Adrian tiba tiba ketahuan menjalin hubungan dengan Astrid, sahabat Jeslin sendiri. Hal ini membuat hubungan ketiganya rusak. Sehingga membuat Jeslin terpaksa pergi dari Ibukota. Namun, sebelum itu terjadi, Jeslin sempat dekat dengan Ben, Sahabat adiknya sendiri. Tapi hubungan mereka masih menggantung.
Jeslin pergi ke Bali, di mana kakek dan neneknya tinggal. Namun dia tidak menyangka kalau di sana dia akan bertemu lagi dengan Ben. Kisah cinta mereka yang dulu belum berlanjut membuat keduanya makin dekat. Sayangnya, Jeslin baru tahu kalau Ben sudah punya tunangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Ian
Suasana kantor terlihat lenggang. Ini memang jam makan siang dan sebagian besar orang tentu sedang pergi ke kantin atau tempat makan yang ada di sekitar. Jam istirahat ini banyak digunakan untuk makan, dan bahkan beberapa bisa menyempatkan diri memejamkan mata sejenak. Waktu dua jam setidaknya cukup untuk digunakan sebaik mungkin.
Jeslin hanya membawa dompet serta ponsel saja. Tas sengaja ia tinggalkan di meja kerjanya. Ia pikir, makan siang kali ini ingin ia habiskan di kantin bawah saja. Jeslin turun menaiki lift. Sampai di lobi bawah, ia segera berbelok ke kiri, di mana kantin kantor berada.
Tapi belum sampai dia ke pintu masuk, langkah nya terhenti. Di dalam ada seseorang yang sangat familiar baginya. Seorang pria yang telah merenggut kesuciannya. Ian.
Ian tampak tengak tengok mencari seseorang. Bahkan dia menanyakan sesuatu pada rekan kerja Jeslin. Melihat hal itu, Jeslin segera menyembunyikan dirinya. Dia berbalik dan berusaha menghindar agar Ian tidak melihatnya.
Tanpa sengaja dia menabrak seseorang di depan hingga membuat dirinya terjatuh. Jeslin mengerang kesakitan memegangi sikunya yang terantuk lantai.
Sebuah tangan terulur ke Jeslin, diikuti ucapan permintaan maaf. Jeslin menatap sosok di depannya, dan ternyata dia adalah seseorang yang ia kenal.
"Loh, kamu?" tanya gadis itu sambil menyambut uluran tangan tersebut.
"Iya, aku. Kamu ... Kerja di sini?" tanya Ben yang sesekali memperhatikan sekitar. Dia memang benar-benar tidak tahu kalau Jeslin bekerja di tempat ini.
"Iya. Kamu mau ngapain di sini?"
"Eum, ada urusan sama Pak Richard tadi. Baru selesai."
" Oh gitu." Jeslin kembali menoleh ke belakang. Rupanya kejadian itu memicu perhatian Ian yang berada di dalam. Ian akhirnya mengetahui keberadaan Jeslin sekarang. "Eum, kamu bawa mobil, kan?"
"Iya, kenapa?"
"Makan siang bareng, yuk. Tapi jangan di sini," ajak Jeslin langsung menarik tangan Ben tanpa persetujuannya. Sementara Ben hanya pasrah dibawa oleh Jeslin, tentu dengan senyum tipis di wajahnya.
Gadis itu sesekali menoleh ke belakang, Ian yang hendak mengejarnya terlihat mengurungkan niat tersebut karena mengetahui kalau Jeslij tidak sendiran. Dia kesal karena tidak berhasil bertemu Jeslin dan berakhir dengan tatapan tajam nya yang khas. "Awas saja kamu, Jes!" gumamnya sambil menatap kepergian Jeslin dan Ben.
"Jes? Pelan-pelan," kata Ben tapi masih tetap mengikuti langkahnya.
Begitu sampai di lahan parkir basemen, Jeslin berhenti. Nafasnya tersengal-sengal sambil memperhatikan sekitar. Ia harus memastikan kalau Ian tidak mengejarnya sampai tempat itu. Ben memperhatikan Jeslin yang tampak aneh. Dia tau kalau gadis itu sedang bertingkah tidak wajar.
"Ada apa?"
"Apanya yang ada apa?"
"Kamu kenapa?"
"Aku? Nggak apa-apa kok. Ya udah, eum kalau kamu mau balik, silakan. Aku tadi cuma bercanda kok. Aku ke kantor lagi, ya." Namun saat Jeslin membalikkan tubuh, Ben menahan tangannya. Kedua nya saling tatap, dan diam beberapa saat.
"Katanya mau makan siang? Ayo. Kamu belum makan, kan?" tanya Ben.
"Belum, tapi ...."
"Itu mobilku," tunjuk Ben ke sebuah minicooper berwarna merah di ujung parkiran. Kali ini justru Ben yang menarik tangan Jeslin menuju mobilnya. Walau Ben terlihat tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi, tapi sebenarnya Ben sedikit curiga, kalau Jeslin sengaja menghindari seseorang yang tadi berada di kantin. Sikapnya mencurigakan, dan Ben ingin membawa Jeslin pergi dari situasi tidak menyenangkan tersebut.
Mereka sampai di sebuah cafe. Letaknya tidak terlalu jauh dari kantor Jeslin. Tapi gadis itu justru belum pernah datang ke cafe tersebut seumur hidup, walau ia kerap melewati jalan itu setiap hari.
"Kita makan di sini aja. Kamu suka seafood, kan? Ini salah satu tempat makan favorit ku," jelas Ben sambil melepaskan sabuk pengaman.
Jeslin perlahan mengikuti gerakan Ben sambil memperhatikan sekitar.
"Tenang aja. Orang tadi nggak akan menyusul kita ke sini. Aku juga parkir di tempat yang tertutup dari jalan raya."
Jeslin langsung menatap Ben. Dia tidak menyangka kalau kalimat itu akan keluar dari mulut pemuda di sampingnya. Akhirnya Jeslin menurut dan mengikuti Ben keluar dari mobil. Mereka mendapatkan sebuah meja kosong dengan posisi sengaja berada di dalam cafe. Cafe ini memang sebagian besar terbuat dari kaca. Sehingga satu sama lain bisa melihat, dan juga dapat melihat suasana di luar cafe yang memang tampak asri. Beberapa bunga mawar dan krisan menghiasi hampir seluruh halaman tempat tersebut.
"Kamu makan apa?" tanya Ben sambil menatap Jeslin yang masih membuka-buka buku menu di hadapannya.
"Eum, cumi lada hitam sama nasi putih."
"Minumnya, kak?" tanya waiters yang memegang pena juga buku di tangan guna mencatat pesanan pelanggan.
"Lemon tea aja, Mas."
"Itu aja?" tanya Ben masih memperhatikan Jeslin yang duduk di depannya.
"Iya. Eh, eum ... Tambah lagi boleh?" tanya gadis itu dengan tampang polos.
Ben tertawa tertahan lalu mengangguk.
"Sama udang krispi, ya, Mas. Terima kasih. Eh, salad buah juga deh, di tambah es krim vanila, ya."
Ben terus melebarkan senyum, melihat Jeslin yang ternyata memiliki porsi makan besar. Hal ini tentu sama persis dengan perkataan Daniel tempo hari.
"Kakak ku itu suka banget makan. Sekali makan dia bisa pesan banyak menu. Kecuali kalau dia sakit dan moodnya jelek, baru deh, dia mogok makan."
Sambil menunggu makanan datang, kedua insan tersebut hanya diam sambil memperhatikan suasana sekitar.
"Yang tadi itu ...." Jeslin ragu melanjutkan kalimatnya. Dia yang awalnya sengaja menyembunyikan hal tersebut, ternyata diketahui oleh Ben.
"Kalau memang belum mau cerita, nggak apa-apa kok. Jadi kamu menghindari cowok tadi?" tanya Ben menebak asal-asalan. Padahal Ben sama sekali tidak tau siapa yang sedang dihindari oleh Jeslin.
"Eum ... Iya."
"Ya sudah. Kalau kamu butuh pertolongan, aku siap bantu kok. Apa saja."
"Makasih."
"Sama-sama."
Makanan datang, mereka pun menyantap makanan tersebut bersama-sama. Ben akhirnya menyetujui dengan semua perkataan Daniel padanya tentang sang kakak. Jeslin memang tertutup, tidak terlihat sedikit pun kalau gadis itu tertarik pada Ben. Tapi itu bukan masalah. Apalagi dari perkataan Daniel, kalau Jeslin memang selalu dingin pada semua pria. Membuatnya justru menarik bagi Ben.
Pemuda itu masih penasaran pada apa yang telah dialami Jeslin saat pertama kali mereka bertemu. Lalu alasan dia ada di dokter kandungan. Sekarang seorang pria yang sedang dihindari olehnya. Ben menarik semua garis waktu dan beranggapan kalau Jeslin sedang bertengkar dengan kekasihnya dan khawatir telah berbadan dua. Tapi ... Daniel bilang kalau Jeslin belum pernah berpacaran sama sekali. Mungkin kali ini, Daniel salah, dan dia tidak mengetahui kalau sang kakak sudah mulai mengenal cinta.
"Kamu ada urusan apa sama Pak Richard? Bisnis?" tanya jeslin tiba-tiba.
"Eum, enggak kok. Aku disuruh nganter bingkisan dari Papa buat Pak Richard. Jadi Pak Richard itu rekan bisnis Papaku."
"Oh gitu. Kamu mengurusi perusahaan sama orang tua juga?"
"Iya, Jes. Sebenarnya dipaksa lebih tepatnya."
"Dipaksa?"
"Iya. Biasalah. Karena anak satu-satunya, jadi seakan-akan aku yang harus bertanggung jawab sama perusahaan. Mana Papa bilang, kalau dia meninggal siapa yang mau urus perusahaan lagi. Kan bikin aku makin nggak enak."
"Wah, kamu ini tipe anak Mama, ya. Manja. Masih suka main-main gitu."
"Bukan gitu. Tapi aku kurang begitu suka bisnis. Aku lebih suka mengurus sanggar taekwondo. Buatku bisnis bukan passion ku."
"Jadi sanggar itu juga punya kamu, atau ayah kamu?"
"Punya keluarga sih lebih tepatnya."
"Wah, hebat."
"Apanya yang hebat?"
"Ya kalian."
"Bukan aku nih?"
"Kamu? Yah ...mungkin."
"Kok mungkin?"
"Ya karena aku nggak tau, kehebatan kamu apa. Taekwondo? Eum, kurasa beberapa orang bisa. Jadi itu bukan sebuah kehebatan yang spesifik."
"Iya sih. Setidaknya cuma aku, laki-laki yang berhasil ajak kamu makan siang." Ben tidak habis akal, dan berhasil menemukan kalimat yang membuat Jeslin mengakui nya.
Jeslin diam sejenak, dahinya berkerut pertanda sedang berpikir.
"Daniel nggak termasuk, ya. Iya, kan?"
"Eum ... Iya sih." Jeslin rupanya baru menyadarinya. Kalau selama ini dia memang tidak pernah makan siang berdua dengan laki-laki mana pun, bahkan teman kantornya sendiri. Biasanya dia makan siang dengan pria, ya hanya Daniel saja.
"Dan aku pastikan, kalau cuma aku, laki-laki yang selalu ajak kamu makan siang. Eum, atau makan malam ... Bisa diaturlah."
"Kalau aku nggak mau?"
"Percaya aja, aku pasti bisa."