Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 PEMBEGALAN
Penyergapan di Jalan Gelap
Dari kejauhan, di tengah jalan yang gelap, Ali melihat sebuah mobil berhenti. Tiga orang pria berdiri di sekelilingnya, masing-masing menggenggam parang yang berkilat di bawah cahaya lampu jalan yang redup.
Ali menyipitkan mata, mencoba memahami situasinya.
"Pembegalan," pikirnya cepat.
Tanpa ragu, ia menepuk bahu pengemudi ojol.
"Bang, berhenti di sini aja. Saya turun."
Pengemudi ojol menoleh dengan kaget. "Loh, Mas? Ini belum sampai tujuan."
"Gak apa-apa. Nih, ambil aja kembaliannya," kata Ali buru-buru sambil menyerahkan uang.
Tanpa menunggu jawaban, ia melompat turun dari motor dan berjalan ke arah mobil yang dikepung tiga pria itu.
Teror di dalam Mobil
Di dalam mobil, seorang wanita bersembunyi di bawah dashboard. Tangannya menutup mulut, menahan isakan ketakutan. Dadanya berdebar kencang.
Di luar, salah satu begal mengetuk kaca mobil dengan ujung parangnya.
"WOIII! CEPET TURUN! KALO GAK, GW PECAHIN KACA INI!" bentaknya kasar.
Si wanita mengepalkan tangannya, tubuhnya gemetar.
"Tolong… tolong siapa pun, selamatkan aku…"
Namun, sebelum kaca itu benar-benar dihancurkan, angin dingin tiba-tiba berhembus.
"Wuussshhh—"
Tiga begal itu merasa udara di sekitar mereka berubah. Ada sesuatu yang bergerak cepat, hampir tak terlihat.
Tiba-tiba, PLAKKK!
Satu dari mereka terlempar ke depan, jatuh tersungkur melewati dua temannya. Tubuhnya terkapar di tanah, tak sadarkan diri.
Dua begal yang tersisa langsung panik.
"SIAPA ITU?!" salah satunya berteriak.
Mereka menoleh ke belakang—dan di sana, dalam cahaya remang-remang, seorang pria melangkah mendekat.
Wajahnya samar dalam kegelapan, tetapi sikapnya tenang, tak gentar sedikit pun.
Bertarung dalam Bayangan
"Siapa lo?" tanya salah satu begal dengan suara geram.
Ali tidak menjawab. Ia terus berjalan mendekat, langkahnya mantap.
Begal itu menyeringai. "Wah, bocah ini cari mati rupanya."
Tanpa peringatan, ia mengayunkan parangnya dengan keras ke arah kepala Ali.
"SLASH!"
Namun, tepat sebelum bilah besi itu mengenai sasaran, Ali bergerak.
Dengan kecepatan luar biasa, ia sedikit memiringkan kepala, membiarkan parang itu hanya meleset beberapa sentimeter dari kulitnya.
Begal itu terkejut.
"APA?!"
Namun, sebelum ia bisa bereaksi lebih jauh—PLAKK!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya, membuatnya terhuyung ke belakang.
Ali tidak memberi kesempatan. Dengan cepat, ia menangkap tangan si begal dan… KREEKK!
Terdengar suara retakan mengerikan.
Begal itu berteriak kesakitan, lengannya patah. Tapi meskipun kesakitan, ia masih mencoba mengayunkan parangnya lagi.
Ali menepis serangan itu dengan mudah dan, dalam satu gerakan cepat, ia menarik lengan begal yang satunya.
"SLASH!"
Darah menyembur ke udara.
Begal itu memandang lengannya yang kini telah terputus, matanya membelalak ketakutan.
"A-AAAAHHH! TANGANKU! TANGANKU PUTUS!" jeritnya, terjatuh ke tanah dengan wajah penuh horor.
Melihat temannya sekarat, begal terakhir murka.
"BANGSAT! MATI LO, ANJING!"
Dengan kemarahan membabi buta, ia mengayunkan parangnya bertubi-tubi.
Ali menghindari semua tebasan itu dengan lincah, tubuhnya bergerak seperti bayangan.
Saat ia melihat celah, Ali meraih parang dari tangan si begal yang putus tadi dan menggunakannya untuk menangkis serangan.
"TING! TING! TING!"
Suara benturan logam menggema di udara malam.
Dalam sepersekian detik, Ali menemukan kesempatan.
Dengan satu gerakan cepat, ia mengarahkan parangnya ke leher lawannya.
"SLASH!"
Parang itu menebas dengan sempurna.
Si begal terhuyung, matanya membelalak. Ia melepaskan parangnya dan meraba lehernya yang kini robek, darah mengalir deras.
Dalam hitungan detik, tubuhnya roboh ke tanah.
Setelah Pertarungan
Ali berdiri di antara tiga mayat yang kini tergeletak bersimbah darah.
Tangannya masih mencengkeram senjata yang digunakan untuk membantai mereka. Napasnya teratur, matanya tajam.
Setelah memastikan tidak ada ancaman lain, ia berjalan mendekati mobil dan mengetuk kaca.
"Tok, tok, tok."
Dari dalam, wanita itu masih terlihat gemetar, wajahnya basah oleh air mata.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Ali.
Wanita itu perlahan keluar dari tempat persembunyiannya, matanya masih penuh ketakutan.
Ali mengetuk kaca lagi. "Hei, gak apa-apa?"
Setelah beberapa detik ragu, wanita itu membuka pintu mobil dan keluar. Saat cahaya lampu menerpanya, Ali akhirnya bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas.
Mata mereka saling bertemu.
Wanita itu tampak terkejut.
"Loh… kamu?! Kamu yang tadi di bandara, kan?" katanya dengan suara gemetar.
Ali mengerutkan kening. "Hah? Yang mana ya?"
Wanita itu mengusap air matanya, mencoba mengingatkan Ali.
"Yang tadi di bandara! Pas aku mau keluar, aku gak sengaja nabrak kamu!"
Ali berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Oh iya, gue ingat."
Wanita itu menarik napas dalam, masih terlihat shock.
Ali melirik ke sekeliling, memastikan situasi aman, lalu berkata, "Kalau kamu udah gak apa-apa, gue pergi dulu."
Ia mulai melangkah menjauh.
Namun, wanita itu buru-buru memanggilnya.
"Tunggu!"
Ali berhenti dan menoleh.
"Rumah kamu di mana? Aku antar pulang aja. Lagi pula, aku masih takut sendirian," katanya pelan.
Ali menghela napas dan tersenyum tipis. "Yaudah deh, kalau gitu."
Ia berjalan kembali ke mobil dan masuk ke kursi penumpang.
Wanita itu menyalakan mesin dan melajukan mobilnya, meninggalkan jalanan gelap yang kini dipenuhi mayat.
Di dalam mobil, suasana hening.
Namun, Ali tahu satu hal—perjalanan malam ini masih jauh dari selesai.
kalau selesai membaca jangan lupa like,komen dan dukungannya✌️
BELEUNG BELENG....