Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
"Dia seperti itu karena kamu tidak mau membantu mendekatkannya dengan Rayden" Irena mengucapkannya dengan sedikit kesal karena suaminya sendiri yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah dari Savira tidak bisa membantu untuk mewujudkan cinta putrinya pada Rayden Moviek, anak dari sepupu langsung Dwi.
Dwi langsung membalikkan dirinya menghadap Irena yang masih duduk disisi ranjang kemudian berkata "Kenapa tidak kamu saja yang berusaha mendekatkan keduanya."
Perkataan Dwi membuat Irena bungkam. Namun keterdiaman wanita itu tidak menyurutkan amarah dari dalam dirinya. Selalu dituding sebagai penyebab Savira memiliki banyak kekasih membuat Dwi menjadi jengah.
Hingga Dwi mengeluarkan semua yang dipendam selama ini "Bukankah kamu dekat dengan Nyonya Ryinda Moviek dan semua keinginanmu selalu dipenuhi olehnya seharusnya dengan begitu kamu mudah mewujudkan keinginan putrimu!
"Lagipula jika nanti Nyonya Ryianda menyetujui keinginan konyolmu dan Savira aku yakin Rayden pasti akan menolak. Kamu sendiri lihatkan bagaimana sikap Rayden pada Safira, dia bahkan terlihat terganggu saat putrimu selalu berusaha menempelinya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Irena tidak menerima semua perkataan yang dilontarkan Dwi. Itu menunjukkan seakan-akan Safira terlalu terobsesi pada Rayden. " Rayden sangat baik memperlakukan Savira, aku yakin dia tidak akan keberatan jika kita menjodohkan keduanya"
"Ingatlah Rayden itu masih punya hubungan kekerabatan yang dekat dengan keluarga kita. Dia pasti menganggap Savira sebagai adiknya sendiri. Dia memang memperlakukan Savira dengan baik tapi perlakuannya itu sama saat dia memperlakukan orang-orang disekitarnya. Tidak ada yang istimewa"
"Apa kamu tidak ingin Savira mendapatkan pasangan yang seperti Rayden?"
"Astagaa. Ayolah Irena jangan terlalu memaksakan keinginanmu cukup aku yang menjadi korban kekeraskepalaanmu itu"
Setelah mengatakannya Dwi dengan cepat bangun dari tempat tidur. Rasa jengah terlihat jelas diwajahnya saat mereka membahas keinginan istri dan putrinya yang menurutnya terlalu dipaksakan.
"Apa maksudmu?"
Raut wajah Irena seketika berubah. Pernikahan mereka memang karena keterpaksaan. Dwi yang saat itu sangat mencintai dan sudah beristri Tiana Dewi serta memiliki seorang putri terpaksa menikahinya karena kesalahan satu malam hingga melahirkan Savira.
Ryinda sebagai Ibu dari Dwi awalnya menolak namun karena bujuk rayu Irena yang berjanji akan melahirkan cucu laki-laki sebagai penerus keluarga Cahya membuatnya berhasil mendapatkan restu. Ditambah lagi keadaan kandungan Tiana yang tidak bagus setelah melahirkan Mutiara menambah jajaran pertimbangan oleh Ryinda.
Dwi pun menyetujui pernikahan itu dengan syarat pernikahan mereka tetap dirahasiakan. Namun ketidakpuasan Irena sebagai istri yang disembunyikan melahirkan malapetaka di dalam keluarga harmonis Dwi dan Tiana.
Terlepas dari ingatan masa lalu, Irena menyadari jika suaminya sudah beranjak dan segera menuju pintu untuk keluar "Dwi mau kemana kamu? aku belum selesai bicara" Irena berkata setengah berteriak.
"Tidur dikamar lain. Aku butuh istirahat agar besok bisa bekerja untuk penuhi semua keinginan kalian semua"
Dwi keluar dari kamar dengan sedikit membanting pintu karena kesal.
Kecerobohan dan kebodohan dimasa lalu membuatnya kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Bahkan karena cinta yang begitu besar Dwi mengikuti apapun keinginan Tiana tanpa menyadari bahwa dia tidak akan lagi melihat Tiana tersenyum karena rasa kecewa.
Dulu dia terus mengutuk dirinya sendiri bahkan dia merasa malu jika berhadapan dengan Mutiara, putri semata wayang buah cintanya dengan Tiana.
Dwi berusaha mengubur kerinduannya untuk bertemu langsung dengan Mutiara, dia hanya bisa melihat dan menjaganya dari jauh.
Meski banyak hal terlewatkan dari pengawasannya namun mengetahui Mutiara tumbuh dengan baik dibawah asuhan mertuanya membuat perasaannya lega. Namun belum lama ini satu fakta membuatnya kembali gelisah.
Mutiara yang sebentar lagi menginjak usia 29 tahun belum juga menunjukkan kalau dirinya memiliki kekasih yang akan menjadi suaminya kelak.
Jadi Dwi ingin mencoba untuk mengenalkan Mutiara dengan anak salah satu kolega yang dikenalnya dengan baik.
"Tiana, aku akan mencarikan pasangan terbaik untuk putri kita"
.
Pagi dirumah Eyang Murti.
Terlihat Salana dengan wajah ditekuk dengan tangan berkacak dipinggang berdiri didepan pintu kamar eyang Murti.
Tadi pagi-pagi sekali Salana ke kamar Mutiara namun dia tidak mendapatkan penghuninya dalam kamar. Setelah bertanya dengan Asisten rumah tangga yang tinggal di rumah belakang, Salana mendapatkan informasi kalau Mutiara berada dikamar eyang Murti sejak semalam.
Perlahan pintu kamar terbuka memperlihatkan dua wanita beda generasi. Tampak Mutiara menggandeng Eyang Murti.
"Tega sekali" Salana berkata dengan wajah dibuat menyedihkan dan itu mengundang tawa Eyang. Eyang yang memahami rajukkan Salana memanggil Salana untuk mengandengnya disebelah kanan.
"Sayangnya eyang, kemarilah"
Salana terlihat senang dan segera menggandeng Eyang murti sambil berjalan menuju meja makan untuk sarapan.
"Kenapa tidak mengajak Salana juga?" Tanya Salana pura-pura merajuk.
"Aku juga mendadak diajak Eyang untuk tidur dikamarnya" Jelas Mutiara singkat mengikuti drama Salana.
"Sebentar malam tidurlah dengan Eyang juga" Eyang Murti segera mengajak Salana agar gadis itu merasa senang.
"Benarkah?" Sahut Salana dengan wajah berbinar.
"Tentu saja, Eyang merasa bahagia jika kita semua berkumpul seperti ini sebelum kalian menikah"
Mendengar kata menikah yang keluar dari Eyang membuat Mutiara dan Salana saling tatap, mengisyaratkan mereka harus siap mendengarkan ceramah dadakan dari Eyang Murti. Keduanya kompak menghembuskan nafas pelan.
Semua sudah duduk ditempat masing-masing namun belum ada yang memulai sarapan karena Eyang Murti yang masih ingin membahas sesuatu.
"Ngomong-ngomong soal menikah, bagaimana hubunganmu dengan Darwis?"
"Jalan ditempat Eyang" Jawab Salana pelan.
"Usiamu sudah melewati kepala tiga, kamu juga sudah menjalin hubungan dengannya lebih dari tiga tahun. Tanya kekasihmu itu kapan mau mengajukan lamaran. Kalau dia masih belum ada keinginan kesana itu berarti dia tidak serius denganmu. Dia hanya ingin bermain-main sebelum dia mendapatkan wanita yang tepat untuk dia nikahi. putuskan saja nanti Eyang yang akan mencarikan calon suami yang baik untukmu." Eyang murti menasehati Salana agar tidak terlalu lama membiarkan status mereka yang tidak kunjung ke arah yang lebih serius padahal keduanya sudah memiliki karir yang bagus.
"Mengerti?" Tanya Eyang Murti yang menginginkan yang terbaik buat cucu mendiang sahabat sekaligus orang kepercayaannya.
"Mengerti Eyang, Salana akan bertanya padanya secepatnya" Jawab Salana pelan.
"Dan ingat satu hal" ucap Eyang Murti yang seperti tidak pernah bosan memberi nasehat dan mengarahkan semua cucunya agar mereka bisa mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan mereka.
" Jangan terlalu memberikan seluruh hati kalian pada laki-laki. Cinta boleh bodoh jangan"
"Jadi saat laki-laki itu memutuskan untuk pergi, kalian tidak akan merasakan kecewa teralu dalam. kalian bisa segera bangkit dan menjalani hidup kalian sendiri. Nikmati hidup selagi kalian bisa melakukannya."
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/