NovelToon NovelToon
Pendekar Muda

Pendekar Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN DALAM GELAP

Pertarungan pecah dalam sekejap.

Tak ada aba-aba kedua.

Satu per satu preman maju, namun langkah mereka ragu.

Bima berdiri di depan, tenang… tapi menekan.

Andi bergerak lebih dulu. Cepat, seperti bayangan. Satu tendangan menyapu kaki lawan. Tubuh itu jatuh keras ke tanah.

Bayu tidak kalah sigap. Ia menangkis pukulan, lalu membalas dengan siku ke arah dada. Lawan terhuyung mundur.

Dimas menutup celah. Ia bergerak dari belakang, mengunci salah satu preman, menjatuhkannya tanpa banyak suara.

Namun jumlah mereka tidak sedikit.

Dari balik gelap, dua orang menyerang Bima bersamaan.

Satu dari kanan. Satu dari kiri.

Bima tidak mundur.

Ia memutar tubuhnya, menghindari serangan pertama, lalu menangkap tangan lawan kedua.

Krek!

Terdengar suara sendi bergeser. Lawan itu langsung terjatuh sambil meringis.

Yang satu lagi mencoba menyerang lagi, namun

DOR!

Satu tendangan lurus dari Bima menghantam perutnya. Tubuh itu terpental beberapa langkah ke belakang.

Suasana mulai kacau.

Teriakan. Langkah kaki. Dan suara benturan memenuhi hutan.

Namun di tengah semua itu…

Pak Kades masih berdiri.

Diam.

Matanya mengamati setiap gerakan Bima.

“Jadi ini kemampuanmu…” gumamnya pelan.

Bima menoleh sedikit.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, suasana terasa berbeda.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Aku sudah tau semua ini… kamu yang atur," ucap Bima dingin.

Pak Kades tersenyum tipis.

“Bukan mengatur,” jawabnya santai.

“Memanfaatkan.”

Bima melangkah mendekat.

Sementara di belakang, Andi, Bayu, dan Dimas mulai menguasai keadaan. Beberapa preman sudah terjatuh. Sisanya mundur perlahan.

Namun tak ada yang berani lari.

Karena Bima masih berdiri.

“Warga percaya padamu,” ucap Bima.

“Dan kamu malah membawa mereka ke dalam kegelapan.”

Pak Kades tertawa kecil.

“Percaya?” katanya.

“Orang-orang itu hanya butuh seseorang untuk diikuti.”

Ia melangkah maju.

Perlahan.

“Tapi kekuatan…” lanjutnya, “adalah yang menentukan arah.”

Tiba-tiba

Wush!

Pak Kades bergerak.

Cepat.

Lebih cepat dari preman lainnya.

Pukulan pertama mengarah ke wajah Bima.

Bima menangkis.

Namun tekanan pukulan itu membuatnya sedikit terdorong.

Mata Bima menyipit.

“Jadi… ini alasanmu,” gumamnya.

Pak Kades tidak memberi waktu.

Serangan kedua datang, lebih tajam.

Namun kali ini

Bima menghindar.

Ia berputar, dan membalas dengan pukulan ke arah rusuk.

DUK!

Pak Kades mundur satu langkah.

Namun tidak jatuh.

Ia tersenyum.

“Bagus,” ucapnya.

“Sudah lama aku tidak merasakan ini.”

Pertarungan mereka kini menjadi pusat.

Yang lain perlahan berhenti.

Andi, Bayu, dan Dimas hanya bisa melihat.

Mereka tahu…

Ini bukan pertarungan biasa.

Ini pertarungan dua orang yang sama-sama kuat.

Bima menarik napas pelan.

“Ini akan berakhir malam ini,” katanya tegas.

Pak Kades menunduk sedikit, lalu kembali mengangkat wajahnya.

“Ya,” jawabnya.

“Entah kamu… atau aku.”

Angin kembali berhembus.

Daun-daun bergesek.

Dan tanpa kata lagi

DUAARR!

Keduanya bergerak bersamaan.

Bayangan mereka saling beradu, cepat… keras… tanpa celah.

Malam itu, hutan menjadi saksi.

Bahwa tidak semua yang terlihat tenang benar-benar damai.

Dan tidak semua yang dipercaya benar-benar benar.

Di kejauhan…

Seseorang berdiri di balik pepohonan.

Mengamati.

Diam.

Tak terlihat jelas wajahnya.

Namun matanya tajam menatap ke arah pertarungan itu.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Ia tersenyum tipis.

“Sepertinya… permainan ini baru dimulai.”

Dan tanpa suara, sosok itu menghilang ke dalam gelap.

Meninggalkan satu pertanyaan besar

Siapa lagi yang sebenarnya terlibat…?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!