Berantai kejadian yg diyakini sebuah kutukan, dari buyutnya. akhirnya terpecahkan . Karena sebuah dendam , hingga anak turun temurun nya mati karena serangan ilmu hitam.
Karena kakek buyutnya yang Bernama Gajah Wereng , menjadikan anak dan cucu cucunya mati dengan dada yg memar menghitam.
Hingga kelahiran Ayunda , yg dipercaya sebagai penakluk dari musuh bebuyutan dari Gajah Wereng.
karena ternyata sang Mertua Gajah Wereng adalah Pertapa yg mempunya Pedang Langit Kembar , penghuni taman langit.
Ikutilah perjalanan Ayunda , dari hal yg receh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si ciprut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eyang Tunggul Amukti ( Raden Mas Kragilan Tunggul Amukti )
Kembali ke tempat Ratmono Eko Purwadi di saung kecil , ditengah tengah taman yg begitu indah dan asri.
Hingga malam ia belum juga bertemu dengan Eyang Tunggul Amukti sesuai titah Nyai Kadarsih tadi.
Sosok yg disampingnya terlihat mengerutkan wajahnya , seakan melihat sesuatu.
Dari arah depan muncul dua ekor harimau putih , besar dan tampak gagah , tidak mengaum namun tampak waspada. Berjalan pelan menuju ke tempat itu.
Sosok itu terlihat ketakutan dan memeluk Pak Ratmono.
Pak Ratmono hanya tersenyum sambil melihat tingkah dari sosok disampingnya itu.
Harimau semakin dekat , dan duduk didekat mereka berdua.
Diantara kedua harimau putih itu , tiba tiba muncul asap putih dan berubah menjadi sosok seorang kakek kakek , dan mulai tersenyum.
" Nuwun Sewu , Kulo nuwun eyang Tunggul Amukti...." sapa dari pak Ratmono kepada sosok didepannya yg tak lain adalah Eyang Tunggul Amukti.
" ngger....kedatanganmu sudah saya tunggu , ada beberapa hal yg saya minta untuk sliramu selesaikan , karena ini sudah melenceng dari yg diharapkan terjadi...." kata Eyang Tunggul
" Kejadian sudah berbanding terbalik , karena ada pihak lain yg telah ikut campur..." lanjutnya
" Tapi tidak mengapa , ini akan menjadi kekuatan baru untuk cucu cucuku dikemudian hari ..." kata Eyang Tunggul
" Ngger disebelah mu itu sebenarnya adalah cucu menantuku , ia mengalami kejadian yg kamu temui tadi , sementara istrinya berada di rumah adikmu di bawah sana..."
" yg saya katakan berbanding terbalik adalah , seharusnya cucu akan meninggal ditempat , ketika pukulan ajian kawah Ireng mengenai tubuhnya , namun Anak yg dikandungnya telah melindungi kedua orang tuanya dan mengenai suaminya , hanya cucu menantuku saat ini harus memulihkan tenaga dan mengingat jati dirinya terlebih dahulu nanti biarkan saya yg akan turun tangan... "
" apabila saya paksakan maka akan berakibat fatal dan tidak bisa tertolong lagi , maka dari itu istrinya harus segara di obati untuk selalu berada disampingnya dan dia yg mampu menyembuhkannya...." kata Eyang
" sendiko dawuh eyang..." jawab Pak Ratmono
" anak itu walaupun masih didalam kandungan , tapi sudah memiliki energi yg sangat kuat , bahkan mampu menggetarkan tempat ini... " kata eyang
" Ajaklah cucu menantuku ini ketempat istrinya , saya yakin cucuku akan paham hal ini , walaupun ia tidak ingat apa apa setidaknya sebagai penunjuk untuk ingatannya itu ..." lanjutnya
" Raganya yg ada dirumah sakit , sebaiknya bawalah ke tempat adikmu itu , aku akan melindungi, dan tempat itu yg paling aman karena saya sudah memberinya pagar , agar tidak ada yg mengganggu terutama yg tidak tampak mata... "
" Serta kedua penjagaku ini akan turut serta untuk menjaganya disana "
Eyang sambil menunjukan dua harimau putih disamping kiri kanannya. Tampak Harimau itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
( eh...harimaunya bisa paham omongan orang yak )
" sebelum kesana , petik lah bunga mawar di sebelah sana "
Sambil menunjukan tempat dimana untuk memetik bunga mawar itu. Taman dengan berbagai bunga warna warni disitu.
" ambilah tiap warna mawar satu tangkai dan bawa untuk mandi cucuku " lanjutnya
" itu untuk pemulihan tenaganya yg hampir terkuras karena bayi yg didalam kandungan melakukan perlawanan waktu itu "
Kemudian Eyang memandang Sosok disebelah Pak Ratmono dan berkata
" Ngger Cucuku , nama kamu adalah Rian Pradika , kamu suami dari cucuku Raisha , untuk itu ikutlah orang ini agar kamu bisa mengingat siapa dirimu , perlahan lahan tidak usah dipaksa ...." Eyang berbicara pada sosok yg bernama Rian Pradita tersebut.
" i...iya eyang..." jawab Rian
Kemudian Eyang merenung mencoba mengingat ingat kembali tentang kejadian yg telah berlalu.
" hah...ini mungkin akhir dari kutukan yg Romo ( ayah ) terima , sehingga selalu saja keturunannya yg mengalaminya , saya dulu juga mendapatkan karma ini , tapi eyang Wanara , Ayahanda dari ibuku atau kakekku tidak bisa berbuat lebih karena ini semacam kutukan ..." kata Eyang Tunggul Amukti
( Lho ada lagi Eyang Wanara , siapa lagi itu...? )
" Baiklah ngger , segeralah kalian kembali , ambilah apa yg saya perintahkan tadi...saya harap semuanya bisa terlewati..." lanjutnya
" Baik eyang ...saya permisi dahulu " kata Pak Ratmono
Kemudian pak Ratmono berdiri dan melangkah menuju taman untuk mengambil bunga 7 warna , diikuti ole Rian , yg masih menciut nyalinya ketika melewati 2 ekor harimau putih dan besar itu.
Setelah sampai ia mengambil 7 tangkai mawar yg berbeda warna itu kemudian dibawa menuju gerbang Kayubiru.
Berjalan di kegelapan malam , Rian yg disampingnya masih diam , selain bingung dan masih banyak yg berkecamuk dalam pikirannya , ia hanya mengikuti setiap langkah Pak Ratmono, hingga sampai kembali Motor bututnya yg ditaruh agak jauh dari gerbang . Gerbang yg semula terlihat berdiri kokoh , sekarang sudah berangsur angsur menjadi hutan seperti sediakala , seakan tidak ada perubahan di tempat itu...
Karena hari sudah menjelang pagi , ia menuntun kendaraannya keluar dari hutan itu.
Hingga tampak jalan setapak menuju ke pedesaan Wringin Biru.
Entah mengapa dulunya desa tersebut di beri nama Wringin Biru, cerita simpang siur yg tergerus perkembangan jaman saat ini.
Saat ini adzan subuh berkumandang ditempat itu. Pak Ratmono berhenti sejenak di area ladang dan menuju sebuah gubuk petani disitu. Ia mencari mata air yg dekat situ untuk wudhu dan sholat subuh terlebih dahulu.
Ya disitu dekat mata air sungai Progo yg mengalir hingga laut selatan .
Sementara Rian hanya mengamati semua yg dilakukan pak Ratmono , serta memandang sekelilingnya.
Merasa asing dan belum pernah melihat semua yg ada disekitar itu.
Didepannya tampak sebuah gunung menjulang , namun dibelakangnya juga sebuah gunung . Tak terasa hingga pagi menjelang .
" ayo kita berangkat lagi , motorku bensinnya habis , terpaksa jalan kaki kita , he he he...." kata pak Ratmono
" iya Ki...." kata Rian
Mereka kemudian berjalan kembali dan mendorong motornya . Berjalan dijalan setapak pinggir ladang itu menuju tempat adiknya.
Rian bergeming ketika berpapasan dan melihat didepannya ada sosok nenek nenek menunjukan kepala melewatinya hingga ia menoleh kebelakang. Namun nenek nenek itu hilang , dan masih banyak lagi yg dilihat oleh Rian , ia bergidik dan semakin menempel ke Pak Ratmono.
" hehe....itu sudah biasa mas Rian...dan hal itu akan kamu lihat tiap hari , semoga nanti istrimu bisa membantu..." kata Pak Ratmono
" Istri....? " kata Rian
" iya benar , engkau sudah memiliki istri , dan sebentar lagi istrimu akan melahirkan anak kalian...." kata Pak Ratmono
" Suatu saat kamu akan mengingatnya....." lanjut pak Ratmono
" Terus saya harus bagaimana Ki...? " tanya Rian
" Ikutlah alurnya saja mas Rian.." jawab pak Ratmono
" Baik Ki..." kata Rian
Akhirnya mereka sampai perkampungan Wringin Biru , berjalan perlahan menuju rumah adiknya , rumah yg paling ujung desa tersebut, dilihatnya pemandangan dibawahnya , rumah rumah penduduk di bawah sana terlihat asri dan indah , sementara ini masih di bagian atas perkampungan itu , diatas ini hanya ada 4 keluarga saja dan rumah sedikit berjauhan , diantara perkebunan dan ladang yg terhampar di lereng Gunung Sindoro ini.
#Bersambung
🙏🙏🙏
please
🙏🙏🙏🙏
sampai selesai ya ceritanya .. jgn gantung
berpulang dlm keadaan baik
klau KHUSNUL KHATIMAH
Berpulang dlm keadaan sesat
🙏🙏🙏
jadi ingat almarhum ayah yg juga bisa begini ..
😭😭
jangan sampai terpotong sebelum dapat pedang langit kembarnya