Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Sisa Racun di Ujung Belati
Meskipun Elena sudah merasa damai di pantai itu, ternyata dunia hitam tidak semudah itu membiarkannya pergi.
Ada satu duri yang belum tercabut sampai ke akarnya.
Duri itu bernama Adrian Adiguna, yang ternyata berhasil keluar dari penjara lebih cepat karena bantuan sisa-sisa koneksi ayahnya yang masih loyal.
Ketenangan di pulau kecil itu pecah bukan oleh badai, melainkan oleh sebuah paket misterius yang terdampar di depan pintu pondok Elena.
Sebuah kotak kayu kecil beraroma melati—aroma yang sangat Alana benci karena itu adalah parfum kesukaan Siska.
Di dalamnya bukan bom, melainkan sebuah foto polaroid lama.
Foto Alana saat masih menjadi istri penurut, sedang tertawa di taman belakang rumah Adiguna.
Di balik foto itu tertulis pesan dengan tinta merah yang masih basah:
"Kau pikir pasir pantai bisa mengubur dosa-dosamu? Aku masih bernapas, Alana. Dan selama aku bernapas, kau tidak akan pernah benar-benar bebas."
Mata Elena yang tadinya lembut seketika berubah menjadi sedingin es. Ia meremas foto itu hingga hancur.
"Paman Han!" teriaknya.
Paman Han muncul dari balik pepohonan dengan wajah tegang.
"Saya baru saja akan melaporkannya, Nona. Adrian Adiguna bebas bersyarat dua hari lalu. Dia menggunakan celah hukum di kasus penipuan pajaknya. Dan sekarang, dia menghilang dari pantauan radar kita."
Elena berdiri, membuang topi pantainya ke laut.
"Dia tidak menghilang, Paman. Dia sedang memancingku. Dia tahu aku tidak akan membiarkan dia menyentuh ketenanganku."
Dua puluh empat jam kemudian, Elena kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai pengusaha sukses yang elegan, tapi sebagai malaikat maut yang haus darah.
Ia tidak menggunakan Rolls-Royce atau pengawalan terbuka.
Ia mengenakan jaket kulit hitam, mengendarai motor sport besar, dan menyelinap masuk ke sebuah bar bawah tanah yang dulunya adalah tempat favorit Adrian untuk menghamburkan uang.
Bar itu gelap, penuh asap rokok, dan bau alkohol yang menyengat.
Elena berjalan menuju pojok ruangan, di mana seorang informan bermata satu sudah menunggunya.
"Di mana dia?" tanya Elena singkat sambil meletakkan segepok uang tunai di meja.
"Gudang tua di Marunda. Tempat dulu ayahnya menyimpan barang-barang selundupan. Dia nggak sendirian, Nyonya. Dia bawa beberapa orang dari sindikat lama yang dendam sama Anda," bisik si informan.
Elena tidak menunggu lama. Ia segera memacu motornya menuju Marunda.
Hujan mulai turun, membasahi jalanan Jakarta yang penuh lubang, mengingatkannya pada malam di mana ia dibuang ke jurang.
Gudang di Marunda itu tampak terbengkalai.
Elena memarkir motornya agak jauh dan menyelinap masuk melalui celah di atap. Di bawah sana, ia melihat Adrian.
Pria itu tampak sangat berantakan. Wajahnya yang dulu sombong kini penuh dengan luka dan brewok yang tidak terawat.
Di depannya, Siska—yang ternyata juga berhasil kabur saat pemindahan sel—duduk di kursi roda dengan kaki yang masih dibalut gips.
"Dia bakal datang, Siska. Aku tahu dia nggak bakal tahan kalau aku kirim foto itu," gumam Adrian sambil menimang-nimang sebuah pistol.
"Habisi dia, Mas. Habisi dia pelan-pelan seperti dia menghancurkan butikku!" jerit Siska dengan suara cemprengnya yang memuakkan.
Elena tersenyum di kegelapan. Ia tidak akan menggunakan pistol. Itu terlalu cepat.
Terlalu manusiawi.
Ia melempar sebuah granat asap ke tengah-tengah mereka. BOOM!
Asap putih tebal memenuhi ruangan. Teriakan panik mulai terdengar.
Elena turun dari langit-langit dengan tali, mendarat tepat di belakang salah satu pengawal Adrian.
Tanpa suara, ia menusukkan jarum berisi obat bius ke leher pria itu. Satu tumbang.
"Siapa di sana?!" teriak Adrian kalap, menembakkan pistolnya ke segala arah.
"Kau mencariku, Adrian?" suara Elena bergema dari sudut yang berbeda, terdengar seperti hantu yang haus darah.
"Alana! Keluar kau, jalang!"
"Alana sudah mati, Adrian. Kau sendiri yang membunuhnya," suara Elena kini terdengar tepat di belakang telinga Adrian.
Adrian berbalik dan mengayunkan tinjunya, tapi Elena lebih cepat.
Ia menangkap tangan Adrian, memutarnya hingga terdengar bunyi KRAK! yang memilukan, dan menendang lututnya hingga Adrian terjatuh.
Elena menginjak dada Adrian dengan sepatu botnya yang berat.
Ia menatap pria itu dengan jijik.
Siska mencoba merangkak pergi, tapi Elena melempar belati kecil yang menancap tepat di antara jemari Siska, membuatnya menjerit ketakutan dan berhenti bergerak.
"Tolong... Alana... maafkan aku..." rintih Adrian, air mata bercampur darah mengalir di wajahnya.
"Maaf?" Elena tertawa dingin. "Kau minta maaf sekarang? Setelah kau mencoba membunuhku? Setelah kau menghancurkan hidup ibuku? Setelah kau membuangku seperti sampah?"
Elena mengeluarkan sebuah tablet kecil.
"Lihat ini, Adrian. Ini adalah rekaman percakapan terakhir ayahmu sebelum dia mati. Kau tahu apa katanya?"
Elena memutar rekaman itu. Suara Haryo Adiguna yang sekarat terdengar:
"Adrian hanyalah kegagalanku yang paling besar. Dia tidak punya otak. Biarkan dia membusuk di sel, aku tidak peduli."
Wajah Adrian hancur.
Dihina oleh ayahnya sendiri di saat-saat terakhir adalah luka yang lebih sakit daripada tulang yang patah.
"Aku tidak akan membunuhmu, Adrian. Itu terlalu murah," bisik Elena. "Aku sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik. Paman Han!"
Beberapa pria tegap masuk. Mereka tidak membawa senjata, tapi membawa kamera dan peralatan siaran langsung.
"Dunia ingin tahu apa yang dilakukan buronan paling dicari di Indonesia ini," kata Elena.
"Kita akan menyiarkan secara langsung bagaimana seorang Adrian Adiguna merengek meminta nyawanya diampuni.
Aku akan menghancurkan martabatmu yang tersisa di depan seluruh rakyat Indonesia. Kau akan diingat sebagai pecundang selamanya."
"Jangan! Tolong jangan siarkan ini!" Adrian memohon, mencoba menutupi wajahnya.
Tapi Elena tidak peduli.
Ia membiarkan kamera merekam setiap detail kehinaan Adrian dan Siska.
Dalam hitungan menit, video itu menjadi viral.
Polisi yang sudah disuap agar datang terlambat, kini mulai mendekat dengan sirine yang meraung-raung.
Elena berdiri, menatap gedung tua itu untuk terakhir kalinya.
Ia melihat Adrian dan Siska diseret kembali oleh petugas kepolisian, kali ini dengan pengawalan yang jauh lebih ketat dan tanpa kemungkinan untuk bebas lagi.
"Sudah selesai, Nona?" tanya Paman Han, menyerahkan selembar tisu basah untuk membersihkan noda darah di tangan Elena.
Elena menatap tangannya. Ia merasa bersih.
Bukan karena dendamnya sudah tuntas, tapi karena ia akhirnya menyadari bahwa dirinya jauh lebih kuat daripada bayangan ketakutannya.
"Sekarang benar-benar selesai, Paman. Bakar tempat ini. Jangan biarkan ada satu pun kenangan tentang keluarga Adiguna yang tersisa di tanah ini."
Api mulai menjilat gudang tua itu, membubung tinggi ke langit Jakarta yang mendung.
Elena naik ke motornya, memacu mesinnya dengan kencang, dan melesat membelah malam.
Ia tidak kembali ke pantai. Ia tidak kembali ke New York.
Ia menuju sebuah panti asuhan yang ia bangun dengan nama ibunya.
Di sana, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bukan untuk membalas dendam, tapi untuk memastikan tidak ada lagi "Alana-Alana" lain yang harus melewati neraka yang sama dengannya.
Balas dendam terbaik bukanlah tentang membunuh musuh, tapi tentang hidup dengan sangat baik hingga musuhmu merasa menyesal karena pernah mengenalmu.
Dan Elena Adiguna, sang Nyonya yang Terbuang, akhirnya telah menjadi pemenang yang sesungguhnya.
Bersambung...
Ayo buruan baca...