Stella seorang pegawai pajak, tiba-tiba terbangun di sebuah novel berjudul "love Anastasya", dia tak percaya namun sedetik kemudian rasa senang melingkupi hati nya.
akhir nya impian nya masuk ke dunia fiksi bisa terwujud.
Namun kesenangan itu berubah menjadi keresahan ketika mengetahui dia masuk ke tubuh antagonis anak tunggal kaya raya, yang berakhir mengenaskan.
Stella pun mengambil langkah berani, dengan keluar dari alur, dan menjalani kehidupan nya sendiri, namun akan kah semudah itu?.
Apalagi ketika tanpa sadar terlibat dengan antagonis pria, yang paling berkuasa di dunia novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ka nvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
antagonis
Seorang pria mengerjapkan mata nya menatap sekitar ruangan, dia berada di kamar nya, menatap keluar jendela hari sudah malam, entah sudah jam berapa.
Damian menghela nafas mencerna kejadian tadi siang, seperti nya dia tertidur cukup lama, apakah sudah di obati dokter, mengingat ruam ruam merah itu tampak memudar.
Damian bangkit mendudukan diri nya di atas kasur, entah lah tidur kali ini itu rasa nya puas sekali, nyaman.
Damian melirik jam di samping nya 00:29, perut Damian lapar sekali mengingat dari tadi pagi dia tak makan apapun. Dan siang pun hanya makan tiga suap saja. Dengan tubuh yang sudah jauh lebih baik, walau sedikit lemas.
Damian bangkit berdiri berjalan perlahan dia berniat ke dapur mencari cemilan atau makanan apapun, yang jelas dia lapar sekali memakai lift menuju lantai bawah.
Damian sengaja tak menyalakan lampu tak ingin ada yang terbangun, menurut damian itu akan merepotkan, Damian membuka kulkas, banyak sekali cemilan, tapi rasa nya Damian tak berselera.
Hingga seseorang menepuk pundak nya, membuat Damian kaku,siapa di tengah malam seperti ini masih terbangun. atau jangan jangan_
Dengan perlahan Damian membalik kan badan nya, Damian terkejut melihat ternyata Stella, gadis itu.
Stella terbangun karena haus, ternyata persedian air di kamar nya habis, dengan malas Stella menuju lantai bawah, namun melihat tubuh seseorang menghadap kulkas.
Stella meneguk ludah nya kasar, siapa yang malam malam seperti ini berada di dapur, di lampu yang cahaya nya terbatas ini. Namun melihat dari belakang mirip dengan Damian, eh tapi benarkah atau siapa.
Dengan perlahan Stella menepuk pundak orang tersebut, yang seperti nya mendadak kaku, dan ternyata tebakan Stella benar.
"Damian, itu lo kan? "
Damian mengerjap, Stella meneguk ludah nya kasar apalagi bibir lelaki itu pucat, benarkah Damian di hadapan nya ini. Stella hendak pergi, membalik kan badan nya namun entah kesialan seperti apa , Stella menginjak sesuatu yang licin hingga membuat nya hendak terjatuh.
Namun Damian yang melihat itu dengan refleks menarik pinggang Stella, hingga punggung stella menyentuh dada Damian, posisi mereka seperti Damian yang memeluk Stella dari belakang. Dagu Damian menyentuh kepala Stella.
Mereka terdiam kaku, larut mencerna, hingga Stella tersadar dan melepaskan diri, suasana berubah canggung, Damian mendatarkan ekspresi nya, sejujurnya tadi pun dia terkejut.
"Lo_lo ngapain di sini tengah malem lagi!!"ucap Stella.
Bamun Damian tetap diam, Dtella mengendikan bahu nya acuh, dia pun mengisi gelas nya dengan air, dan meneguk nya santai, menatap Damian yang masih melihat kulkas.
Suasana yang hening pun terhenti ketika suara perut Damian berbunyi, karena jarak Stella yang tak jauh dari Damian membuat Stella dapat mendengar nya.
Telinga Damian memerah malu, Stella tersenyum, jadi dia lapar sedari tadi lucu nya. "Lo laper? kenapa ga bilang coba. "
Seru Stella, kasihan juga sih, karena pasti tak ada makanan selain cemilan, karena pelayan pasti sudah menghabiskan nya tadi.
" Mau bubur? kalau mau duduk lah." tanya Stella.
Damian mengernyit, Stella menghela nafas kemudian menyalakan lampu yang berfokus ke kompor, membuat nya hanya terang di bagian memasak saja, bukan lampu seluruh dapur.
Damian perlahan duduk memperhatikan Stella, apa yang akan di lakukan gadis itu, memasak? tapi itu seperti mustahil, Damian selama ini tak pernah melihat Stella memasak, tapi entahlah selama ini Damian tak begitu peduli.
Namun melihat Stella yang begitu cekatan, memasak bubur sejenak Damian kagum, benarkah Stella, damian hanya terdiam mengamati, bagaimana gadis yang selama ini angkuh itu memasak.
Terlihat lebih cantik, dan seperti pesona lain, Damian sibuk dengan pikiran nya, sedangkan Stella sibuk dengan bubur kaldu, dulu di dunia nyata ini resep dari Ibu nya.
Kalau Stella sakit Ibu nya yang akan memasakan ini untuk nya, dan sentuhan terakhir Stella meletakan saledri.
Di rasa siap, Stella membawa satu mangkuk cukup besar ke hadapan Damian, bentuk nya membuat siapapun pasti akan berselera, apalagi harum nya masakan itu membuat perut Damian semakin lapar.
Namun Damian ragu, Stella mengerti itu, "Nakanlah tak ada racun,coba saja kalau tak suka jangan di makan." seru Stella ketus.
Melihat Damian yang masih ragu ragu, Stella menghela nafas, lalu mengambil satu sendok bubur kaldu itu dan memakan nya, " lihat gak ada apa apa. "
"Yaudah kalau lo gak mau." seru Stella hendak mengambil mangkuk bubur itu, namun dengan cepat Damian mengambil sendok bekas stella dan memakan bubur itu.
suapan pertama, Damian melebarkan mata nya, ini ini enak sekali, Stella benar benar membuat bubur se enak itu, Damian yang kelaparan memakan nya tanpa jeda.
Melihat Damian yang makan Stella pun hendak pergi dan membalik kan badan nya, "Terimakasih." ucap Damian.
Stella yang mendengar nya, mengangguk kecil, " hm." seru Stella singkat.
Lalu Stella pun pergi menuju lift ke lantai atas, di sepanjang jalan Stella cemas, dia tak melanggar alur kan, lagian hanya memasak saja itu bukan hal yang spesial kan.
Pusing memikirkan hal itu Stella pun memejamkan mata nya dan tertidur kembali.
...
Pagi hari pun tiba Stella dengan tubuh yang cukup semangat menghampiri meja makan nya di mana kedua orang tua nya sudah menunggu.
"Pagi Mami Papi. "
" Pagi princess."
" Pagi sayang. "
Stella duduk mengambil satu helai roti dan selai blueberry kesukaan nya, memakan nya perlahan.
tak
tak
tak
Suara langkah kaki membuat ketiga orang itu menatap damian yang tergesa gesa hendak pergi.
"Paman, Tante, aku pergi dulu. "
" Tunggu" ujar sang tuan rumah.
"Iya paman? "
" Kenapa terburu buru, duduk lah, sudah lama tak sarapan bersama kami." ucap nya tak ingin di bantah.
"Iya kemarilah Damian sarapan dulu."sang Nyonya pun berucap.
Damian yang merasa tak mungkin menolak pun menuju ke meja makan, dan duduk tepat di hadapan Stella.
Sedikit melirik Stella yang acuh tak acuh, seperti bukan Stella yang tadi malam, ck Damian berharap apa, Stella tadi malam mungkin hanya tak sadar saja.
"Makan lah nak, setelah ini berangkat menggunakan mobil bersama Stella. "
" Tapi Paman ak_"
"Tidak, tidak ada penolakan, cukup selama ini Paman mengalah, kali ini kau harus menurut." ucap Papi Stella pada anak sahabat nya ini.
Selama ini memang Damian menolak semua fasilitas yang di berikan, dia bilang dia terlalu merepotkan, apalagi Stella yang dulu selalu mengejek nya dan menjatuhkan harga diri nya.
Namun hari ini tak ada penolakan dari Stella, yang ada hanya acuh tak acuh, apa Stella setuju dengan ucapan Papi nya, karena dulu kalau tak setuju Stella langsung membantah nya.
...****************...
semnagattt💪😍😍😍