bisik para siswa-sisiwi.
Violet pun akhirnya keluar dan menyampirkan tasnya di sebelah kanan.
Semua orang langsung menatap Violet dengan terkejut.
"Hah?! Bukankah dia...?"
"Kenapa dia bisa turun dari mobil mewah itu?"
" Apa jangan-jangan Violet merupakan sugar baby dari seseorang itu benar?"
"Jadi, apa yang kita lihat dari video kemarin itu benar?"
"Wah... Kalau begitu, sekolah kita menjadi tempat kotor dong yang masih menerima siswa seperti dia!"
Sedangkan yang di tatap mulai berjalan seolah tidak peduli dengan ucapan semua orang. Violet terus berjalan hingga akhirnya ia duduk di kursi belakang.
Ya, selama Violet asli sekolah, dia selalu duduk di kursi belakang. Tidak ada teman duduk. Hanya dia sendiri.
Dan kini, Irene yang berada di tubuh Violet bernapas lega, karena ia tidak dekat dengan siapapun.
Kriiingggg!
Bel sekolah berbunyi.
Semua murid langsung masuk ke kelas masing-masing.
...... To be continued ......