NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Runtuhnya Dungeon

Begitu langkah pertama mereka meninggalkan reruntuhan pondok kayu itu, seluruh taman buatan di lantai seratus mulai berubah menjadi mimpi buruk. Langit-langit gua yang tadinya menyerupai senja damai kini retak di berbagai penjuru, memuntahkan batu-batu besar yang jatuh menghantam padang bunga, menghancurkan apa pun yang tersisa dari keindahan tempat itu.

"Pegangan erat-erat!" Sasuke berteriak, memastikan Elaina tetap aman menggelayut di punggungnya, kedua lengan kecilnya melingkari lehernya, sementara Saviera berlari di sampingnya, kedua tangannya sendiri mencengkeram erat bahu dan jubah Sasuke agar tidak tertinggal.

Elaina, yang tadinya tertawa kecil di tengah kekacauan itu—entah karena terlalu polos untuk memahami bahaya sesungguhnya, atau karena kepercayaannya yang begitu besar pada sosok yang menggendongnya.

"Wuaaah! Seperti roller coaster!" serunya riang, tangan kecilnya mencengkeram erat jubah Sasuke, matanya berbinar menyaksikan reruntuhan batu yang berjatuhan di sekeliling mereka seolah itu adalah pertunjukan kembang api.

"Elaina, ini bukan waktunya bersenang-senang!" Saviera menegur, napasnya memburu mengikuti kecepatan lari Sasuke yang jauh melampaui kemampuan larinya sendiri.

"Baik, Mama!" Elaina langsung mengangguk patuh, seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menahan diri untuk tidak berkomentar lagi, meski matanya masih sesekali melirik penasaran pada reruntuhan di sekitar mereka.

Mereka baru saja melewati sisa-sisa kolam jernih ketika sebuah batu sebesar rumah jatuh tepat di jalur yang seharusnya mereka lewati. Sasuke, tanpa memperlambat langkahnya sedikit pun, melompat tinggi ke udara, Elaina tetap menggelayut erat di punggungnya dan Saviera melompat mengikuti di sampingnya, tangannya sendiri tetap mencengkeram bahu Sasuke, mendarat mulus di sisi lain reruntuhan itu.

"Gerbang lantai sembilan puluh sembilan ada di sana!" Sasuke berseru, matanya—kini kedua-duanya, Sharingan di kanan dan Rinnegan di kiri, sama-sama menyala penuh—memindai jalur tercepat menembus kekacauan yang semakin memburuk.

---

Lorong-lorong yang tadinya sunyi kini bergemuruh dengan suara reruntuhan yang menggema dari segala arah, seolah seluruh menara raksasa ini sedang meregang napas terakhirnya. Retakan-retakan besar membelah dinding batu yang sudah berdiri selama entah berapa lama, memuntahkan debu dan serpihan yang membuat udara semakin sesak untuk dihirup.

Di lantai sembilan puluh delapan, lantai di bawah kaki mereka tiba-tiba ambruk tanpa peringatan.

"AWAS!" Saviera menjerit, namun terlambat—ketiganya jatuh menembus lubang yang baru terbuka, melayang bebas ke dalam kegelapan yang tidak diketahui kedalamannya.

Sasuke bereaksi secepat kilat. Dengan satu-satunya tangannya, ia menarik Saviera mendekat, mendekapnya erat ke dadanya sementara Elaina tetap menggelayut aman di punggungnya, kedua lengan kecilnya masih melingkari lehernya kuat-kuat. Ia memutar posisi tubuhnya di udara agar kakinya berada tepat di bawah, menyalurkan chakra deras ke kedua telapak kakinya untuk memperkuat pijakan yang akan menahan seluruh hantaman.

Mereka menghantam lantai batu di bawahnya dengan keras—namun benturan itu sepenuhnya diserap oleh kedua kaki Sasuke yang menekuk dalam-dalam menyerap tenaga jatuh, tubuhnya berderak menahan beban, namun tetap sadar, memastikan kedua orang yang ia lindungi tidak mengalami luka sedikit pun.

"Papa!" Elaina memekik cemas dari punggungnya, untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar menunjukkan ketakutan sungguhan, melihat Sasuke berlutut sesaat menahan sakit di kedua lututnya.

"Aku baik-baik saja," Sasuke berkata, memaksakan senyum kecil meski rasa sakit menjalar di sekujur kakinya. Ia bangkit cepat, melepaskan dekapannya pada Saviera dan menariknya berdiri. "Kita ternyata sudah sampai di lantai sembilan puluh lima. Ini justru mempercepat langkah kita."

Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Dari kegelapan lorong di depan mereka, sesosok bayangan besar bergerak—salah satu penjaga lantai yang seharusnya sudah mereka lewati sebelumnya, kini terbangun dari keruntuhan sistem dungeon yang mulai kacau, menyerang secara acak tanpa aturan yang jelas lagi.

Seekor golem batu raksasa, jauh lebih besar dari yang pernah Sasuke hadapi sebelumnya, mengangkat tinjunya yang sebesar mobil, siap menghantam mereka bertiga sekaligus.

Sasuke tidak punya waktu untuk mempertimbangkan opsi rumit. Ia menurunkan Elaina dengan cepat, mendorong Saviera dan Elaina ke belakang punggungnya dengan satu gerakan, membebaskan tangan kanannya yang tersisa untuk terangkat ke depan.

"Chidori."

Kilatan petir biru menyala terang di telapak tangannya, dan dengan satu hentakan tenaga penuh, ia menikam langsung ke tengah dada golem raksasa itu tepat sebelum tinjunya mendarat. Ledakan energi menghancurkan tubuh batu itu dari dalam, memuntahkan pecahan-pecahan batu ke segala arah.

Sasuke berputar cepat, punggungnya menghadap ke arah reruntuhan, menahan setiap pecahan batu yang berterbangan agar tidak menyentuh Saviera dan Elaina yang bersembunyi di belakangnya.

"Cepat, sebelum yang lain terbangun!" Sasuke berkata, suaranya kini menunjukkan sedikit ketegangan yang jarang ia perlihatkan.

---

Mereka terus berlari, melompat dari reruntuhan ke reruntuhan, menembus lorong demi lorong yang runtuh di belakang mereka seolah dungeon ini sendiri berusaha menelan mereka hidup-hidup sebelum sempat melarikan diri.

Saviera, meski ketakutan, mulai menyadari sesuatu di tengah pelarian mereka—setiap kali bahaya baru muncul, Sasuke selalu memposisikan tubuhnya di antara bahaya itu dan mereka berdua, tanpa pernah sekalipun mempertimbangkan keselamatannya sendiri terlebih dahulu. Sesuatu yang hangat, asing namun menyenangkan, mulai tumbuh di dalam dadanya—perasaan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan sejak dikhianati oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

"Kita hampir sampai!" Sasuke berseru, melihat cahaya alami mulai menembus dari celah-celah di ujung lorong panjang di hadapan mereka—tanda bahwa mereka sudah mendekati lantai pertama, gerbang menuju dunia luar.

Namun tepat saat harapan itu muncul, seluruh struktur di sekitar mereka bergetar dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Retakan-retakan besar membelah langit-langit di atas mereka secara bersamaan, dan seluruh lorong mulai runtuh dari belakang ke depan seperti efek domino raksasa.

"Ia tidak akan bertahan sampai kita keluar dengan berlari biasa!" Sasuke berseru, matanya cepat menganalisis situasi. Ia memejamkan mata kanannya sesaat sebelum membukanya kembali—pola Mangekyou Sharingan berputar cepat di sana.

Kerangka ungu translusen raksasa mulai terbentuk mengelilingi tubuhnya, membesar dengan cepat hingga cukup untuk mendekap Saviera dan Elaina sepenuhnya di dalam telapak tangan spektralnya yang terbentuk dari energi chakra murni.

"Susanoo."

"Berpegangan erat!" Sasuke berseru, dan dengan kekuatan kaki Susanoo raksasa itu, ia melompat—bukan langkah biasa, melainkan lompatan yang menembus beberapa lantai sekaligus, menghancurkan langit-langit demi langit-langit di atas mereka dengan kekuatan mentah yang jauh melampaui apa pun yang pernah ia keluarkan sebelumnya.

Reruntuhan menghantam tubuh Susanoo dari segala arah, namun kerangka spektral itu menahan setiap benturan tanpa membiarkan setitik pun bahaya menyentuh dua orang yang terlindung aman di dalam genggamannya.

Elaina, meski wajahnya pucat karena guncangan hebat, tetap menggenggam erat gaun ibunya dan jubah Sasuke sekaligus, matanya terpejam rapat namun bibirnya bergumam pelan, seolah berdoa dengan caranya sendiri.

Saviera memeluk anaknya erat, namun matanya tetap terbuka, menatap sosok Sasuke yang berdiri tegak di tengah kekacauan Susanoo, mengarahkan setiap lompatan dengan presisi yang mustahil di tengah reruntuhan yang menghujani mereka dari segala penjuru.

---

Ledakan cahaya menyilaukan akhirnya menyambut mereka ketika Susanoo menembus lapisan terakhir langit-langit lantai satu, memecah gerbang batu besar yang selama ini menjadi mulut dungeon itu menjadi serpihan-serpihan yang berhamburan ke udara.

Mereka melesat keluar ke udara terbuka, cahaya matahari sore menyambut wajah mereka untuk pertama kalinya setelah berjam-jam—atau mungkin berhari-hari, waktu terasa kabur—terperangkap dalam kegelapan dungeon.

Susanoo mendarat di tanah dengan guncangan besar, tepat di area lapang berbentuk lingkaran di depan hutan, sebelum perlahan memudar menjadi partikel cahaya yang larut ke udara, meninggalkan Sasuke berdiri dengan napas terengah-engah, tubuhnya penuh luka dan debu, namun masih berdiri tegak.

Di belakangnya, gemuruh dahsyat menggema dari dalam tanah—dungeon seratus lantai yang telah berdiri entah sejak berapa lama akhirnya runtuh sepenuhnya, tanah di sekitarnya bergetar hebat sebelum akhirnya ambruk ke dalam dirinya sendiri, meninggalkan kawah besar menganga di tempat yang dulunya adalah mulut menara legendaris itu.

Keheningan menyusul setelahnya, hanya dipecah oleh suara napas mereka bertiga yang masih memburu.

Sasuke berlutut perlahan, menurunkan Elaina dengan hati-hati ke rerumputan, tubuhnya sendiri hampir kehabisan tenaga setelah menggunakan kekuatan sebesar itu secara beruntun.

"Kita berhasil," gumamnya, hampir tidak percaya pada dirinya sendiri.

Elaina, yang sempat terdiam ketakutan sepanjang lompatan terakhir, kini kembali tersenyum lebar, melompat memeluk leher Sasuke erat-erat. "Papa hebat sekali! Elaina tahu Papa pasti bisa!"

Saviera berdiri diam beberapa langkah dari mereka, menatap kawah besar yang dulunya adalah satu-satunya rumah yang ia kenal selama bertahun-tahun, kini lenyap sepenuhnya di depan matanya. Ada kesedihan di matanya, namun juga sesuatu yang lain—semacam kelegaan aneh, seolah beban yang sudah lama ia pikul akhirnya bisa ia letakkan, meski dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

Ia menoleh menatap Sasuke, yang masih berlutut kelelahan dengan Elaina memeluk lehernya erat, wajahnya penuh debu dan luka namun matanya tetap hangat menatap anaknya.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Saviera merasakan sesuatu yang hampir ia lupa rasanya—rasa aman.

Ia melangkah mendekat, berlutut di samping mereka berdua, suaranya pelan namun tulus.

"...Terima kasih," bisiknya, "telah menyelamatkan kami."

Sasuke menoleh, menatap wajah Saviera yang diterangi cahaya senja, dan untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa hening sepenuhnya.

"Sama-sama," jawabnya sederhana. "Sekarang, mari kita cari tempat aman untuk beristirahat. Kalian berdua butuh itu."

---

*Bersambung ke Bab 10: Awal yang Baru*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!