Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka
Ke esokan harinya Damian kembali ke rumahnya pada jam sepuluh, pria itu melangkahkan kakinya tanpa ada beban bahkan dia sama sekali tidak peduli dengan keadaan Bintang yang saat ini tengah terkapar di teras rumahnya.
“Dia benar benar tidur di sini? Dia bodoh atau pura pura bodoh karna ingin menjebakku?”Gumam Damian, saat dia kembali ke rumahnya. Dia melihat Bintang yang sudah meringkuk di depan teras, make up yang tadi malam nampak sangat indah nampak sudah pudar bahkan wajahnya terlihat sangat pucat dengan mata yang menghitam.
“Kami tidak membantunya seperti yang anda perintahkan, tuan.”Ujar seorang satpam. Sejak tadi malam dia sudah melihat kehadiran Bintang, namun karna perintah Damian dia sama sekali tidak berani bahkan untuk sekedar memberikan segelas air minum.
“Bagus. Sekarang bangunkan dia.”Titah Damian, pria itu berlalu dan masuk ke dalam rumahnya bahkan tanpa melirik kepada Bintang yang masih terkapar lemah di lantai yang dingin. Baju yang semalam dia pakai sudah kering di badan membuatnya menggigil semalaman.
“Baik,tuan.”Ujar si satpam, setelah mengatakan itu dia pun langsung menghampiri Bintang untuk membangunkan gadis itu.
“Non, non Bintang. Bangun non, udah siang.”Ujar Pram, satpam dengan usia yang baru menginjak setengah abad itu.
Tak ada jawaban, Bintang sama sekali tidak menjawab seolah olah dia tidak pernah mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Pram.Gadis itu nampak sangat damai, hanya saja wajahnya sangat pucat dengan nafas yang tak beraturan.
Panik, Pram pun langsung menggoyang goyangkan tubuh Bintang yang terasa sangat dingin.
“Non, bangun non!”Ujarnya dengan panik, jika terjadi apa apa kepada Bintang dia pasti akan di marahi oleh Wicaksono karna tadi malam dia jelas jelas mengatakan kepadanya untuk bersikap baik kepada Bintang, tapi karna dia sangat takut dengan Damian jadi dia tetap mengikuti perintah pria itu.
“Panas banget!”Ujarnya semakin panik saat merasakan kening Bintang yang panas, tidak sama dengan beberapa bagian tubuhnya yang terasa dingin.
Merasa ada yang tidak beres dengan Bintang, Pram pun langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui Damian yang entah berada di mana itu.
“Tuan muda!”Pekiknya dengan lantang, suara panik jelas terdengar dari setiap kata yang terlontar dari bibrinya.
“Ada apa?”Tanya Damian bingung, dia baru saja menenggak air minumnya. Mencoba untuk menyingkirkan sisa alkohol yang masih menggantung di tenggorokannya.
“Non Bintang pingsan! Badannya dingin tapi kepalanya panas.”Ujar Pram dengan panik.
“Bawa masuk ke kamarnya dan panggilkan dokter.”Ujar Damian dengan santai. Dia tentunya sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Bintang.
“Baik tuan, dimana kamar non Bintang?”Tanya Pram penasaran.
Damian menunjuk ke arah sebuah kamar yang ada di sudut rumah, kamar sempit yang biasanya hanya di gunakan untuk pembantu.
“Oh ya jangan lupa sampaikan pada semua pembantu, mereka di pecat! Mulai hari ini Bintang yang akan menangani segala hal dalam rumah ini, termasuk menyapu dan mengepel rumah ini.”Ujar Damian dingin, dia sama sekali tidak merasa kasihan kepada Bintang. Sebaliknya, dia sangat bertekad untuk menyiksa Bintang dan membuat gadis itu merasakan neraka yang amat kejam.
“Baik, tuan.”Jawab si satpam itu. Setelah menjawab pernyataan dari Damian, dia pun bergegas menelpon dokter kepercayaan keluarga Wicaksono sebelum akhirnya dia membawa Bintang ke dalam kamar yang di maksud oleh Damian sebelumnya.
Setelah sekitar satu jam berlalu, dokter yang akan menangani Bintang akhirnya sampai di kediaman Damian. Sebelum menemui Bintang, dia terlihat menghampiri Damian yang duduk di ruang tengah.
“Sadarkan dia bagaimana pun caranya, jam dua nanti dia harus ikut denganku untuk makan siang bersama papa dan mama.”Ujar Damian dingin.
“Baik tuan, saya akan melakukan yang terbaik.”Ujar pria yang nampak sudah jauh lebih tua dari Damian itu.
Setelah memberikan jawaban kepada Damian dia pun langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamar Bintang dan berusaha dengan keras untuk membangunkan gadis itu sesuai dengan yang di inginkan oleh Damian.
“Dia demam tinggi. Kita harus menurunkan demamnya dulu.”Ujar dokter Oki, pria itu terlihat gesit menangani Bintang yang masih belum sadarkan diri.
“Ganti bajunya.”Titahnya pada suster yang sedari tadi menunggu istruksi darinya.
“Baik, dok.”Balasnya.
“Kita harus melakukan yang terbaik untuk menyadarkan non Bintang ini, jika tidak kalian semua akan kehilangan pekerjaan kalian. Saat ini kita berhadapan dengan tuan Damian, jadi jangan sampai melakukan kesalahan.”Ujar pria itu dengan nada tegas. Mereka harus mengikuti apa yang di inginkan oleh Damian,jika tidak pekerjaan mereka yang harus di pertaruhkan.
“Baik, dok!”Balas mereka bersamaan. Setelah itu mereka semua pun langsung bekerja keras untuk menyadarkan Bintang bagaimana pun caranya.
Setelah berjuang sekitar dua jam lamanya dengan berbagai macam cara akhirnya Bintang pun bisa membuka matanya.Gadis itu menatap dokter yang nampak mondar mandir di hadapannya dengan penuh rasa bingung di dalam kepala.
“Dok..”Sapanya dengan nada pelan, dia menatap dokter yang terlihat langsung menghembuskan nafasnya lega saat melihat Bintang yang sudah siuman.
“Non Bintang, anda sudah sadar?”Tanyanya kelegaan yang tak bisa dia tutup tutupi.
“Aku dimana?”Tanya Bintang bingung, dia melihat orang orang ini mengenakkan baju dokter tapi yang dia ketahui dia sama sekali tidak berada di rumah sakit.
“Kami di utus oleh tuan Damian untuk membuat anda sadar dan saat ini anda ada di kediaman anda sendiri.”Jawab dokter itu dengan nada pelan.
“Kediamanku?”Bintang bertanya dengan bingung. Setelah berpikir untuk beberapa saat, dia akhirnya kembali teringat dengan apa yang terjadi kemarin. Benar, ini adalah kediamannya di neraka baru yang entah kapan berakhirnya.
“Iya nona, bagaimana perasaan anda saat ini?”Tanya dokter itu dengan nada pelan. Sementara seorang suster terlihat baru saja keluar dari ruangan itu, untuk menyampaikan berita kesadaran Bintang pada Damian.
“Tubuhku masih lemas dan kepalaku masih sedikit pusing.”Jawab Bintang dengan nada lemah.
“Hanya sementara, setelah ini anda akan baik baik saja.”Jawab dokter Oki itu dengan ramah.
Ceklek!
Di tengah tengah percakapan mereka, tiba tiba saja pintu kembali di buka dari luar. Dari sudut matanya Bintang bisa melihat Damian yang baru saja masuk dengan di ikuti seorang suster di belakangnya.
“Bagaimana keadaannya?”Tanya Damian dingin seperti biasanya.
“Sudah jauh lebih baik, tuan.”Balasnya dengan nada pelan.
“Sudah bisa di copotkan infusnya?”Tanya Damian lagi.
“Sebaiknya jangan tuan.”Balas dokter itu dengan nada khawatir.
“Copot saja, dia harus ikut denganku ke rumah keluarga besar Wicaksono.”Ujar Damian dengan nada tegas.
“Tapi-“
“Tidak ada tapi tapian, lagi pula dia itu jahat jadi nggak mungkin mati secepat itu.”Ujar Damian dengan nada dingin.
“Pakai ini, dandan biar nggak keliatan kayak orang sekarat.”Ujar Damian dingin, dia melemparkan sehelai gaun berwarna biru muda yang sama sekali tidak menarik di mata Bintang.
“Maafkan kami, non.”Ujar dokter itu, sesuai dengan yang di inginkan oleh Damian dia pun langsung mencabut infus yang ada di tangan Bintang.
“Nggak apa apa, terimakasih dok.”Balas Bintang, dengan susah payah dia pun memutuskan untuk bangkit dan mengikuti apa yang di perintahkan oleh Damian.
“Aku harus membawa Lidya kembali, hanya itu caranya agar aku bisa keluar dari neraka ini.”Gumam Bintang dengan nada pelan, tangannya terkepal menahan rasa sakit di ujung kepalanya.