Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permohonan
“Aku tahu permintaanku pasti kedengaran gila, tapi aku serius, Christaly,” kata Vera saat dia membaca mata gadis yang sedang ternganga di hadapannya.
“Jadi, bagaimana? Kamu setuju nggak nih sama tawaranku? Kamu nggak usah khawatir, aku orang yang tahu diri, kok. Kamu pasti aku bayar dengan harga yang sesuai.”
Christaly yang semakin tak percaya dengan apa yang dikatakan Vera selanjutnya lalu berdehem untuk membersihkan tenggorokan sekaligus menyadarkan dirinya sendiri.
Kemudian dia dengan agak kikuk menjawab, “Hem, aku nggak tahu mesti ngomong apa. Soalnya aku ....”
“Kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa. Tapi, sebagai ganti karena kamu udah nolak permintaanku, aku akan bilang ke kakak juga ayahku untuk tidak memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada penyelidikan kasus kali ini. Dengan begitu Sean nggak perlu pergi jauh-jauh ke Malang dan aku mencemaskan kondisinya di sana,” sahut Vera dengan entengnya.
Christaly tahu jika itu adalah sebuah ancaman. Memang, wanita seperti Vera yang memiliki segalanya dan juga kebal dengan hukum di mana-mana kebanyakan tidak akan mau menerima penolakan. Apalagi mendapat penolakan dari orang rendahan yang tidak memiliki status sosial seperti Christaly.
Selain itu, Christaly juga ingat akan ancaman Sean yang tidak akan pernah memaafkan dirinya kalau dia sampai membuat masalah yang bisa mengancam kariernya sebagai seorang detektif.
Akan tetapi, di sisi lain, Christaly khawatir dengan dirinya sendiri. Sebab dia tidak yakin bisa mengendalikan diri untuk tidak tertarik dengan Sean. Sebab, jika hal itu sampai terjadi maka dia pasti akan mendapatkan masalah yang jauh lebih besar dan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Berurusan dengan orang yang memiliki uang dan kekuasaan sama dengan mencari perkara dengan malaikat maut.
“Aku butuh jawabanmu segera, Christaly. Jangan diam seperti orang bodoh begitu.” Vera yang kesal karena Christaly tidak kunjung memberinya jawaban mendengus.
“Aku tahu kamu sekarang ini lagi terlilit hutang. Karena itu, kamu mau bekerja dengan Sean untuk menjadi asisten pribadinya dan mengambil risiko besar demi kamu bisa melunasi hutang-hutangmu. Benar, kan?”
Christaly menganggukkan kepalanya dengan lesu. “Ya, itu memang benar,” jawabnya dengan serak. Suaranya seperti tersangkut di tenggorokan. “Aku memang sedang butuh uang untuk membayar hutang-hutangku sekaligus menyelamatkan diriku sendiri .”
“Nah, kalau kamu mau mendapatkan uang bayaranmu, kamu harus setuju dengan penawaranku. Lagipula tak ada ruginya juga buat kamu, kan? Malah kamu mendapat banyak keuntungan.” Vera kembali mengingatkan sekaligus meyakinkan Christaly agar dia menyetujui keinginannya.
“Coba kamu pikir, Christaly. Kalau kamu menolak tawaranku, kamu sendiri yang akan rugi. Karena mustahil Sean akan bisa menyelesaikan kasus yang ditanganinya tanpa bantuan dari ayah dan juga kakakku. Dia tidak akan bisa selamat dari jeratan hukum karena sudah melakukan praktik ilegal. Kamu tahu itu, kan?”
“Ya, aku tahu itu,” jawab Christaly singkat.
“Jadi, apalagi yang perlu dipertimbangkan? Selain itu, kamu juga udah biasa melayani pria hidung belang, kan? Karena itu memang pekerjaanmu,” kata Vera sambil tersenyum menyebalkan.
Christaly mengertakkan giginya kuat-kuat sambil menelan ludah yang rasanya sepahit empedu. Harga dirinya benar-benar tersinggung. Akan tetapi, sekali lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab semua yang dikatakan oleh Vera adalah kebenaran yang ada dan tidak mungkin bisa dia bantah.
Oleh karena itu dengan terpaksa Christaly menelan kekesalannya ke dalam perut lalu mengatakan kepada Vera kalau dia setuju dengan penawarannya yang tidak masuk akal itu.
“Hem, baiklah. Aku setuju. Aku akan berusaha memuaskan Sean saat kami di Malang nanti,” kata Chirstaly. “Tapi, aku nggak mungkin, kan, kalau tiba-tiba ngerayu Sean buat bercinta. Jadi, aku minta tolong sebelum kami pergi ke Malang kamu harus menjelaskan kepada Sean semuanya terlebih dahulu. Bukan apa-apa, aku nggak mau terjadi kesalahpahaman. Aku yakin sekali kamu juga nggak mau, kan, kalau sampai hal itu terjadi?”
“Oke, oke. Nanti aku ngomong dulu ke Sean, aku jelasin semuanya sebelum kalian berangkat ke Malang,” ujar Vera dengan puas.
“Oh, ya. Satu hal lagi yang harus kamu ketahui, Christaly. Sean itu bukan seperti pria pada umumnya yang menjadi tamumu. Dia pria yang agak sedikit susah dipuaskan. Jadi kamu harus siap-siap dari sekarang. Bukan hanya gairahnya yang luar biasa, tenaganya juga,” imbuh Vera. Dia menatap Christaly dengan maksud tertentu.
“Aku mengerti,” jawab Christaly. Tatapan Vera itu sudah cukup untuk dirinya memahami apa maksud dari kata-katanya. “Aku akan berusaha supaya Sean bisa puas bercinta denganku nanti.”
“Bagus. Karena aku paling nggak suka orang yang kerjanya nggak becus,” kata Vera yang kali ini tanpa basa basi lagi. “Oke, sekarang kamu bisa kembali melanjutkan kegiatanmu yang jadi tertunda gara-gara kedatanganku karena aku nggak akan lagi ganggu kamu.”
Setelah mengatakan itu Vera pun berbalik dan pergi sambil tertawa kecil.
Pipi Christaly seketika bersemu merah karena malu. Begitu dia mendengar suara pintu yang ditutup dari luar dia pun mengehela napas panjang-panjang. “Astaga, Tuhan. Mimpi apa aku kemarin malam sampai harus terjebak di situasi yang sulit seperti ini. Huh!”
Namun, meskipun dia menggerutu demikian, dia tetap tidak bisa mendustai hatinya yang bersorak gembira seperti baru saja mendapat hadiah Natal. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Vera sendiri yang menyuruhnya untuk melayani Sean, yang artinya dia tidak perlu sembunyi-sembunyi merayu Sean agar pria itu mau bercinta dengan dirinya.
“Baru kali ini aku ketemu orang yang sangat pengertian seperti Vera,” gumam Christaly setelah dia agak sedikit lebih tenang. “Biasanya orang pasti over protektif sama pasangannya karena dia takut diselingkuhi. Vera memang lain dari yang lain. Meskipun dia arogan dan sangat menyebalkan, tapi, kalau dipikir-pikir dia tipikal wanita idaman semua pria. Pantas saja Sean begitu takut kehilangan dirinya.”
Christaly kembali berbaring di sofa. Tapi gairahnya sudah hilang sama sekali, benar-benar lenyap seperti uap. Sambil menatap langit-langit yang berwarna putih bersih dia kembali memikirkan apa yang terjadi pada dirinya.
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ada begitu banyak hal tak terduga terjadi. Sedikit pun dia tidak pernah terpikirkan akan menjadi seorang asisten pribadi dari seorang detektif. Di atas segalanya dia juga masih sulit percaya kalau dirinya akan segera pergi mempertaruhkan nyawa demi sejumlah besar uang. Dalam mimpinya yang paling liar sekalipun Christaly tidak pernah terpikirkan hal itu.
“Tuhan, aku mohon. Sekali ini saja, tolong bantu aku dan Sean supaya kami bisa pulang ke Jakarta dengan selamat,” gumam Christaly yang untuk pertama kalinya setelah sekian lama kembali berdoa. “Aku mohon, Tuhan. Aku belum mau mati. Karena masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Selain itu, aku juga udah janji ke Riko kalau aku pasti pulang ke Jakarta dalam kondisi baik-baik saja.”