transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ruang tengah yang dingin
Di rumah besar Wijaya, banyak pelayan lalu-lalang namun keadaan selalu sepi. Teratur. Terlalu teratur sampai terasa hampa.
Jam dinding berdentang pelan. Jarumnya nunjuk angka dua siang. Di luar panas menyengat, tapi di dalam ruang tengah, AC menyala dingin. Lantainya marmer, kinclong, memantulkan bayangan dua sosok yang duduk berhadapan di sofa kulit hitam.
"Vivian sudah dijemput?" Tanya Eric dingin pada seorang pelayan yang baru masuk membawa nampan berisi dua gelas air putih. Suaranya datar, tanpa emosi.
Pelayan itu menangguk cepat, mengiyakan pertanyaan Eric. "Sudah, Tuan. Nyonya Vivian baru berangkat setengah jam yang lalu bersama Nona Cika."
Eric mengangguk sekali. Tangannya memutar gelas di atas meja, tapi tidak diminum. Matanya menatap lurus ke depan, ke pintu utama, seolah bisa menembus tembok dan melihat jalanan. Padahal hatinya bergejolak. Sejak Vivian bilang mau ke sekolah Cika, dadanya gak tenang. _Apa dia capek? Apa dia mual di jalan?_
"Maaf membuatmu menunggu lama," ucapnya lagi, kali ini pada seorang gadis muda yang duduk di sofa seberang. Suaranya masih datar, tapi ada sedikit nada gak enak.
Itu Alea. Dokter kandungan yang punya janji periksa Vivian hari ini. Rambutnya diikat satu, jas putih bersih tersampir di pundaknya. Wajahnya cantik, tenang, tapi jarinya gugup mengucek ujung jas. "Bukan masalah besar, Kak Eric," sahutnya lembut. Senyumnya tipis. "Saya juga baru sampai kok."
Setelahnya, ruangan kembali hening. Hanya ada suara detik jam dinding dan AC yang mendesir pelan. Eric masih dengan wajah datarnya, punggung tegak, tangan terlipat di dada. Topeng CEO. Padahal pikirannya ke Vivian semua. Ke perut Vivian. Ke bayi mereka.
Sementara Alea, nampak gugup. Sudah 7 tahun tidak duduk sedekat ini dengan Eric. Dulu, jarak mereka cuma setengah meter di perpustakaan kampus. Sekarang, dipisahkan meja kaca dan status. Status yang beda jauh.
"7 tahun tidak bertemu, aku tak mengira Kak sudah menikah... bahkan sebentar lagi punya anak," ucap Alea kemudian. Dia ambil gelas, minum seteguk buat basahin tenggorokan yang tiba-tiba kering. Ada nada kecewa di akhir kalimatnya. Samar. Tapi ada.
Eric terpaku sejenak. Gelas di tangannya berhenti berputar. Matanya yang tadi ke pintu, sekarang melirik ke Alea. Singkat. "Aku juga tak mengira kamu sudah jadi dokter, seperti impianmu 7 tahun lalu," ucapnya. Masih datar. Tapi kalau didengar baik-baik, ada nada mengenang di sana. Nada yang jarang keluar dari mulut Eric Wijaya.
7 tahun yang lalu, mereka berkuliah di universitas yang sama. Universitas ternama di Jakarta. Eric adalah senior Alea, bedanya 2 tahun. Eric di Fakultas Ekonomi, Alea di Kedokteran.
Dulu mereka sangat dekat. Dekat sekali. Pulang pergi ke kampus bersama. Eric yang nyetir mobil, Alea duduk di samping sambil nyanyi-nyanyi kecil kalau lagi senang. Kadang mengerjakan tugas bersama di perpus sampai malam. Kadang Eric nungguin Alea praktikum di lab sampai jam 9. Sudah cocok menjadi pasangan. Teman-teman seangkatan udah pada godain. Dosen-dosen udah hafal kalau nyari Eric, pasti ada Alea di dekatnya.
Eric ingat, dulu Alea gampang sakit. Maag. Kalau telat makan, langsung pucat. Jadi Eric selalu bawa roti di tas. Selalu ingetin Alea makan. Alea juga ingat, Eric kalau lagi stres tugas, suka diem, ngunci diri. Alea yang cerewet, yang maksa Eric cerita, yang beliin kopi item biar Eric melek.
Namun mereka terpisah. Tiba-tiba. Karena Wijaya, ayah Eric, menyuruh Eric kuliah ke luar negeri. Ambil S2 jurusan Manajemen Bisnis yang pas agar bisa lebih fokus pada perusahaan. "Keluarga kita gak butuh dokter. Kita butuh penerus," kata Wijaya waktu itu.
Eric ke luar negeri untuk study. Amerika. Sementara Alea tetap di negara ini, berjuang koas, berjuang jadi dokter. 7 tahun tak pernah bertemu lagi. Kontak putus. Nomor ganti. Media sosial Eric kosong. Alea cuma bisa denger kabar dari koran: _Eric Wijaya, Putra Mahkota Wijaya Group Lulus S2 dari Harvard._
Hingga 5 tahun kemudian Wijaya menyuruh Eric pulang. Bukan untuk reuni. Tapi untuk menikahi Vivian. Perjodohan bisnis.
Tak disangka 2 orang yang pernah dekat kini kembali bersama, di ruang tengah yang sama, dengan status yang beda. Dulu, kalau pulang kampus Alea dibonceng motor Eric, pegangan di perut Eric, ketawa-ketawa kena angin malam. Sekarang, Alea duduk sebagai dokter, Eric duduk sebagai suami orang.
Sekarang rasanya mustahil. Mustahil untuk mengulang kebersamaan 7 tahun lalu. Mustahil untuk nanya "Kak, udah makan belum?" seperti dulu. Karena di depan ada nama: Nyonya Vivian Wijaya.
Eric menghela napas pelan. Tak berselang lama, suara langkah dua gadis memecah keheningan. Suara heels pelan, beradu dengan langkah sepatu flat yang agak tergesa.
Vivian datang. Di belakangnya Cika mengekor, masih sambil tersenyum. Pipi Cika merah, tapi bukan karena nangis. Karena habis ketawa di mobil.
"Aduh, maafkan saya, Dokter. Saya tadi ada sedikit urusan," ucap Vivian pada Alea. Suaranya ramah, tapi napasnya agak ngos-ngosan. Tangannya reflek ngelus perut.
Melihat Vivian, Alea langsung bangkit dari sofa. Profesional. Senyum dokter. "Tidak apa-apa, Nyonya. Yang penting Nyonya sudah datang. Silakan duduk, kita cek sebentar ya."
"Dari mana saja kau? Dokter Alea sudah menunggumu lama sekali," Eric menyela. Nada suaranya naik sedikit. Bukan marah. Khawatir. Tapi keluarnya kayak nyalahin.
Vivian melirik Eric sekilas. Datar. "Aku harus menemani Cika sebentar," sahut Vivian santai. Dia duduk di sofa single, narik Cika buat duduk di sampingnya. "Ada rapat orang tua murid. Ibu gak bisa datang, jadi aku yang wakilin."
"Tapi Nyonya, kandungan Anda belum betul-betul stabil," sahut Alea cepat. Nada dokternya keluar. "Kemarin masih ada flek. Sebaiknya hindari aktivitas berlebih. Terlalu banyak jalan, terlalu banyak pikiran, bisa bahaya buat janin."
"Betul kata dokter," sahut Eric membenarkan ucapan Alea. Dia natap Vivian, alisnya turun. "Cika sudah besar. Umur 17. Dia bisa urus dirinya sendiri. Kamu fokus pada kandunganmu. Itu prioritas."
Kalimat Eric itu. _Cika sudah besar. Dia bisa urus dirinya sendiri._
Kalimat yang sama persis dengan yang sering Cika dengar dari Bu Ratna. _Kamu kan udah gede, Ci. Bisa sendiri kan?_
Vivian yang tadinya mau senyum, langsung kaku. Dia menoleh ke Eric. Mata Vivian yang biasanya hangat, sekarang dingin. Terprovokasi. Dia mulai menarik napas, dadanya naik-turun, mau menyahut. Mau bilang, "Kamu gak tau rasanya jadi Cika. Kamu gak tau rasanya ditinggal rapat sendirian."
Tapi belum sempat.
"Dari dulu sampai sekarang, aku memang tak pernah dianggap penting," suara Cika bergetar. Pelan. Tapi di ruangan sepi itu, suaranya kayak petir.
Semua menoleh.
Cika berdiri. Tangannya ngeremas ujung seragam. Matanya udah berkaca-kaca. Bibirnya gemeter. "Setiap ada acara... Ibu sibuk. Kak Chindy sibuk. Kak Eric sibuk. Aku... aku selalu sendiri."
Suasana menjadi tegang. AC berasa lebih dingin.
"Semua bilang aku udah besar. Semua nyuruh aku ngerti. Tapi... tapi aku juga pengen... pengen sekali aja ada yang datang buat aku. Bukan karena kasihan. Tapi karena... karena aku adek kalian."
Air mata yang ditahan sejak pagi, sejak di bangku taman, akhirnya jebol. Cika berbalik, berlari ke arah kamarnya dengan air mata yang sudah tak tertahan. Suara langkahnya menggema di lorong rumah besar itu.
"Cika, Kakakmu tak bermaksud..." Vivian berteriak, refleks berdiri, mencoba menghentikan adik iparnya. Tangannya terulur.
Namun Cika tak menoleh. Sudah terlalu kecewa. Pintu kamar di lantai dua kebanting kencang. _Brak!_
Hening.
Vivian menoleh ke Eric. Matanya merah, marah. Kecewa. "Puas?" bisiknya. Pelan. Tapi lebih nusuk dari teriakan.
"Vivian..." Eric mau jelasin.
"Kalau bayi ini ada masalah, besok aku bisa hamil lagi," ancam Vivian. Suaranya bergetar, tapi tegas. Dia natap Eric, lalu ke Alea. "Tapi kalau Cika kenapa-napa... kalau mentalnya hancur... kalian harus bertanggung jawab."
Setelah bilang gitu, langkahnya cepat menyusul Cika ke lantai dua. Gak peduli perutnya masih nyeri. Gak peduli dokter masih di situ.
Baru saja mental Cika membaik gara-gara ditemenin rapat. Baru saja dia ngerasa punya kakak. Sekarang... sekarang malah dihancurkan lagi. Oleh kalimat yang sama. Dari orang yang sama-sama dia sayang.
Eric masih diam di sofa. Rahangnya mengeras. Tangannya ngepal.
Alea duduk pelan. Nengok ke arah tangga tempat Vivian menghilang. "Maaf, Kak Eric. Saya... saya gak tau kalau..."
"Gak usah minta maaf," potong Eric. Suaranya serak. "Kamu bener. Aku yang salah ngomong."
Di lantai atas, suara isak Cika samar-samar terdengar. Dan rumah besar Wijaya, kembali sepi. Tapi kali ini, sepinya beda. Sepinya nyakitin.