NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Dingin dan Aroma Kopi

Pagi itu, udara di lantai eksekutif Wiratama Trading terasa lebih tipis dari biasanya. Rijal Adiwijaya tidak lagi bermain di balik bayangan. Ia memutuskan untuk menyerang langsung di jantung pertahanan Alina: rapat direksi bulanan yang ia ubah formatnya menjadi ajang interogasi formal.

Di ruang rapat yang berdinding kaca buram itu, suasana sangat kontras dengan hiruk pikuk di lantai bawah. Rijal duduk di kursi tengah, jemarinya mengetuk meja kayu mahoni dengan irama yang mengancam. Di depannya, setumpuk berkas hasil audit mendadak yang ia perintahkan kemarin sore telah siap menjadi amunisi.

"Saya Tidak suka berbelit-belit, Alina," buka Rijal dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Audit mendadak ini bukan tanpa alasan. Efisiensi memang ada, tapi stabilitas organisasi sedang terancam karena satu individu yang tidak kompeten. Dan yang lebih mengkhawatirkan..." ia menjeda, menatap satu per satu anggota direksi lainnya, "... rumor tentang Anda berhubungan dengan Bima sangat santer."

Beberapa direktur senior berbisik kecil. Kasak-kusuk tentang CEO muda mereka dan seorang karyawan kontrak yang aneh telah menjadi konsumsi sehari-hari di pantry, namun membawa gosip itu ke meja direksi adalah langkah yang ekstrem. Rijal sedang berusaha membunuh kredibilitas Alina dengan mencampurkan urusan profesional dan moralitas.

Alina tidak berkedip. Wajahnya tetap sedingin es, setenang air di danau yang dalam. Ia tidak menunjukkan kemarahan, tidak juga kegelisahan. Baginya, serangan Rijal hanyalah derau (noise) yang harus disaring.

"Rumor bukan dasar pengambilan keputusan di perusahaan ini, Pak Rijal," jawab Alina datar. Ia membuka tabletnya, menampilkan grafik performa yang sangat kontras dengan dokumen audit Rijal. "Ini adalah data nyata. Tim logistik mencapai efisiensi 20% di bawah supervisi langsung saya terhadap proyek yang ditangani Bima. Justifikasi keputusan saya didasarkan pada angka, bukan asumsi moralitas."

Rijal tertawa sinis, merasa di atas angin. "Data bisa dimanipulasi untuk menutupi skandal, Alina. Kamu mempertaruhkan nama baik Wiratama demi seorang pemimpi yang bahkan tidak bisa datang tepat waktu."

Alina menutup tabletnya perlahan. Ia mencondongkan tubuh ke depan, matanya mengunci tatapan Rijal.

"Itu semua rumor. Lalu, apa hubungan Anda dengan ibu saya benar?" tanya Alina, suaranya tenang namun tajam seperti sembilu.

Seluruh ruangan mendadak hening. Rijal tersentak, wajahnya yang tadi merah karena percaya diri mendadak kaku. Pertanyaan itu adalah serangan balik yang telak ke arah privasi Rijal yang masuk ke keluarga Wiratama setelah kematian ayah kandung Alina.

"Lelaki numpang hidup," tambahnya pelan, nyaris seperti bisikan, namun terdengar sangat jelas di tengah kesunyian yang mencekam.

Rijal mengepalkan tangan di bawah meja. Loyalitas di ruangan itu kini benar-benar diuji. Para direktur saling pandang, menimbang-nimbang harus memihak pada pewaris sah atau pada sosok licin yang mengendalikan banyak pengaruh. Di sudut meja, Tino Harianto menyandarkan punggungnya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun ia memberikan senyum tipis dan anggukan kecil kepada Alina. Sebuah dukungan diam-diam yang menegaskan bahwa Alina tidak sendirian di medan perang ini.

Sementara itu, di lantai bawah, atmosfer yang berat ternyata merembes hingga ke kubikel karyawan. Tim audit Rijal masih berkeliaran, mencatat setiap detail kecil, membuat semua orang merasa diawasi. Namun, di tengah ketegangan itu, ada satu titik yang tetap terasa seperti dimensi lain.

Bima Pradana berjalan melewati lorong dengan santai. Kemejanya, seperti biasa, tidak rapi-rapi amat. Di tangan kanannya, ia memegang cup kopi yang uapnya masih mengepul—"kopi pagi" keramatnya yang tidak boleh diganggu gugat.

Ia melihat wajah-wajah tegang rekannya, melihat orang-orang HR yang biasanya galak kini tampak pucat. Bima merasakan atmosfer berubah, namun ia tetap abai dan tetap berjalan seperti biasa. Baginya, ketegangan kantor hanyalah latar belakang dari drama hebat di mana ia adalah tokoh utamanya.

"Suasana kantor hari ini vibrasinya agak ungu ya," gumam Bima pada dirinya sendiri. "Penuh energi konfrontatif yang tidak sinkron dengan semesta."

Ia sampai di mejanya dan mendapati Susi sedang menatap layar komputer dengan ekspresi stres yang akut. Susi, yang biasanya menjadi benteng kewarasan di tim itu, mulai tampak kehilangan arah karena tekanan audit.

Bima duduk, menyandarkan punggungnya dengan gaya bos besar, lalu menyesap kopinya dengan bunyi "slruup" yang cukup keras.

Susi menoleh. Aroma kopi Arabika itu menusuk hidungnya yang lelah. Entah karena sudah terlalu stres atau karena mulai terpengaruh kegilaan Bima, pertahanan Susi runtuh.

"Buat aku mana?" tanya Susi tiba-tiba, suaranya terdengar pasrah sekaligus menuntut.

Bima berhenti menyesap kopi, ia menatap Susi dengan alis terangkat. "Hah?"

Susi tidak menunggu jawaban. Ia menarik cup kopi dari tangan Bima dan menyesapnya dalam-dalam.

"Waduh, Susi," kata Bima sambil tersenyum lebar. "Kebiasaan berbagi itu bagus. Itu tanda-tanda kamu mulai memahami filosofi 'satu energi' yang sering aku bicarakan."

"Berisik, Bima," potong Susi, namun ia tidak mengembalikan kopi itu. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah kafein (dan sedikit kegilaan Bima) masuk ke sistem tubuhnya. "Kantor mau meledak, CEO kamu lagi digebukin di atas, dan kamu masih sempat-sempatnya mikirin vibrasi warna ungu?"

"Susi, Susi," Bima menggeleng prihatin. "Orang besar tidak panik saat badai. Kita cuma perlu memastikan kopi kita tidak tumpah saat ombak datang. Lagipula, Bu Alina itu kuat. Dia cuma butuh orang seperti aku untuk menyeimbangkan dunianya yang terlalu kaku."

Vino yang melihat dari meja seberang hanya bisa menghela napas panjang. Ia melihat Susi mulai terbawa kebiasaan aneh Bima, dan ia sadar bahwa di Wiratama Trading, kewarasan kini menjadi barang langka. Di atas sana, perang kekuasaan sedang berlangsung, namun di bawah sini, Bima Pradana baru saja merekrut satu lagi anggota ke dalam dunia absurditasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!