"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.
Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?
Atau ia justru ikut terjerumus juga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH ENAM
Di tempat lain, Lukas sedang makan malam bersama Sean dan Ririn di restoran hotel. Suasananya elegan, musik jazz mengalun, dan hidangan tercium harum.
Mereka duduk bertiga, tampak seperti rekan bisnis yang sedang bersantai setelah hari panjang.
Sean banyak bicara, seperti biasa.
Lukas mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil.
Sementara Ririn diam, hanya memperhatikan Lukas.
Ketika makanan datang, Sean berkata, "Pak, saya izin ke toilet sebentar."
Ia bangkit dan pergi.
Begitu Sean menjauh, Ririn langsung memperbaiki duduknya. Ia sedikit mendekat ke arah Lukas.
"Pak Lukas," panggilnya lembut.
"Hm?"
"Bapak kelihatan capek banget, makan juga pelan banget daritadi," ucap Ririn.
Lukas tersenyum. "Iya, saya agak lelah saja."
Ririn menatapnya sambil tersenyum tipis. "Saya senang bisa bantu Bapak hari ini. Kalau Bapak butuh apa-apa... bilang saja. Saya selalu siap."
Lukas hanya mengangguk. "Kamu sudah banyak membantu."
Ririn menggigit bibir, menahan senyum yang ingin muncul terlalu lebar.
Dalam pikirannya, hanya satu yang terlintas. "Malam ini... aku semakin dekat denganmu, Pak..."
Sesampainya di rumah, suasana seperti membeku. Lampu teras menyala redup, dan suara jangkrik terdengar samar. Adelia masih menggigil, kedua tangannya gemetar hebat setelah kejadian mengerikan itu.
Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami sesuatu seperti itu-diseret, diteriaki, hampir dibawa kabur oleh orang asing di malam hari. Dan yang menambah berat semua itu, Bastian yang tadi ia hindari justru menjadi orang yang menyelamatkannya.
Pintu rumah dibuka oleh Bastian. Ia menuntun Adelia masuk dengan lembut namun tegas.
"Pelan-pelan, Del... kamu masih shock," ucapnya.
Adelia hanya mengangguk. Suaranya hilang, tenggelam di balik rasa takut yang belum hilang. Tubuhnya terasa lemas, lututnya gemetar seperti ingin menyerah kapan pun.
Begitu mereka masuk, Bik Vivi dan Mbak Sisil yang ternyata belum tidur langsung muncul dari dapur, wajah mereka berubah panik.
"YA ALLAH! Bu Adel?! Pak Bastian?! Kenapa itu mukanya berdarah?!" teriak Bik Vivi.
"Bu, kenapa bajunya kotor begitu?! Ada apa tadi?!" seru Mbak Sisil.
Bastian mengangkat tangan. "Semua baik-baik saja, Adel cuma syok sedikit. Tolong jangan ramai dulu!"
Adelia memaksa tersenyum kecil ke arah kedua pelayan itu. "Aku ke kamar dulu ya, Bik..."
Bik Vivi ingin bertanya lebih jauh, tetapi Bastian
sudah membawa Adelia menaiki tangga.
Setibanya di kamar, Bastian membuka pintu dan mempersilakan Adelia masuk. Ia bahkan menuntun wanita itu ke tepi ranjang dan membantu Adelia duduk.
"Duduk... tarik napas pelan!" katanya lembut.
Adelia memegang dadanya. Napasnya masih pendek-pendek. "Pa... tadi... aku benar-benar... aku kira aku bakal
"Papa tahu, kamu nggak apa-apa sekarang. Kamu aman," jawab Bastian sambil mengambilkan segelas air dari meja kecil di sudut kamar.
Ia menyodorkannya perlahan.
"Minum dulu, biar kamu tenang."
Adelia menerima gelas itu dengan kedua tangan yang masih bergetar. Ia meminumnya sedikit demi sedikit hingga napasnya mulai lebih stabil. Ketika akhirnya ia menurunkan gelas, ia melihat sesuatu di wajah Bastian.
Luka.
Ada goresan memanjang di pipi dan pelipisnya. Beberapa lebam mulai tampak di rahang dan bawah mata.
"Pa... wajah Papa berdarah!" seru Adel panik.
Bastian menyentuh pipinya sekilas. "Ah... cuma lecet, nggak apa-apa kok."
"Enggak, Pa! Itu luka! Kenapa Papa nggak bilang?!"
Adelia berdiri refleks, panik karena pria itu mengabaikan cederanya.
Bastian tersenyum samar. "Papa lebih khawatir sama kamu, luka Papa tidak penting."
"Tidak, Pa. Papa harus diobati."
"Del, tidak usah repot. Kamu istirahat saja!"
Namun untuk pertama kalinya sejak pagi, Adelia bersuara tegas.
"PA, DUDUK!"
Bastian terdiam.
Nada itu... adalah nada yang jarang ia dengar dari Adelia.
Ia menurut. Ia duduk perlahan di ranjang, dan Adelia segera mengambil kotak obat dari lemari, kembali duduk di dekatnya. Tanpa bicara, ia mengambil kapas, menuang antiseptik, dan mulai membersihkan luka di wajah Bastian.
Setiap kali kapas menyentuh kulit luka, Bastian meringis kecil.
"Aduh..."
"Diam, Pa!" ucap Adel pelan tapi penuh perhatian.
Bastian mengamati Adelia dari jarak dekat. Cara wanita itu memusatkan perhatian sepenuhnya ke lukanya, cara alisnya mengerut saat melihat goresan, dan cara tangannya bergerak halus namun teliti-semua itu membuat dada Bastian berdebar dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Ada sesuatu yang berubah di mata Adelia.
Ketakutan yang tadi mendominasi sekarang
bercampur rasa syukur, iba, dan... kedekatan yang sulit ia hindari.
Setelah luka dibersihkan, Adel menempelkan plester kecil. "Sudah. Jangan kena air dulu ya, Pa!"
"Terima kasih, Del," ucap Bastian, suaranya rendah dan lembut.
Adelia menunduk, hendak merapikan obat-obatan itu.
Namun tiba-tiba-
Bastian meraih pergelangan tangannya.
"Del..."
Adelia tersentak kecil. "Pa? Ada apa?"
Bastian tidak menjawab. Ia menarik tangan Adel perlahan dan mendorongnya ke permukaan ranjang, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan tekanannya yang tiba-tiba membuat Adelia kehilangan keseimbangan sehingga kedua tangannya tersangga di atas kasur.
Tubuh Bastian tidak menindihnya. Namun ia membungkuk sedikit, wajahnya cukup dekat hingga Adelia dapat merasakan kehangatan napasnya.
"Pa..." bisik Adelia gugup, jantungnya berdegup kacau.
Bastian menatapnya, tidak dengan nafsv-tetapi dengan sesuatu yang lain. Sesuram obsesi. Sedalam perasaan yang seharusnya tidak dimiliki seorang ayah mertua.
"Del... kamu itu cantik sekali malam ini," ucap Bastian lirih. "Papa tidak tahu harus bagaimana... waktu Papa hampir kehilangan kamu tadi."
Adelia terdiam. Napasnya tersengal.
"Kamu itu... berharga," lanjut Bastian. "Papa nggak sanggup lihat kamu takut... atau terluka."
"Pa... tolong... jangan begini!" bisik Adelia.
Bastian memejamkan mata sejenak seolah merasakan konflik batin hebat. Tangan yang memegang pergelangan Adelia perlahan mengendur, lalu melepaskannya.
Ia berdiri kembali, mundur satu langkah.
"Maaf, Del... Papa terlalu terbawa emosi."
Adelia duduk perlahan, menahan napas. Wajahnya merah, bukan karena malu, tetapi karena campuran gentar dan bingung.
Namun ia tetap berkata, "Pa... terima kasih sudah menyelamatkan saya. Tapi... jangan lakukan itu lagi!"
Bastian mengangguk pelan.
"Papa janji... Papa nggak akan bikin kamu takut."
Namun, sorot matanya... mengatakan sesuatu yang
Lain.