Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabar hilangnya Lira
Tio bersama rekannya Hasan baru saja selesai melakukan pengintaian disebuah gudang yang disinyalir sebagai gudang penyimpanan barang-barang ilegal.
"Ada laporan orang hilang lagi..." ujar Ujang, rekan Tio.
Tio yang baru saja beres bersih-bersih mengernyit.
"Lagi?" timpal Hasan.
"Hmmm.... Korbannya perempuan muda. Cara hilangnya juga sama" jelas Ujang.
"Maksudnya?" kali ini Tio ikut nimbrung dengan pembicaraan dua rekannya.
"Masih ingat kasus Maharani putri dari pak Rahman?"
"Ingat" angguk Hasan.
"Nah.. Rani itu juga hilang pas dia pamit mau kekota, pun dengan korban kali ini juga katanya pamit mau ke kota. Aku curiga ini tersangka yang sama. Dan agak janggalnya adalah hari serta tanggalnya sama yaitu 15, malam jumat kliwon" papar Ujang dengan analisisnya.
"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan hal mistis yang terjadi di hutan pinus. Karenakan jalanan sekitar hutan pinus emang terkenal angker dan seram kalau dilewati, gimana menurutmu Tio?" kali ini pendapat datang dari Hasan.
"Kayaknya nggak deh...." sahut Tio dengan raut yang sulit dibaca.
"Kok enggak?" tanya Hasan dan Ujang serempak.
"Makhluk dihutan pinus tidak mengincar perempuan melainkan laki-laki 'lapar' yang ingin bersenang-senang tapi maunya gratisan kayak korban sebelumnya...." jelas Tio.
Ujang dan Hasan saling pandang. "Pendapat mu ada benarnya juga... Lalu kita harus mulai darimana?"
"Kita cari informasi dari orang terdekat korban..."
"Baiklah..." Ujang dan Hasan bergegas pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Warga desa lagi-lagi heboh karena hilangnya Lira.
Semua yang berkaitan dengan Lira diselidiki termasuk orang-orang yang bertemu dengannya terakhir kali.
Ibu kandung serta ayah tiri Lira ikut diperiksa.
Kamar serta barang-barang pribadinya juga di periksa.
Satu fakta terungkap ketika penggeledahan di rumah kediaman Lira.
Isi ponsel ayah tiri Lira sungguh membuat siapa saja geram.
Di ponsel tersebut terdapat banyak foto-foto Lira yang diambil secara diam-diam bahkan ada beberapa video yang direkam tanpa sepengetahuan Lira lalu dijadikan sebagai bahan ancaman agar gadis itu menuruti perintah si ayah tiri. Tentu saja bukan perintah yang baik melainkan hal yang berbau c*bul.
Semua warga desa menyoraki pak Maud dan menuntut agar dia dihukum.
Polisi berniat cari petunjuk hilangnya Lira justru mendapat kasus lain yaitu pelec*han yang dialami oleh Lira.
"Kur*ng aj*r kau Maud!!!! Tega kau memperlakukan putriku Lira seperti itu... Si*lan kau Maud!"maki ibunda Lira yang menjambak rambut Maud suaminya.
"Heh Rita, kau tidak tahu saja kalau putrimu itu juga sudah tidak per*wan ketika aku tidur*! Dia telah lebih dulu menju*l dirinya pada laki-laki diluar sana! Aku juga dapat bekasan saja!" teriak Maud tak kalah marahnya.
"Diam kau!!"
Wajah Rita, ibu dari Lira memerah.
Dirinya tak menyangka jika putri yang dia jaga dengan penuh kasih sayang justru dirusak oleh suami barunya.
Rita naik pitam dan berniat menuntut cerai.
Wanita paruh baya itu bagai jatuh dan tertimpa tangga. Putrinya hilang entah kemana dan fakta yang tak bisa dirinya terima adalah suaminya juga berbuat tak senonoh pada Lira.
"Ndan... Aku menemukan ini di dalam buku catatannya" ujar Ujang menunjukkan buku berwarna light blue.
Tio membuka lembaran demi lembaran untuk sebuah petunjuk.
Keningnya mengernyit.
"A?" gumam Tio.
"Apa mungkin ini adalah kekasih korban?" timpal Hasan mengintip isi buku diary tersebut.
"Tapi tak ada foto, alamat atau keterangan lain.."
Tio berjalan mendekati Rita, ibunda Lira yang hanya bisa terisak pilu.
"Maaf sebelumnya bu... Lira ini bukankah seorang staf akuntan di kantor desa? Benar begitu bu?" tanya Tio.
"Benar pak... Dia sebagai asisten dari kepala akuntan yang bernama bu Mirna... " jelas Rita.
"San... Di kantor desa bukankah ada CCTV?" Tio menoleh pada Hasan yang berdiri dibelakangnya.
"Benar... Kita kesana buat ngecek?" usul Hasan.
Ketiganya meluncur ke kantor desa, berharap ada petunjuk lebih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tio sedang mengamati semua CCTV yang terdapat di kantor desa.
Ada dua CCTV yang aktif yaitu di area pintu masuk serta ruang pelayanan.
Sementara di beberapa tempat kamera pengintai itu justru mati.
Padahal lebih mudah jika CCTV di ruangan lain menyala.
Tio menoleh ke sebuah ruangan yang bertuliskan Kepala Bag. Infrastrukur atas nama Andrean.
Perlahan kaki Tio mendekati pintu tersebut.
"Maaf, anda sedang apa di depan ruangan saya" suara Andre menghentikan langkah Tio.
Laki-laki manis berkumis tipis itu berbalik.
Keduanya saling tatap dengan sorot yang berbeda.
Naluri Tio sebagai penyidik jadi sedikit terpancing.
"Pak Andrean.... Saya Tio yang bertugas menangani kasus hilangnya salah satu bawahan anda, Lira. Apa anda sebelumnya pernah berbincang atau berinteraksi dengannya. Soal pekerjaan barangkali" tanya Tio biasa tapi cukup membuat Andre tak nyaman.
"Seperti pak Tio ketahui, kalau Lira itu bawahan saya, jadi otomatis saya pernah berinteraksi dengannya yang pasti soal kerjaan... Kenapa anda tanya seperti itu?" sahut Andre berusaha setenang mungkin.
Bukannya menjawab langsung, Tio justru tersenyum tipis.
"Hanya bertanya saja sebagai prosedur penyelidikan... Terima kasih atas keterangannya dan maaf telah menyita waktu anda pak Andrean... Saya permisi.." Tio melangkah menuruni tangga dibawah tatapan tajam Andre.
Andre bukan sekali ini berurusan dengan penyidik muda tersebut. Sebelumnya dalam kasus Meri, Andre juga dimintai keterangan oleh Tio yang waktu itu baru bertugas didesa Lestari.
Tio melirik ke lantai atas.
Firasatnya mengatakan laki-laki tinggi itu ada sangkut pautnya dengan kasus ini.
Baamm....
Suara pintu mobil ditutup sedikit keras oleh Tio yang baru saja masuk.
Emosinya jadi sedikit terpancing oleh sikap Andre.
"Kenapa lama? Apa ada yang kamu dapatkan?" tanya Hasan ingin tahu.
"Belum tapi hampir..." jawab Tio penuh teka-teki.
Hasan dan Ujang saling lirik.
Atasan mereka ini benar-benar penuh misteri tapi apa yang dia kerjakan selalu membuahkan hasil yang maksimal dan beberapa kejatan besar dapat diungkap dengan jelas dan terang.
"Nanti aku akan kasih tahu... Kalian terus selidiki laki-laki bernama Andrean itu" titah Tio.
Hasan dan Ujang lagi-lagi saling pandang.
"Apa kamu masih curiga padanya?" tanya Hasan.
"Bukan curiga hanya penasaran" kilah Tio mengeles tuduhan Hasan barusan.
Kedua rekan Tio tak lagi bertanya.
Mereka tahu jika Tio sudah memberikan perintah pasti ada sesuatu yang mengejutkan mereka nantinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mantan kekasihmu kembali menghilangkan nyawa perempuan" ucap mbah Djani disuatu pagi.
Rani yang sedang bersemedi perlahan membuka mata dan menatap penuh kearah Mbah Djani yang sedang asik memilah-milah rempah-rempah kering yang baru selesai dijemurnya.
"Andrean?" lirih Rani.
"Siapa lagi mantanmu kalau bukan dia"
Rani mengepalkan tinjunya.
Sorot mata yang tadinya teduh berubah mengerikan . Jika di animasikan mungkin akan muncul kobaran api didalamnya.
"Dasar penjahat " desis Rani.
"Ya... Dia memang penjahat tapi kau jangan bertindak kegabah. Ada satu laki-laki yang harus kau hindari saat ini, yaitu di detektif muda yang tempo hari berbicara padamu. Dia bukan laki-laki sembarangan. Ilmu kanuragan yang dia miliki tak cukup bisa kau lawan...." nasehat mbah Djani.
Rani masih menatap nenek tua itu dengan penuh tanya.
"Apa dia juga dinaungi raja ibl*s sepertiku?"
Mbah Djani menggeleng. "Tidak"
"Tapi ada sesuatu kekuatan besar yang penuh cahaya putih yang melindunginya... Cahaya putih yang dulu pernah mengalahkanku dan membuatku terkurung disini selamanya" kenang mbah Djani.
Matanya memancar amarah dan dendam secara bersamaan.
"Lira? Andrean?" bisik Rani dalam hati.
Dirinya pernah mendengar jika Lira menyukai seseorang yang berada disekitaran tempat mereka bekerja tapi hal yang tak pernah Rani duga adalah Lira juga memiliki hubungan dengan Andre mantan kekasihnya.
Rani juga berfikir mungkin saja Lira mengalami hal yang sama dengannya sehingga Andre memilih untuk menghilangkan perempuan itu demi ketenangannya.
"Dasar laki-laki penjahat! "
bersambung....