Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Efek Fitnah
Brak!
Tubuh Junie kehilangan keseimbangan. Kakinya tersangkut ujung karpet, dan dalam hitungan detik, dia sudah terduduk di lantai dengan posisi yang cukup memalukan.
“Ah!” refleks suara kecil keluar dari mulutnya.
Naomi yang melihat itu langsung terkejut. Matanya membesar, lalu tanpa pikir panjang dia bergegas menghampiri.
“Dokter!” panggilnya panik. “Anda nggak apa-apa?!”
Naomi langsung menaruh kain pel di meja terdekat, lalu membungkuk, berusaha membantu Junie bangkit. Tangannya hampir menyentuh lengan pria itu.
Namun sebelum dia benar-benar membantu, Junie sudah lebih dulu berdiri dengan gerakan cepat.
“Aku...eh... saya nggak apa-apa!” katanya buru-buru. Gerakannya terlalu cepat, bahkan sedikit kaku. Wajahnya langsung memerah. Bukan hanya pipinya, tapi sampai ke telinga.
Naomi mengerjap. Menatapnya dengan heran. “Yakin?” tanyanya pelan. “Wajah Anda merah sekali, Dok.”
Junie langsung mengalihkan pandangan. Tangannya naik ke tengkuk, menggaruk pelan, jelas canggung. “Ini… panas saja,” jawabnya asal.
Naomi menyipitkan mata sedikit. “Atau Anda lagi nggak enak badan?”
Junie langsung menggeleng cepat. “Enggak! Saya sehat.”
Jawabannya terlalu cepat. Terlalu defensif.
Naomi malah semakin curiga, tapi dia tidak memaksa. Hanya mengangguk pelan. “Kalau begitu… hati-hati, Dok. Lantainya memang agak licin.”
“Iya…” jawab Junie singkat.
Hening sejenak. Canggung kembali muncul. Junie lalu berdehem kecil, mencoba mengembalikan wibawa yang tadi sempat jatuh bersama dirinya.
“Saya… mau mandi dulu,” katanya, berusaha terdengar normal. “Saya harus ke klinik.”
“Oh… iya, Dok. Silakan,” jawab Naomi sopan.
Tanpa menunggu lama, Junie langsung berbalik dan berjalan cepat ke arah kamar mandi. Bahkan sedikit terlalu cepat.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Naomi menatap ke arah itu beberapa detik. Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
“Dokter Junie lucu juga…” komentarnya pelan. Namun dia tidak memikirkan itu lama-lama. Ia kembali ke pekerjaannya. Mengelap, merapikan, dan menyelesaikan semua dengan sebaik mungkin.
Beberapa jam kemudian, Naomi akhirnya selesai. Tubuhnya terasa lelah, tapi ada kepuasan kecil di dalam hati. Ia memastikan semua rapi. Lalu mengemasi perlengkapan. Davin masih tertidur dengan tenang di kereta bayinya.
“Yuk, kita pulang,” ucap Naomi lembut. Ia keluar dari apartemen itu dengan langkah pelan. Tidak menyadari bahwa hari itu meninggalkan kesan tersendiri bagi seseorang.
Sore hari, Naomi kembali ke apartemen Jihan. Begitu pintu terbuka, suasananya langsung terasa berbeda. Jihan duduk di sofa, tangannya terlipat di dada. Tatapannya tajam. Tidak seperti biasanya.
Naomi berhenti di depan pintu. Sedikit kaget. “Ji?” panggilnya.
Jihan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naomi dari atas sampai bawah. Lalu matanya beralih ke tas besar yang dibawa Naomi.
“Dari mana?” tanyanya singkat.
Naomi terdiam sejenak. Lalu menghela napas kecil. “Kerja...” jawabnya jujur.
Memang selama ini, Naomi belum mengatakan kalau dirinya sudah bekerja pada Jihan. Dia tak mau sahabatnya itu cemas.
Jihan langsung berdiri. “KERJA?” suaranya naik satu oktaf.
Naomi refleks meringis sedikit.
“Kamu kerja?” ulang Jihan, kali ini dengan nada lebih tajam. “Sejak kapan?”
Naomi menggigit bibirnya. “Beberapa hari ini…”
Jihan langsung mendekat. “Dan kamu nggak bilang ke aku?!”
Naomi menunduk sedikit. “Aku nggak mau ngerepotin kamu terus, Ji…”
Kalimat itu justru membuat Jihan semakin kesal. “Ngerepotin?” ulangnya. “Naomi, aku ini sahabat kamu! Bukan orang asing!”
“Aku tahu…” jawab Naomi pelan.
“Terus kenapa kamu harus kerja sekarang?!” lanjut Jihan. “Setidaknya tunggu sampai Davin tiga bulan! Aku juga nggak keberatan bantu kamu!”
Naomi mengangkat wajahnya. Matanya lembut, tapi tegas.
“Aku nggak mau bergantung terus,” katanya pelan. “Aku harus mulai berdiri sendiri.”
Jihan terdiam sesaat. Tapi emosinya belum turun.
“Terus kerjaan kamu apa sekarang?” tanyanya, sedikit sinis.
Naomi menghela napas kecil. “Cleaning service.”
Jihan berkedip cepat. Dia merasa tak percaya. “Cleaning service?” ulangnya lagi, seolah memastikan dia tidak salah dengar.
Naomi mengangguk.
“Hah?! Mantan dokter residen sekarang jadi tukang bersih-bersih?!” celetuk Jihan. Nada suaranya campur antara kaget dan tidak percaya.
Naomi menatapnya beberapa detik. Lalu tiba-tiba tersenyum.
“Iya,” jawabnya santai. “Lumayan kan? Sekalian olahraga gratis.”
Jihan langsung terdiam. Beberapa detik hening.
“Pffft—HAHAHAHA!” Jihan tiba-tiba tertawa.
Naomi ikut tertawa kecil.
“Gila kamu…” kata Jihan sambil menggeleng-geleng kepala. “Tapi ya… kalau kamu sudah mikir matang, aku nggak bisa larang.”
Naomi tersenyum hangat. “Terima kasih, Ji.”
Jihan menghela napas. “Tapi kalau capek, bilang. Jangan sok kuat.”
Naomi mengangguk. Dia dan Jihan melanjutkan aktifitas mereka.
...***...
Sore menjelang malam. Naomi bersiap keluar lagi.
“Ji, aku mau ke supermarket sebentar ya,” katanya.
Jihan yang sedang duduk langsung menoleh. “Mau beli apa?”
“Kebutuhan Davin. Susu, tisu, sama beberapa hal lain.”
Jihan mengangguk. “Ya sudah, sini Davin sama aku saja.”
Naomi tersenyum lega. “Makasih ya.”
Ia kemudian keluar, berjalan menuju supermarket terdekat.
Di dalam supermarket, Naomi mendorong troli kecil. Matanya fokus memilih barang-barang yang dibutuhkan. Hidupnya sekarang sederhana. Semua tentang Davin. Namun saat sedang mengambil satu kotak susu, tiba-tiba langkahnya terhenti.
Seseorang berdiri tidak jauh darinya. Seorang wanita. Wajahnya familiar.
Naomi mengerutkan kening sedikit. “Lina?” tegurnya.
Wanita itu menoleh. Mata mereka bertemu. Namun bukannya tersenyum atau menyapa, ekspresi Lina justru berubah dingin. Tatapannya tajam. Seolah melihat orang asing yang tidak dia sukai.
Naomi sedikit kaku. “Hai… Sudah lama ya nggak ketemu,” sapa Naomi pelan.
Namun Lina tidak membalas sapaan itu dengan hangat. Ia mendengus kecil. “Wow…” katanya sinis. “Berani juga kamu keluar rumah.”
Naomi terdiam.
“Aku kira kamu bakal sembunyi terus setelah semua itu,” lanjut Lina.
Dada Naomi terasa sesak. “Apa maksudmu?” tanyanya heran.
Lina menyilangkan tangan. “Jangan pura-pura nggak tahu,” katanya tajam. “Semua orang sudah dengar kok.”
Naomi menunduk sedikit. Tangannya menggenggam troli lebih erat.
“Gila ya…” lanjut Lina, suaranya penuh sindiran. “Suami sendiri diselingkuhi. Terus hamil sama pria lain. Kamu hebat juga.”
Setiap kata terasa seperti tusukan. Naomi menelan ludah. “Itu tidak benar,” bantahnya.
Lina tertawa kecil. “Ya ya, semua orang juga bilang begitu kalau ketahuan.”
Naomi mengangkat wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia berusaha tetap tegar. “Aku tidak melakukan itu,” ulangnya, kali ini lebih tegas.
Namun Lina hanya tersenyum sinis. “Percaya diri banget ya kamu.”
Beberapa orang mulai melirik. Suasana menjadi tidak nyaman. Naomi menarik napas dalam. Ia ingin membela diri. Ingin menjelaskan semuanya.
Tapi untuk apa?
Orang seperti Lina sudah memutuskan apa yang ingin dia percaya.
“Aku nggak punya waktu untuk ini,” kata Naomi akhirnya. Ia mendorong troli, mencoba pergi.
Namun Lina masih sempat berkata, “Hati-hati ya, karma itu ada.”
Langkah Naomi terhenti sebentar. Namun dia tidak menoleh. Ia hanya lanjut melangkah. Air matanya jatuh diam-diam. Tapi kali ini, dia tidak berhenti. Karena sekarang, dirinya tahu. Yang harus dia jaga bukan nama baiknya di mata orang lain. Tapi masa depan anaknya.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘