Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Jenderal
Debu beterbangan saat Simura sampai di pintu gerbang. Pemandangan di depannya sanggup membuat jantung siapa pun berdegup kencang. puluhan pasukan bersenjata lengkap berbaris dengan presisi militer yang mematikan. Simura sempat bimbang, apakah kebebasannya akan berakhir di sini? Apakah ia telah melanggar hukum Dinasti Mei? Tiba tiba, sebuah suara bariton memecah kesunyian.
"JENDERAL TELAH TIBA!"
Serentak, seluruh pasukan berlutut satu kaki dengan suara denting baju zirah yang bergema. Dari balik barisan, seorang pria perkasa dengan zirah emas berkilauan memacu kuda putihnya. Di belakangnya, beberapa perwira berkuda mengikuti dengan aura yang tak kalah mengintimidasi.
Pria itu turun dari kudanya. Langkah kakinya berat dan penuh wibawa. Namun, alih alih menarik pedang, ia justru membungkuk dalam di hadapan Simura.
"HORMAT KEPADA SANG PAHLAWAN!" serunya, diikuti oleh gemuruh suara puluhan prajuritnya.
Simura terperanjat. Ia segera memegang bahu sang Jenderal untuk menghentikan sikap hormat itu.
"Tuan Jenderal, tolong bangkitlah. Ini terlalu berlebihan," ujar Simura gugup.
Ia pun mempersilahkan sang Jenderal masuk ke balai tamu untuk bicara secara pribadi.
"Ada keperluan apa Jenderal Agung menemui hamba yang rendah ini?" tanya Simura setelah mereka duduk.
"Tidak perlu terlalu sopan padaku. Aku hanyalah pelayan Kaisar Agung. Namaku Bai Shan. Aku datang untuk menemui pembunuh Fenrir, sang Serigala Iblis yang melegenda itu." kata Sang Jenderal dengan tawa kecil seperti guntur yang diredam
"Mungkin Jenderal salah dengar, saya hanya..," Ucap Simura mencoba mengelak
"Aku mendengarnya langsung dari kakakku, Bai Lu, Sang Jagal Hutan Kematian," potong Bai Shan dengan senyum penuh arti.
Simura terdiam. Ia baru menyadari bahwa Jenderal Bai Shan adalah bangsawan misterius yang membeli semua tanduknya dengan harga selangit dan menghadiahkan rumah ini untuknya. Tak ada gunanya lagi bersembunyi. Jenderal Bai Shan mengungkapkan bahwa tindakan Simura telah membalaskan dendam ratusan prajurit yang gugur dalam tragedi pelabuhan akibat Serigala itu.
Jenderal Bai Shan kemudian menawarkan posisi sebagai Panglima dengan gaji tinggi, wanita, dan tanah yang luas kepada Simura. Namun, Simura menolak dengan halus.
"Hamba lebih suka hidup sederhana tanpa bayang bayang politik, Jenderal."
"Sifatmu benar benar mirip dengan kakakku, Bai Lu! Kata Jenderal Bai Shan sambil tertawa terbahak bahak.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Namun ingatlah, jika suatu saat kau butuh tempat untuk bernaung, pintuku selalu terbuka untukmu." Tambah Jenderal Bai Shan.
Simura mengantar Bai Shan menuju gerbang dengan perasaan lega. Namun, di tengah jalan, langkah mereka terhenti. Seorang wanita dengan riasan anggun berjalan dari arah taman. Itu adalah Li Xiu. Wajah Bai Shan yang tadinya penuh tawa mendadak pucat dan kaku. Dengan sigap, ia berlutut dengan kepala tertunduk.
"Hormat hamba, Tuan Putri Mei Li!"
"Tuan Putri...?" gumam Simura, matanya membelalak.
Li Xiu mencoba berbalik untuk menghindar, namun Simura menahan lengannya. Jenderal Bai Shan menjelaskan bahwa ia juga membawa pesan dari Pangeran agar Sang Putri segera kembali ke istana.
"Aku tidak mau!, Aku nyaman di sini. Jika Kakak ingin aku pulang, suruh dia sendiri yang menjemputku ke mari!" Sahut Li Xiu dengan tegas
Meskipun Simura mencoba membujuk agar masalah tidak menjadi besar, Li Xiu tetap keras kepala. Jenderal Bai Shan akhirnya pamit undur diri dengan perasaan kecewa, meninggalkan kesunyian yang berat di antara Simura dan Li Xiu.
"Kenapa kau begitu santai setelah tahu siapa aku sebenarnya?" tanya Li Xiu setelah mereka kembali ke balai.
"Karena aku sudah menduganya sejak kau dihormati di gerbang kota kemarin," jawab Simura sambil menyesap tehnya dengan tenang.
"Hanya saja, kenapa Putri memilih hidup liar dan penuh bahaya di luar Istana?" Tanya Simura.
"Istana hanyalah sangkar emas. Semuanya tercukupi, tapi aku tidak punya hak atas hidupku sendiri. Semuanya diatur, semuanya penuh intrik politik," Jawab Li Xiu sambil menghela nafas dengan tatapan kosong menatap langit yang mulai jingga.
Simura terdiam, teringat masa kecilnya di Nesia yang selalu dikekang aturan ketat dan dilarang berteman dengan sembarang orang. Rasa kesepian yang sama terpancar dari mata sang Putri. Sore itu, mereka tidak lagi bicara sebagai pahlawan dan putri, melainkan sebagai dua manusia yang sama sama mencari kebebasan.
Malam semakin larut setelah mereka merencanakan kunjungan ke Serikat Pedagang esok hari. Di dalam kamar yang remang remang, Simura sudah tertidur pulas karena kelelahan. Namun, Li Xiu masih terjaga. Dari ranjangnya, ia memandangi punggung Simura yang kokoh.
Dalam hatinya, Li Xiu berbisik.
"Di dunia yang penuh kepalsuan ini, akhirnya aku menemukan satu orang yang tulus."
Dengan senyum kecil yang damai, sang Putri pun perlahan memejamkan mata.
(Bersambung)
semangat thor ✍️🤭😉🌹
kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭