Bagaimana rasanya jika di hari pernikahan, ternyata pria yang kamu nikahi bukanlah pria yang kamu cintai. Hal ini terjadi pada Rania, gadis malang yang ternyata menikahi Arman, adik dari Adam pria yang dia cintai. Dan kemalangan tak berhenti disana, bahkan setelah pernikahan ternyata Arman memilih pergi meninggalkannya untuk pergi bersama wanita yang dia cintai. Namun na'as, pesawat yang ditumpangi mereka berdua mengalami kecelakaan dan seluruh penumpang dikabarkan meninggal dunia.
Rasa kecewa Rania seketika berubah menjadi duka. Status seorang istri berubah menjadi janda hanya dalam waktu sehari. Namun, setelah semua kejadian itu tidak mudah bagi Rania untuk meninggalkan rumah keluarga Pratama. Karena ibu mertuanya ingin Rania melahirkan keturunan untuk keluarga mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dan bagaimana kehidupan Rania di rumah keluarga Pratama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Hamil
Pernikahan Adam dan Rania memasuki bulan ketiga. Di mata publik, mereka adalah pasangan sempurna, mewarisi nama besar Pratama dengan kewibawaan nya. Adam selalu memastikan Rania mendapatkan tempat yang terhormat di sampingnya dalam setiap jamuan sosial dan acara bisnis. Namun, di balik semua kesempurnaan itu, ada sikap Adam yang membuat hati Rania terus bertanya-tanya.
Di luar, Adam adalah sosok yang dingin, acuh dan profesional. Sikapnya sangat dingin dan datar. Ia berbicara kepada Rania dengan nada datar yang tidak bisa diartikan. Terkadang sikapnya itu seperti seorang atasan kepada rekan kerjanya, bukan suami kepada istrinya.
"Malam ini kita ada acara peluncuran produk baru. Kenakan gaun yang sudah aku pilihkan, Rania," ujar Adam datar di suatu sore saat akan mengajak istrinya ke sebuah acara, pandangannya terpaku pada laptop di meja kerjanya tanpa menatap Rania sedikitpun.
"Baik, Mas," jawab Rania, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
"Apakah kamu sudah meminum jamu dari Ibu?" tanyanya kemudian, masih tanpa menoleh.
"Sudah, Mas. Setiap pagi dan sore," balas Rania patuh.
"Bagus. Lanjutkan. Itu untuk kebaikanmu," ucap Adam, kembali fokus pada pekerjaannya.
Sikapnya yang dingin dan terkendali itu seringkali menusuk Rania. Ia merasa seperti proyek yang harus Adam kelola untuk memuaskan tuntutan keluarga, bukan sebagai wanita yang dicintai.
Namun, semua keraguan itu akan lenyap saat malam tiba, dan pintu kamar mereka terkunci.
Di ranjang, Adam berubah total. Ia menjadi penuh gairah, dan sangat lembut. Semua formalitas lenyap, digantikan oleh kehangatan dan keintiman yang mendalam. Adam memeluk Rania erat, menciumnya dengan penuh damba dan kerinduan, membelai setiap inci kulit Rania dengan hati-hati seolah Rania adalah benda yang rapuh dan perlu di jaga dengan baik. Ia akan memastikan Rania merasa nyaman dan puas, seolah Rania adalah satu-satunya hal yang penting di dunia.
"Jangan pernah berpikir kamu hanya kewajiban bagiku, Rania," bisik Adam suatu malam, setelah keintiman mereka usai. Ia mencium puncak kepala Rania. "Apa yang terjadi di sini... ini adalah yang sebenarnya. Yang tidak bisa aku tunjukkan di luar."
"Tapi... kenapa, Mas? Kenapa kamu harus begitu dingin di luar?" tanya Rania, menyandarkan kepalanya di dada Adam. Ia membutuhkan kepastian. "Aku bingung. Apakah semua ini karena cinta, atau hanya formalitas karena tuntutan Ibu dan keluarga agar kita segera punya anak?"
Adam menghela napas lalu diam dan tidak menjawab pertanyaan istrinya, lalu tidur tanpa memberikan jawaban pasti kepada Rania
Adam selalu seperti itu, dia sangat dingin jika ditanya tentang perasaannya. Sikapnya itu tetap menjadi bayangan dalam hati Rania. Dia sering berpikir, apakah Adam mencintainya, tetapi tidak bisa mengungkapkan dan hanya memiliki kemampuan untuk mengungkapkannya secara fisik, bukan secara verbal atau emosional. Rania masih bingung dengan posisinya saat ini, yang dia tau, dia adalah istri adam dan menantu keluarga Pratama.
Sedangkan Tekanan dari Bu Sofia tidak pernah mereda. Ia begitu terobsesi untuk segera mendapatkan cucu yang akan mengamankan garis keturunan Pratama.
"Rania, bagaimana? Sudah ada tanda-tanda? Jangan malu untuk bilang pada Ibu," tanya Bu Sofia setiap pagi, tatapannya penuh harap.
"Belum, Bu. Kami masih berusaha," jawab Rania, selalu merasa bersalah meskipun ia tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Usaha saja tidak cukup, Sayang. Kamu harus lebih agresif! Adam sudah pulang cepat setiap hari. Kamu harus menggunakan kesempatan itu dengan baik! Ibu ingin cucu yang tampan dan cerdas, ingat? Kalau perlu, Ibu akan carikan jamu yang lebih manjur lagi!"
Rania menghela nafasnya dia selalu berusaha memenuhi tuntutan itu dengan meminum jamu dan selalu siap menyambut Adam di kamar. Ia mulai menghitung hari, mencatat siklusnya, merasakan beban yang begitu besar di pundaknya. Tiga bulan berlalu, dan kabar baik itu tak kunjung datang.
Rania mulai merasa putus asa, hingga suatu pagi, ia merasakan mual yang luar biasa, diikuti oleh kelelahan ekstrem yang tak bisa di jelaskan. Ia berusaha menyembunyikannya dari Bu Sofia, takut memberinya harapan palsu. Namun, Adam menyadari perubahan itu.
Saat sarapan, Adam melihat Rania hanya mengaduk makanannya, wajahnya pucat.
"Kamu sakit, Rania? Kenapa tidak bilang?" tanya Adam, nadanya masih dingin tapi tersirat sebuah kekhawatiran disana.
"Tidak tahu, Mas. Mungkin aku hanya masuk angin karena kurang tidur," balas Rania, berusaha tersenyum.
"Tidak. Wajahmu jelek sekali, tidak enak dilihat. Kita akan ke dokter setelah sarapan," putus Adam tegas.
Rania hanya mengangguk, dia sepertinya memang membutuhkan seorang dokter untuk memeriksa kesehatannya. Karena akhir-akhir ini merasakan lelah yang luar biasa.
Sampai di rumah sakit, entah kenapa langkah kaki Adam menuntun Rania ke ruang dokter kandungan. Dia yakin sekali, kalau pada akhirnya Rania hamil juga. Di ruang periksa, Adam menggenggam tangan Rania dengan erat, menatap monitor yang sedang mencari sesuatu di perutnya. Rania sendiri masih belum yakin kalau dirinya saat ini sedang hamil.
"Selamat, Pak Adam, Ibu Rania hamil."
Jantung Rania berdebar kencang. Adam menoleh padanya, sorot matanya yang dingin kini tampak dipenuhi harapan.
"Benarkah, Dok? Aku hamil?" tanya Rania, suaranya tercekat.
"Ya. Anda hamil, Bu Rania. Dan ini adalah kejutan yang luar biasa," Dokter mengambil hasil USG dan menunjukkannya. "Kalian akan memiliki anak kembar. lihatlah ada dua kantung disini."
Ruangan itu hening sesaat. Rania menatap hasil USG, air mata haru seketika membanjiri wajahnya. Adam terdiam, seolah mencerna kata "kembar." Kemudian, ia melakukan sesuatu yang membuat hati Rania meleleh, dia tersenyum. Senyum yang paling lebar, paling tulus, dan paling bahagia yang pernah Rania lihat selama mereka bersama.
"Jadi, istriku hamil? hamil anak kembar? " tanya Adam masih tak percaya.
"Iya Pak Adam, istri anda hamil bayi kembar. Usia kandungan memasuki dua bulan. Tolong dijaga dengan baik, jangan biarkan ibu Rania kelelahan. Pastikan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup. Karena trimester awal sangat beresiko. " nasehat dokter tersebut.
"Tentu, aku akan menjaga nya dengan baik dan tidak membiarkannya kelelahan. Aku akan pastikan semua kebutuhan dan keinginannya terpenuhi. " kata Adam penuh semangat.
"Wah, bagus sekali Pak Adam adalah suami dan calon ayah siaga. Selamat Bu Rania, suami anda sangat baik. " kata dokter dengan senyum lebarnya.
Rania hanya menanggapi ucapan dokter dengan senyuman kebahagiaan. Dia tidak menyangka kalau Adam akan sebahagia ini mendengar berita kehamilannya. Dia jadi ingin tahu seperti apa reaksi ibu mertuanya saat tau dia hamil anak kembar.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, Adam dan Rania segera meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah untuk memberikan kabar bahagia ini kepada calon nenek yang selalu mendesak mereka untuk bekerja keras setiap hari.