Namaku Saliya, aku disukai seorang pria bernama Rizal, yang menurutku terlalu sempurna, aku sempat menolak saat ia mengajakku menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan. Aku justru memilih mantan pacarku, tapi Rizal tidak menyerah hingga akhirnya kami menikah.
namun, kebahagiaan rumah tanggaku ternyata menyedihkan.
Ayo baca kisah ku di sini, ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Berlalu
Hari Yang Berlalu
“Gimana kalau nanti Rizal tahu?” tanya ibu, sekarang ia mengambil cangkir kopinya dari meja dan meneguknya sambil melihat ke arahku. “Ibu lebih suka kamu sama dia dari pada sama Zikri!” katanya lagi.
“Ibu, kan, tahu apa alasanku menolak Rizal?”
Aku memang selalu terbuka pada ibu dalam segala urusan, termasuk soal cinta dan selera. Tentu saja ia tahu masalahku dengan dua lelaki yang sama-sama menyukaiku.
Siapa sih yang tidak mau dicintai oleh seorang pria seperti Rizal? Namun, aku sadar diri kalau tidak pantas. Oleh karena itu, aku menjauh. Walaupun, aku mengakui, butuh seorang laki-laki penyayang yang tidak lagi mementingkan dirinya sendiri. Seperti sikap Rizal selama ini.
Bayangkan saja, aku perempuan yang berusia 27 tahun dan belum menikah, tapi aku sudah tidak mempunyai seorang ayah. Wanita seperti aku pasti butuh sosok lelaki sebagai pengganti figur ayah, dalam hidupnya.
Lelaki sesuai fitrahnya sebagai pemimpin. Bukan cuma pendamping atau suami, apalagi hanya sebagai penyebab lahirnya anak-anak, lalu mereka melempar tanggung jawab. Tidak! Aku tidak butuh laki-laki seperti itu!
Ibu lalu, menjawab sambil menyandarkan tubuhnya. Ia mau bicara karena acara televisinya sekarang sedang iklan, “Kamu ini, anak Ibu satu-satunya, kamu ini cantik dan bagi Ibu kamu sempurna! Untuk apa minder?”
“Iya, aku tahu, tapi Bu ... Zikri juga sayang, kok! Buktinya dia nggak pernah mengungkit soal fisik selama kita pacaran!”
“Harusnya, kalau diusia kalian ini, sudah nggak pantas lagi pacaran, tapi sudah menikah!”
Aku mendengar ucapan ibu seperti tamparan yang ke sekian kalinya, karena beberapa temanku pun sudah ada yang memiliki anak. Aku tidak ingin berdebat lagi dengan ibu soal jodoh. Masalah ini akan menjadi sebuah pembicaraan yang panjang dan selalu diulang-ulang.
Aku bukannya tidak yakin kalau jodoh itu di tangan Tuhan, bahwa rezeki harus dijemput. Bahkan, ibu juga sering bilang harusnya aku meminta Zikri untuk langsung menikahi, dan bukannya pacaran lagi. Namun, aku juga tidak tahu dengan perasaanku sendiri, yang enggan sekali meminta hal itu padanya. Bukan tanpa alasan, kadang-kadang pikiran buruk sering melintas di hatiku jika aku menikah dengan pria itu. Lalu, bagaimana dengan keturunanku kelak?
Tiba-tiba aku jadi teringat dengan nasihasett Tina setahun yang lalu, dia pernah bilang kalau punya pasangan seperti Rizal, akan memperbaiki masa depanku seluruhnya, baik materi, imaterial dan juga keturunan.
Ahk! Abaikan saja semua nasihat itu, karena apa pun itu nantinya aku yang akan menjalaninya, bukan mereka. Kalaupun aku belum yakin dengan Zikri dan masih enggan menjalani hubungan pernikahan, itu karena aku belum menemukan sosok ayah pada semua pria yang mendekatiku.
Apa mereka benar-benar tulus seperti ayah, yang menerima semua kekurangan fisikku?
Aku malas mendengarkan nasihat Ibu yang selalu ia ulangi dari itu dan itu lagi. Akhirnya aku tinggalkan ia sendirian di depan televisi, yang sudah memulai acara sinetronnya kembali. Aku memilih istirahat di kamarku dan mandi, sebelum azan magrib berkumandang.
$$_$$_$$_$$_$$
Seperti itulah hari-hari berlalu, aku menjalani rutinitas seperti biasanya saat sebelum menjadi kekasih Zikri. Namun, yang tidak biasa hanyalah, pria itu sering datang mengunjungiku di rumah atau sekedar datang ke kantor di saat aku hendak pulang. Kami menyusuri jalan bersama walau dengan kendaraan yang berbeda. Ia seperti memastikan aku tidak bersama dengan Rizal saja. Selebihnya aku dan dia hanya berbincang biasa, mengenang masa-masa indah saat masih kuliah atau membicarakan topik hangat yang terjadi di sekitar dan dunia maya.
Zikri mengaku padaku, kalau ia masih mengajukan beberapa lamaran kerja dan untuk sementara menjalani profesi ojek online. Walaupun, saat ia datang tidak pernah memakai jaket khas nama aplikasi yang menjadi naungannya, aku tetap yakin. Aku juga cukup puas karena ia mau bekerja keras, demi masa depannya. Bahkan, tanpa malu berprofesi seperti itu, meskipun ia seorang sarjana.
Hari ini aku pulang kantor seperti biasa, ada sedikit harapan pada Zikri, karena kalau akhir pekan ia sering datang, menemani aku pulang. Sepertinya enak kalau ada dia di sini, bisa ngobrol hingga aku tak sendiri menunggu hujan berhenti.
Ya. Aku tidak membawa jas anti air, kebetulan air tercurah dari langit begitu lebatnya, dan suara petir menyambar terdengar bertubi-tubi. Sekarang memasuki musim penghujan, dan ini hujan deras yang pertama kalinya di bulan September.
Sebenarnya kantor belum dikunci, aku bisa saja berteduh di dalam. Penjaga gedung juga sudah minta aku untuk kembali saja, daripada kedinginan di luar. Aku pikir ucapan penjaga itu benar, sebab semakin lama semakin gelap dan dingin hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Jadi aku berniat untuk kembali ke mejaku, tapi baru saja melangkah aku mendengar samar-samar seorang memanggil. Aku pun menoleh tanpa ragu dan saat itu aku terkejut, karena melihat Rizal sedang berlari kecil sambil membawa payung ke arahku. Ia sepertinya baru saja keluar dari mobil yang terparkir tak jauh dari tempatku berdiri, di teras ruang kerjaku.
“Sal, kamu nggak mau pulang kok balik lagi?” tanyanya, setelah berada tepat di depanku.
Pertanyaannya membuat aku heran, sebab kemungkinan ia melihatku dari tadi.
“Pulang yuk! Biar aku antar ... motornya biarin saja di sini kan, aman?” kata Rizal lagi sebelum sempat aku menjawab.
“Iya, Neng! Ikut Pak Rizal saja, dari pada sendirian di sini!”
Aku menoleh, ternyata yang berkata adalah penjaga yang masih berdiri di belakangku.
“Motornya sudah dikunci ganda, seperti biasanya, kan?” tanya penjaga itu lagi dan aku mengangguk.
Aku pun menuruti permintaan Rizal dan mengikuti langkahnya yang menaungiku dari tetesan air hujan dengan payung di tangannya. Kenapa suasana ini sedikit romantis, tapi sayang, dia bukan kekasih atau pasanganku.
Rizal menutup pintu setelah aku duduk di kursi penumpang samping kemudi. Kulihat Rizal berjalan mengitari mobil dari arah ke depan dan kemudian membuka pintu samping lainnya. Ia duduk setelah menutup payungnya yang basah, kemudian meletakkan di belakang kursi. Lalu, memasang sabuk pengaman.
Semua yang dilakukannya itu kulihat dari sudut mata, aku tidak secara langsung menatapnya karena dia pun seperti menjaga jarak dariku. Ia pun menjaga pandangan. Bahkan, sama sekali tidak tersenyum atau mengajakku bicara setelah itu. Ketika ia menjalankan mobilnya dan sampai melewati lampu merah tidak ada satu kata pun yang ia keluarkan.
Akhirnya aku yang berinisiatif untuk bicara, “Kebetulan sekali ya, kamu bawa mobil jadi bisa nganterin aku?”
“Iya, kebetulan nanti rencananya aku mau jemput Mama, ternyata malah hujan!”
“Oh!” hanya gumaman itu yang keluar dari mulutku karena aku tidak tahu harus menjawab apa.
Aku pun merasa tidak perlu bertanya di mana dia akan menjemput mamanya, dan apakah sekarang harus membatalkannya atau tidak. Itu sama sekali bukan urusanku dan, aku pun tidak ingin mengetahuinya lebih jauh. Aku seperti mencampuri urusan pribadi orang. Kalau saja ia terlihat dekat dan akrab, tentu saja aku akan tidak segan bertanya tentang mamanya.
“Maaf ya jadi merepotkan!”
Rizal tertawa kecil tanpa menoleh ke arahku karena pandangannya tetap fokus ke jalanan.
“Siapa yang repot? Kan, itu kemauanku sendiri buat nganterin kamu!” katanya setelah berhenti tertawa.
❤️❤️❤️❤️