Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Hari-hari pun berlalu. Nayla jarang keluar rumah.
Ia seperti kehilangan semangat hidup; hanya menatap layar TV dengan mata kosong.
Di sisi lain, Tari dan Sasa — sahabatnya sejak SMA — bolak-balik datang membawa energi berlebihan.
“Nay, kok kita yang semangat, lo malah murung gitu sih?” ucap Tari, sambil berkacak pinggang dan mencoba kebaya yang akan dipakai di pernikahan Nayla.
“Males gue,” jawab Nayla datar, pandangannya tak lepas dari TV yang menampilkan sinetron sore.
Sasa ikut menyahut sambil bercermin. “Lo bukan dulu cita-citanya mau nikah sama Reno? Itu Reno udah nepatin janji loh.”
Nayla hanya mendengus. “Ogah.”
Suaranya pelan tapi tegas, seperti orang yang udah capek menjelaskan apa pun.
“Eh lo tuh beruntung, tau! Nikah nggak keluar uang! Lah gue? Nabung aja belum kelar, calon aja belum ada,” celetuk Tari sambil menepuk bahu Nayla.
“Mumet gue... haduh, kesel banget,” desah Nayla sambil menutupi wajah dengan bantal.
“Dia itu pasti masih mikirin si Zevan,” potong Bu Sari dari dapur dengan nada sinis.
“Apa sih, Bu?” Nayla mengerutkan kening, jelas tidak ingin membahas nama itu lagi.
Tari duduk di samping Nayla, menepuk punggungnya lembut. “Lo udah lepas dari dia, Nay. Lo harus bahagia.”
“Tetep aja... empat tahun, Tar. Empat tahun, loh. Gimana gue mau lupain?” ucap Nayla dengan mata berkaca-kaca.
Sasa ikut menimpali, “Tapi kan empat tahun juga lo nggak bahagia, Nay. Lo tuh kayak tahan siksaan tiap hari.”
“Tapi dia... dia tuh baik. Nggak pernah selingkuh, nggak kayak Reno!” Nayla menjerit, suaranya bergetar. Ia mengguling di sofa, seperti anak kecil yang putus asa.
“Ngga kali! Lo tuh salah paham. Kalo nggak salah paham, masa si Reno jomblo tujuh tahun nungguin lo?” ucap Tari cepat.
“Bullshit,” Nayla mendengus, menatap ke arah jendela dengan mata kosong.
“Terserah lo, deh. Emang batu dari dulu,” Tari menyilangkan tangan, jengkel tapi khawatir.
Keesokan harinya, hajatan kecil di rumah Nayla pun digelar. Tamu-tamu datang silih berganti. Tapi Nayla—calon pengantin—masih di kamar, tidak tertarik keluar.
Sore menjelang, Tari dan Sasa berhasil “menarik” Nayla ke mobil untuk berangkat ke hotel.
“Semangaaat anjir!” seru Tari sambil melirik Nayla yang masih rebahan di kasur hotel.
“Males, sumpah. Lemas gue,” keluh Nayla, bibirnya manyun.
“Liat dekor lo yuk, sumpah bagus banget deh,” bujuk Sasa.
“Ogah.”
“Dih, lo tuh ya... mau jadi pengantin apa pasien rumah sakit?!” omel Sasa.
“Kesel, mau kabur gue!” Nayla mengacak rambutnya sendiri frustasi.
“Kabur aja, mumpung belum sah,” ujar Tari santai, menantang sambil tertawa kecil.
“Gue bingung, Tar. Kabur juga mau ke mana? Kerja aja ngga punya,” rengek Nayla, nyaris mau menangis.
Ketukan pelan di pintu menginterupsi keheningan. Tari buru-buru membuka.
“Eh, Ren! Apa kabar?” sapanya.
“Baik. Gue mau liat calon istri gue,” jawab Reno dengan senyum lebar yang sok santai.
“Pergi lo!” Nayla spontan melempar bantal ke arah Reno.
Reno terkekeh, menahan bantal yang melayang. “Ewow Amazing. Jangan marah-marah, sayang. Besok make up kamu jelek loh,” candanya sambil mengedipkan mata.
Nayla memejamkan mata, menarik napas panjang, menahan emosi yang hampir meledak.
Ia bangkit dan melangkah mendekat, menatap Reno tajam.
“Mau di mana?” tanya Nayla dingin.
“Apa-nya hmm?” Reno menaikkan alis, senyum nakal merekah.
“Dipukul!” Nayla berteriak dan langsung meninju perut Reno.
“AAAKH! Sakit, sumpah sakit!” Reno meringis, tapi tetap tersenyum geli.
“Keluar, gue kesel liat muka lo,” bentak Nayla.
“Oke, oke... Tari, Sasa, jagain Nayla ya.
Jangan sampe kabur,” ujar Reno sambil mundur dengan tangan terangkat pura-pura pasrah.
“Ck, lebay,” gumam Nayla sambil kembali rebahan.
Begitu Reno keluar kamar, ia masih sempat mengelus perutnya yang perih. “Kebayang nggak sih, gue bakal jadi samsak tiap hari,” gumamnya sambil jalan di lorong hotel.
Malamnya, suasana mencair. Nayla luluran dibantu Tari dan Sasa. Mereka bercanda, nostalgia masa SMA, hingga Nayla tertawa—tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Keesokan paginya, make up artist datang.
Nayla berubah bak bidadari dengan kebaya putih dan siger Sunda di kepalanya.
“Ganteng banget tuh Reno. Liat deh, Nay,” ucap Tari sambil menggoda.
“Berisik lo,” Nayla menunduk. Siger di kepalanya berat, tapi bukan itu yang terasa berat—melainkan dadanya.
Ketika duduk di samping Reno di pelaminan, Reno melirik dan bergumam pelan, “Deg-degan, aku.”
“Apa sih,” Nayla melirik, tersenyum malu tanpa sadar.
“Cantik banget, istri aku,” ucap Reno lembut sambil memiringkan kepalanya menatap nayla yang menunduk malu.
“Belum sah tau,” Nayla mendelik, tapi rona merah di pipinya tak bisa disembunyikan.
Upacara ijab kabul dimulai. Reno menarik napas panjang, lalu melantunkan beberapa ayat dari Surah Ar-Rahman.
Suasana hening. Hanya suara Reno yang terdengar, dalam dan penuh keyakinan.
Beberapa tamu menunduk, menahan haru—termasuk Nayla.
“Malah bikin gue mewek... udah dandan begini,” gumam Nayla, mengusap ujung matanya pelan.
Akhirnya...
“Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Anindya binti Wisnu dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 100 gram, dibayar tunai.”
“Sah!” seru para saksi bersamaan, disusul tepuk tangan meriah.
Reno tersenyum lebar, Nayla menunduk. Entah kenapa ada rasa lega bercampur takut.
Setelah sesi foto, Reno menggoda, “Senyum dong.”
“Udah ini, udah senyum,” Nayla menggerutu sambil menginjak kaki Reno pelan.
“Aduh sayang, jangan kasar, pengantin baru loh,” Reno menahan tawa.
“Apaan sih!” Nayla nyaris menutup wajahnya karena malu.
Saat salaman, Zevan muncul di antrean. Wajahnya sendu.
“Selamat, Nayla,” ucapnya lirih.
“Jangan bikin gue nangis. Make up gue mahal,” jawab Nayla menahan air mata.
“Tapi aku masih sayang kamu,” Zevan berkata dengan nada parau.
Tamu di belakangnya mulai berbisik. Temannya buru-buru menarik Zevan pergi sebelum membuat keributan.
Nayla mematung, matanya mulai basah.
Rayhan datang, menepuk pundaknya lembut. “Lo kalo ada apa-apa, curhat aja. Gue selalu di pihak lo.”
Nayla hanya mengangguk, lalu Ray memeluknya hangat.
“Hmm... pelukan terakhir nih. Selamat ya, istri orang,” ucap Davin dengan senyum getir.
Nayla tertawa kecil, tapi air matanya jatuh juga.
Pesta berlanjut, semua bersorak saat bunga dilempar.
“Cieee, nyusul!” teriak Tari ketika buket jatuh di tangan Sasa dan Devan.
“Haha iya, OTW!” balas Sasa sambil ngakak.
Nayla hanya duduk di pelaminan, senyumnya tipis, matanya lelah.
Dalam hatinya ia bergumam lirih, “Semoga kali ini reno emang bener-bener baik…”
Bersambung...
Mohon dukungan nya dengan cara.
#Vote
#Like
#Komen
Biar author semangat makasih 🥰