Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab -7
Setelah peristiwa di danau, suasana di antara mereka berubah.
Bukan sesuatu yang besar, tetapi Selena bisa merasakan tatapan Hattusili yang berbeda.
Lebih sering dari biasanya, pemuda itu mencuri pandang. Namun, setiap kali Selena menangkap basah tatapan itu, dia akan langsung berpaling, seolah tidak terjadi apa-apa.
Lucu.
Dia masih bocah.
Namun, bocah ini adalah seorang pangeran dengan ambisi yang lebih besar daripada usianya.
Mereka berjalan beriringan di jalan setapak menuju ibu kota. Langit semakin gelap, dan aroma dedaunan basah mulai terasa di udara.
“Kau berjalan terlalu cepat,” gumam Selena, setengah mengeluh.
Hattusili tidak menjawab, tetapi langkahnya melambat sedikit.
Selena tersenyum kecil.
“Kenapa kau diam saja?” tanyanya lagi, nada suaranya ringan.
“Aku hanya berpikir,” jawabnya akhirnya.
“Hm? Tentang apa?”
Pangeran itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Tentang apa yang terjadi tadi.”
Selena mengangkat alisnya, pura-pura tidak mengerti. “Yang mana?”
Tatapan Hattusili berubah tajam. “Kau tahu maksudku.”
“Ah.” Selena tersenyum tipis. “Ciuman itu?”
Pemuda itu berhenti melangkah.
Selena juga ikut berhenti, menatapnya dengan ekspresi santai.
Hattusili menatapnya beberapa saat sebelum berkata, “Apa kau selalu mempermainkan orang lain seperti ini?”
Nada suaranya tidak terdengar marah.
Hanya... penuh rasa ingin tahu.
Selena menghela napas pelan. “Mempermainkan?” Dia menyentuh dagunya dengan jari telunjuk, berpikir sejenak. “Aku tidak merasa melakukan itu.”
Hattusili masih menatapnya.
“Kalau kau merasa diperdaya, itu bukan salahku.” Selena mengangkat bahu. “Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan.”
Pangeran muda itu tidak langsung menjawab. Tatapan matanya tetap fokus pada Selena, mencoba membaca pikirannya.
Lalu, tiba-tiba, dia tersenyum kecil.
Senyum yang berbeda.
Bukan senyum malu-malu, tetapi senyum yang seolah menyiratkan sesuatu.
“Baiklah,” katanya. “Kalau begitu, aku juga akan melakukan apa yang aku inginkan.”
Sebelum Selena bisa bertanya apa maksudnya, pangeran itu melangkah mendekat.
Gerakan yang cepat dan tiba-tiba.
Selena merasakan jarak di antara mereka menghilang dalam sekejap.
Dan detik berikutnya, sebelum dia sempat bereaksi—
Pangeran muda itu menciumnya kembali.
Bukan ciuman yang gugup atau ragu.
Melainkan ciuman yang dilakukan dengan penuh tekad.
Selena membelalakkan mata, terkejut sesaat.
Namun, dia tidak mendorongnya.
Hanya membiarkan Hattusili melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Ketika pangeran itu akhirnya melepaskannya, matanya menatap lurus ke dalam mata Selena.
“Kau benar,” katanya pelan. “Kalau kau bisa melakukan sesukamu, aku juga bisa.”
Selena menatapnya, menganalisis reaksi dirinya sendiri.
Lalu, perlahan, bibirnya melengkung dalam senyum penuh arti.
“Baiklah,” katanya, suaranya terdengar seperti bisikan.
“Kalau begitu, ayo kita lihat siapa yang akan kalah lebih dulu.”
Hattusili tidak menghindari tatapan itu.
Dan dalam keheningan malam yang mulai menyelimuti mereka, keduanya tahu—
Permainan baru saja dimulai.
Setelah malam itu, hubungan Selena dan Hattusili berubah.
Tidak ada kata yang benar-benar mengonfirmasi bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Namun, tatapan yang lebih lama, sentuhan yang tidak disengaja, dan kebersamaan yang terasa lebih nyaman dari sebelumnya membuat semuanya jelas.
Pangeran muda itu tidak lagi hanya mengamati dari jauh.
Dia menjadi lebih berani, lebih dekat.
Hattusili kadang menggenggam jemarinya tanpa berkata apa-apa. Saat mereka duduk di bawah pohon, dia dengan santai menyandarkan kepalanya di bahu Selena, seolah itu adalah hal paling alami di dunia.
Dan Selena?
Dia tidak menolaknya.
Terkadang, dia malah menantang dengan menggoda, membuat pangeran itu merona dengan kata-kata atau sikapnya. Namun, semakin lama, semakin dia merasa nyaman dengan kehadiran pemuda itu.
Tapi…
Hidup Selena tidak berakar di sini.
Malam itu, dia berjalan-jalan di sekitar ibu kota, menyusuri gang-gang kecil yang diterangi cahaya obor.
Angin dingin menerpa pipinya saat dia melewati sebuah kedai kecil, tempat beberapa orang duduk berbicara dengan nada penuh semangat.
Awalnya, dia tidak tertarik.
Namun, satu kata yang mereka ucapkan membuat langkahnya terhenti.
"Mesir."
Mata Selena menyipit.
Dia melangkah lebih dekat, menyembunyikan dirinya di balik pilar batu.
Para pedagang itu berbicara tentang perjalanan mereka ke negeri jauh di selatan, tentang sungai besar yang membelah tanah kaya itu, tentang kuil-kuil megah yang dibangun oleh para Firaun, dan tentang seorang pemuda yang perlahan mulai naik ke tampuk kekuasaan.
"Putra Firaun sudah semakin kuat," kata salah satu dari mereka. "Mungkin dalam beberapa tahun, dia akan menjadi penguasa berikutnya."
Selena mendengarkan dalam diam, pikirannya mulai berputar.
Mesir…
Entah kenapa, hatinya tergerak saat mendengar nama itu.
Seakan sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk pergi ke sana.
Dan dia tahu…
Jika dia memberi tahu Hattusili, pemuda itu tidak akan membiarkannya pergi.
Maka, pada malam yang sama, Selena mengambil keputusan.
Dia kembali ke rumah nya mengemasi barang-barangnya dengan cepat. Hanya beberapa pakaian sederhana, beberapa keping emas yang dia peroleh dari hasil ‘menipu’ beberapa bangsawan, dan belati kecil yang selalu dia bawa.
Tidak ada pesan yang ditinggalkan.
Tidak ada kata perpisahan.
Ketika malam semakin larut dan seluruh istana tenggelam dalam keheningan, Selena menyelinap keluar.
Dia berjalan melewati gerbang belakang, menuju tempat di mana para pedagang Mesir tadi berada.
Dan ketika fajar pertama muncul di cakrawala, Selena sudah berada di atas kapal yang perlahan berlayar menjauh dari tanah yang selama ini ia tinggali.
Tanpa menoleh ke belakang.
Tanpa mengetahui…
Bahwa saat Hattusili bangun keesokan harinya dan mengunjungi Nesharra,dia akan menemukan kamarnya kosong.
Dan pangeran muda itu akan segera menyadari bahwa orang yang ia cintai telah pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.