NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Di Antara Janin yang Tumbuh dan Masa Lalu yang Tak Mau Pergi

Pagi itu di rumah kecil mereka, aroma roti bakar hangat bercampur dengan wangi teh jahe, tapi udara terasa jauh lebih bergetar dari biasanya. Larasati duduk di tepi tempat tidur, memegang selembar kertas hasil USG yang masih hangat dari klinik, jemarinya sedikit gemetar. Di sampingnya, Agung berdiri terpaku seperti patung, matanya terpaku pada gambar kecil hitam-putih itu—gambar sebutir janin seukuran biji kacang hijau, yang baru saja mengubah seluruh arah hidup mereka.

“Kita… kita akan jadi orang tua,” gumam Agung akhirnya, suaranya pecah. Ia berlutut di depan Larasati, lalu dengan sangat lembut meletakkan telapak tangannya di perut istrinya yang masih rata, seolah takut gerakan sekecil apa pun akan melukai makhluk kecil di dalam sana. “Maafkan aku kalau aku kaget. Aku cuma… aku tidak pernah membayangkan sebahagia ini rasanya.”

Larasati tertawa sambil menangis, mengusap rambut suaminya yang mulai memutih sedikit di pelipis—bekas lelah enam bulan terakhir memimpin perusahaan. “Aku juga kaget. Seminggu ini aku sering mual, tapi aku kira cuma kecapekan kerja. Tadi pagi Denok yang menyuruhku cek ke klinik.” Ia menunduk, tatapannya melembut penuh cinta. “Kita baru saja mulai menata rumah ini, Agung. Perusahaan juga belum sepenuhnya stabil. Apakah… apakah kita sudah siap?”

Agung mengangkat wajah, matanya berbinar tegas tanpa keraguan sedikit pun. Ia menggenggam kedua tangan Larasati, mencium buku jari istrinya satu per satu. “Kita tidak akan pernah benar-benar siap untuk hal sebesar ini. Tapi aku tahu satu hal: selama kita bersama, kita akan belajar. Aku janji, aku tidak akan pernah membiarkan kamu atau anak kita menghadapi apa pun sendirian. Tidak peduli apa yang terjadi di luar sana, rumah ini, kita tiga—kita akan selalu jadi prioritas utamaku.”

Momen manis itu terputus dering ponsel Aditya yang berbunyi nyaring dari ruang tengah. Saat mereka keluar, wajah paman mereka yang biasanya tenang kini pucat pasi, kertas di tangannya terlipat kuat sampai ujungnya remuk. Di layar televisi yang menyala tanpa suara, berita utama sedang menampilkan foto Aditya muda dari 25 tahun lalu, dengan judul besar yang menusuk: ADIK KANDUNG PEMILIK PERUSAHAAN SARASWATI TERLIBAT KASUS PENGGELAPAN DANA DAN KECELAKAAN BERAT 25 TAHUN LALU—APAKAH KELUARGA INI SELALU MENYEMBUNYIKAN PENJAHAT?

Rama Darmawan akhirnya menyerang dari sisi yang paling menyakitkan.

Ia tidak menyerang perusahaan lewat angka atau kontrak. Ia membongkar masa lalu Aditya yang terkubur rapat, melengkapinya dengan dokumen-dokumen palsu yang terlihat sangat sah: bukti transfer mencurigakan tahun 2001, laporan polisi lama yang dimodifikasi, bahkan kesaksian orang bayaran yang mengaku menjadi saksi mata. Menurut cerita yang Rama sebarkan, Aditya tidak lari 25 tahun lalu hanya karena kesalahan manajemen yang membuat perusahaan rugi. Ia lari karena ia menggelapkan dana besar untuk menutupi utang judi, dan saat ketahuan, ia tanpa sengaja menabrak karyawan tua keluarga yang hendak melaporkannya—karyawan yang kemudian cacat seumur hidup dan menghilang tanpa jejak.

“Semua ini bohong,” suara Aditya parau, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia duduk terkulai di sofa, tampak seperti pria yang baru saja dihancurkan untuk kedua kalinya dalam hidupnya. “Aku memang membuat kesalahan besar. Aku memang merugikan perusahaan karena bodohnya aku percaya pada teman salah. Tapi aku tidak pernah menggelapkan uang untuk judi. Aku tidak pernah menabrak siapa pun. Orang yang mereka sebut… Pak Salim. Dia memang kecelakaan saat itu, tapi itu murni kecelakaan truk pengangkut barang di jalan raya. Aku bahkan mengantarnya ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatannya sampai dia sembuh.”

Tapi bukti yang Rama sebarkan terlalu meyakinkan. Komisaris perusahaan menjerit minta Aditya dipecat secepatnya sebelum citra perusahaan hancur total. Karyawan mulai berbisik lagi. Kerabat jauh yang baru saja kembali bersikap manis kini menjauh, seolah takut ketularan aib. Yang paling menyakitkan bagi Aditya adalah keraguan yang sempat terlintas di mata Ibu Saras—saudara perempuan satu-satunya yang selama ini ia impikan untuk meminta maaf.

“Kamu tidak pernah bilang soal Pak Salim kecelakaan,” suara Ibu Saras pelan, wajahnya pucat. “Selama 25 tahun, kamu tidak pernah menyebut namanya sedikit pun. Kenapa, Aditya? Apa yang kamu sembunyikan lagi dariku?”

Pertanyaan itu seperti pisau yang menembus jantung Aditya. Pria itu bangkit berdiri, matanya kosong. “Aku tahu. Aku tahu aku tidak pantas dipercaya. Aku sudah mengecewakanmu sekali 25 tahun lalu, dan sekarang aku kembali hanya membawa masalah lagi.” Ia mengambil tas kerjanya, langkahnya goyah menuju pintu. “Aku akan pergi. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan. Aku tidak mau lagi menjadi beban buat keluarga ini, seperti yang selalu aku lakukan sejak dulu.”

Sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Larasati menghentikannya.

“Tidak usah pergi, Paman.”

Semua mata tertuju pada Larasati yang berdiri tegak di ambang pintu kamar, satu tangannya masih melindungi perutnya secara tidak sadar, tangan lainnya menggenggam erat kertas berita yang baru saja ia baca. Di sampingnya, Agung melangkah maju berdiri sejajar dengan istrinya, wajahnya tegas sama persis seperti saat ia membela Larasati di depan dewan komisaris dulu.

“Kami percaya padamu,” lanjut Larasati mantap. “Aku membaca laporan polisi yang Rama sebarkan. Ada yang tidak cocok. Nomor plat truk yang disebutkan di laporan itu tidak sesuai dengan catatan armada perusahaan tahun 2001—Bu Wulan menyimpan semua catatan itu dengan rapi di brankas arsip lama. Dan soal bukti transfer… nomor rekening yang tertera baru dibuka tahun 2008. Bagaimana bisa ada transaksi tahun 2001 di rekening yang baru ada tujuh tahun kemudian?”

Agung mengangguk, meletakkan tumpukan dokumen yang baru saja ia cetak dari arsip digital di meja. “Aku sudah telepon teman di kepolisian untuk mengecek laporan asli. Laporan Rama itu palsu. Capnya dimodifikasi. Rama tidak hanya ingin menjatuhkan perusahaan. Dia ingin memecah belah keluarga kita dari dalam, karena dia tahu: selama kita bersatu, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan kita.”

Ibu Saras terisak pelan, lalu melangkah cepat memeluk adiknya erat-erat. “Maafkan aku, Aditya. Maafkan aku sempat meragukanmu lagi. Aku hanya… aku takut kehilangan kamu lagi, takut masa lalu yang menyakitkan itu terulang.”

Aditya membalas pelukan kakaknya, tangannya gemetar memegang punggung wanita itu. “Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti. Semua ini karena kesalahanku dulu yang lari, bukan karena kamu.”

Namun Rama Darmawan tidak berhenti di situ. Tiga hari kemudian, saat Larasati sedang melakukan inspeksi mendadak di gudang penyimpanan kopi perusahaan untuk memastikan kualitas biji yang akan dikirim ke Eropa, kecelakaan aneh terjadi. Rak besi tinggi yang berisi karung-karung kopi tiba-tiba runtuh tepat di arah Larasati berdiri. Hanya karena refleks cepat kepala gudang yang menariknya menjauh, Larasati dan janinnya selamat dari tertimpa beban ratusan kilogram.

Saat Agung tiba di rumah sakit dengan napas terengah-engah, melihat istrinya duduk di perawatan dengan luka lecet di lengan dan wajah pucat, rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidup menghantam dadanya. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Larasati erat-erat, takut kalau ia melepaskan sedikit saja, wanita itu akan hilang.

“Dokter bilang janinnya sehat,” bisik Larasati lembut, mengusap pipi suaminya yang basah oleh air mata. “Aku juga tidak apa-apa. Cuma kaget.”

“Tidak apa-apa? Kamu hampir… kamu hampir…” Agung tidak bisa melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya terasa penuh. Ia menunduk, meletakkan dahinya di atas telapak tangan Larasati yang hangat. “Aku tidak bisa membayangkan kalau sesuatu terjadi padamu atau anak kita. Dunia aku hancur, Laras. Benar-benar hancur.”

Malam itu, setelah Larasati tertidur lelap karena obat penenang dari dokter, Agung berjalan keluar ruangan perawatan. Di sana, Aditya sudah menunggu dengan wajah gelap, membawa hasil pemeriksaan tim keamanan perusahaan.

“Rak itu tidak runtuh dengan sendirinya,” kata Aditya dingin. “Baut pengencangnya dilepas sengaja. Dua karyawan baru yang masuk tiga minggu lalu menghilang hari ini. Rekening mereka masing-masing menerima transfer besar dari rekening cangkang milik Rama Darmawan sehari yang lalu.”

Agung mengangkat wajah, tatapannya yang biasanya lembut kini berubah dingin seperti baja. Selama ini ia selalu berusaha menghadapi Rama dengan cara yang bermartabat, tidak mau turun ke tingkat yang sama. Tapi kali ini Rama sudah melewati batas. Ia sudah mengancam nyawa istri dan anaknya yang belum lahir.

“Dia sudah bermain terlalu jauh,” suara Agung rendah namun menggelegar. “Kita tidak bisa diam lagi. Kali ini kita habisi masalahnya sampai akarnya.”

Rencana mereka disusun diam-diam selama seminggu, dengan bantuan teman lama Aditya di dunia jurnalisme investigasi dan koneksi Ibu Saras di kepolisian. Mereka tidak hanya mengumpulkan bukti bahwa Rama yang merencanakan kecelakaan di gudang dan memalsukan dokumen masa lalu Aditya. Mereka juga menemukan sesuatu yang jauh lebih besar: selama bertahun-tahun, Rama membangun Nusantara Abadi bukan dengan kerja keras, tapi dengan menggelapkan dana investor, mencuri resep produk pesaing, dan memeras petani kecil dengan harga pembelian yang sangat rendah—hal yang selalu dilarang keras oleh prinsip keluarga Saraswati.

Puncaknya terjadi pada rapat umum pemegang saham tahunan perusahaan Saraswati yang dihadiri oleh media, investor, dan bahkan perwakilan asosiasi pengusaha kopi nasional. Rama datang dengan wajah percaya diri, membawa rencana pengambilalihan perusahaan dengan harga murah, mengklaim bahwa keluarga Saraswati sudah tidak layak memimpin karena penuh dengan penjahat dan tidak kompeten.

“Saya tawarkan harga yang pantas untuk perusahaan yang sudah hancur reputasinya ini,” kata Rama sambil tersenyum manis, menatap Agung dan Larasati yang duduk di panggung. “Terima saja sebelum semuanya jadi tidak berharga sama sekali.”

Sebelum ada komisaris yang bisa menyetujuinya, Agung bangkit berdiri. Ia tidak marah. Ia hanya tenang, sangat tenang. “Sebelum bapak-ibu memutuskan, tolong tonton ini dulu.”

Layar besar di belakangnya menyala. Seluruh ruangan terdiam saat rekaman pengakuan dua karyawan bayaran Rama tentang kecelakaan gudang diputar, diikuti bukti dokumen palsu masa lalu Aditya, lalu data lengkap kejahatan bisnis Nusantara Abadi yang sudah dikumpulkan tim mereka selama seminggu. Yang paling mengejutkan semua orang adalah rekaman percakapan tersembunyi di mana Rama dengan bangga berbicara pada anak buahnya bahwa ia akan menghancurkan keluarga Saraswati dengan cara apa pun, bahkan jika harus melukai wanita hamil sekalipun.

Wajah Rama memutih seketika. Senyumnya hilang, digantikan oleh panik yang tidak bisa disembunyikan.

“Rama Darmawan tidak datang ke sini untuk menyelamatkan perusahaan kami,” kata Agung lantang, suaranya terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan. “Dia datang untuk menghancurkan kami demi dendam keluarga yang sudah berlangsung puluhan tahun. Dan dia rela melakukan apa saja—memalsukan bukti, menghancurkan nama baik orang tak bersalah, bahkan mencelakai nyawa wanita hamil—untuk mencapai tujuannya. Perusahaan kami memang belum sempurna. Kami masih belajar. Tapi satu hal yang tidak akan pernah kami korbankan: prinsip bahwa bisnis yang baik harus dibangun di atas kejujuran, bukan kejahatan.”

Saat pertemuan berakhir, Rama ditarik pergi oleh dua orang polisi yang sudah menunggu di pintu keluar. Kasusnya sudah ditangani secara resmi, dan Nusantara Abadi segera berada di bawah pengawasan ketat pihak berwenang. Dendam keluarga Darmawan yang berlangsung tiga generasi akhirnya berakhir juga.

Malam itu, keluarga berkumpul kembali di rumah tua keluarga Saraswati. Tidak ada perayaan mewah. Hanya makan malam sederhana buatan Denok, tawa yang pecah sesekali, dan rasa lega yang memenuhi setiap sudut ruangan. Aditya yang dulu selalu duduk di pojok karena rasa bersalah kini duduk dengan bangga di samping kakaknya, menceritakan pengalaman lucunya selama mengembara ke berbagai daerah.

Setelah makan, Agung mengajak Larasati berjalan pelan ke kebun melati di belakang rumah. Udara malam sejuk menyentuh kulit, dan aroma bunga kesayangan Bu Wulan tercium harum memenuhi udara. Agung berhenti di tengah kebun, lalu berlutut perlahan, meletakkan telinganya dengan sangat lembut di perut Larasati yang masih rata.

“Hai, Nak,” bisiknya pelan, seolah janin di dalam sana bisa mendengar suaranya. “Ini Ayah. Maafkan Ayah dan Ibu kalau dunia di luar kadang terasa menakutkan. Tapi Ayah janji… Ayah akan belajar menjadi pelindung terbaik buat kamu dan Ibu. Kita akan tumbuh bersama-sama, ya? Belajar jadi orang baik, belajar memegang prinsip seperti yang diajarkan Nenek Wulan. Dan apa pun yang terjadi nanti, kita tiga… kita tidak akan pernah berpisah.”

Larasati mengusap air mata yang menetes di pipinya, sambil mengusap lembut rambut suaminya. Ia menatap langit malam yang penuh bintang, dan untuk sesaat ia merasa ada kehangatan yang menyelimuti mereka—seolah Bu Wulan sedang berdiri di antara semak melati, tersenyum melihat cucunya dan menantu kesayangannya yang akan segera menjadi orang tua.

Mereka tidak tahu bahwa meski Rama sudah masuk penjara, masih ada sisa-sisa anak buahnya yang tidak terima kekalahan, bersembunyi di bayang-bayang menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam. Mereka juga tidak tahu bahwa kelahiran anak mereka nanti akan menjadi titik balik terbesar bagi perusahaan keluarga, membawa warisan Bu Wulan ke tingkat yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.

Tapi di malam itu, hal-hal itu tidak penting.

Yang penting adalah tangan Agung yang hangat memegang perut Larasati, detak jantung mereka yang berirama sama, dan janin kecil yang tumbuh sehat di dalam sana—bukti bahwa cinta yang dewasa, kepercayaan yang tak tergoyahkan, dan keluarga yang bersatu selalu bisa mengalahkan badai sebesar apa pun.

Lembar demi lembar baru terus tertulis. Dan kali ini, ada satu nama kecil lagi yang akan segera mengisi setiap barisnya dengan tawa, harapan, dan makna yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!