Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 06. Respect
Keesokan harinya, matahari pagi memancarkan sinarnya dengan cerah, seolah ikut menyambut awal baru dalam kehidupan Acha.
Setelah beristirahat total dan meminum obat dari dokter, kondisi fisik Acha sudah jauh lebih baik. Demamnya telah reda, dan rasa ngilu di persendiannya pun berangsur hilang.
Hari ini adalah hari pertama Acha kembali masuk bekerja setelah sempat absen akibat sakit dan drama panjang bersama Raka. Sesuai janji kepada dirinya sendiri, Acha sama sekali tidak menunggu kabar dari Raka.
Ponselnya dibiarkan tergeletak di atas meja tanpa dia acuhkan, karena dia sudah benar-benar lelah dengan segala kebohongan, alasan apapun, dan kelakuan egois pria tersebut.
Menjelang jam berangkat kerja, Yanto— papahnya Acha—datang dengan motornya menawarkan diri untuk mengantarkan. Tanpa pikir panjang, Acha langsung menyambut baik tawaran tersebut.
"Udah siap, Cha? Yuk, biar papah antar sekalian jalan ke pasar," sapa Yanto ramah saat Acha keluar rumah.
"Siap, pah. Makasih banyak ya, aku jadi ngerepotin papah deh," jawab Acha sambil tersenyum tulus.
Acha naik ke boncengan motor Yanto dengan perasaan yang begitu ringan. Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan pagi yang sibuk, tidak ada lagi bayang-bayang Raka yang menghantui pikirannya.
Raka benar-benar sudah menjadi masa lalu yang tertinggal jauh di belakang, sementara Acha melangkah menatap masa depannya dengan penuh keyakinan dan kedamaian hati.
Sinar matahari pagi menyinari jalanan kota tempat Yanto mengendarai motornya dengan tenang. Di boncengan belakang, Acha duduk dengan perasaan yang jauh lebih lega dan damai.
Bagi Acha, perjalanan pagi ini terasa begitu hangat karena sosok yang berada di depannya bukanlah tetangga atau kerabat biasa, melainkan Yanto—ayah kandungnya sendiri.
Yanto adalah sosok ayah pekerja keras yang selalu siaga melindungi dan mengantar-jemput anak-anaknya di kala susah maupun senang, sangat kontras dengan perangai Raka yang hanya bisa menuntut dan memanfaatkan.
"Udah enakan badan kamu, Nak? Jangan terlalu diforsir kerjanya kalau masih agak pusing," ucap Yanto sambil melirik sekilas ke arah kaca spion, memastikan putri kesayangannya itu duduk dengan nyaman.
Acha tersenyum hangat di balik helmnya, lalu menepuk pelan pundak sang ayah. "Udah sembuh kok, Pah. Acha udah kuat, nggak usah khawatir ya."
Mendengar jawaban itu, Yanto mengangguk lega dan kembali fokus membelah jalanan pagi.
Setibanya di depan Minimarket tempat Acha bekerja, Yanto menepikan motornya dengan rapi. Acha turun dengan gesit, menyalami tangan sang ayah penuh takzim sambil mengucap terima kasih.
"Semangat kerjanya ya, anak Papah. Nanti kalau sudah selesai, kabari Papah biar dijemput lagi," pesan Yanto sebelum memutar balik motornya.
Acha melambaikan tangan dengan senyuman paling cerah. Menatap punggung sang ayah yang berlalu, Acha merasa sangat bersyukur.
Dia memiliki keluarga yang luar biasa tulus mencintainya, membuat keputusannya untuk meninggalkan Raka menjadi hal paling tepat yang pernah dia ambil dalam hidupnya.
Lambaian tangan Acha perlahan turun seiring berlalunya motor sang ayah dari halaman depan minimarket tempatnya bekerja.
Dia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang terasa begitu segar di dadanya. Tidak ada lagi beban berat atau rasa cemas yang menghantuinya. Yang ada hanyalah ketenangan jiwa dan semangat baru yang menggelora.
Dengan langkah pasti, Acha melangkahkan kakinya memasuki minimarket tempatnya bekerja. Suasana minimarket yang sibuk dan deru langkah para pelanggan yang berlalu-lalang sedang memilih barang belanjaannya.
Begitu tiba di ruang kerjanya, rekan-rekan kerjanya langsung menyambutnya dengan hangat, menanyakan kabar dan kesehatannya setelah beberapa hari absen.
"Wah, Acha udah masuk aja ternyata! Gimana, Cha? Udah sehat?" sapa Amina salah satu rekan kerjanya ramah.
"Udah sehat banget, kok Teh. Makasih ya doanya," balas Acha dengan senyuman tulus yang terpancar jelas di wajahnya.
Acha berdiri di depan kasirnya, Acha menyalahkan komputernya dan mulai menampilkan layar seken barcode belanjaan takutnya para pembeli segera menuju kasir.
Setiap ketikan di papan ketik terasa begitu ringan, menandakan lembaran hidup barunya telah resmi dimulai.
Dia tidak lagi menoleh ke belakang, tidak pula melirik ponsel untuk mengecek apakah ada pesan dari Raka. Nomor pria itu sudah dia bisukan, bahkan sebentar lagi bersiap untuk dia blokir selamanya.
Di titik ini, Acha menyadari satu hal yang paling berharga dalam hidupnya adalah kehilangan seseorang yang salah bukanlah sebuah musibah, melainkan cara semesta menyelamatkan kita dari penderitaan yang lebih panjang. Acha telah bangkit, lebih kuat dan jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
Di tengah kesibukan Acha membereskan meja kasir nya yang sudah berdebu, layar ponsel yang tergeletak di samping komputernya tiba-tiba menyala. Sebuah panggilan masuk tertera di sana, dan nama Raka muncul menghiasi layar.
Acha menatap layar tersebut dengan datar. Tidak ada lagi debar jantung ketakutan ataupun rasa penasaran seperti dulu.
Dengan segenap tenang, Acha menggeser ikon hijau untuk mengangkat panggilan tersebut, membiarkan Raka berbicara terlebih dahulu.
"Halo, Cha..." suara Raka terdengar di seberang sana, kali ini bernada jauh lebih lembut dan memelas, sangat kontras dengan bentakannya kemarin.
"Aku... mau minta maaf soal kemarin ya. Aku lagi banyak pikiran banget, makanya emosi."
Acha mendengus pelan di dalam hatinya. Permintaan maaf terlambat itu sama sekali tidak mempan lagi baginya.
"Udah, nggak usah dibahas lagi," jawab Acha dingin.
Merasa suasananya sedikit mencair, Raka lantas melontarkan pertanyaan kepo nya.
"Oh iya, Cha... tadi pas aku lewat depan rumah kamu, kata mamah kamu kamu udah berangkat kerja. Kamu ke Minimarket diantar siapa tadi? Naik ojek online?"
Mendengar pertanyaan itu, kesabaran Acha yang sejak lama menipis akhirnya benar-benar habis. Hubungan mereka kini sudah berada di ambang kehancuran total, dan Acha tahu dia tidak boleh lagi membuang waktu dengan pria manipulatif seperti Raka.
"Kamu enggak perlu tahu aku diantar sama siapa," ujar Acha tegas.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan kalimat yang sudah lama dia simpan di kepalanya.
"Karena, mulai hari ini cukup sampai di sini ya. Kita udahan saja yah Raka. Hubungan kita udah nggak bisa dilanjutin lagi, aku udah capek sama semua sikap dan kebohongan kamu."
Seketika suasana di seberang telepon menjadi hening sejenak sebelum Raka merespons dengan nada panik.
"Hah? Putus?! Jangan gila ya, Cha! Kamu nggak usah ngomong sembarangan cuma gara-gara masalah kemarin!" tolak Raka mentah-mentah, tidak terima dicampakkan begitu saja.
"Aku kan udah minta maaf! Pokoknya aku nggak mau putus!"
Acha menggelengkan kepala pelan, merasa jengah mendengar nada egois yang masih saja mendominasi suara pria itu.
"Terserah kamu mau terima atau enggak, Raka. Aku udah nggak peduli lagi. Keputusan aku udah bulat, dan aku udah capek banget," ucap Acha final.
Tanpa menunggu Raka membalas atau berteriak histeris di ujung sana, Acha langsung menekan tombol merah untuk memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah itu, tanpa ragu sedikit pun, Acha memblokir nomor Raka untuk selamanya. Hatinya kini terasa begitu lapang dan merdeka, siap menatap masa depan yang jauh lebih tenang tanpa bayang-bayang toxic dari Raka.
Layar ponsel Acha kembali gelap setelah dia menekan tombol blokir pada kontak Raka. Tidak ada rasa penyesalan, tidak ada keraguan.
Yang ada hanyalah kelegaan yang teramat sangat, seakan berton-ton beban yang selama ini menghimpit dadanya seketika diangkat tanpa sisa.
Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu kembali menatap layar komputer dengan senyuman kecil di bibirnya. Hari itu, Acha menjalani sisa jam kerjanya dengan produktivitas yang luar biasa.
Pikirannya jernih, hatinya damai, dan setiap pekerjaannya diselesaikan dengan penuh semangat. Energi positif yang terpancar dari dirinya bahkan sempat membuat rekan-rekan kerjanya memuji perubahan auranya yang terlihat jauh lebih ceria dan segar.
Menjelang sore hari, jam kerjanya Minimarket pun usai. Acha merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Saat dia melangkah keluar dari lobi gedung, sebuah motor karisma hitam sudah terparkir rapi di area penjemputan.
Di atasnya, duduk seorang pria paruh baya mengenakan jaket kesayangan—Yanto, sang ayah tercinta, yang datang tepat waktu untuk menjemputnya pulang.
Melihat kedatangan putrinya, Yanto melambaikan tangan sambil tersenyum ramah. Acha langsung mempercepat langkahnya, menghampiri sang ayah dengan perasaan hangat yang membuncah di dadanya.
"Udah selesai kerjanya, Nak? Yuk, kita pulang," sapa Yanto begitu Acha mendekat.
"Udah, Pah!" jawab Acha penuh semangat.
Dia mengenakan helmnya dengan cekatan, lalu naik ke boncengan motor sang ayah.
Saat motor melaju membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu senja, Acha merangkul pinggang ayahnya erat-erat. Dia menengadahkan wajahnya, menikmati semilir angin sore yang menerpa lembut.
Babak kelam dalam hidupnya bersama Raka kini telah resmi ditutup rapat-rapat. Acha melangkah ke masa depan dengan kepala tegak, dikelilingi oleh cinta kasih sejati dari keluarga yang selalu ada untuknya.
Meskipun jarak kosannya Acha dekat dengan tempat jualannya, sang ayah, Yanto, tetap menyempatkan diri untuk mampir dan memastikan putrinya sampai di kosan dengan selamat setelah hari pertama kembalinya Acha bekerja.
Setelah menempuh perjalanan singkat dari kantor, motor Yanto akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kosan Acha yang tampak asri dan tenang. Acha turun dari motor, lalu membuka helmnya dan merapikan rambutnya sebentar sebelum menyapa sang ayah.
"Masuk dulu yuk, Pah? Istirahat sebentar aja sebelum papah pulang ke rumah," ajak Acha ramah sambil membukakan pintu pagar kecil kosannya.
Yanto mematikan mesin motornya, lalu tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Enggak usah, Nak. Papah langsung pulang aja, udah ditunggu Mamah di rumah. Yang penting kamu udah di kosan, ingat jangan kecapean, ya. Kalau butuh apa-apa, tinggal telepon Papah atau Mamah yah."
"Iya, Pah. Makasih banyak ya udah dijemput dan diantar hari ini," balas Acha tulus sambil menyalami tangan ayahnya dengan takzim.
Yanto menepuk pundak putrinya penuh kasih sayang sebelum kembali mengenakan helm dan melajukan motornya meninggalkan area kosan.
Acha menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke dalam kamar kosnya yang rapi dan nyaman. Begitu pintu tertutup rapat, dia merebahkan dirinya sejenak di atas kasur empuknya.
Di tempat inilah, seorang diri namun dikelilingi oleh ketenangan, Acha merasa benar-benar merdeka. Tidak ada lagi teror telepon dari Raka, tidak ada lagi drama melelahkan.
Kamar kos sederhana ini menjadi saksi bisu awal mula kehidupan baru Acha—mandiri, tenang, dan sepenuhnya bahagia.
Di saat Acha tengah menikmati ketenangan di kamar kosnya, sebuah keributan kecil justru terjadi di teras rumah orang tuanya yang berada di rumahnya.
Suara deru motor yang berhenti mendadak di halaman depan membuat Ranti—yang sedang membereskan meja makan—terkejut.
Belum sempat dia melangkah ke pintu, suara ketukan pintu yang digedor tergesa-gesa sudah terdengar nyaring, disusul oleh panggilan penuh kepanikan dari luar.
"Bibi! Om! Tolong buka, ini aku Raka!"
Ranti dan Yanto yang baru saja tiba di rumah saling berpandangan dengan kening berkerut. Dengan rasa heran bercampur jengkel, Yanto lantas membukakan pintu.
Begitu daun pintu terbuka, sosok Raka langsung berdiri di hadapannya dengan napas tersengal-sengal dan rambut yang tampak berantakan, seolah dia baru saja mengebut habis-habisan demi sampai ke rumah itu.
Tanpa diduga, begitu melihat Yanto, Raka langsung nekat melangkah maju dan bersimpuh di lantai teras, memohon-mohon dengan gestur dramatis.
"Om, Tante... tolong saya! Tolong bujuk Acha supaya jangan putusin saya, Om!" rintih Raka dengan suara memelas, mencoba memasang wajah tertindas.
"Acha salah paham sama saya! Saya bener-bener sayang sama Acha, Om. Tolong kasih saya kesempatan lagi!"
Ranti yang menyusul berdiri di belakang suaminya langsung menatap Raka dengan tatapan tajam penuh ketidakpercayaan.
Bukannya merasa iba, kedua orang tua Acha justru merasakan gelombang kejengkelan yang sudah berada di ubun-ubun.
Sikap Raka yang mendadak histeris seperti itu justru semakin memperjelas betapa tidak tahu malunya pemuda tersebut.
Yanto menarik napas panjang, menatap pemuda yang sedang bersimpuh di depannya dengan sorot mata dingin.
Kesabaran Yanto sebagai seorang ayah sudah lama habis melihat bagaimana Raka memperlakukan putrinya selama ini—mulai dari jarang memberi kabar, selalu memanfaatkan kebaikan Acha, hingga terbukti berselingkuh saat Acha jatuh sakit.
"Bangun, Raka. Jangan bikin malu di depan tetangga," ucap Yanto dengan suara tegas dan berat, sama sekali tidak bergeming melihat drama yang disajikan oleh Raka.
"Kamu nggak usah datang ke sini dan memohon-mohon sama kita."
Raka mendongak, wajahnya menyiratkan kepanikan yang nyata. "Tapi Om... Acha nggak mau angkat telepon saya, dia memblokir nomor saya. Cuma Om sama Tante yang bisa ngomong kepada Acha buat pertimbangkan keputusan ini lagi."
Ranti akhirnya angkat bicara, suaranya bergetar menahan amarah yang sudah lama dia pendam.
"Kamu suruh kami bujuk Acha? Asal kamu tahu ya, Raka, kami ini orang tuanya! Selama ini kami diam bukan berarti kami tidak tahu bagaimana kamu memperlakukan anak kami!"
"Kamu selalu datang kalau butuh bantuan, tapi giliran Acha sakit dan butuh kamu, kamu malah jalan sama perempuan lain!" sambung Ranti dengan nada tinggi.
"Kami ini sudah capek, Raka! Capek melihat anak kami kamu jadikan pelampiasan ego kamu, capek melihat kamu tidak punya niat sedikit pun untuk serius membimbing dan menghargai Acha!"
Yanto mengangguk menguatkan perkataan istrinya. Dia menatap Raka tajam dari atas.
"Keputusan Acha sudah bulat, dan kami sebagai orang tuanya seratus persen mendukung apa pun pilihan anak kami. Selama kamu pacaran sama Acha, tidak pernah ada keseriusan yang kamu tunjukkan. Jadi, lebih baik kamu pulang sekarang. Jangan pernah cari-cari Acha lagi."
Mendengar penolakan telak dari kedua orang tua Acha, wajah Raka seketika pucat pasi. Sisa-sisa harga dirinya runtuh seketika.
Sadar bahwa usahanya memohon kepada orang tua Acha gagal total dan tidak ada lagi celah untuk memperbaiki segalanya, Raka perlahan bangkit berdiri dengan langkah lunglai, menanggung malu atas kebodohannya sendiri yang kini berbuah kehancuran total.
Suasana kamar Acha terasa begitu sunyi, menyisakan keheningan di balik pintu yang tertutup rapat.
Tiba-tiba, suara dering panggilan telepon terdengar pelan, latar ponselnya menampik wajah. Fitri, adik perempuan Acha, segera mengangkat panggilan teleponnya dengan wajah menyimpan rasa penasaran sekaligus cemas.
"Teh Acha..." panggil Fitri pelan di sebrang sana.
Acha yang tadinya termenung menatap layar ponsel langsung menoleh. "Loh kenapa, Fit?"
"Tadi... A Raka datang ke rumah," ucap Fitri ragu-ragu, tetapi Acha juga harus tahu kelakuan Raka yang sudah melabrak kerumah.
Mendengar nama itu, napas Acha seolah tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup lebih kencang. "Raka? Dia... ngapain datang ke rumah dek?"
"Tadi A Raka ngobrol serius sama Mamah dan Papah di ruang tamu Teh," lanjut Fitri dengan nada serius.
"Loh tahu gak apa yang A Raka omongan" Ucap Fitri menggantungkan omongannya sehingga membuat Acha penasaran.
"Apaan ah buruan, jangan bikin gue penasaran deh dek" Ucap Acha merasa gereget.
"Dia sampai mohon-mohon, tahu Cha. Sumpah, keliatan banget kalau dia hancur banget. Dia juga minta tolong sama Mamah dan Papah supaya mereka bisa bujuk loh buat balikan lagi. A Raka benar-benar ngemis supaya hubungan kalian nggak usah berakhir."
Acha terdiam membeku. Penjelasan adiknya membuat dadanya mendadak terasa sesak.
Bayangan Raka yang selama ini dikenal memiliki ego tinggi dan keras kepala, mendatangi orang tuanya dan memohon dengan putus asa, membuatnya merasa dihantam rasa bersalah yang teramat dalam.
Meskipun keputusan untuk mengakhiri hubungan itu datang darinya sendiri, kenyataan bahwa Raka sampai berbuat sejauh itu membuat mental Acha langsung jatuh.
Dia merasa bersalah, dilema, dan sangat kebingungan hingga membuatnya drop. Hari-hari berikutnya diisi dengan rasa murung, malas makan, dan terus-menerus merenungi keputusannya.
Melihat kondisi sahabatnya yang mengenaskan, Vika, Amina, dan Tasya langsung turun tangan. Mereka bertiga kompak datang menemui Acha untuk menghibur sekaligus menyeret sahabat mereka keluar dari zona kesedihan.
"Udah, Cha! Jangan diterusin muka melas kayak gitu. Mendingan sekarang kamu bangun, rapi-rapi, terus kita nongkrong deh!" seru Vika sambil menarik tangan Acha pelan dari atas kasur.
Acha hanya menggeleng lemah, menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Aku ngerasa bersalah banget, nih... Pas Fitri bilang kalau Raka sampai mohon-mohon ke orang tua aku buat bujuk aku agar jangan putus, aku jadi mikir, apa keputusan aku terlalu jahat yah?"
Mendengar keluhan itu, Amina langsung merebut bantal dari tangan Acha dan menatapnya tajam tapi penuh sayang.
"Jahat dari hongkong?! Justru bagus kamu putusin dari sekarang sebelum makin toxic, Cha! Cowok model begitu kalau diturutin makin menjadi-jadi."
Tasya yang duduk di sisi sebaliknya ikut mengangguk mantap sambil merangkul pundaknya Acha.
"Udah, deh Teh, nggak usah buang-buang air mata buat cowok yang salah. Lagian ya, Teh, teteh itu cantik, baik, asik lagi. Masih banyak banget cowok di luar sana yang jauh lebih keren dan ngantri buat dapetin teteh!"
"Nah Tasya aja ngerti Cha yang umurnya jauh lebih muda dari kita masa kamu gak paham juga sih!" sambung Vika antusias.
"Raka itu cuma satu dari sekian miliar cowok di dunia. Kalau kamu mau, dalam waktu lima menit juga aku bisa aja carikan pengganti yang jauh lebih baik dari pada dia!"
Mendengar candaan dan pembelaan total dari ketiga sahabatnya itu, bibir Acha akhirnya bergetar membentuk senyuman tipis.
Rasa hangat merayap di dadanya, menyadarkan Acha bahwa dia tidak pernah benar-benar sendirian selama ada Vika, Amina, dan Tasya di sisinya.
Hari-hari setelah penolakan telak dari orang tua Acha menjadi mimpi buruk yang menghancurkan sisa kewarasan Raka. Luka harga diri yang teramat dalam berubah menjadi amarah yang membakar.
Di kamarnya yang remang-remang, Raka menatap tumpukan barang-barang pemberian Acha—mulai dari surat-surat cinta, bingkai foto kebersamaan mereka, hingga hadiah ulang tahun pemberian sang mantan kekasih.
Tanpa ragu, Raka mengumpulkan semua barang kenangan itu ke dalam sebuah wadah logam di balkon belakang. Dengan tangan bergetar menahan amarah, dia menyulutkan korek api.
Kobaran api langsung melahap habis benda-benda tersebut, memantulkan cahaya merah di wajahnya yang kusam dan dipenuhi keputusasaan.
Tidak cukup sampai di situ, Raka mengabadikan momen pembakaran tersebut dalam bentuk video pendek. Dengan pikiran yang dikuasai ego dan rasa sakit di hatinya, dia mengunggah video itu ke akun media sosial pribadinya.
Bersamaan dengan unggahan abu kenangan tersebut, Raka menuliskan takdir panjang berapi-api, menyebarkan narasi bahwa dirinya adalah korban pengkhianatan keji yang dilakukan oleh Acha setelah semua pengorbanan yang telah dia berikan.
Unggahan itu dengan cepat memancing perhatian netizen, teman-teman kampusnya, serta lingkaran pertemanan mereka, mengubah akhir hubungan Acha dan Raka menjadi konsumsi publik yang panas.
Unggahan video pembakaran barang kenangan dan narasi pengkhianatan yang dibuat Raka bagaikan bensin yang disiram ke bara api.
Hanya dalam hitungan jam, video tersebut viral di kalangan anak muda, terutama di lingkungan tempat kerjanya Acha.
Keesokan paginya, suasana ditempat kerjanya Acha mendadak terasa berbeda. Saat Acha berjalan melewati jalanan bersama Vika, Amina, dan Tasya, bisik-bisik tetangga dan tatapan menghakimi langsung tertuju kepadanya.
Beberapa orang tampak terang-terangan melirik layar ponsel mereka, lalu mencuri pandang ke arah Acha sambil berbisik-bisik membicarakan postingan Raka.
"Eh, lihat deh, itu kan pegawai yang kerja di Minimarket didepan ujung jalan kan, yang lagi di omongin sama cowok yang lagi viral itu kan..."
"Parah banget ya, gak nyangka yah padahal keliatan nya sopan dan murah senyum tapi aslinya kayak gitu padahal keliatannya baik banget lho."
"Mungkin cowok nya bucin banget kali tadinya, makanya hancur banget diginiin."
Acha yang awalnya sudah mulai tenang berkat dukungan para sahabatnya, mendadak kembali merasa dunianya runtuh. Wajahnya memucat, tangannya gemetar memegang tali tasnya.
Dia tidak menyangka Raka akan bertindak separah ini—membawa urusan pribadi ke ranah publik dan membalikkan fakta seolah-olah dirinyalah korban yang paling tersakiti.
Melihat situasi yang mulai memanas dan mental Acha yang terancam hancur lagi, Vika, Amina, dan Tasya langsung memasang badan.
Vika menatap tajam sekelompok anak muda yang asyik bergosip hingga mereka buru-buru mengalihkan pandangan.
"Udah, Cha, jangan didengerin omongan orang-orang gak penting itu! Jelas banget si Raka cuma mau caper dan playing victim biar dia dikasihani!" geram Amina dengan nada tinggi, menahan emosi melihat sahabatnya difitnah sedemikian rupa.
Tasya merangkul erat pundak Acha, mencoba menyalurkan ketenangan. "Dia sengaja bikin drama murahan kayak gitu karena gak terima diputusin. Biar anjing menggonggong, kafilah berlalu, teh. Kita bakal temenin teteh kok dalam menghadapi ini semua!"
Melihat Acha yang mulai gemetar dan hampir menangis karena membaca komentar-komentar jahat di media sosial, Vika tidak membuang waktu. Dengan gerakan cepat, dia mengambil ponsel dari tangan Acha.
"Vika, mau ngapain?" tanya Acha dengan suara parau.
Tanpa banyak bicara, Vika langsung membuka aplikasi Instagram dan WhatsApp milik Acha. Dia memblokir semua akun media sosial Raka, lalu menghapus serta memblokir nomor telepon pria itu tanpa sisa.
"Udah, mulai detik ini, nggak ada lagi Raka di dunia maya kamu. Sampah kayak gitu nggak pantas dapat perhatian kamu sedetik pun, Cha," tegas Vika dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Acha tertegun, ponselnya kini bersih dari segala notifikasi yang menyakitkan. Perlahan, sesak di dadanya mulai berkurang.
"Udah ah, nggak usah melow lagi," seru Amina memecah ketegangan.
"Dari pada mikirin cowok yang lagi drama, mending sekarang kita cari yang pasti-pasti aja. Gimana kalau rusuh bikin rusuh di warung seblak Teh Ida aja? Aku lagi pengen banget seblak yang pedesnya nampol!"
Tasya langsung menimpali dengan semangat. "Wah, ide bagus tuh! Kebetulan aku juga laper banget. Seblak Teh Ida, teteh nya Mila, emang paling juara kalau lagi butuh mood booster."
Acha sempat terdiam sejenak, namun melihat raut wajah ketiga sahabatnya yang begitu tulus, dia akhirnya mengangguk pelan.
"Oke, yuk. Aku juga butuh sesuatu yang pedas biar lupa sama semuanya."
Tak lama kemudian, mereka berempat sudah duduk berdesakan di warung sederhana milik Teh Ida. Aroma kencur yang kuat dan kuah merah menggoda dari mangkuk seblak langsung menyambut mereka.
Di bawah tenda warung yang hangat dan penuh gelak tawa, Acha mulai menyuap seblak nya. Pedasnya kuah seblak seolah membakar habis sisa-sisa kesedihannya, sementara celotehan konyol dari Vika, Amina, dan Tasya membuat suasana menjadi sangat hidup.
Untuk saat itu, Raka dan segala dramanya benar-benar terlupakan. Bagi Acha, saat ini hanya ada persahabatan yang hangat dan mangkuk seblak yang menenangkan.
Be to continued