NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Empat Puluh Tujuh Panggilan

Narendra menekan tombol panggil untuk keempat kalinya sebelum pintu lift terbuka.

Tidak dapat dihubungi.

Di lobi, Fikri sudah menunggu dengan jaket, tas darurat, dan kunci mobil. Mereka berangkat tanpa percakapan yang tidak perlu.

"Pesawat siap pukul 04.20," lapor Fikri. "Perkiraan tiba Yogyakarta pukul 05.25. Pak Satria menunggu di apron umum."

"Tim darat?"

"Dua kendaraan bergerak dari Klaten. Satu tertahan di jalur bawah, satu mencoba jalan memutar dari timur."

Narendra kembali menelepon.

Panggilan kelima.

Keenam.

Ketujuh.

Setiap suara otomatis terdengar, rahangnya semakin keras. Ia mengirim pesan meski tahu jaringan tidak akan meneruskannya.

Jawab kalau sudah dapat sinyal.

Aku berangkat.

Jangan masuk bangunan kalau masih ada susulan.

Di perjalanan menuju Halim, notifikasi gempa susulan muncul. Narendra memperbesar peta sampai nama Giriwangi terlihat. Titik pusat tidak tepat di desa, tetapi cukup dekat untuk menimbulkan guncangan kuat.

Panggilan kesepuluh gagal.

"Pak, baterai ponsel Bapak," ingat Fikri.

Narendra menyambungkan power bank tanpa mengalihkan mata dari layar.

Pukul dua lewat tiga puluh, Satria memberi kabar. Timnya berhasil menghubungi satu warga di desa sebelah sebelum sinyal hilang lagi. Tidak ada laporan korban besar. Rumah Angin masih berdiri saat terakhir terlihat.

"Masih berdiri bukan berarti dia ada di luar," kata Narendra.

"Saya tahu. Kita masuk begitu terang."

"Aku nggak menunggu jalan benar-benar bersih."

"Saya juga nggak akan menyuruh kamu menunggu. Tapi kita tetap harus tiba hidup-hidup."

Narendra memutus panggilan dan menelepon Sekar lagi.

Panggilan kedua belas.

***

Di Giriwangi, susulan mulai jarang setelah pukul tiga. Petugas desa mengizinkan penghuni Rumah Angin mengambil barang penting satu per satu, didampingi dan tidak lebih dari dua menit.

Sekar masuk bersama Bu Tri.

Kamar berantakan. Lampu gantung pecah di lantai, lemari bergeser, tetapi ponselnya masih terletak di samping bantal. Layar gelap meski kabel tetap terpasang. Listrik padam membuat pengisian berhenti, namun baterai masih cukup.

Begitu layar dinyalakan, daftar panggilan masuk memenuhi halaman.

Sayang (18).

Angka bertambah menjadi sembilan belas tepat di depan matanya, tetapi tidak ada nada dering. Sinyal masih kosong.

Sekar menekan tombol balas. Panggilan gagal.

Ia merekam pesan suara.

"Mas, aku selamat. Aku di halaman Rumah Angin. Semua tamu lengkap. Ponselku tadi tertinggal di kamar. Aku selamat."

Pesan tidak terkirim.

Bu Tri memanggil dari pintu. "Mbak, harus keluar."

Sekar memasukkan ponsel dan kabel ke tas. Kali ini benda itu tidak akan lepas darinya. Ia kembali ke halaman dan mencoba mengirim pesan setiap beberapa menit.

Tetap satu tanda jam.

Menjelang subuh, tubuhnya akhirnya menyerah pada lelah. Setelah petugas memeriksa tiang utama dan menyatakan kamar boleh dimasuki sebentar untuk istirahat, Bu Tri memaksa Sekar tidur.

"Saya bangunkan kalau sinyal kembali."

Sekar meletakkan ponsel di samping kepala dengan volume penuh, lalu tertidur tanpa sempat membuka ulang daftar panggilan yang terus bertambah.

***

Di bandara, Narendra berjalan menaiki tangga pesawat charter sambil melakukan panggilan kedua puluh satu.

Fikri menyerahkan daftar rute kepada awak, memastikan air dan perlengkapan darurat masuk, lalu duduk di seberang Narendra.

Pesawat lepas landas dalam langit yang masih hitam.

Narendra tidak menyentuh makanan. Ia menatap titik lokasi terakhir Sekar dan menelepon setiap tiga sampai lima menit. Kadang jaringan memberi satu nada pendek sebelum terputus. Sebagian besar langsung masuk ke suara otomatis.

Panggilan kedua puluh delapan.

Ketiga puluh dua.

Ketiga puluh tujuh.

Nomor Bu Laksmi muncul. Fikri sudah mengabari guru Sekar setelah memastikan berita gempa bukan rumor.

"Narendra, Sekar bagaimana?" Suara perempuan itu berusaha tenang, tetapi napasnya terdengar pendek.

"Belum bisa dihubungi. Saya sedang menuju ke sana."

"Dia menginap di Rumah Angin. Bu Tri tahu kamar dan identitasnya. Kain ada di gudang Mbah Ginem, jadi jangan pikirkan barang. Cari Sekar."

"Saya akan membawanya pulang."

"Jangan menjanjikan sesuatu kalau belum tahu keadaannya."

Narendra memandang awan kelabu di bawah pesawat. "Kalau jalannya tertutup, saya jalan. Kalau desanya dipindahkan, saya cari tempat pengungsian satu per satu. Saya akan menemukannya."

Bu Laksmi terdiam, lalu berkata pelan, "Kabari saya begitu bertemu."

"Pasti."

Setelah panggilan berakhir, Fikri menyerahkan sebotol air. Narendra baru sadar tenggorokannya kering dan telapak tangannya dingin. Ia minum dua teguk.

"Pak, kalau Mbak Sekar melihat Bapak tidak makan sejak malam, beliau pasti marah," ujar Fikri hati-hati.

Narendra mengambil sepotong roti, tetapi tidak mampu menelannya. Ia membungkus kembali makanan itu dan kembali menekan tombol panggil.

"Pak, belum ada laporan korban dari Rumah Angin," kata Fikri.

"Belum ada laporan bukan berarti aman."

"Benar. Tapi bangunannya sudah diperiksa dari luar."

Narendra menutup mata selama dua detik. Bayangan Sekar di bawah reruntuhan muncul tanpa izin. Ia membukanya lagi dan menelepon.

Panggilan keempat puluh.

Saat cahaya fajar masuk melalui jendela, pesawat mulai turun. Satria sudah berdiri dekat kendaraan hitam di luar terminal. Wajahnya lelah, sepatu botnya berlumur lumpur.

"Jalur utama tertutup," katanya setelah Narendra masuk. "Kita ambil timur, lalu pindah ke kendaraan tinggi di pos kedua. Waktu normal dua jam. Hari ini bisa lebih."

"Berangkat."

Fikri tetap di bandara untuk mengurus komunikasi, penerbangan pulang, dan kendaraan pengangkut kain. Narendra pergi bersama Satria serta dua orang tim lapangan.

Kota perlahan berubah menjadi sawah. Di beberapa tempat, warga berkumpul di luar rumah. Mobil penanganan bencana melintas membawa tenda dan air. Sirene tidak meraung terus-menerus; kerusakan lokal tersebar, bukan kehancuran luas.

Panggilan keempat puluh dua gagal.

Jalan menanjak semakin sempit. Mereka berhenti di depan timbunan tanah yang menutup separuh aspal. Sebuah alat berat bekerja membuka satu lajur.

"Kita tunggu dua puluh menit," kata petugas.

Narendra turun dari mobil. "Ada jalan kaki?"

Satria menangkap lengannya. "Dari sini masih belasan kilometer. Dan ada lereng yang belum stabil. Kita tunggu lajur dibuka."

"Setiap menit dia nggak menjawab."

"Saya tahu." Suara Satria tetap rendah. "Kalau kamu jatuh di lereng, Sekar harus menghadapi dua bencana."

Narendra menatap tanah basah, lalu kembali masuk. Ia menelepon lagi.

Empat puluh tiga.

Empat puluh empat.

Lajur dibuka. Kendaraan bergerak melewati tanah longsor dengan kecepatan rendah. Di tikungan lain, mereka harus memutar melalui jalan kebun karena sebuah pohon tumbang.

Satria menerima radio dari tim depan. "Rumah Angin masih berdiri. Petugas desa bilang semua tamu terdata lengkap. Nama Sekar belum bisa mereka pastikan karena buku tamu ada di dalam."

Narendra akhirnya menarik napas penuh, tetapi belum merasa lega.

Panggilan keempat puluh lima.

Desa Giriwangi muncul di balik kabut pagi. Beberapa genteng jatuh, dinding dapur retak, dan warga masih berada di halaman terbuka. Tidak ada bangunan besar yang rata dengan tanah.

Di pos masuk, kendaraan dihentikan untuk pendataan. Satria menjelaskan bahwa mereka membawa air, obat, lampu baterai, dan power bank. Petugas mencatat nama serta tujuan mereka sebelum membuka palang.

Narendra melihat seorang anak dengan kaki diperban duduk di samping ibunya. Ia menoleh kepada anggota tim.

"Turunkan separuh persediaan di sini. Pastikan sisanya sampai Rumah Angin."

"Siap."

Satria mengangkat alis. "Kamu masih bisa melihat sekitar rupanya."

"Sekar akan marah kalau aku membawa banyak barang hanya untuk dia sementara orang lain butuh."

Mereka melewati halaman sekolah yang menjadi titik kumpul. Wajah kurang tidur dan tikar yang memenuhi tanah menunjukkan panjangnya malam. Setiap perempuan berambut gelap membuat Narendra menoleh. Setiap kali bukan Sekar, dadanya kembali mengeras.

"Rumah Angin dua tikungan lagi," kata Satria.

Narendra membuka sabuk pengaman sebelum kendaraan benar-benar berhenti. Satria tidak menegur. Ia hanya meminta pengemudi mendekat secepat kondisi jalan mengizinkan.

Narendra melakukan panggilan keempat puluh enam saat mobil melewati papan desa.

Gagal.

Ia menekan tombol sekali lagi.

Empat puluh tujuh.

***

Rumah Angin penuh orang. Bu Tri sedang membagikan teh ketika Narendra masuk tanpa sempat membersihkan lumpur di sepatu.

"Sekar?" tanyanya. "Sekar Melati Wardani. Kamar lantai dua."

Bu Tri menatap wajahnya, lalu mengenali suara yang beberapa kali didengar melalui panggilan video.

"Mas Narendra? Pacarnya Mbak Sekar?"

"Dia di mana?"

"Selamat. Tadi malam dia bantu semua orang keluar. Baru tidur setelah subuh."

Dua kata pertama hampir membuat lutut Narendra kehilangan tenaga.

Bu Tri membawanya menaiki tangga. Satria menunggu di halaman agar tidak memenuhi koridor. Di depan kamar, Narendra mengangkat tangan untuk mengetuk, lalu berhenti karena tangannya gemetar terlalu keras.

Ia mengepalkan jari dan mengetuk tiga kali.

"Sekar."

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, lebih keras. "Sayang. Ini aku."

Di dalam, Sekar terbangun dengan kepala berat. Ponselnya masih tidak bersinyal. Ia mendengar suara di pintu dan mengira sedang bermimpi.

"Sekar!"

Ia bangkit, berjalan tanpa alas kaki, dan membuka pintu.

Narendra berdiri di sana dengan rambut berantakan, kemeja kusut, wajah pucat, serta lumpur pada ujung celana.

"Mas?"

Narendra menariknya ke dalam pelukan.

Benturan tubuh mereka membuat Sekar mundur satu langkah. Kedua lengan Narendra mengunci punggungnya begitu erat hingga nyaris sakit. Pria itu gemetar dari bahu sampai tangan.

"Kamu selamat," suaranya serak di rambut Sekar. "Syukurlah. Kamu selamat."

Sekar mengangkat tangan dan memeluk balik, masih terlalu terkejut untuk bertanya bagaimana ia bisa tiba secepat ini.

Di atas bahu Narendra, ia melihat Satria berdiri di halaman dengan wajah lega sekaligus penuh rasa ingin tahu.

Layar ponsel Narendra belum padam.

Di sana tertulis satu baris yang membuat dada Sekar sesak.

Sayang (47).

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!