Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah menyiapkan pakaian yang akan Juna kenakan, Zara memberikan Juna waktu untuk mengganti pakaian. Zara membelakangi Juna dengan jantung yang terus saja berdetak dua kali lebih kencang saat berada di dekat Nuna. Zara coba menyibukan dirinya dengan mengerjakan hal lainnya selagi menunggu Juna mengganti pakaian.
"Za, kamu tidak apa-apa aku tinggal sebentar?" tanya Juna yang telah selesai berganti pakaian.
"Jika itu urusan yang penting, aku tidak apa-apa, Mas. Pergilah, jangan pikirkan aku. Jaga saja diri Mas dengan baik, hati-hati berkendara," ucap Zara menjawab dengan begitu pengertian dan perhatian membuat Juna semakin dipenuhi rasa bersalah.
"Kenapa kamu begitu baik, Za?" tanya Juna pelan menatap Zara yang balas menatapnya.
Zara mendekat pada Juna, tersenyum dengan begitu tulus. Setelah tiba di depan Juna, Zara mengangkat tanganya mengancingkan satu kancing pakaian yang dilewatkan oleh Juna. Perhatian yang begitu kecil, tapi mampu menggetarkan hati Juna.
"Mas, menjadi baik adalah bagus. Apalagi baik kepada pasangan sendiri. Aku mana mungkin bersikap jahat pada suamiku. Kamu adalah imam ku, menjadi istri yang baik untukmu adalah salah satu jalanku menuju surga.
Dalam keluarga, suamilah yang berperan sebagai imam. Imam adalah yang membimbing keluarganya, mencari nafkah, memberi keamanan dan kenyamanan juga menjaga keluarganya dari dosa dan kemaksiatan, termasuk menjaga keluarga menutup aurat.
Berkeluarga juga bukan saja sebagai tempat pelampiasan kebutuhan biologis semata, tapi memberi makna yang lebih dalam. Bahkan masuknya surga dan neraka seorang suami itu tergantung bagaimana dia menjaga amanah pada keluarganya. Seorang suami yang taat beribadah kepada Allah, tetapi menyia-nyiakan keluarganya, membiarkan istrinya membuka aurat atau menampakkan bentuk tubuhnya, atau mengizinkan istrinya berhias dan memakai bau-bauan saat ia keluar rumah sehingga dicium oleh lelaki lain, maka dosa itu bertumpu kepada suaminya."
Zara mengatakan semua itu dengan begitu lembut, tapi semua yang diucapkan oleh Zara menjadi beban di hati Juna yang merasa begitu tertampar mendengarnya.
Rasa bersalah yang ada di hati Juna semakin bertambah dan itu membuat Juna takut kepada dirinya sendiri. Juna merasa takut jika kehadiran Zara akan membuat Juna melupakan janjinya pada Laura, dan itu artinya dia akan menyakiti hati wanita yang dicintainya. Tanpa Juna sadari jika apa yang dilakukannya juga telah sangat menyakiti hati Zara.
Juna duduk di tepi ranjang saat Juna merasa lemas setelah mendengar ucapan Zara. "Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Zara dengan begitu perhatian.
Juna kembali menoleh menatap Zara, baru saja bibirnya akan bergerak menjawab ucapan Zara, suara dering ponselnya mengalihkan Juna. Juna dengan cepat menyambar ponselnya yang berada di atas nekas tepat di samping Zara.
Melihat nomor Laura yang menghubunginya, Juna seakan lupa dengan apa yang dikatakan oleh Zara sebelumnya. "Za, aku pergi dulu, ya. Tidurlah lebih dulu jika kamu lelah, jangan menungguku." Juna melangkah pergi setelah mengatakan itu.
"Mas," ucap Zara menghentikan langkah Juna yang baru saja akan keluar dari kamar.
Suara yang begitu lembut itu membuat Juna menoleh. Zara kembali menghampiri Juna. Mengambil tangan Juna lalu mencium punggung tangannya, dan itu semua membuat Juna merasakan kehangatan yang luar biasa menghangatkan hati dan jiwanya. Sikap Zara selalu membuat hatinya bergetar.
"Hati-hati, Mas. Jangan pulang terlalu larut," ucap Zara setelah mencium punggung tangan Juna yang tanpa sadar mendekat dan balas mengecup dahi Zara.
"Baiklah. Aku pergi. Tidurlah jika lelah, jangan menungguku," ucap Juna sesaat kemudian saat dia tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan. Juna kembali memutar tubuhnya melangkah pergi dari sana meninggalkan Zara yang masih terus menatap kepergiannya.
"Aku mencintaimu, Mas." Zara tersenyum menyentuh dahinya yang baru saja di kecup oleh Juna, tanpa sedikit pun curiga ke mana tujuan Juna.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....