NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Yang Dihiraukan.

Hari masih baru. Matahari baru merangkak naik di ufuk timur, menyinari pelabuhan Tanjung Priok dengan cahaya pucat yang dingin. Jam 05:47 pagi. Getaran di saku celana Shadiq menghentikan lamunannya. Layar ponsel jadulnya menyala: FARHANK.

Suara di seberang telepon datar, tanpa nada tanya. "Sekarang. Tempat biasa. Jangan telat." Lalu, putus.

Shadiq sudah menunggu sejak pukul lima. Duduk di tepi palet kayu yang sama, kaki menggantung, wajah tenang yang terlatih. Di pikirannya, tayangan singkat dari malam sebelumnya masih segar: Arva tersenyum lepas di Car Free Day, Irva tertawa riang di ayunan, janji untuk pulang tepat waktu. Janji yang, seperti biasa, hancur berantakan.

Tapi di balik ingatan manis itu, ada realitas yang lebih keras. Di bawah kasur busa di rumah kontrakannya, tersembunyi peti kayu berisi dua pucuk AK-47 berlapis emas dan perak, senjata yang sama yang mengancam hidupnya. Dendamnya membara, tapi dia tahu, waktu belum tepat.

Suara derit ban di aspal basah. Sebuah truk box hitam tanpa plat nomor berhenti sepuluh meter darinya. Mesinnya mati, tapi ancamannya baru saja hidup.

Pintu samping terbuka. Farhank turun pertama. Kemeja hitamnya licin, wajahnya pucat, mata merah oleh kelelahan dan ketegangan. Di belakangnya, Baron melompat turun, tangan kanannya secara naluriah menepuk sarung pistol emas di pinggangnya. Tapi yang membuat Shadiq sedikit menegang adalah yang keluar berikutnya: delapan pria besar berseragam jaket hitam, tubuh kekar, tato di leher, mata kosong seperti mesin. Mereka bukan sekadar preman—mereka tentara bayaran.

Mereka bergerak cepat, efisien, tanpa perintah yang terdengar. Dalam hitungan detik, mereka membentuk formasi lingkaran sempurna di sekeliling Shadiq, mengurungnya dalam dinding daging dan kain hitam. Tak ada celah. Tak ada jalan keluar.

Farhank melangkah masuk ke lingkaran itu, berhenti hanya satu meter di depan Shadiq.

"Kau datang lebih awal," ujar Farhank, suaranya rendah dan berbahaya seperti gesekan pisau.

"Kebiasaan baik," balas Shadiq santai. "Lebih awal, lebih cepat pulang."

"Jangan main-main dengan saya," desis Farhank, langkahnya maju lagi. "Kemana satu peti dari pengiriman kemarin?"

Shadiq mengangkat bahu, tangan tetap di dalam saku. "Peti apa? Yang mana? Ada banyak, Bos. Yang biru? Yang coklat? Yang bunyinya seperti mainan rusak?"

Pukulan itu datang tanpa peringatan.

Tinju Farhank menghantam tulang rusuk kiri Shadiq. THUD! Suara padat, sakit menusuk. Shadiq terhuyung mundur selangkah, tapi tidak jatuh. Dia mengatur napas, matanya tetap menatap lurus ke mata Farhank—tanpa penyesalan, tanpa ketakutan.

"Jangan buang-buang waktu saya!" geram Farhank. "Hanya kau yang membongkar muatan! Satu peti hilang antara pelabuhan dan tujuan! Siapa lagi?!"

Shadiq meluruskan badannya dengan perlahan. "Mungkin sistemmu salah. Atau mungkin anak buahmu yang lain punya rencana sendiri. Aku cuma buruh, Farhank. Aku tidak cukup pintar untuk mencuri darimu."

Farhank mendekat lagi, kali ini mengeluarkan pistol Glock 19 dari balik jaketnya. Ujung laras dingin menyentuh dahi Shadiq.

"Kau tahu isi peti-peti itu," bisiknya. "Dengar bunyinya. Logam. Senjata. Satu peti berisi dua AK-47 custom, magazen, peluru, dokumen palsu. Nilainya setengah miliar di pasar gelap."

Shadiq tidak bergeming. "Kalau begitu berharga, kenapa kau serahkan pada buruh kasar seperti aku?"

Karena logika Shadiq masuk akal. Dan Farhank mulai ragu.

"Di mana kau sembunyikan?" bentaknya, mendorong laras lebih keras. "Katakan sekarang, atau aku akan kunjungi istrimu yang cantik dan anakmu yang lucu itu di sekolah hari ini."

Sesuatu dalam diri Shadiq berubah.

Ketegangannya yang sempurna retak. Otot rahangnya berkedut. Matanya yang sebelumnya dingin, kini memancarkan api yang dalam, berbahaya.

"Jangan," kata Shadiq, suaranya rendah seperti auman singa terpojok. "Jangan sentuh mereka. Ini antara kau dan aku."

"Oh, sekarang jadi 'antara kau dan aku'?" Farhank menyeringai, tapi ada kegelisahan di matanya. "Tapi kau lupa, Shadiq. Dalam permainan ini, keluarga adalah alat. Mereka bukan pemain, tapi mereka bisa jadi korban."

Shadiq menarik napas dalam. Dia melihat sekeliling. Delapan pria besar, Baron dengan pistol emasnya, Farhank dengan Glock. Tapi dalam kepalanya, dia sudah memetakan setiap gerakan mereka. Yang di belakangnya bernapas berat. Yang di kanan kakinya agak terangkat. Mereka preman, tapi dia petarung.

"Kau ingin peti itu?" tanya Shadiq, tiba-tiba suaranya tenang lagi. "Aku mungkin tahu siapa yang mengambilnya."

Farhank menyipitkan mata. "Siapa?"

"Kita kirim barang kemarin ke vila putih di arah Jawa barat," Shadiq mulai membangun kebohongan dengan detail yang meyakinkan. "Tempatnya ramai, pria berdasi, plat diplomatik. Saat aku turunkan peti terakhir, seorang pria muda mendekat. Tas kulit hitam, kacamata tebal dia menghampiri ku bersama 2 pria bertubuh lebih besar darinya, mungkin bodyguard nya.."

Farhank terdiam. Wajahnya menunjukkan kebingungan asli.

"Dia melirik peti-peti itu sekilas, bertanya: apa sudah selesai, kemudian dia ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi. Dia langsung pergi sebelum ku jawab, lalu di belakangnya muncul beberapa pria berjalan ke arahku juga , dia pergi ke mobil plat diplomatik, aneh jika dia langsung pergi tanpa menunggu jawaban dariku , aneh karena terlihat terganggu dengan kedatangan pria-pria lain , baiknya kamu cek saja kamera vila jika masih tidak percaya."

"Kau biarkan orang asing mengambil peti?!" Baron membentak dari belakang lingkaran.

"aku mengijinkan? apa aku benar-benar terlihat memberikan ijin?. perlukah aku mengulang lagi bercerita?, " Shadiq memainkan kartu korban dengan sempurna. "Katakan padaku jika kau percaya pria dari mobil tersebut"

Udara berubah. Keraguan merayap ke dalam lingkaran besi itu.

Farhank menurunkan pistolnya beberapa sentimeter. Pikirannya bekerja cepat. Persaingan internal? Pengkhianatan? Itu lebih masuk akal daripada seorang buruh kasar mencuri sendirian.

"Deskripsikan pria itu," perintah Farhank.

"Tinggi 170 sepertiku, rambut dicat ubanan, jaket bomber hitam, . Tapi yang paling mencolok ya mobilnya itu." Shadiq menambahkan sentuhan akhir.

Kebohongan itu menggantung di udara, beracun dan meyakinkan.

Farhank memandang Shadiq lama, matanya mencoba menembus ketenangan itu. Tapi Shadiq adalah petarung sejati—dia terbiasa menyembunyikan segala sesuatu: rasa takut, sakit, bahkan niat.

Benih keraguan sudah ditanam. Farhank sekarang menghadapi dua kemungkinan: Shadiq berbohong, atau ada pengkhianat dalam jaringannya sendiri. Dan yang kedua jauh lebih berbahaya.

Farhank mengangguk pelan pada Baron. "Bawa dia. Kita akan verifikasi."

Dua pria besar maju untuk menggenggam lengan Shadiq. Tapi Shadiq mengangkat tangan, tidak melawan.

Shadiq "Tunggu. Aku punya saran."

"Kau dalam posisi untuk memberi saran?" Baron menyeringai.

"Karena aku satu-satunya yang melihat wajahnya," balas Shadiq. "Bawa aku ke vila itu lagi. Aku tunjukkan pria itu. Dan jika kalian punya mata-mata di sana, mungkin kita bisa tahu siapa dia sebenarnya."

Farhank mempertimbangkan. Mata Shadiq tajam, tenang, tanpa rasa bersalah yang biasa terlihat pada pendusta. Dan ide itu masuk akal.

"Baik," akhirnya Farhank berkata. "Tapi kau akan diikat. Dan Baron akan menodongkan pistol ke kepalamu sepanjang jalan."

Kini Shadiq lagi buruh yang terpojok.

Dia adalah petarung yang sedang memancing musuhnya masuk ke dalam ring.

Dan ringnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!