Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Usai makan malam, seperti yang sudah menjadi wacana. Pak Re mengajak putranya untuk ngobrol berdua di ruang kerja. Sebenarnya bisa saja di bicarakan di meja makan. Namun, Pak Re tidak mau nanti berbuntut panjang sedang kenyataannya belum tentu benar.
“Ada apa, Pa?” tanya Lingga setelah di ruangan ayahnya.
“Papa tahu kemarin kamu tidak ada di kampus selama dua hari. Papa juga tahu Sarah tidak ada di kampus di hari yang sama.”
“Maksud Papa?” tanya Lingga mulai gugup. Benarkah ayahnya curiga.
“Apa hari itu kamu pergi dengan Sarah?” tanya Pak Re serius.
“Tidak, Lingga ada urusan dan memang sedang tidak ada bimbingan di kampus. Kalau Sarah mana Lingga tahu.”
“Kamu yakin?”
“Yakin, ngapain juga Lingga ngurusin anak Bu Maryam.”
“Terus, kenap pagi saat Sarah hendak ke kampus kamu seret ke mobil. Pakai di paksa-paksa lagi. Kamu bawa kemana?”
Sial, papa tahu dari mana? Astaga, CCTV rumah pasti. Kenapa gue lupa buat hapus.
“Owh itu, Lingga kasih tumpangan Pa, tapi tidak sampai kampus, karna dia minta turun di jalan, jadi setelah itu Lingga tidak tahu.”
“Lingga, kamu tahu kan kalau konsekuensinya bohonh di rumah ini.”
“Iya Pa, paham,” jawab Lingga merasa terancam.
“Dua hari kemarin Sarah tidak pulang, terkahir terlihat denganmu pagi itu, dan sekarang Sarah di rumah sakit karna hamil, hasil dari pemerkosaan. Ibumu mau membawa kasus ini ke jalur hukum. Semua orang terdekat san saksi akan si periksa polisi. Papa tidak akan mengambil tindakan apapun dan akan membantu penyelidikan ini jika memang kamu tidak ada sangkut pautnya. Tapi jika kenyataannya berbeda, kamu akan menanggung sendiri akibatnya.”
“Maksud papa apa? Papa menuduhku?”
“Tidak Lingga, karna papa yakin, kalau kamu orang baik dan bertanggung jawab. Tidak mungkin kejadian Sarah ad hubungannya dengn kamu.”
“Terima kasih Pa sudah percaya Lingga. Apa Lingga sudah boleh keluar.”
“Iya, papa hanya ingin mengatakan itu. Sekarang kamu boleh keluar.”
Maafkan Lingga Pa, maaf, Lingga sudah bohong. Maafkan Lingga sudah membuat papa kecewa.
Batin pria itu menjerit resah, ini benar-benar tidak sesuai hati nuraninya. Bagaimanapun Lingga tidak ingin menjadi sepengecut ini. Dia ingin menjadi pria yang bisa di banggakan keluarganya. Mungkin kalau ayahnya tahu yang sesungguhnya karna telah menodai kepercayaannya. Lingga akan habis di tangan pria dominan itu.
Hati Lingga makin kacau, semalaman ia tidak bisa tidur. Sepanjang hari resah gelisah. Ditambahi kabarnya Sarah akan menggugurkan kandungannya dalam waktu dekat ini. Kabar itu membuat Lingga makin tidak tenang.
Dasar! Pemerkosa! Pembunuh! Enyah saja kau dari muka bumi ini. Pria pengecut! Tidak bertanggung jawab!
Suara Sarah bagai sirine yang terus merongrong jiwa seorang Lingga Pratama. Ia tergeragap dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya begitu terjaga.
Tengah malam, Lingga bahkan sampai dihantui mimpi buruk tentang masalahnya.
“Astagfirullah …. Ini cuma mimpi! Tidak, tidak!” Lingga terlihat begitu kacau. Melihat jam di dinding kamarnya baru menunjukan di jam tiga pagi. Ia bahkan baru saja terlelap, kenapa harus bertemu dengan mimpi semengerikan itu.
Pria itu turun dari ranjang, bergegas ke kamar mandi. Mendadak perutnya bergejolak hebat. Lingga mual-mual dan merasa sangat tidak nyaman. Ditambah kepalanya pusing, seperti tidak punya tenaga.
“Ya ampun …… gue kenapa sih, kenapa eneg banget perut gue,” gerutu Lingga.
Pagi-pagi entah sudah berapa kali pria itu merasa mual, tetapi tidak bisa juga mengeluarkan isinya.
“Lingga, kamu sakit?” tanya Mama Alice melihat putranya berwajah pucat tak seperti biasanya.
“Mual ma, eneg nggak enak badan,” jawab Lingga merasa tidak berdaya.
“Ya sudah, kamu istirahat saja. Muka kamu pucet, mau ke dokter?” tawar Bu Alice melihat putranya seperti bukan masuk angin. Menyarankan agar minum obat segera.
“Nggak usah Ma, ini istirahat saja sembuh.” jawab Lingga santai.
Siang hari sampai malam Lingga merasa sehat. Namun, ketika bertemu pagi, Lingga akan mengalami hal yang sama, dan itu sudah terjadi sejak tiga hari ini. Bahkan, pagi ketiga ini Lingga merasa kronis hingga membuat Mama Alice sampai memanggil dokter ke rumah.
“Dokter, saya sakit apa?” tanya Lingga mulai bosan dengan kondisi tubuhnya yang sangat aneh.
“Tidak ditemukan indikasi penyakit yang serius, disarankan anda tes Lab saja. Besok melakukan serangkaian medical chek up untuk memastikan,” jawab dokter tidak mau menduga-duga.
Lingga mengangguk saja, menurut lebih tepatnya.