"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: BEDAH JIWA DAN IMPERIUM BARU
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Ruang bawah tanah sayap utara mansion ini tidak dirancang untuk kenyamanan. Dinding-dindingnya dilapisi beton kedap suara dengan pencahayaan lampu neon tunggal yang sengaja diatur agar sedikit berkedip—sebuah trik psikologis klasik untuk mengganggu fokus temporal target. Di tengah ruangan, terikat pada kursi baja yang dipaku ke lantai, adalah Baron.
Pria yang sembilan tahun lalu menghancurkan hidup Mama. Pria yang memicu pelarian berdarah yang hampir merenggut nyawa kami sebelum kami sempat menghirup udara dunia ini.
Aku melangkah masuk dengan sangat pelan. Suara ketukan sepatu kecilku di lantai semen yang dingin adalah satu-satunya instrumen di ruangan ini. Aku tidak membawa alat penyiksa. Aku hanya membawa sebuah tablet dan boneka kelinciku, Mochi, yang kini kupeluk erat di dada.
"Paman Baron," ucapku lembut. Suaraku jernih, seperti suara anak kecil yang ingin menanyakan arah jalan. "Tidurmu nyenyak setelah mencoba membunuh orang tuaku semalam?"
Baron mendongak. Wajahnya yang penuh luka parut tampak mengerikan di bawah cahaya neon. Dia tertawa, sebuah suara serak yang mengingatkanku pada gesekan batu nisan. "Damian mengirim bayi lagi? Apa dia sudah kehabisan nyali sampai harus bersembunyi di balik popok anaknya?"
Aku tidak tersinggung. Aku justru menarik sebuah kursi lipat, duduk tepat di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat untuk mencium bau keringat dinginnya.
"Analisis detak jantungmu menunjukkan lonjakan 20 bpm setiap kali kau mencoba menghinaku," aku menekan tombol di tabletku, memperlihatkan grafik biometriknya secara real-time. "Itu disebut 'Defensive Projection'. Kau mencoba meremehkanku karena kau sangat takut pada apa yang tidak bisa kau pahami. Paman, kau adalah tipe pria yang merasa kuat karena memegang senjata, tapi sekarang... senjatamu tidak ada, dan kau hanya gumpalan daging yang menunggu untuk diproses."
Baron meludah ke lantai, namun matanya bergetar. "Apa maumu, Setan Kecil?"
"Sembilan tahun lalu," aku memiringkan kepalaku, menatapnya dengan mata yang tidak memiliki emosi anak kecil sama sekali. "Kau tahu persis di mana keluarga Mama berada. Kau tahu jadwal keberangkatan mereka. Kau tahu rute pelarian mereka. Seorang mafia kelas teri seperti kau tidak mungkin punya akses ke intelijen klan Xavier pusat secepat itu. Katakan padaku, siapa di dalam klan Xavier yang memberikan 'kunci' itu padamu?"
Baron terdiam. Keheningan di ruangan itu menjadi sangat berat.
“Kak, variabel 'Fear-Response' mencapai puncaknya. Dia tidak takut mati, tapi dia takut pada 'siapa' yang memberinya perintah,” lapor kuku melalui Shadow Talk.
“Gunakan teknik 'False Hope', Lea. Katakan padanya bahwa aku sedang membobol akun penampungan dananya di Cayman. Jika dia tidak bicara, aku akan mengirimkan seluruh bukti transaksinya ke otoritas pajak internasional dan klan Xavier pusat secara bersamaan. Dia akan diburu oleh hukum dan oleh majikannya sendiri,” suara Leo terdengar dingin di earpiece-ku.
Aku tersenyum—senyuman yang membuat Baron bergidik. "Paman, Kakek Alexander mungkin terlihat seperti penyelamatmu, tapi baginya, kau hanyalah tisu toilet yang sudah kotor. Leo baru saja mengambil alih akun Cayman-mu. Jika kau bicara, kami akan memalsukan kematianmu dan mengirimmu ke sebuah pulau terpencil. Jika tidak... biarkan Kakek Alexander yang menanganimu setelah dia tahu kau gagal total."
Baron menelan ludah. "Bukan Alexander yang menghubungiku sembilan tahun lalu."
Aku menajamkan pendengaranku. "Lalu siapa?"
"Wanita itu..." Baron berbisik, suaranya nyaris hilang. "Sekretaris dewan pusat. Selina. Dia yang memberiku koordinat ibumu. Dia ingin ibumu mati agar klan pusat tidak memiliki 'noda' rakyat jelata dalam silsilahnya."
Aku membeku. Selina. Wanita yang kemarin baru saja 'dibersihkan' oleh Leo dari kantor Papa ternyata memiliki peran yang jauh lebih gelap di masa lalu.
"Terima kasih, Paman," ucapku, bangkit dari kursi. "Mochi bilang, Paman sudah melakukan pekerjaan yang bagus. Sekarang, tidurlah sejenak."
Aku menekan sebuah tombol di dinding, dan gas tidur dosis ringan mulai merayap masuk. Aku berjalan keluar dari ruang interogasi dengan hati yang dingin. Musuhnya bukan hanya di luar, tapi bersembunyi di balik dokumen-dokumen legal klan ini selama bertahun-tahun.
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Aku berada di lantai teratas Vipera Tower, namun kali ini bukan di ruang kendali taktis. Aku berada di ruang kerja utama Papa, dikelilingi oleh tumpukan berkas legal dan layar yang menampilkan grafik pasar modal global. Di depanku, Damian duduk dengan kening berkerut, menatap sebuah dokumen bertajuk 'Vipera Global Conglomerate'.
"Papa, jika kita terus mengandalkan penyelundupan senjata dan perdagangan gelap, klan ini akan hancur dalam lima tahun ke depan," ucapku sambil menyesuaikan letak dasi miniku. "Negara-negara sedang memperketat regulasi anti-pencucian uang. Strategi bertahan Papa sudah ketinggalan zaman."
Damian meletakkan dokumen itu dengan kasar. "Leo, bisnis ini yang memberimu makan dan teknologi mahalmu itu. Kau ingin aku menjadi pedagang saham?"
"Aku ingin Papa menjadi pemilik dunia, bukan sekadar pemilik jalanan," balasku tanpa emosi. "Aku sudah menyiapkan skema merger. Kita akan mencuci seluruh aset Vipera melalui akuisisi perusahaan teknologi energi terbarukan dan infrastruktur pelabuhan. Kita akan mengubah 'uang berdarah' menjadi 'dividen bersih'. Dengan begitu, saat Mama bangun setiap pagi, dia adalah istri dari seorang pengusaha sukses, bukan target pembunuhan mafia."
Damian menatapku lama. Aku bisa melihat pergulatan antara egonya sebagai bos mafia dan cintanya pada Qinanti.
"Kau baru saja mengatakan Selina adalah pengkhianat masa lalu, kan?" tanya Damian, suaranya rendah dan berbahaya.
"Ya. Lea baru saja mengonfirmasinya. Selina adalah mata-mata klan pusat sejak sembilan tahun lalu," aku membuka sebuah folder digital. "Dan ini adalah daftar aset yang dia curi dari Papa untuk membiayai operasi Baron. Papa, selama ini Papa memberi makan ular yang mencoba mematuk jantung Papa sendiri."
Damian bangkit, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap kota Jakarta. "Jadi, rencanamu adalah legalisasi total?"
"Legalisasi dengan taring, Papa. Kita akan tetap memegang unit taktis—unit Ghost—sebagai departemen 'Keamanan Khusus'. Tapi di mata dunia, kita adalah raksasa ekonomi yang tidak tersentuh. Aku butuh Papa menandatangani pengalihan kuasa ini. Mulai besok, Vipera Corp secara resmi lahir."
“Kak, Mama sedang menuju ke kantor. Dia membawakan bekal makan siang. Matikan layar interogasinya sekarang!” peringatan Lea masuk lewat Shadow Talk.
Aku segera menyapu layar monitor dengan satu gerakan tangan, menggantinya dengan diagram membosankan tentang ekspor kelapa sawit. Pintu ruangan terbuka tepat waktu.
POV: DAMIAN XAVIER
Qinanti masuk dengan senyum yang bisa meluluhkan baja yang paling keras sekalipun. Dia mengenakan pakaian kantor yang elegan, membawa kotak bekal berwarna biru. Melihatnya di sini, di sarang ular ini, membuatku tersadar betapa benar kata-kata Leo. Aku tidak bisa membiarkannya berada di duniaku yang lama. Aku harus menarik duniaku ke arah dunianya.
"Damian, Leo... kalian belum makan siang, kan?" Qinanti meletakkan kotak bekal itu di meja mahoniku. "Lea sedang di bawah, dia bilang dia lelah setelah bermain 'petak umpet' di rumah."
Aku melirik Leo. Aku tahu 'petak umpet' yang dimaksud adalah interogasi Baron. Jantungku berdenyut aneh. Bagaimana mungkin dua bocah ini bisa menanggung kegelapan yang seharusnya menjadi milikku?
"Terima kasih, Qin," aku menarik kursinya agar dia duduk di sampingku. "Leo sedang mengajariku cara menjadi pengusaha yang baik. Dia bilang aku terlalu kolot."
Qinanti tertawa kecil, suara yang paling merdu yang pernah kudengar. "Leo benar, Damian. Terkadang kau terlalu kaku. Duniamu... duniamu harus mulai memberi ruang untuk masa depan mereka."
Aku menggenggam tangan Qinanti. Di depan wanita ini, aku merasa seperti pria paling kuat sekaligus paling rapuh. "Aku sedang melakukannya, Qin. Untukmu. Untuk mereka."
Leo berdeham, pura-pura sibuk dengan tabletnya. "Mama, Papa baru saja setuju untuk mendonasikan 20% keuntungan perusahaan baru untuk yayasan kurasi seni Mama. Itu adalah strategi pemasaran yang bagus untuk memperbaiki citra publik."
"Benarkah, Damian?" mata Qinanti berbinar.
"Ya," jawabku, sambil menatap Leo yang memberikan kedipan mata misterius. "Apapun untuk kesuksesanmu, Sayang."
Momen hangat itu terasa begitu nyata, sampai aku hampir lupa bahwa di ruang bawah tanah ada seorang pembunuh yang sedang meregang nyawa, dan di luar sana, klan Xavier pusat sedang mempersiapkan badai.
"Papa," Leo memanggil saat Qinanti sedang asyik menata makanan di piring. "Kita punya waktu dua puluh empat jam sebelum Kakek Alexander menyadari Selina menghilang. Aku butuh unit Ghost siap di sektor lima. Kita tidak akan menunggu mereka menyerang. Kita akan melakukan 'Hostile Takeover' terhadap kepercayaan diri mereka malam ini."
Aku menelan makananku, menatap putraku yang berusia delapan tahun itu dengan rasa hormat yang kini sepenuhnya tulus. "Katakan padaku apa yang harus kulakukan, Marsekal."
Leo tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat mirip denganku, tapi dengan kedalaman intelektual yang melampauiku. "Cukup jadilah Papa yang mencintai Mama di depan kamera sore ini saat peluncuran Vipera Corp. Sisanya... biarkan aku dan Lea yang merobek jaring laba-laba mereka dari dalam."
Malam itu, Jakarta akan menyaksikan lahirnya sebuah dinasti baru. Sebuah dinasti yang dibangun dengan darah masa lalu, namun disucikan dengan strategi masa depan. Dan bagi siapa pun yang mencoba mengusik kebahagiaan di meja makan ini... mereka baru saja mengundang skakmat yang paling menyakitkan dalam hidup mereka.
Checkmate, Selina. Checkmate, Alexander.