NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Dasar Gatal!

"Ehem... "

Suci berdehem keras. Dia jelas tidak suka melihat pemandangan di depan matanya.

Dokter Alvaro tidak pernah terpengaruh jika ada perempuan yang memandanginya dengan cara seperti itu. Laki-laki mancung itu sudah terbiasa menghadapi gadis-gadis desa Suka Makmur yang berusaha menarik perhatiannya, yang menurut Suci semuanya biasa saja. Kalau dibandingkan dengan dirinya yang seorang perawat, tentu tidak ada apa-apanya.

Tetapi kali ini, Alvaro sepertinya goyah. Suci sempat melihat Alvaro tertegun ketika hendak meletakkan stetoskop di dada Zivanna.

Sebenarnya itu cukup masuk akal mengingat pasiennya kali ini tidak seperti gadis desa yang sering dia temui. Hanya sekali lihat saja langsung bisa diketahui kalau pasien ini berasal dari kota. Di tambah lagi, Bu Minah yang mengantarkannya, tentu dia bukan gadis biasa.

Cara Zivanna memandangi dokter itu pun tidak luput dari perhatian Minah. Kalau dokter tampan itu bisa menarik perhatian Zivanna lalu cucunya itu bisa melupakan mantan kekasihnya, kenapa tidak?

Jadi Minah diam, pura-pura tidak melihat. Biarkan saja kedua orang itu saling berpandangan kemudian jatuh cinta. Toh Alvaro juga masih single belum memiliki pasangan.

Sementara itu, perawat bernama Suci di samping mereka sedang berusaha keras menahan wajahnya agar tidak terlihat masam.

"Ini boleh pulang sekarang kan, Dok?" Suci membuka suara. Kata-kata yang keluar dari bibirnya terdengar biasa tapi di baliknya terkandung makna jika Suci ingin pasien itu segera pergi dari sana.

"Iya, sudah boleh pulang," jawabnya lalu menghampiri Minah. "Cucu nenek sudah tidak apa-apa. Mungkin masih sedikit lemas tetapi semuanya baik-baik saja," terangnya. Minah mengangguk lega.

Tadi pagi ketika sedang memeriksa Zivanna, mereka berdua sudah sempat berbicara, karena itu Alvaro sudah tahu jika pasiennya ini adalah cucu Minah. Tapi mereka hanya sempat bicara sebentar karena Alvaro harus kembali ke ruang praktek untuk menemui pasien lain yang sudah antri.

"Zi, kamu tunggu di luar, ya? Ada Budi di luar yang akan menemani kamu. Nenek mau bicara sebentar dengan dokter Alvaro."

"Mau bicara apa, Nek?" selidik Zivanna. Dia curiga neneknya akan membicarakan soal dirinya kepada dokter tampan itu.

"Ya soal penyakit nenek. Memangnya soal apa lagi? Dokter Alvaro ini dokter yang biasa menangani penyakit nenek," balas Minah.

Memang seperti itu kenyataannya. Alvaro sudah sangat hafal dengan Minah karena sebulan sekali mereka bertemu ketika Minah melakukan kontrol rutin penyakit asam uratnya. "Bisa jalan sendiri, kan?"

"Dari tadi aku juga jalan sendiri kan, Nek?" Zivanna mengerucutkan bibirnya. Tidak hanya orang tuanya, neneknya ini juga kadang-kadang terlalu berlebihan mengkhawatirkannya. "Masa cuma karena demam terus nggak bisa jalan? Lagi pula sekarang aku sudah sehat," gerutunya sambil berjalan keluar.

Minah tidak marah. Dia justru tersenyum mendengar cucunya bertingkah seperti itu karena itu artinya dia sudah baik-baik saja.

"Apa asam urat nenek kambuh lagi? Tadi sudah di cek?" tanya Alvaro ketika Zivanna sudah tidak terlihat.

"Oh... Bukan itu. Penyakitku aman terkontrol berkat obat yang kamu resepkan. Ini soal lain. Ini soal cucuku tadi. Jadi mungkin ini sedikit pribadi. Apa dokter ada waktu?"

"Ada, Nek. Kebetulan jam praktek saya sudah selesai," jawab Alvaro lalu menoleh sambil berkata, "Suci, kamu boleh pergi dan mengambil jam istirahatmu," kepada perawat yang sejak tadi mendampinginya atau lebih tepatnya menempel padanya.

"Baik, Dok," jawab Suci sambil tersenyum. Dia bergegas pergi. Tetapi begitu dia sudah berada di luar ruangan, senyumnya seketika menghilang.

Sebenarnya dia ingin terus berdiri di depan pintu dan menguping apa yang kedua orang itu bicarakan di dalam.

"Loh ... Suci? Sedang tugas?" Budi menyapa begitu melihat Suci keluar dari ruang rawat inap. Sebagai sesama warga Suka Makmur tentu mereka saling mengenal.

Suci juga tahu betul siapa Minah yang sedang di dalam bersama Alvaro. Tetapi Suci malas untuk menyapa. Dia tidak mau Alvaro, dokter yang sudah disukainya sejak lama itu tahu jika ibunya bekerja menggarap sawah orang. Lagi pula Minah juga tidak mengenal siapa dirinya karena selama ini perempuan tua itu hanya berurusan dengan ibunya.

"Iya," balas Suci datar, sama sekali tidak menunjukkan keramahan. Kemudian pandangan Suci beralih kepada gadis di belakang Budi yang terlihat sedang berinteraksi dengan beberapa pengunjung puskesmas. Mereka tampak begitu akrab.

Gadis itu terlihat begitu mencolok diantara pengunjung lain. Penampilannya yang seperti barbie berambut gelap itu berhasil mencuri perhatian banyak orang. Ditambah lagi dia juga terlihat sangat ramah. Orang-orang tidak sungkan untuk menyapa atau sekedar tersenyum karena Zivanna selalu membalas mereka.

Budi menoleh mengikuti arah pandangan mata Suci. Dia baru sadar kalau majikan kecilnya sudah berada area parkir yang bersinggungan langsung taman puskesmas.

Gadis itu berdiri mematung di emperan parkiran bersama dua orang penjual jajanan yang sedang menjajakan dagangannya. "Non, mau kemana?" tanya Budi dari tempatnya berdiri yang mungkin berjarak sekitar sepuluh meter.

"Cuma mau lihat-lihat, Pak Bud," jawab gadis itu santai.

"Duduk di sini saja, nanti dimarahi nenek!" Budi melambaikan tangannya meminta Zivanna untuk kembali duduk di kursi tunggu di sebelahnya.

"Aku sudah tidak apa-apa. Pak Bud tenang saja."

Kondisi Zivanna terlihat jauh lebih baik dibandingkan tadi pagi ketika mereka tiba. Dia sudah tidak terlihat pucat, wajahnya bahkan sudah mulai bersemu kemerahan akibat sinar matahari yang begitu terik. Kalau dilihat secara kasat mata, Zivanna memang tidak seperti orang sakit.

Meskipun begitu, Budi tidak bisa membiarkan cucu majikannya itu di sana tanpa menjaganya. Dia segera menghampiri lalu menemaninya. "Non Ziva mau beli jajanan?"

Zivanna menggeleng. Dia tidak ingin apapun. Dia hanya ingin melihat-lihat karena seperti biasa, semua tempat di desa ini terasa familiar baginya. Dan di puskesmas ini, tidak hanya merasa familiar, dia juga merasa nyaman entah apa sebabnya. Mungkin karena itu pula seketika tubuhnya terasa bugar.

"Pak Bud, gadis bernama Ayu Ayu itu dulu juga jualan di sini, kan?" Zivanna tiba-tiba bertanya.

Belum sempat Budi menjawab, Zivanna memiringkan kepalanya melihat dokter yang tadi memeriksa dirinya berjalan ke arahnya.

Tetapi dokter itu tidak benar-benar menghampiri Zivanna. Dokter itu kemudian berbelok lalu menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat dia dan Budi berdiri. Sepertinya dia tidak melihat Zivanna.

Zivanna terus memandangi dokter itu. Ada sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan mengenai dokter itu.

"Dokternya tampan ya, Non?" Suara Budi membuat Zivanna tersadar lalu mengalihkan perhatiannya.

Dari kejauhan Suci melihat pemandangan ini. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kegusarannya. "Dasar gatal!!!" makinya pelan.

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!