NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar yang Berbeda

Tiga minggu telah berlalu sejak kepulangan mereka dari Villa Maritima, dan suasana di perbukitan The Dendra Foundation perlahan mulai berubah. Udara pagi yang biasanya terasa menyegarkan, kini seolah membawa beban tersendiri bagi Luna. Di saat matahari baru saja mengintip dari balik barisan pohon pinus, kesunyian kamar utama di panti itu kembali pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru menuju kamar mandi.

Isaac terbangun seketika. Ia mendapati sisi tempat tidur di sampingnya sudah kosong dan dingin. Suara mual yang tertahan dari balik pintu kayu jati kamar mandi membuat jantungnya berdegup kencang. Dengan gerakan sigap, Isaac bangkit dan menyusul istrinya.

Di dalam kamar mandi yang remang, Luna tampak terduduk lemas di lantai, kepalanya bersandar pada tepian wastafel. Wajahnya yang biasanya merona segar kini tampak pucat pasi, dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Ia baru saja memuntahkan cairan bening karena perutnya benar-benar kosong sejak semalam, namun rasa mual itu tetap mendesak kuat di kerongkongannya.

"Luna..." Isaac berlutut di sampingnya, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam. Ia mengusap punggung Luna dengan gerakan memutar yang lembut, mencoba memberikan kenyamanan di tengah rasa sakit yang mendera istrinya.

"Aku... aku tidak apa-apa, Mas," bisik Luna parau, suaranya nyaris hilang. Ia mencoba untuk berdiri, namun dunianya seolah berputar hebat. Rasa pusing yang tajam menghantam bagian belakang kepalanya, membuat kakinya terasa seperti jeli. Jika Isaac tidak segera menangkap pinggangnya, Luna pasti sudah jatuh tersungkur di lantai marmer yang dingin.

Isaac tidak membiarkan Luna memprotes. Dengan kekuatan lengannya, ia mengangkat tubuh Luna, menggendongnya kembali menuju ranjang dengan sangat hati-hati. Ia menyelimuti Luna hingga sebatas dada, lalu duduk di tepi ranjang sembari memijat lembut telapak tangan istrinya.

"Ini sudah pagi ketiga, Luna. Kau tidak bisa terus mengatakan bahwa kau 'tidak apa-apa'," ujar Isaac dengan nada rendah yang tegas. "Mual ini bukan sekadar karena salah makan. Kau juga tampak sangat lemas dan pusing."

Luna hanya bisa memejamkan mata, mencoba menahan denyut di pelipisnya. "Mungkin aku hanya kelelahan, Mas. Akhir-akhir ini anak-anak sedang sangat aktif, dan aku mungkin kurang tidur."

Isaac terdiam sejenak, menatap wajah istrinya dengan saksama. Sebuah pemikiran melintas di benaknya—sebuah kemungkinan yang telah mereka tanamkan sebagai harapan di pantai tiga minggu lalu. Namun, ia tidak ingin memberikan harapan palsu sebelum memastikannya. Ia meraih ponselnya dan segera menghubungi Ibu Sari.

"Bu Sari, tolong bawakan teh jahe hangat dan sedikit biskuit gandum ke kamar kami. Dan tolong, minta anak-anak untuk sarapan dengan tenang hari ini, jangan biarkan mereka naik ke lantai atas dulu," perintah Isaac dengan wibawa yang tak terbantahkan.

Tak lama kemudian, Ibu Sari masuk dengan baki di tangannya. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman mengurus panti dan melihat banyak siklus kehidupan, mata tajam Ibu Sari langsung menangkap sesuatu yang berbeda pada diri Luna. Ia melihat bagaimana Luna menghindari aroma teh yang biasanya ia sukai, dan bagaimana wajah Luna tampak begitu "berisi" meskipun pucat.

"Istirahatlah, Luna. Biar Ibu yang menangani urusan dapur dan anak-anak pagi ini," ujar Ibu Sari sembari meletakkan teh jahe di meja nakas. Ia memberikan kerlingan penuh arti pada Isaac sebelum melangkah keluar, seolah memberikan sinyal bahwa kecurigaan Isaac mungkin benar adanya.

Isaac membantu Luna untuk meminum teh jahe itu sedikit demi sedikit. "Minumlah, ini akan membantu meredakan mualmu."

"Terima kasih, Mas," gumam Luna. Setelah meminum teh itu, ia merasa sedikit lebih baik, meskipun rasa lemas itu masih menguasai seluruh sendi-sendinya. "Aku merasa sangat tidak berguna hari ini. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantor panti."

"Kantor panti bisa menunggu, Luna. Duniamu tidak akan runtuh jika kau beristirahat satu hari," balas Isaac sembari merapikan rambut Luna yang sedikit berantakan. "Sekarang, aku ingin kau menjawab jujur. Kapan terakhir kali kau mendapatkan siklus bulananmu?"

Pertanyaan Isaac membuat Luna tertegun. Ia mencoba mengingat-ingat sembari menghitung hari dalam kepalanya. Matanya perlahan melebar saat ia menyadari sesuatu. "Seharusnya... seharusnya sudah lewat sepuluh hari yang lalu, Mas. Aku benar-benar lupa karena terlalu sibuk dengan urusan audit panti minggu lalu."

Suasana di kamar itu seketika menjadi sangat sunyi, namun penuh dengan ketegangan yang membahagiakan. Isaac mencengkeram tangan Luna sedikit lebih erat, matanya berkilat penuh harap. "Aku akan meminta Zaki mengirimkan tim medis dari kota, atau setidaknya membeli beberapa alat uji kehamilan di apotek bawah bukit."

"Mas, jangan terburu-buru. Bagaimana jika ini hanya terlambat karena stres?" Luna mencoba bersikap rasional, meskipun jantungnya sendiri kini berdegup dua kali lebih cepat.

"Stres tidak membuatmu mual setiap kali mencium bau parfumku, Luna," goda Isaac sembari tersenyum tipis. "Sejak tadi pagi, kau selalu memalingkan muka saat aku mendekat. Itu adalah tanda yang sangat jelas."

Luna tersipu malu, menyadari bahwa apa yang dikatakan Isaac benar adanya. Entah mengapa, aroma maskulin yang biasanya ia puja dari suaminya, kini terasa begitu tajam dan mengganggu penciumannya.

Sepanjang pagi itu, Isaac tidak meninggalkan sisi Luna. Ia membatalkan semua pertemuan daringnya dengan investor dari Singapura dan Swiss. Baginya, kondisi Luna saat ini jauh lebih penting daripada kesepakatan jutaan dolar. Ia bahkan membawakan laptopnya ke kamar, bekerja di samping Luna sembari sesekali mengecek suhu tubuh istrinya dan memastikan Luna tetap terhidrasi.

Di lantai bawah, anak-anak panti mulai berbisik-bisik. Mereka merasakan ada sesuatu yang berbeda. Pintu kamar "Ibu dan Bapak" mereka tertutup rapat, dan Ibu Sari tampak sangat protektif menjaga area tangga.

"Apa Kak Luna sakit parah?" tanya Bumi dengan wajah cemas saat mereka berkumpul di ruang makan.

"Kak Luna hanya butuh istirahat, Bumi. Jangan berisik, kalian lanjut belajar saja," jawab Ibu Sari dengan senyum misterius yang membuat anak-anak semakin penasaran.

Kembali ke kamar, Luna mulai merasakan kantuk yang luar biasa berat. Gejala awal kehamilan—jika memang benar itu yang terjadi—benar-benar menguras energinya. Ia menatap punggung Isaac yang sedang fokus pada layar laptop, merasa sangat beruntung memiliki pria itu dalam hidupnya. Isaac yang dulu dingin dan kaku, kini menjelma menjadi sosok pelindung yang begitu lembut dan perhatian.

"Mas..." panggil Luna dengan suara mengantuk.

Isaac menoleh, segera menutup laptopnya. "Ya, Sayang? Ada yang sakit?"

"Tidak... aku hanya ingin kau di sini. Jangan pergi ke kantor dulu," pinta Luna sembari mengulurkan tangannya.

Isaac tersenyum, ia naik ke atas ranjang dan membiarkan Luna menyandarkan kepalanya di dadanya. "Aku tidak akan ke mana-mana, Luna. Aku akan di sini sampai kau merasa lebih baik. Sampai kita benar-benar tahu kabar bahagia itu."

Dalam dekapan Isaac, Luna akhirnya terlelap kembali. Rasa mual dan pusingnya perlahan mereda, digantikan oleh kedamaian yang mendalam. Di luar, angin perbukitan bertiup lembut, menggoyangkan dahan pohon pinus seolah-olah alam sedang bersiap untuk menyambut kabar tentang nyawa baru yang akan segera hadir di tengah-tengah mereka.

Isaac menatap wajah tidur Luna dengan penuh kasih. Ia meletakkan tangannya dengan sangat hati-hati di atas perut Luna yang masih rata, membisikkan doa-doa dalam hati. Jika benar ada kehidupan kecil yang mulai tumbuh di sana, Isaac berjanji akan menjadi benteng terkuat bagi mereka berdua. Penantian mereka selama ini, perbincangan di tepi pantai, dan harapan-harapan yang mereka gantungkan di supermarket kota, tampaknya mulai menemui titik terangnya di pagi yang tenang ini.

Waktu terus bergulir, dan meskipun Luna masih tampak lemas, ada sebuah cahaya baru yang terpancar dari wajahnya. Sebuah tanda-tanda kehamilan yang bukan hanya membawa tantangan fisik, tetapi juga membawa puncak kebahagiaan yang selama ini mereka impikan di atas bukit The Dendra Foundation.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!