Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Keheningan yang mencekam menyelimuti kafetaria USC sesaat setelah Vivian Wheeler melangkah pergi dengan dagu terangkat. Langkah kakinya yang dibalut sneakers putih itu terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran harga diri Logan Enver-Valerio.
Di meja kantin, Logan masih mematung. Telinganya masih menangkap sisa-sisa tawa dari teman-temannya. Kata-kata Vivian—tentang kencing yang belum lurus—terasa seperti tamparan fisik yang membekas merah di wajahnya. Dia, yang selama ini dipuja sebagai predator puncak di kampus ini, baru saja dijadikan mangsa oleh seorang wanita yang awalnya ia anggap hanya sekadar "objek cantik" untuk melarikan diri dari Moana.
"Logan, bung... kau baru saja dikuliti hidup-hidup," celetuk salah satu teman setimnya, memecah kesunyian dengan tawa tertahan.
Logan tidak menjawab. Matanya yang gelap dan tajam masih terpaku pada punggung Vivian yang kini mulai menghilang di balik gerbang fakultas. Sesuatu di dalam dirinya—ego yang selama ini tertidur karena terlalu sering dimanja kemenangan—mendadak bangkit dengan rasa lapar yang berbahaya.
Dia tidak marah karena dituduh berbohong. Dia tidak peduli soal tagihan perbaikan mobil. Namun, direndahkan soal kejantanan di depan umum oleh wanita yang tampak seperti malaikat namun berlidah silet? Itu adalah deklarasi perang.
"Bereskan barang-barangku," perintah Logan singkat pada temannya tanpa menoleh.
Logan berdiri, langkahnya lebar dan penuh tekad. Dia tidak akan membiarkan Vivian Wheeler pulang dengan perasaan menang. Tidak hari ini.
.
.
Vivian berjalan menuju area parkir dengan perasaan campur aduk. Ada rasa puas yang meledak di dadanya—rasa kemenangan yang sudah lama tidak ia rasakan setelah berbulan-bulan ditekan oleh tuntutan pekerjaan dan dikhianati oleh George. Dia merasa bebas. Dia merasa kuat.
"Anak ingusan itu pasti sedang menangis di bawah meja sekarang," gumam Vivian sambil mencari kunci Range Rover-nya di dalam tas.
Namun, saat dia baru saja akan membuka pintu mobil, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya menghantam pintu mobil tepat di samping kepala Vivian.
BRAK!
Vivian tersentak, tubuhnya refleks berbalik dan punggungnya kini bersandar pada pintu mobil yang dingin. Di depannya, Logan Enver-Valerio berdiri dengan jarak yang sangat tidak sopan. Pemuda itu tidak lagi tersenyum mesum. Wajahnya keras, napasnya sedikit memburu, dan auranya terasa begitu dominan hingga membuat Vivian merasa kecil—perasaan yang sangat dia benci.
"Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah menghinaku di depan semua orang, Kak?" suara Logan kini tidak lagi cengengesan. Suaranya rendah, berat, dan bergetar karena emosi yang tertahan.
Vivian mencoba mendapatkan kembali ketenangannya. Dia mendongak, menatap mata Logan yang kini berada hanya beberapa sentimeter dari matanya.
"Lepaskan tanganmu dari mobilku, Bocah. Kau ingin aku menambah daftar tuntutan hukum untukmu?"
"Tuntut saja," tantang Logan. Dia justru semakin memajukan tubuhnya, mengurung Vivian di antara kedua lengannya yang kokoh. "Aku tidak peduli soal uang. Tapi kau tadi bilang apa? Kencingku belum lurus?"
Logan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Kau bicara seolah kau sudah tahu segalanya tentang pria, Vivian. Padahal aku bisa menciumnya... aroma ketakutanmu di balik parfum mahalmu itu."
"Aku tidak takut padamu," desis Vivian, meskipun jantungnya kini berdegup liar seperti burung yang terperangkap dalam sangkar.
"Kau bilang aku tidak punya pengalaman?" Logan menatap bibir Vivian yang dipulas lip gloss merah muda. Bibir yang tadi mengeluarkan kata-kata tajam. "Bagaimana jika kita buktikan siapa yang sebenarnya masih amatir di sini?"
"Jangan berani—"
Kalimat Vivian terputus. Logan tidak memberinya ruang untuk bernegosiasi. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, tangan Logan berpindah ke belakang tengkuk Vivian, mencengkeramnya dengan lembut namun tegas, lalu membungkam bibir wanita itu dengan ciuman yang menghancurkan segala logika.
Ini bukan ciuman pertama yang pernah Vivian terima, tapi ini adalah ciuman pertama yang membuatnya merasa seolah-olah seluruh oksigen di sekitarnya tersedot habis.
George selalu berciuman dengan cara yang sopan, teratur, dan membosankan—seperti sebuah transaksi bisnis.
Tapi Logan? Bocah ini berciuman seolah dia sedang menuntut haknya yang telah dicuri. Ciumannya panas, menuntut, dan penuh dengan rasa lapar yang mendesak.
Vivian membelalak, tangannya mencoba mendorong dada Logan, namun otot-otot di balik kaos hitam itu terasa seperti dinding baja. Lidah Logan menyapu bibirnya dengan keahlian yang tidak masuk akal untuk seseorang yang baru berusia dua puluh tahun. Itu adalah ciuman seorang pria yang sangat tahu apa yang dia inginkan dan bagaimana cara mendapatkannya.
Perlahan, pertahanan Vivian mulai retak. Rasa asing yang menggelitik di perut bawahnya mulai menjalar. Keahlian Logan dalam memposisikan kepalanya, cara jemarinya yang panjang merayap di sela-sela rambut Vivian, dan tekanan bibirnya yang bergantian antara lembut dan agresif benar-benar membungkam seluruh kata-kata hinaan yang tadinya sudah di ujung lidah Vivian.
Detik-detik berlalu, dan Vivian mendapati dirinya kehilangan kekuatan untuk mendorong. Tangannya yang tadinya mengepal di dada Logan, kini justru mencengkeram kain kaos pemuda itu, mencari tumpuan agar kakinya tidak lemas.
Logan menarik diri hanya beberapa milimeter, membiarkan napas mereka saling bertautan di udara yang panas. Matanya yang gelap menatap Vivian yang kini tampak kacau—bibir yang sedikit bengkak, mata yang sayu karena terkejut, dan wajah yang memerah sempurna.
"Masih mau bilang kencingku belum lurus?" bisik Logan, suaranya kini terdengar sangat serak dan penuh kemenangan.
Vivian terengah-engah. Otaknya masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi. Dia—seorang wanita dewasa, pengusaha sukses, yang selama ini selalu memegang kendali—baru saja dibuat tidak berdaya hanya oleh satu ciuman dari seorang mahasiswa.
"Kau..." Vivian mencoba bicara, tapi suaranya bergetar.
Logan tersenyum, kali ini senyumnya bukan lagi senyum mesum yang menjengkelkan, tapi senyum seorang penakluk yang sudah memenangkan pertempuran pertama.
Dia melepaskan tangannya dari pintu mobil dan melangkah mundur satu langkah, memberi Vivian ruang untuk bernapas, meski efek dari kehadirannya masih terasa sangat menyesakkan.
"Kau bilang kau tidak suka brondong, Kak," ucap Logan sambil mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jari, sebuah gestur yang sangat provokatif. "Tapi tubuhmu sepertinya tidak setuju."
Vivian segera masuk ke dalam mobilnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya gemetar saat menyalakan mesin. Dia segera memacu mobilnya keluar dari parkiran kampus, mengabaikan bayangan Logan di spion yang masih berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan penuh minat.
Sepanjang perjalanan pulang, Vivian hanya bisa mencengkeram kemudi dengan erat. Pikirannya kacau. Dia benci pada George, dia benci pada Moana, tapi yang paling dia benci saat ini adalah kenyataan bahwa Logan benar.
Dia, Vivian Wheeler, yang selama ini membanggakan kemurnian dan prinsipnya, baru saja merasakan gairah yang belum pernah diberikan pria mana pun—termasuk George yang sudah satu tahun bersamanya—hanya lewat satu ciuman dari seorang pria yang ia panggil "bocah".
"Sialan kau, Logan," maki Vivian pada dirinya sendiri di dalam mobil. "Benar-benar sialan."
Vivian tidak tahu bahwa di balik ciuman itu, Logan baru saja memulai permainan yang jauh lebih besar. Bagi Logan, Vivian bukan lagi sekadar "objek acak" untuk membohongi Moana. Dia adalah tantangan terbesar yang pernah ia temui, dan Logan tidak pernah kalah dalam sebuah tantangan.
Malam itu, Los Angeles tampak berbeda bagi keduanya. Vivian yang terobsesi untuk mempertahankan kendalinya, dan Logan yang terobsesi untuk menghancurkan kendali itu hingga tidak tersisa.
Pertarungan baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar harga diri, melainkan hati yang selama ini terjaga rapat.