Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam di Dubai selalu menawarkan kemewahan yang menenangkan, namun bagi Anindya, ketenangan adalah kewaspadaan yang disamarkan. Di dalam penthouse-nya yang luas, cahaya rembulan masuk melalui jendela besar, memantul pada lantai marmer yang dingin.
Anindya baru saja selesai membacakan dongeng untuk Elang. Bocah itu tertidur pulas dengan tangan mungilnya memeluk bantal, sebuah pemandangan yang selalu menjadi pengingat bagi Anindya bahwa ia tidak boleh menyerah.
Keesokan paginya, sebuah kejutan kembali menunggu di lobi kantor Anindya. Bukan lagi buket bunga, melainkan sebuah kotak beludru kecil di atas meja Sarah.
"Mr. Zayed lagi, Nyonya," Sarah berbisik saat Anindya baru saja melangkah keluar dari lift. "Beliau menitipkan ini sebelum berangkat ke proyek di Abu Dhabi."
Anindya membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah pin emas berbentuk butiran gandum, simbol kemakmuran dalam tradisi Arab, yang bertahtakan berlian kecil. Ada secarik kartu di sana.
'*Untuk wanita yang hatinya sekeras berlian namun jiwanya setulus gandum. Aku tidak meminta balasan, hanya ingin kau tahu bahwa di kota ini, kau tidak perlu memanggul beban sendirian. - Zayed*.'
Anindya menghela napas, ia menutup kotak itu kembali. "Sarah, simpan ini di brankas kantor bersama bunga-bunga kemarin. Aku tidak bisa menerimanya, tapi aku juga tidak ingin menghina martabatnya di depan staf lain."
Tak lama kemudian, pintu lobi terbuka. Zayed Al-Maktoum masuk dengan langkah yang memancarkan karisma luar biasa. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang membentuk tubuh atletisnya dengan sempurna.
Tatapannya langsung tertuju pada Anindya, seolah-olah seluruh ruangan itu kosong.
"Aku membatalkan keberangkatanku ke Abu Dhabi hanya untuk memastikan kau mendapatkan kirimanku, Dian," ucap Zayed sembari tersenyum tipis, sebuah senyum yang sanggup meruntuhkan pertahanan wanita mana pun.
"Anda membuang-buang waktu yang sangat berharga, Mr. Zayed," sahut Anindya dengan nada profesional yang datar.
"Waktu tidak pernah terbuang sia-sia jika dihabiskan untuk mengagumi keindahan yang langka," balas Zayed tenang. Ia berjalan mendekat, aroma oud dan kayu cendana yang mahal menguar dari tubuhnya. "Aku tahu kau sedang membangun tembok yang tinggi, Dian. Tapi ingatlah, bahkan tembok tersulit pun butuh penjaga. Biarkan aku menjadi pelindungmu di Dubai. Kau bisa tetap mencintai kenanganmu, dan aku hanya akan memastikan tidak ada yang berani mengusik ketenanganmu lagi."
Anindya menatap mata cokelat Zayed yang dalam. Untuk sesaat, ia merasakan ketulusan di sana. Namun, bayang-bayang masa lalu di Jakarta masih terlalu pekat. "Pelindung terbaikku adalah diriku sendiri, Mr. Zayed. Terima kasih."
Zayed hanya terkekeh pelan, tidak merasa tertolak. Baginya, Anindya adalah teka-teki paling menarik yang pernah ia temui. "Kita lihat saja nanti, Dian. Gurun tahu bagaimana cara menunggu hujan."
~~
Sementara itu, di Jakarta, kegilaan Kenzo telah mencapai puncaknya. Setelah semua kartu kreditnya diblokir oleh sang ayah, Kenzo merasa seperti narapidana di rumahnya sendiri.
Ia tidak bisa diam. Insting predatornya berteriak bahwa Anindya masih ada di suatu tempat yang dekat, bersembunyi di balik bayang-bayang kota ini.
Dengan penampilan yang sedikit berantakan, kemeja yang tidak terkancing rapi dan mata yang cekung, Kenzo pergi ke sebuah pusat perbelanjaan elit di Jakarta Pusat.
Ia berjalan seperti orang kesurupan di antara hiruk-pikuk pengunjung mal. Ia memandangi setiap wanita yang memiliki postur tubuh mirip Anindya, berharap keajaiban terjadi.
"Anin... aku tahu kau di sini. Kau tidak mungkin pergi jauh tanpa uang," gumamnya sembari mencengkeram botol air mineral hingga remuk.
Langkahnya terhenti saat ia berada di area kafe terbuka. Di kejauhan, ia melihat seorang pria yang sangat ia kenal. Pria itu memakai kemeja biru muda, berjalan dengan langkah tegak, membawa tas kerja kulit, dan sedang berbicara dengan serius melalui ponsel di telinganya.
"Bimo..." desis Kenzo.
Darah Kenzo mendidih. Bimo adalah sahabat karib Arlan dan orang yang paling dekat dengan Anindya selain keluarga Praditya. Kenzo segera berlari kecil, menerobos kerumunan orang, dan mencegat langkah Bimo tepat di depan eskalator.
"Lama tidak jumpa, Bimo," ucap Kenzo dengan nada suara yang bergetar karena emosi yang tertahan.
Bimo menurunkan ponselnya. Ekspresi wajahnya tetap tenang, seolah ia sudah menduga pertemuan ini akan terjadi. Ia menatap Kenzo dengan tatapan dingin dan penuh penghinaan.
"Kenzo Praditya. Seharusnya aku tidak terkejut melihatmu berkeliaran seperti orang hilang."
Kenzo melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Jangan bermain-main denganku! Di mana Anindya? Aku tahu kau yang membantunya. Hanya kau satu-satunya orang yang cukup bodoh untuk melawan keluarga Praditya!"
Bimo tersenyum tipis, sebuah senyuman meremehkan yang membuat Kenzo ingin mendaratkan pukulan di wajahnya. "Keluarga Praditya? Kau maksud dinasti yang sedang runtuh itu? Kenzo, dengar baik-baik. Aku tidak tahu di mana Anindya berada. Dan kalaupun aku tahu, aku lebih baik mati daripada memberitahukannya pada monster sepertimu."
"KAU!" Kenzo mencengkeram kerah kemeja Bimo, menariknya dengan kasar. Beberapa pengunjung mal mulai menoleh dan berbisik-bisik.
Bimo tidak melawan. Ia justru menatap Kenzo dengan iba. "Lihat dirimu, Kenzo. Kau sudah hancur. Kau tidak punya apa-apa lagi. Kekuasaanmu sudah hilang."
"Aku akan menemukannya! Dan saat aku menemukannya, aku akan memastikan kau membusuk di penjara!" ancam Kenzo dengan suara parau.
Bimo melepaskan cengkeraman tangan Kenzo dari kerahnya dengan sekali sentakan kuat. Ia merapikan kemejanya dengan tenang.
"Cari saja sesukamu, Kenzo. Tapi ingat satu hal, dunia ini luas. Dan bagi Anindya, kau hanyalah sebuah mimpi buruk yang ingin dia lupakan selamanya."
Bimo berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, menghilang di balik kerumunan orang banyak.
Kenzo berdiri mematung di tengah mal yang ramai itu. Ia meraung keras tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitarnya. "BIMOOOO! ANINDYAAAA!"
Ia membanting tas kerjanya ke lantai eskalator, menendang tempat sampah di dekatnya hingga terguling. Kegagalan ini terasa seperti belati yang menusuk jantungnya berkali-kali. Buntu.
Semua jalan tertutup. Rantai emas yang ia banggakan kini telah hancur, dan ia hanyalah seorang pria yang ditinggalkan di tengah reruntuhan ambisinya.
~~
Malam harinya di Dubai, Anindya menerima laporan singkat dari Bimo melalui aplikasi pesan yang sangat rahasia.
"*Kenzo mencariku di mal. Dia terlihat seperti orang gila yang kehilangan arah. Ayahnya benar-benar memutus aksesnya. Dia buntu, Anin. Kau aman*."
Anindya menaruh ponselnya di meja. Ia berjalan ke arah balkon, tempat ia bisa melihat Burj Khalifa yang berpendar dengan lampu-lampu indah. Di sampingnya, Sarah berdiri membawa laporan terbaru.
"Nyonya, asisten kita di Jakarta melaporkan bahwa aset pribadi Kenzo yang tersisa mulai disita oleh bank karena utang operasional yang ia buat secara ilegal."
Anindya tersenyum sinis. "Biarkan Kenzo membusuk dalam obsesinya sendiri."
Anindya menatap langit malam. Ia tahu, langkah berikutnya adalah memancing Kenzo keluar dari persembunyian terakhirnya. Bukan untuk kembali, tapi untuk benar-benar mengubur monster itu dalam kehinaan yang paling dalam.
"Sedikit lagi, Arlan," bisiknya pada angin malam. "Sedikit lagi kita akan benar-benar bebas."
...----------------...
**To Be Continue** ....