Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Barisan Sang Panglima
Faris Arjuna berdiri mematung di depan pintu kayu kediaman Kyai Ahmad. Suasana pesantren Al-Huda yang tenang membuat jantung sang panglima terminal berdegup lebih kencang daripada saat tawuran. Ia merasa debu-debu jalanan di jaket kulitnya tidak pantas berada di sini.
Pintu perlahan terbuka. Sosok pria sepuh dengan wajah yang memancarkan ketenangan muncul dari balik pintu. Beliau adalah Kyai Ahmad, sahabat almarhum ayah Faris.
"Mrene, Le... Mlebu dhisik. Ojo dadi patung nang ngarep lawang," ucap Kyai Ahmad sambil tersenyum teduh.
(Sini, Nak... Masuk dulu. Jangan jadi patung di depan pintu.)
Faris menunduk dalam-dalam. Tubuhnya yang besar terasa sangat kaku saat ia melangkah masuk ke ruang tamu yang penuh dengan tumpukan kitab kuning. "Inggih, Mbah... Ngapunten kulo nembe sowan saiki," jawab Faris dengan suara yang dikecilkan.
(Iya, Mbah... Mohon maaf saya baru datang sekarang.)
Kyai Ahmad duduk bersila di atas tikar pandan, lalu memberi isyarat agar Faris duduk di depannya. "Wis, ora opo-opo. Gusti Allah kuwi mboten sare, Faris. Dalane wong apik kuwi pancen kadhang mampir nang dalan sing peteng dhisik."
(Sudah, tidak apa-apa. Allah itu tidak tidur, Faris. Jalannya orang baik itu memang kadang mampir di jalan yang gelap dulu.)
Faris meremas ujung celana jeans-nya yang robek. "Ngapunten, Mbah... nopo kulo sing kakean duso niki isih pantes sinau nang mriki? Awak kulo niki kebak tato, tangan kulo niki kakean nggae loro wong."
(Mohon maaf, Mbah... apa saya yang terlalu banyak dosa ini masih pantas belajar di sini? Badan saya ini penuh tato, tangan saya ini terlalu banyak menyakiti orang.)
Kyai Ahmad tertawa kecil, suara yang sangat asing bagi telinga Faris yang terbiasa mendengar makian terminal. "Le, pesantren iki dudu panggonane wong suci. Pesantren iki bengkel. Nek awakmu ngeroso dadi barang sing rusak, ya bener awakmu mrene supaya didandani."
(Nak, pesantren ini bukan tempatnya orang suci. Pesantren ini bengkel. Kalau kamu merasa jadi barang yang rusak, ya benar kamu ke sini supaya diperbaiki.)
"Tapi kulo niki mboten saged nopo-nopo, Mbah. Moco bismillah ae isih kaku lambene. Opo mboten isin-isinke sampeyan?" tanya Faris jujur.
(Tapi saya ini tidak bisa apa-apa, Mbah. Baca bismillah saja masih kaku bibirnya. Apa tidak malu-maluin Anda?)
"Mulo kuwi kowe mrene supaya belajar. Sing penting niate wis kenceng. Wis, saiki kowe leren dhisik nang asrama. Ojo lali, jaket kulite dilempit, ganti nganggo sarung sing ngganteng," goda Kyai Ahmad.
(Makanya itu kamu ke sini supaya belajar. Yang penting niatnya sudah kuat. Sudah, sekarang kamu istirahat dulu di asrama. Jangan lupa, jaket kulitnya dilipat, ganti pakai sarung yang ganteng.)
Faris mengangguk pelan, ada sedikit beban yang terangkat dari dadanya. "Inggih, Mbah. Matur nuwun sanget pun purun nampi kulo."
(Iya, Mbah. Terima kasih banyak sudah mau menerima saya.)
"Yo wis, mrono budhalo. Ati-ati, sesuk subuh wis kudu tangi melu jamaah," pungkas Kyai Ahmad.
(Ya sudah, sana berangkatlah. Hati-hati, besok subuh sudah harus bangun ikut jamaah.)
Faris berpamitan dengan mencium tangan sang Kyai. Saat ia melangkah menuju asrama, ia melihat deretan santri yang sedang mengaji. Faris menarik napas panjang. Sang Panglima kini resmi menjadi santri baru.
Faris melangkah keluar dari kediaman Kyai Ahmad dengan perasaan campur aduk. Ia berjalan menuju deretan asrama santri yang bentuknya sederhana. Di sepanjang jalan, banyak pasang mata yang mengintip dari balik jendela kamar, penasaran dengan sosok pria bertampang sangar yang baru saja datang.
"Lha iki... kamarmu nomor telu," ucap seorang santri senior bernama Kang Ali yang mengantar Faris.
(Nah ini... kamarmu nomor tiga.)
Faris masuk ke dalam kamar yang luasnya tidak seberapa, namun diisi oleh enam orang santri. Bau minyak wangi melati dan aroma tumpukan kitab kuning langsung menyengat hidungnya. Faris berdiri mematung di tengah ruangan, sementara santri lainnya langsung terdiam melihat kedatangannya.
"Ehem... Kenalno, jenengku Faris," ucap Faris berusaha ramah, meski suaranya tetap terdengar berat dan mengancam bagi telinga santri lainnya.
(Ehem... Kenalkan, namaku Faris.)
Seorang santri bertubuh kecil tampak gemetaran saat melihat tato yang sedikit menyembul dari balik lengan baju Faris. "Inggih, Mas Faris... Kulo Ilham. Niki panggonan sampeyan, teng pojok niki," jawabnya sambil menunjuk sebuah kasur lipat tipis.
(Iya, Mas Faris... Saya Ilham. Ini tempat Anda, di pojok ini.)
Faris meletakkan tas ranselnya yang kumal di atas kasur. Ia mencoba duduk bersila, namun lututnya yang biasa digunakan untuk menendang lawan terasa kaku saat harus ditekuk di atas lantai ubin yang dingin.
"Mas, niku... jaket kulite mboten dicopot? Ajeng adzan maghrib niki, kedah ganti sarung," ucap Ilham dengan suara bergetar, takut-takut menegur sang panglima terminal.
(Mas, itu... jaket kulitnya tidak dilepas? Mau adzan maghrib ini, harus ganti sarung.)
Faris melirik Ilham dengan tajam, membuat santri kecil itu hampir saja lari keluar kamar. Namun, Faris teringat pesan Kyai Ahmad. Ia pun menghela napas panjang dan mulai melepas jaket kulit kebanggaannya.
"Iyo, iki arep ganti. Sabar, gak usah wedi ngono, aku gak mangan wong," sahut Faris sambil merogoh tasnya mengambil sarung goyor peninggalan ayahnya.
(Iya, ini mau ganti. Sabar, tidak usah takut begitu, aku tidak makan orang.)
Saat Faris mulai melilitkan sarung di pinggangnya, ia merasa sangat aneh. Baginya, sarung ini terasa jauh lebih berat daripada parang yang biasa ia tenteng di jalanan. Ia merasa seluruh tubuhnya kehilangan kekuatan jagonya saat mengenakan pakaian ibadah itu.
Adzan Maghrib berkumandang dari menara masjid. Suaranya menggema ke seluruh pelosok pesantren Al-Huda. Santri-santri lain mulai berlarian menuju masjid, sementara Faris masih berkutat dengan sarungnya yang berkali-kali melorot karena ia tidak terbiasa memakainya.
"Cuk... angel temen nggae sarung iki!" umpat Faris pelan, namun segera ia tutup mulutnya sendiri karena sadar sedang berada di lingkungan suci.
(Sial... susah sekali pakai sarung ini!)
Ujian pertamanya bukan lagi menghadapi pengeroyokan geng lawan, tapi bagaimana caranya berjalan menuju masjid tanpa membuat sarungnya lepas di tengah jalan. Sang Panglima benar-benar harus mulai dari nol di tanah kelahirannya sendiri, Gedangan.
Dengan langkah yang sangat hati-hati karena takut sarungnya melorot, Faris berjalan menuju masjid pesantren. Ia merasa semua mata santri tertuju padanya. Wajahnya yang sangar dan langkah kakinya yang tegap benar-benar kontras dengan santri-santri lain yang tampak lembut dan menunduk.
"Ayo Mas, masuk lewat sini," ajak Ilham yang sejak tadi mengekor di belakang Faris seperti asisten pribadi yang ketakutan.
Faris melangkah masuk ke dalam masjid. Aroma kayu cendana dan kesejukan lantai marmer menyambutnya. Ia mencoba mencari barisan atau shaf yang paling pojok, berharap tidak ada yang memperhatikannya. Namun, tubuhnya yang besar dan tinggi justru membuatnya terlihat mencolok seperti menara di tengah lapangan.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
Iqomah berkumandang. Faris mulai panik. Ia berdiri di tengah-tengah santri remaja yang tingginya hanya sebahunya. Faris melirik ke kanan dan ke kiri, mencoba meniru gerakan santri di sampingnya untuk mulai merapatkan barisan.
"Le, rapatkan shaf-nya," tegur seorang santri senior yang bertindak sebagai muadzin.
Faris menelan ludah. Ia menggeser kakinya yang penuh bekas luka, merapat ke kaki Ilham. Si kecil Ilham tampak sedikit gemetar saat bahunya bersentuhan dengan bahu kekar Faris yang masih terasa keras seperti besi.
Shalat Maghrib dimulai. Saat Kyai Ahmad mulai membacakan surat Al-Fatihah dengan nada yang merdu dan dalam, dada Faris tiba-tiba terasa sesak. Ada perasaan asing yang menghujam hatinya. Bukan rasa sakit karena pukulan, tapi rasa haru yang luar biasa.
"Lirih banget suaranya, tapi kok nembus sampai ke jantung ya?" batin Faris. Ia mencoba mengikuti gerakan ruku' dan sujud dengan kaku. Sendi-sendinya yang biasa digunakan untuk baku hantam terasa berderit saat harus dipaksa bersujud di lantai.
Saat sujud terakhir, Faris memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata hampir saja menetes di atas sajadah usang yang ia pakai. Ia merasa sangat kecil di hadapan Tuhan. Semua nama besar "Panglima Terminal" yang ia banggakan selama ini seolah tidak ada harganya sama sekali di dalam ruangan ini.
Setelah salam, Faris tetap duduk bersila. Ia tidak tahu doa apa yang harus diucapkan. Ia hanya bisa diam sambil mendengarkan dzikir yang dilantunkan para santri secara serempak. Suara ribuan santri itu terdengar seperti ombak yang menenangkan badai di dalam pikirannya.
"Mas Faris, setelah ini ada pengajian kitab di serambi. Sampeyan mau ikut atau istirahat dulu?" bisik Ilham setelah selesai berdoa.
Faris mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menghilangkan bekas haru di matanya. "Aku ikut. Aku ingin tahu, apa yang membuat orang-orang di sini bisa setenang ini," jawab Faris dengan suara yang tidak lagi membentak, melainkan terdengar tulus.
Malam itu, di bawah remang lampu serambi pesantren Al-Huda, sang panglima resmi membuka lembaran hidup baru. Ia tahu jalan di depan akan sangat sulit, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Faris Arjuna merasa tidak ingin lagi melarikan diri.
.