Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam merayap pekat di area terdalam kompleks Klan Wu. Rembulan terhalang oleh gumpalan awan tebal, menyisakan kegelapan yang sunyi di paviliun usang tempat Wu Tian tinggal. Angin malam berembus kencang, membuat dedaunan di hutan belakang klan saling bergesekan, menciptakan suara desau yang konstan. Bagi Wu Tian, atmosfer mencekam dan sunyi seperti ini justru terasa sangat akrab, mengingatkannya pada malam-malam panjang yang ia lalui sendirian di Shenzhou.
Di dalam kamarnya yang gelap tanpa penerangan lilin, Wu Tian duduk bersila di atas ranjang kayu. Napasnya teratur, perlahan mengalirkan setitik energi hitam keemasan di dalam garis meridiannya untuk memperkuat fondasi tubuh.
Tiba-tiba, sepasang mata hitam legam Wu Tian terbuka di tengah kegelapan.
Indra sensorik dan insting predatornya menangkap getaran yang tidak biasa dari luar paviliun. Tiga pasang langkah kaki yang kasar, tergesa-gesa, dan dipenuhi oleh aura kedengkian tengah mengendap-endap mendekati pintunya. Dari jarak tiga puluh meter, Wu Tian sudah bisa mencium bau hawa nafsu membunuh yang amat amatir. Ia hanya menghela napas pendek dalam hati, merasa terganggu karena waktu tenangnya diusik oleh serangga-serangga yang tidak tahu diri.
BRAAAK!
Pintu kayu usang itu ditendang dengan kasar hingga engselnya retak. Tiga sesosok bayangan manusia melangkah masuk ke dalam kamar. Wu Geng, sang murid luar senior bertubuh kekar, berdiri paling depan sembari memegang sebuah tongkat besi pendek yang dialiri sedikit energi spiritual. Dua anak buahnya berjaga di ambang pintu dengan senyum licik yang terkembang di wajah mereka.
"Heh, si tampan dari cabang terpencil," desis Wu Geng sembari melangkah mendekati ranjang, matanya menatap tajam ke arah Wu Tian yang masih duduk tenang di kegelapan. "Ternyata kamu tidak sedang tidur. Baguslah, jadi kamu bisa merasakan setiap detak tulangmu yang akan kupatahkan malam ini."
Wu Tian tidak bergerak dari posisinya. Ia tidak berdiri, tidak panik, dan sama sekali tidak membalas makian tersebut. Wajahnya tetap datar, menatap Wu Geng dan dua anak buahnya dengan tatapan bosan, layaknya seorang manusia yang sedang melihat sekelompok kecoak terbang.
"Dengar, bajingan sampah," Wu Geng menodongkan tongkat besinya tepat ke arah hidung Wu Tian, merasa di atas angin karena diamnya pemuda itu. "Bakat spiritualmu hanya tingkat sampah, jadi sadarlah di mana tempatmu berdiri! Jika besok aku melihatmu berani berjalan berdampingan atau mencari muka di depan Senior Lin lagi, aku akan memastikan lidahmu dipotong dan kakimu dihancurkan hingga kamu hanya bisa merangkak seperti anjing di jalanan klan ini! Paham?!"
Merasa gertakannya diabaikan karena Wu Tian hanya menatapnya dengan pandangan kosong, Wu Geng meledak dalam amarah. "Kurang ajar! Berani-beraninya kamu menatapku seperti itu!"
Wu Geng mengangkat tongkat besinya tinggi-tinggi, mengalirkan seluruh energi spiritual ranahnya untuk menghantam bahu Wu Tian.
Melihat serangan yang lambat dan penuh celah itu, Wu Tian bahkan tidak repot-repot mengangkat tangannya. Menggunakan kontrol energi mikro yang luar biasa dari fragmen ingatan purba, Wu Tian hanya menghentakkan jari kelingking tangan kanannya secara halus ke atas permukaan ranjang kayu.
TAP.
Detik itu juga, ruang di dalam kamar kecil tersebut mendadak terdistorsi secara ekstrem. Tidak ada suara ledakan yang keras, tidak ada cahaya yang berkilau, namun sebuah tekanan gravitasi tak kasat mata seberat ratusan kilogram mendadak jatuh tepat di atas kepala Wu Geng dan dua anak buahnya secara instan.
BRUAAAK!
"Ugh?!"
Wu Geng bahkan belum sempat mengayunkan tongkatnya ketika seluruh tubuh kekarnya dipaksa menghantam lantai kayu dengan sangat keras. Kedua lututnya membentur lantai hingga terdengar suara krek yang renyah dari tempurung lututnya yang retak. Dua anak buahnya di dekat pintu langsung jatuh tiarap, wajah mereka tertekan ke lantai hingga hidung mereka berdarah.
Tekanan masif itu mengunci paru-paru mereka dengan begitu rapat, membuat mereka tidak mampu mengeluarkan suara teriakan atau lolongan kesakitan sedikit pun. Keringat dingin berukuran besar langsung membanjiri seluruh tubuh Wu Geng. Matanya merah dan melebar penuh horor, memandang lantai kayu dengan tubuh yang bergetar hebat menahan beban magis yang seolah siap meremukkan seluruh organ dalamnya menjadi bubur.
Wu Tian perlahan menurunkan kakinya dari ranjang. Ia berjalan mendekati Wu Geng yang saat ini sudah tidak berdaya, merangkak di bawah kakinya bagai cacing tanah. Wu Tian berjongkok di depan wajah Wu Geng yang mandi darah dan keringat.
Dengan nada suara yang sangat lempang, tenang, dan teramat enteng, Wu Tian berbisik di dekat telinga Wu Geng.
"Lain kali jika kalian merusak pintuku lagi, aku akan memastikan kalian tidak akan memiliki kaki untuk berjalan selamanya. Sekarang... keluar dari sini."
Bersamaan dengan selesainya kalimat itu, Wu Tian menarik kembali tekanan gravitasinya.
"Hah! Hah! Hah!" Wu Geng dan dua anak buahnya langsung meraup udara dengan rakus, dada mereka naik-turun dengan ekstrem seolah baru saja ditarik dari dasar laut dalam. Ketakutan yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup kini mencengkeram sanubari mereka. Pemuda di depan mereka ini bukan manusia berbakat sampah—dia adalah iblis yang menyamar!
Tanpa berani menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun, Wu Geng memegangi lututnya yang retak dan menyeret tubuhnya keluar dari paviliun, diikuti oleh dua anak buahnya yang merangkak pontang-panting membelah kegelapan malam. Mereka bersumpah di dalam hati tidak akan pernah mengusik pemuda misterius ini lagi, dan akan menutup rapat kejadian memalukan ini dari siapa pun.
Setelah ruangan kembali sunyi, Wu Tian berjalan ke arah pintu yang rusak dan menyandarkannya asal-asalan agar angin malam tidak terlalu banyak masuk. Ia kembali berjalan menuju ranjang dan menutup matanya untuk melanjutkan meditasi.
Namun, tepat saat ia kembali menyilangkan kakinya, sebuah riak energi yang aneh tiba-tiba bergejolak hebat di dalam kepalanya. Fragmen ingatan purba yang biasanya tertidur, mendadak bergetar hebat dan memunculkan sebuah visi gaib yang sangat jelas di benaknya.
Di dalam visi tersebut, Wu Tian melihat sebuah bongkahan batu kristal raksasa yang memancarkan cahaya pelangi yang mistis, melayang di dalam sebuah gua tersembunyi yang dijaga oleh formasi kuno tingkat tinggi. Otak Wu Tian secara otomatis menerjemahkan informasi dari visi tersebut: Batu Inti Yunzhou.
Sebuah pesan spiritual dari ingatan purbanya menggema di kepala Wu Tian, memberi tahu sebuah kebenaran baru: Batu Inti Yunzhou disembunyikan di dalam area terlarang yang hanya dibuka setahun sekali sebagai hadiah utama bagi pemenang Kompetisi Klan. Batu tersebut memuat fragmen esensi dewa yang merupakan kunci utama untuk membuka seluruh segel ingatan masa lalu dan mengungkap identitas asli Wu Tian yang sebenarnya.
Wu Tian perlahan membuka sepasang matanya kembali di tengah kegelapan malam. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kilatan tekad yang tajam. Jika sebelumnya ia hanya pasif mengikuti Wu Lin ke klan ini tanpa tujuan yang jelas, kini segalanya telah berubah.
"Kompetisi Klan..." gumam Wu Tian enteng sembari menatap tangannya. "Tampaknya aku harus memenangkan tempat pertama."