Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Tidak lama kemudian, Paman Dong—supir pribadi yang ditugaskan mengantar Xin Yi—berjalan tergopoh-gopoh masuk ke halaman setelah memarkirkan mobil di garasi.
Wajah pria itu pucat pasi, keringat dingin bercucuran membasahi dahinya meskipun udara pagi cukup sejuk. Di tangannya masih menggenggam kantong belanjaan, namun tatapannya penuh rasa putus asa dan bersalah.
Ia langsung berjalan menghampiri Huo Feilin, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Maafkan saya, Nyonya... saya benar-benar minta maaf!" serunya dengan suara bergetar.
"Saya sudah berusaha mencegah Nona! Saya sudah mencoba menasihati dan berkata bahwa Nyonya mungkin tidak akan setuju... tapi Nona sangat tegas dan punya pendirian sendiri."
Paman Dong menghela napas panjang lelah, lalu menunjuk motor besar itu dengan tangan gemetar.
"Saya tidak sanggup menghentikannya. Nona bahkan sudah menyiapkan semua dokumen dan SIM sendiri sejak lama. Begitu dia melihat motor itu, matanya langsung bersinar dan tidak mau pergi lagi. Akhirnya... akhirnya terjadilah seperti yang Nyonya lihat ini."
Ia benar-benar takut dimarahi karena dianggap gagal menjaga dan mengawasi putri majikannya.
"......"
Huo Feilin menatap supir setianya yang tampak sangat ketakutan itu, lalu menoleh lagi ke arah Xin Yi yang berdiri memegang setang motor dengan wajah polos namun penuh kemenangan.
"Kau..." suara Huo Feilin terdengar lembut namun mengandung ancaman yang tak terlihat.
"...benar-benar sudah mengurus segalanya ya tanpa izin orang tua? Bahkan supirmu saja sampai kewalahan dan pucat karena khawatir melihat tingkahmu."
Xin Yi hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, sambil mundur selangkah."Aku pikir... tidak ada salahnya kan, Bu? Aku sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab."
Melihat putrinya yang berdiri gagah di samping motor besar itu, Huo Feilin hampir lupa bahwa gadis di hadapannya kini sudah berusia sembilan belas tahun, bukan lagi anak kecil yang perlu dikendalikan sepenuhnya.
Namun sebagai ibu, kekhawatiran tetaplah kekhawatiran.
"Kau ini benar-benar keras kepala!" serunya sambil mendengus. "Sudah kubilang berkali-kali, jangan bertindak gegabah sesuka hati sendiri! Bereskan semua ini dan masuk ke dalam!"
Setelah memarkirkan motor di tempat yang aman, Xin Yi menoleh kepada Paman Dong yang masih berdiri tertunduk lesu.
Wajah gadis itu melunak seketika. Ia berjalan mendekat dan menundukkan kepalanya sedikit.
"Maafkan saya, Paman Dong. Karena saya, Paman jadi ikut repot."
Dengan lembut ia mengambil kantong belanjaan dari tangan supir itu, lalu berkata,
"Sudah, Paman istirahat saja dulu. Minum teh hangat dan jangan pikirkan hal tadi. Ini salah saya, bukan salah Paman."
Kebaikan hati gadis itu membuat hati Paman Dong terasa hangat dan tersentuh. Ia pun mengangguk pasrah namun lega.
"Baik, Nona..."
Sore harinya, suasana kembali berubah menjadi heboh.
Xin Yuning dan Xing Fuyang baru saja pulang ke rumah. Saat mobil memasuki gerbang, mata mereka tertuju pada satu benda yang sangat mencolok di halaman utama.
Sebuah motor sport berwarna gelap yang sangat keren dan gagah terparkir rapi.
"......"
Xin Yuning mengerutkan keningnya bingung.
Wah, motor keren banget. Siapa yang datang nih?
Tiba-tiba otaknya yang kemarin sempat tersinggung karena surat cinta kembali bekerja.
Jangan-jangan... jangan-jangan ini motor si pemilik surat cinta itu?! Si cowok misterius yang berani menyukai adikku akhirnya nekat datang ke rumah?!
Pikiran itu membuat darah Xin Yuning langsung berdesir naik ke kepala.
"Dasar kurang ajar! Berani datang langsung kesini cari masalah ya?!" gerutunya marah.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari sekencang-kencangnya masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu, siap untuk menghadapi orang yang mengejar adiknya itu dengan penuh keberanian.
Melihat tingkah putranya yang tiba-tiba lari seperti dikejar hantu, Xing Fuyang hanya bisa menggelengkan kepala tak habis pikir dan merasa khawatir.
"Hei! Yuning! Jalan pelan-pelan! Ada hantu atau apa?!" serunya bingung lalu segera mengejar langkah putranya yang sudah hilang di balik pintu.
Huo Feilin duduk santai di sofa ruang tamu, sedang memegang cangkir teh hangat untuk menenangkan sarafnya yang baru saja tegang karena mendidik putrinya.
Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Suara langkah kaki yang berderap kencang dan terburu-buru terdengar dari lorong, disusul dengan suara gaduh dan pertanyaan-pertanyaan acak dari arah pintu depan.
Ia tahu persis siapa yang membuat keributan itu: Xin Yuning dan Xin Fuyang.
Wanita itu menghela napas panjang dengan berat, lalu memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut nyeri.
"Sungguh... rumah ini tidak pernah bisa tenang walau hanya sesaat," gerutunya dalam hati.
"Baru saja selesai berurusan dengan si kecil yang keras kepala dan nekat, sekarang datang lagi ayah dan anak yang tingkahnya kacau dan suka berlebihan. Kepalaku rasanya mau pecah saja menanggung tingkah kalian bertiga."
Melihat suami dan putranya yang masuk dengan wajah panik seolah ada kebakaran, Huo Feilin hanya bisa menatap mereka datar dengan tatapan yang berkata:
Duduk diam dan tenang, atau kalian akan tahu akibatnya.
Menyadari aura dingin dan kemarahan yang terpancar dari wajah ibu dan istri mereka, Xin Yuning dan Xin Fuyang seketika menyadari kesalahan mereka.
Mereka pun segera menahan langkah dan duduk rapat di sofa dengan sikap yang sangat sopan dan tertib, layaknya murid sekolah yang baru saja tertangkap basah sedang berbuat kenakalan.
Xin Yuning mengedipkan matanya bingung melihat ruangan tamu yang kosong melompong.
Eh... kok kosong? Dimana tuh cowok pembawa surat cinta? Dimana tamunya?
Dengan wajah datar namun menakutkan, Xin Fuyang mencoba memecah keheningan dengan bertanya hal yang paling mengganjal di pikirannya.
"Itu... motor sport besar yang diparkir di depan halaman itu milik siapa sebenarnya? Kenapa bisa ada di rumah kita?" tanyanya hati-hati.
Huo Feilin menyesap tehnya perlahan, lalu menatap suaminya dan putranya bergantian dengan tatapan yang penuh teka-teki.
"Coba tebak..." jawabnya santai namun dingin.
"Siapa kira-kira yang punya nyali besar dan selera tinggi untuk membeli benda seberat dan sekuat itu di rumah ini?"
Xin Yuning dan ayahnya saling memandang, otak mereka berputar cepat mencoba menebak siapa sosok misterius itu.
Jangan-jangan... Nyonya Huo punya pacar baru? Tidak, itu pasti salah besar.
Atau mungkin... hadiah untukku?! harap Xin Yuning dalam hati.
Tepat saat suasana tegang itu mencapai puncaknya, suara langkah kaki halus terdengar menuruni tangga.
Xin Yi muncul di lobi utama. Ia sudah berganti mengenakan pakaian santai yang nyaman, namun di tangannya ia dengan bangga memegang gantungan kunci motor barunya.
Niatnya hendak memindahkan kendaraan itu ke garasi agar lebih aman dan tidak menghalangi jalan.
Melihat sosok adiknya berjalan dengan tenang itu, Xin Yuning yang masih penasaran dan penuh tanda tanya langsung bertanya dengan nada tinggi,
"Heh! Yi Yi! Mau ke mana kamu itu? Jangan bilang mau kabur atau pergi lagi tengah malam!"
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa pemilik motor besar yang membuat mereka bertanya-tanya itu ada tepat di hadapan mereka sendiri.
Xin Yi melirik sekilas ke arah kakaknya dengan wajah datar, lalu menjawab santai,
"Saya mau memindahkan Night Shadow ke garasi agar lebih aman."
Huo Feilin menghela napas. Xin Yuning dan Xin Fuyang saling tatap bingung.
Night Shadow? Apa itu? Nama orang? Nama anjing? Atau mungkin nama mainan baru si kecil?
Mereka sama sekali tidak menghubungkan nama keren itu dengan motor besar di depan rumah.
Namun, saat Xin Yi berjalan keluar dan beberapa saat kemudian terdengar suara mesin...
BRUMMMM!!!
Deru motor yang keras, gagah, dan sangat bertenaga meledak memecah keheningan sore itu. Suaranya jelas sekali berasal dari kendaraan yang baru saja dibeli gadis itu.
".......!!!!"
Mulut Xin Yuning dan ayahnya ternganga lebar tak percaya. Mata mereka membelalak sampai terlihat putihnya, dan tubuh mereka kaku membeku di tempat duduknya.
Jadi... motor raksasa itu... milik Xin Yi?!
Gadis kecil yang kemarin masih suka bermain pasir?!
Dunia seakan berhenti berputar bagi mereka berdua.
"Gila... anak ini benar-benar punya hobi yang di luar nalar manusia," gumam Xin Yuning pelan dengan napas tertahan.
Xin Fuyang hanya bisa memegang dadanya, merasa jantungnya mau copot lagi karena terkejut.
Mendengar deru mesin yang kuat, mereka bersukur bahwa Kakek dan Nenek Xin sedang menikmati masa tua mereka dengan tenang dan nyaman di sebuah pulau terpencil yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Jika saja mereka melihat dengan mata kepala sendiri tingkah cucu kesayangan mereka yang nekat membeli dan mengendarai motor raksasa itu... bisa dipastikan mereka akan langsung terkena serangan jantung dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Keesokan harinya, Quan Yubin sedang dalam perjalanan menuju kantor pusat perusahaan Xin Yuning untuk menghadiri rapat penting.
Mobilnya berhenti di persimpangan jalan saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Ia menghela napas panjang merasa bosan, lalu secara tidak sengaja menolehkan kepalanya ke arah samping.
Di sebelah mobilnya, terlihat seorang pengendara sepeda motor.
Pemuda itu—atau mungkin gadis—mengenakan setelan berkendara berwarna hitam yang tertutup rapat, duduk dengan tenang dan santai di atas motor besarnya sambil menunggu lampu hijau.
Tampak biasa saja, namun mata Quan Yubin tertarik pada sebuah detail unik.
Di punggung pengendara itu tergantung tas ransel berwarna hitam. Namun yang membuatnya kaget adalah adanya layar hologram kecil yang menyala di permukaan tas itu, menampilkan sebuah wajah kartun yang sedang tersenyum lebar dengan ekspresi yang sangat hidup dan lucu.
Wah... unik sekali.
Belum sempat ia berpikir panjang, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
BYUR!
Dengan gerakan yang sangat halus, luwes, dan profesional, sosok pengendara itu langsung menarik gas dan melesat jauh meninggalkan mobil Quan Yubin dengan kecepatan yang luar biasa.
Quan Yubin yang melihat spidometer di mobilnya bisa memperkirakan betapa cepatnya laju motor itu.
"Berbahaya sekali..." gerutunya pelan dengan wajah serius.
"Siapa sih orang tua yang tega membiarkan anak mereka bermain dengan 'monster' jalanan sekuat itu? Mengemudi secepat itu di jalan raya sangat berisiko tinggi."
Sementara itu, sepuluh menit kemudian di area parkir bawah tanah gedung perkantoran...
Xin Yi memarkirkan motor besarnya dengan sangat rapi dan presisi, tepat di tempat biasa Xin Yuning memarkir mobilnya.