NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin

Satu minggu telah berlalu sejak peristiwa menegangkan di gudang tua itu. Kehidupan di sekolah perlahan-lahan kembali berjalan normal, meski cerita tentang penculikan putri seorang pengusaha kaya sempat menjadi buah bibir yang hangat di kalangan siswa. Namun, berkat kesepakatan yang kubuat dengan Pak Frans Sanjaya, identitasku dan Egi sebagai sosok yang menumbangkan sepuluh penculik tetap tersimpan rapat sebagai rahasia.

Hari Senin ini menjadi hari pertama Clara Adelin resmi kembali menginjakkan kakinya di sekolah setelah menjalani masa pemulihan dan perawatan medis. Namun, ada satu pemandangan baru yang mendadak menyita perhatian seluruh penghuni sekolah.

Penjagaan terhadap Clara kini diperketat secara drastis. Ke mana pun gadis itu melangkah, sesosok pria bertubuh tegap, berambut papak rapi, serta mengenakan setelan jas hitam elegan selalu berjalan dengan jarak dua langkah di belakangnya. Pria itu adalah pengawal pribadi—seorang bodyguard profesional—yang disewa khusus oleh Pak Frans untuk memastikan keselamatan putri tunggalnya.

Clara sebenarnya terlihat sangat risih dan terganggu dengan kehadiran pria tegap itu di sisinya. Dia merasa kebebasannya terkikis dan gerak-geriknya selalu diawasi. Namun, seberapa keras pun dia merajuk, Clara sama sekali tidak bisa melawan perintah mutlak sang ayah yang masih trauma berat atas insiden penyekapan minggu lalu.

Saat Clara baru saja menapakkan kakinya di lorong utama menuju kelas 10, sebuah teriakan nyaring yang teramat heboh mendadak memecahkan suasana pagi yang tenang.

"CLARA SAYANGGG! AKU RINDU BANGET SAMA KAMU, SAYANG!"

Suara melengking milik Diana itu menggelegar dahsyat, menggema dari ujung koridor ke ujung lainnya hingga sanggup didengar oleh hampir seluruh penghuni sekolah. Beberapa guru bahkan sampai menggelengkan kepala dari dalam kantor.

Diana berlari kecil dengan gaya dramatis, mengabaikan tatapan mata pengawal pribadi yang berdiri siaga, lalu langsung menghambur memeluk erat sahabat karibnya itu di tengah jalan.

Clara meringis pelan, mencoba mendorong pelan bahu sahabatnya yang memeluknya terlalu kencang sampai agak sesak. "Apasih, Diana?! Alay banget kamu! Tadi malam kan kita baru saja ketemu dan makan malam bareng. Lagian selama seminggu kemarin kan kamu juga hampir setiap hari menginap di rumahku!"

Diana melepaskan pelukannya, memanyunkan bibirnya dengan raut wajah sok puitis. "Ya beda dong, Ra! Menginap di rumah kamu itu kan urusan rumah, kalau di sekolah kan beda rasanya! Aku benar-benar merindukan Clara Adelin, sahabat cantiku yang paling manja ini!"

Aku yang sedang berdiri di dekat papan pengumuman tak jauh dari lokasi mereka hanya bisa menyaksikan tingkah absurd kedua siswi itu dengan gelengan kepala. Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada rasa lega yang membuncah.

Syukurlah kalau Clara sudah benar-benar pulih, sehat, dan bisa kembali beraktivitas ceria seperti biasa tanpa trauma berarti. Sebenarnya, ada dorongan kecil di hatiku untuk melangkah mendekat dan menanyakan secara langsung bagaimana keadaannya. Namun, kuurungkan niat itu. Posisiku sebagai Ketua OSIS yang kerap bergesekan dengannya akan membuat situasi terasa canggung jika tiba-tiba aku bersikap terlalu perhatian.

Teng... teng... teng...

Lonceng tanda masuk kelas berbunyi nyaring, menghentikan drama heboh di koridor. Seluruh siswa berhamburan masuk ke ruangan masing-masing untuk memulai pelajaran.

Hari itu berjalan lumayan padat. Hingga tanpa terasa, bel panjang tanda istirahat pertama kembali bergema di udara.

Perutku yang mulai menyuarakan rasa lapar membimbing langkahku menuju kantin sekolah yang sudah ramai dipadati siswa-siswi yang mengantre makanan.

Aku memesan sepiring nasi goreng dan es teh manis, lalu mengambil tempat duduk di salah satu meja kayu sudut yang agak teduh. Tak berapa lama kemudian, dari arah pintu masuk kantin, rombongan Clara dan Diana melangkah masuk.

Seperti biasa, sang bodyguard setia mengikutinya dari belakang dengan pandangan mata yang tajam menyapu setiap sudut ruangan, memastikan lingkungan sekitar benar-benar aman bagi sang nona muda.

Kedatangan Clara langsung menjadi pusat perhatian. Saat Clara dan Diana baru saja duduk di salah satu meja bagian tengah membawa mangkuk bakso mereka, seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi dengan gaya rambut sok keren melangkah mendekati meja mereka. Namanya Juan—seorang siswa kelas 11 yang terkenal sebagai penggoda ulung di sekolah dan memang sudah lama mengincar kesempatan untuk mendekati Clara.

"Hai, Clara..." sapa Juan dengan nada suara yang dibuat-saling melembut dan senyum tebar pesona.

Clara sama sekali tidak menoleh. Dia sibuk mengaduk sambal di dalam mangkuk baksonya dengan wajah datar tanpa minat.

Merasa sapaannya diabaikan, Juan tidak menyerah begitu saja. Dia mengikis jarak, mengumbar gombalan murahannya.

"Kamu sudah sehat ya, Ra? Tahu enggak, sekolah ini terasa sepi banget loh kalau enggak ada kamu seminggu kemarin. Serasa ada yang hilang dari hari-hariku."

Juan tertawa kecil, merasa gombalannya cukup berhasil. Dia melangkah makin dekat, berniat mendaratkan tangannya di sandaran kursi Clara. Namun, sebelum ujung jarinya sempat menyentuh kursi tersebut, sebuah bayangan tegap bertubuh tinggi besar mendadak memotong jalurnya secara instan.

Pak Jhon—sang pengawal pribadi—berdiri kokoh bak benteng batu di antara Juan dan Clara. Tatapan matanya dingin, menatap lurus ke arah mata Juan.

"Aduh, Dek... Lebih baik Anda pergi sekarang," ujar Pak Jhon dengan nada bicara yang sangat halus, sopan, namun memancarkan aura intimidasi yang amat menakutkan.

"Sepertinya Nona kami sama sekali tidak menyukai kehadiran Anda di sini."

Diputus aksesnya secara mendadak membuat Juan merasa harga dirinya jatuh di depan banyak siswa yang menonton dari kejauhan. Dia mencoba bersikap tangguh dan tetap ngotot untuk mendekati Clara.

"Bisa minggir enggak, Pak?! Saya cuma mau ngobrol sebentar sama Clara! Saya ini teman sekolahnya, bukan penjahat!" protes Juan dengan nada agak nyolot.

Mendengar perdebatan bising yang mengganggu selera makan siang barunya, Clara menghentikan sendoknya. Dia mendongak sedikit tanpa memutar kepalanya sepenuhnya, lalu bersuara dengan nada dingin.

"Pak Jhon..." panggil Clara dengan sangat sopan.

Pak Jhon langsung memutar sedikit badannya, menundukkan kepala dengan sigap. "Iya, Nona?"

"Tolong singkirkan lalat bising ini dari depan saya. Saya mau makan dengan tenang," perintah Clara dengan nada suara yang sangat datar, tegas, dan dingin tanpa beban.

"Siap, Nona!" balas Pak Jhon cepat tanpa ragu sedikit pun.

Tanpa memperdulikan protes atau tatapan terkejut dari orang-orang di sekitar kantin, Pak Jhon bergerak cepat.

Dengan satu cengkeraman tangannya yang kuat pada kerah baju belakang Juan, pria tegap itu langsung menarik tubuh Juan ke belakang lalu mendorongnya menjauh hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang.

"Woii! Apa-apaan sih, Pak?!" umpat Juan dengan wajah merah padam karena malu menjadi tontonan satu kantin.

Namun melihat postur tubuh Pak Jhon yang siap mengambil tindakan lebih keras, keberanian Juan ciut seketika. Dia akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kantin dengan gerutuan kesal.

Aku yang duduk tak jauh dari lokasi kejadian menyaksikan seluruh pemandangan itu dari mejaku. Melihat betapa cepat dan teganya Clara menyuruh pengawalnya mengusir pemuda yang mencoba menggodanya, sudut bibirku tanpa sadar terangkat. Aku tersenyum tipis, merasa terhibur dengan aksi ketus sang nona muda, lalu kembali menyendok nasi gorengku.

Namun, indra penglihatan Clara rupanya sangat tajam. Tepat saat aku sedang menikmati suapan nasi gorengku, pandangan mata Clara yang sinis mendadak tertuju lurus ke arah mejaku.

"Apa senyum-senyum, Kak Ketos jahat?!" sahut Clara keras dari meja makan cantiknya, memicingkan mata dengan raut wajah penuh kekesalan yang mendadak terarah padaku.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!